MINGGU PALMA
Dengan tibanya Minggu Palma kita mengakhiri masa Prapaskah dan mulai memasuki Pekan Suci, yaitu puncak dari upacara-upacara liturgi Gereja Katolik, sekaligus puncak dari perayaan iman kita. Perarakan liturgi Minggu Palma dimaksudkan untuk menghadirkan kembali peristiwa penyambutan Yesus secara meriah di Yerusalem Mat 21:1-11. Di sini Matius menggambarkan kedatangannya sebagai raja yang memasuki kota dimana kemuliaan-Nya yang sejati akan tampak, yakni kebangkitan-Nya. Kemudian Injil Minggu Palma tahun ini menelusuri peristiwa-peristiwa dalam Kisah Sengsara menurut Matius. Mengapa Dia yang disambut meriah di kota kediaman Yang Maha Kuasa membiarkan diri ditolak oleh para pemimpin di situ? Mengapa Ia tidak membela diri atau balas menyerang dengan kekuatan masa yang menyambut-Nya di sana? Dari bacaan pertama Yes 50:4-7 dapat diketahui sikap batin yang dimiliki Yesus. Ia hamba yang taat seutuhnya pada Yang Mahakuasa, bukan karena Ia mau menunjukkan ketaatan dengan menjalani segala akibat pilihan ini, melainkan karena kehidupan-Nya memang sudah terarah untuk itu. Sang hamba mengakui bahwa Ia diutus untuk menyampaikan Sabda Ilahi kepada siapa saja yang letih lesu, yang tidak lagi mampu mencari tahu kehendak-Nya. Itulah sebabnya Matius menggambarkan Yesus masuk ke Yerusalem dengan dua keledai, yaitu satu keledai betina muda, dan satu lagi anaknya, yang berarti selain masuk sebagai raja, Yesus juga masuk sebagai seorang pelayan. Matius mengajak mereka yang mendengar Injilnya melihat dengan mata batin kedua sisi Yesus itu: sebagai raja yang penuh wibawa tapi juga sebagai utusan Tuhan yang emah lembut. Dengan demikian nanti dalam mengikuti kisah penghinaan, penderitaan, penyalibannya orang akan tetap dapat melihat sisi Yesus yang anggun dan berwibawa itu. Dan sebelum memasuki passio, yaitu pembacaan kisah sengsara Yesus secara lengkap, terlebih dahulu kita dihantarkan pada bacaan kedua (Fil 2:5-11), yaitu suatu doa dan nyanyian kuno yang telah dinyanyikan berabad-abad oleh para rahib Benediktin, yang dikenal dengan nama Carmen Christi. Suatu doa luar biasa, yang bila dilantunkan berkali-kali dalam suasana meditasi akan membawa pada kekuatan dan keteguhan iman seperti yang dimiliki para rahib jaman dahulu. Karena tanpa kekuatan iman itu, orang hanya akan melihat kesengsaraan Yesus sampai pada kesia-siaan belaka, daripada misi mulia yang sedang dijalani Yesus. Pada masa Prapaskah tahun ini, bapa uskup telah meminta kita untuk merenungkan tema Prapaskah: “Dipilih untuk Melayani” dalam pertemuan-pertemuan lingkungan kita. Dan kiranya hasil permenungan kita itu akan disimpulkan dalam rentetan liturgi Pekan Suci ini. Dimana dalam surat gembalanya bapa uskup menyatakan tujuan dari melayani adalah untuk “Menampilkan wajah Allah”, karena iman yang sejati akan berbuah persaudaraan, dan selanjutnya persaudaraan yang sejati akan berbuah pelayanan yang tulus dan gembira. Semoga Paskah kali ini membawa kita semua kepada persaudaraan yang sejati dan kemudian kepada pelayanan yang tulus dan gembira, karena menjadi pengikut Yesus adalah berjalan bersama Dia untuk menampilkan wajah Allah di bumi.





Beberapa hari yang lalu saya bertanya kepada anak saya: “Sedang belajar apa?”, dan anak saya menjawab: “Papa mau tahu aja... apa mau tahu banged???”, dengan lucunya. Tetapi jawaban anak saya itu rupanya terbawa saat saya merenungkan bacaan-bacaan hari ini. Bacaan pertama adalah bagian dari sebuah kisah yang sangat terkenal, yaitu: “Kisah Tulang Yehezkiel”, dimana dikatakan nabi Yehezkiel berada di dalam lembah yang dipenuhi dengan tulang-tulang kering. Lalu Tuhan menyuruh dia untuk bernubuat kepada tulang-tulang itu, dan kemudian daging dan kulit tumbuh pada tulang-tulang itu serta akhirnya mereka bangkit hidup kembali. Tentu saja disini kita melihat betapa hebatnya kuasa Tuhan, akan tetapi yang lebih menarik adalah betapa besarnya keinginan Tuhan untuk membangkitkan kembali umat-Nya (3 kali diucapkan dalam perikopnya), bahkan umat-Nya yang telah menjadi tulang-tulang kering sekalipun (tulang-tulang kering menggambarkan besarnya penderitaan orang Israel pada pembuangan Babylon, dan telah lenyapnya harapan mereka). Sehingga bila kita dapat bertanya kepada Tuhan: “Tuhan, apakah Engkau mau membangkitkan umat-Mu.... mau aja.. apa mau banged??”, kiranya Tuhan akan menjawab: “Mau banged!”. (Buktinya Ia mengutus Putera terkasih-Nya untuk menderita bagi manusia). Akan tetapi, sungguh ironis apabila di satu sisi kita melihat begitu besarnya keinginan Tuhan agar umat-Nya hidup dan merdeka (Aku akan membuka kubur-kuburmu, membangkitkanmu… dan membiarkan kamu…), akan tetapi disisi lain kita melihat betapa besar pula kerinduan manusia untuk memperoleh keselamatan tetapi merasa tidak dapat memperolehnya, seperti yang diratapkan oleh pemazmur hari ini: “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! — Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti” (Maz 130). Bukankah sungguh aneh apabila dari satu sisi Tuhan ingin menyelamatkan umat-Nya, akan tetapi dari sisi lain manusia justru juga sangat ingin diselamatkan Tuhan, akan tetapi seolah-olah kedua hal itu tidak bisa terjadi? Kitab Roma pada bacaan kedua memberi penjelasan: “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu.”. Rupanya tinggal dalam Roh Allah adalah kuncinya, dan kita tahu bahwa kita perlu berdamai kembali dengan Allah (bertobat), dan melalukan perintah-Nya untuk tinggal di dalam-Nya, persis seperti yang sedang anda dan saya lakukan dalam masa Prapaskah ini. Kesemuanya itu dirangkum dan disimpulkan oleh Yesus dalam Injil hari ini saat Ia membangkitkan Lazarus, kata-katanya: “Saudaramu akan bangkit”–“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.”–“Angkat batu itu!”(membuka kubur)–“Lazarus, marilah ke luar!”–“Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi”(memerdekakan). Menegaskan kembali betapa besarnya keinginan Tuhan akan keselamatan kita. Dan bagi kita yang sebentar lagi merayakan Paskah, apakah kita sudah mau sungguh-sungguh percaya dan hidup dalam Roh Tuhan agar kita turut dibangkitkan kelak?.. Mau aja.. apa mau banged??
Desa Ijo Balit, Labuan Haji, Lombok Timur, NTB terkenal gersang. Saking gersangnya desa ini disbt “Lendang panas” (hamparan panas). Lahan retak2 pertanda kekeringan teramat parah. Luasnya 1200 ha & menampung lbh dr 100 KK. Sebgn besar masyarakatnya hdp dari menambang batu apung dan pasir. Ini membuat desa bertambah kering. Thn ‘82 Lalu Slamet Suryawan Sahak, warga desa Ijo Balit, coba mendatangkan air sungai Perako ke desa, yg berjarak 4 km. Dia membendung sungai tsb dgn karung plastik berisi tanah. Nmn debitnya tdk cukup. Timbul ide utk mendatangkan air dr sungai Sordan, yg debitnya lbh besar, namun terhadang bukit setinggi 14 m. Th 1991, Slamet mulai menggali bukit dgn alat sederhana yaitu linggis & cangkul. Setlh ada kemajuan, org2 desa mulai membantu. Dan akhirnya bukit itu berhasil dibelah dgn panjang galian 1 km shg air sungai Sordan dpt bergabung ke sungai Perako. Volume air yg ckp besar tlh membawa kemajuan pertanian di desa Ijo Balit. Pak Slamet jg membangun kawasan hutan, yg disbt “Lembah Hijau” sbg kawasan wisata, lengkap dgn danau buatan & kolam renang. Berkat perjuangannya yg tdk kenal lelah selama hampir 30 th, Slamet dianugerahi KICK ANDY HERO 2014. Air tlh mengubah desa Ijo Balit dr “Lendang Panas” mjd “Lembah Hijau”. Air tlh membawa “KEHIDUPAN” ke desa Ijo Balit. Bacaan2 hari ini berbicara ttg AIR HIDUP. Bagi daerah kering spt Palestina, air bkn saja jd kebutuhan hidup, tapi tlah jd “Simbol Keselamatan”. Tdk heran kalau kata "air" digunakan 491 kali di dlm Kitab Suci, baik dlm pengertian biasa maupun rohani. Dlm konteks itulah Injil Yohanes hari ini (Yoh 4:5-42) membahas makna AIR HIDUP. Pembahasan itu terjadi dlm percakapan antar Yesus dgn seorg perempuan Samaria di sumur Yakub di daerah Sikhar pd jam 12 siang. Yesus sbg seorg Yahudi sebnrnya tdk blh bertemu & bercakap dgn seorg Samaria, apalagi dgn seorg perempuan. Lbh2 lagi latar blkng hdpnya krg bagus. Percakapan dimulai Yesus dgn permintaan : "Berilah Aku minum". Tanpa menjwb langsung, perempuan Samaria menyinggung permusuhan antar Org Yahudi & Org Samaria. Yesus tdk menanggapi, tapi menyinggung ttg AIR HIDUP. Ternyata makna AIR HIDUP dipahami salah, sehingga Yesus menjelaskannya lebih lanjut. Yang menarik dari pembahasan AIR HIDUP ini adalah perubahan IMAN perempuan Samaria itu. Mula-mula ia anggap Yesus sbg “seorg Yahudi” (ayat 9); lalu menyapaNya sbg “Tuan” (ayat 11, 15); meningkat mjd "seorang Nabi" (ayat 19); kemudian meyakini Yesus sbg “Mesias / Kristus” (ayat 25, 29); & terakhir sbg “Juruslamat dunia” (ayat 42). Setlh yakin bhw itu MESIAS, dia mewartakan keyakinan imannya itu kpd org sekotanya & mereka dtg menemui Yesus. Mereka akhirnya percaya jg & minta agar Yesus tinggal bersama mereka. Inilah klimaks proklamasi iman mereka : "Kami percaya, bkn krn apa yg kau katakan, melainkan karna kami sendiri tlh mendengarNya. Dialah benar2 JURUSLAMAT DUNIA" (ayat 42). Ada bbrp hal penting dr kisah ini : 1) Kedatangan Yesus menghapus sekat permusuhan antar suku bangsa & jg antar pribadi. Org Yahudi bisa bergaul dgn Org Samaria; seorg perempuan berdosa bisa bercakap2 dgn seorg Rabi - simbol kesalehan (ayat 31). 2) Perubahan iman perempuan itu terjadi krn dia “terbuka” & “bersedia mendengarkan”. Sikap itu memungkinkan dia utk menerima penjelasan lbh jauh ttg makna AIR HIDUP & SIAPAKAH YESUS itu. 3) Seseorg tdk pernah menerima Kristus utk dirinya sendiri, melainkan utk diwartakan & membawa org lain kpd Kristus (ayat 29). 4)Perjumpaan dgn Yesus mengubah status & harga diri kita. Harga diri perempuan Samaria sbg org berdosa berubah setlh berjumpa dgn Yesus. Rasa malu utk berjumpa dgn sesama penduduk kota (cat. itu sebabnya dia ke sumur jam 12 siang) tlh sirna krn berjumpa dgn Yesus. Yesus tlh menghapus rasa mindernya. 5) Iman krn pewartaan org lain berubah mjd iman krn perjumpaan. "Saya percaya kpd Yesus, bkn lagi krn kata2 org lain, melainkan krn saya mengalaminya sendiri". Perjumpaan personal dgn Yesus jauh lbh berkesan. 6) Perjumpaan dgn Yesus mendorong kita utk tinggal bersama dgn Dia & jd sahabatNya (bdk. ayat 40). Inilah makna AIR HIDUP, yg adalah YESUS SENDIRI. YESUS tlh mjd AIR HIDUP krn DIA tlh menghapus sekat antar pribadi, antar suku; Dia mengajar kita utk mengetahui lbh jauh ttg kebenaran & kekayaan ilahi; mjdkan kita slalu dekat dgn Allah dan menjadi pewarta kehadiran Allah. Maka benarlah yang dikatakan Yesus : "Barangsiapa minum AIR yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya" (ayat 14). Semoga !
Helen Keller adalah seorg dosen, penulis, pejuang kemanusiaan dan inspirator. Dia lahir 7 Juni 1880 di Tuscumbia, Alabama, USA sbg anak normal, namun jadi buta dan tuli di usia 19 bln krn meningitis. Dlm usia 14 thn, Helen Keller masuk “The Wright Humason School for the Deaf” di New York dan lanjut ke Radcliffe College. Thn 1904 dia tamat dgn predikat “cum laude” sbg Tuna Netra & Tuna Rungu pertama yg capai gelar “Bachelor of Arts”. Dia menulis 14 buku, al : The Story of my life, The World I live In. Dia kunjungi 35 negara di 5 benua utk kampanye “kepedulian bagi yg cacat, khususnya yg buta dan tuli”. Atas prestasi tsb, Helen Keller meraih banyak penghargaan baik di USA maupun dunia. Hari kelahirannya diperingati sbg Hari Nasional di Pennsylvania - USA. Namun siapa di balik suksesnya Helen Keller ? Dialah Anne Mansfield Sullivan, guru dan temannya selama 49 thn. Anne, lulusan terbaik Perkins Institution for the Blind di Boston / USA, seorg Tuna Netra. Thn 1887 Anne bergabung dgn keluarga Keller. Membimbing Helen, yg buta dan tuli serta bersifat kasar dan keras kepala tdk gampang. Namun dgn penuh kesabaran dan kasih sayang, Anne mendidiknya. Baru 1 bln bimbingan terjadi peristiwa luar biasa. Helen mampu mengucapkan kata “WATER” (air). Setlh itu kemajuan demi kemajuan terjadi sangat cepat. Peran penting Anne Sullivan dikisahkan William Gybson dlm film "Miracle Worker", di mana Anne digambarkan sbg Tokoh yg tlh membuat mukjizat atas Helen Keller, yg awalnya buta dan bisu menjadi salah satu Tokoh Dunia abad XX. Kehebatan Helen Keller tdk mungkin tercapai tanpa Anne Sullivan. Injil hari ini (Yoh 9:1-41) ttg YESUS MENYEMBUHKAN MATA ORG YG BUTA SEJAK LAHIR. Mukjizat ini agak unik, krn Yesus menggunakan media (“tanah dan ludah”); mengolesnya di mata si pasien; lalu menyuruh dia membasuh di kolam Siloam. Mukjizat ini menuai kontroversi krn terjadi pd hari Sabat. Pd hari Shabbat yg artinya “berhenti bekerja”, org dilarang melakukan pekerjaan, seperti : menabur, menuai, menyalakan api, memasak, mencuci, kecuali berdoa, kunjungi sanak keluarga atau terima tamu. Selain Yesus dan si Tuna Netra, ada 3 pihak lain dlm kisah ini, yaitu : para murid, kaum Farisi dan keluarga. Para murid mendorong terjadinya mukjizat (“siapa yg berdosa, sehingga ia dilahirkan buta” – ayat 3); kaum Farisi mengecam terjadinya mukjizat (“Orang ini tdk datang dari Allah” ayat 16); keluarga bersikap lepas tanggungjawab krn takut (“Tanyakanlah kpdnya sendiri, ia sdh dewasa, ia dpt berkata-kata utk dirinya sendiri” - ayat 21). Dlm kisah ini terjadi pertumbuhan iman si Tuna Netra dgn mengakui Yesus sbg : “Orang yg disebut Yesus” (ayat 11); “Dia seorang Nabi” (ayat 17); “Percayakah engkau akanAnak Manusia ? Aku percaya, Tuhan” (ayat 35-38). Sebaliknya, 3 kali kaum Farisi tdk mengakui Yesus : “Org ini tdk datang dari Allah” (ayat 16); “Org itu org berdosa” (ayat 24); “ttg Dia itu kami tdk tahu dari mana Ia datang” (ayat 29). Apa makna yg dpt kita petik dr kisah ini ? Pertama, “penderitaan” (penyakit, cacat, cedera, dll) tdk ada hubungan langsung dgn “dosa”. Penderitaan adalah kesempatan utk memuliakan Allah, baik yg kita sendiri alami maupun ketika kita membantu org lain. Kedua, setiap mukjizat atau peristiwa penting dpt menimbulkan 2 sikap : lbh dekat kpd Tuhan (bdk. sikap si Tuna Netra) atau lbh jauh dari Tuhan (bdk sikap kaum Farisi). Cat. Bagaimana sikap kita ? Ketiga, kasih atau perbuatan baik lbh tinggi nilainya dari aturan atau hukum. Seperti kata-kata St Agustinus : Ama et fac quod vis - kasihilah, maka engkau dpt melakukan apa saja. Bdk I Kor 13:1-13 – Madah Kasih. Keempat, buta hati jauh lbh memprihatinkan dp buta mata. "Cacat yg lbh parah, bkn tdk dpt melihat, melainkan tdk peduli atau tdk dpt merasakan penderitaan org lain" tulis HelenKeller. Kemampuan ber-empati atau merasakan beban dan penderitaan org lain jauh lbh penting. Kelima, bersikap rendah hati dan mau mengakui kekurangan adalah dasar kemajuan (bdk. Si Tuna Netra), sedangkan tdk mau mengakui kekurangan adalah awal kehancuran (bdk. Kaum Farisi – ayat 40 s/d 41). Keenam, seperti Yesus atau Anne Sullivan, kita juga dipanggil utk membuka mata org lain agar dpt melihat penderitaan sesama, utk peduli dan berbagi serta dpt melihat kebaikan dan kebesaran Tuhan dlm setiap peristiwa hidup ini.
Hari Rabu pagi,5 Mrt 2014 Petugas Jasa Marga menemukan sesosok mayat perempuan di pinggir tol Bintara - Cikunir (km 49) Bekasi. Melalui sidik jari diketahui bhw itu jenazah Ade Sara Angelina yg dibunuh secara kejam oleh mantan pacarnya, Ahmad Imam Al Hafitd alias Hafiz dibantu Assyifa Ramadhani, pacar barunya. Ade Sara (19 thn), mahasiswi Universitas Budi Mulia, adalah putri semata wayang pasangan Suroto dan Elisabeth Diana Dewayani. Mereka tinggal di Kelurahan Layur, Pulo Gadung, Jkt Timur. Senin, 3 Mrt 2014, Ade pamit dari orgtuanya utk nginap di Rawawangun. Selasa sore, 4 Mrt, Ade bertemu Assyifa di Gondangdia utk bersama2 ke Goethe Institut – Jkt Pusat. Ternyata di sana sdh menunggu Hafiz dgn mobilnya. Batal ke Goethe Institut, Ade Sara dipaksa masuk ke mobil. Di situ terjadi pertengkaran yg berujung ke penganiayaan. Ade Sara disetrum berkali2 oleh Hafiz & disumpal mulutnya oleh Assyifa sampai akhirnya meninggal dunia. Rabu dini hari mereka membuang jasadnya di pinggir tol. Kedua orgtuanya sangat terkejut mendengar kematian Ade. Dan lbh mengejutkan lagi krn yg membunuh putri mereka adlh mantan pacarnya. Dlm kondisi duka & hati yg hancur krn kehilangan putri tunggalnya, Pak Suroto & Ibu Elisabeth msh kuat utk mengatakan "Kami memaafkan Hafiz dan Assyifa". Mengutip Kitab Ayub 1:21, Pak Suroto mengatakan : “Tuhan tlh memberi, Tuhan tlh mengambil. Terpujilah Nama Tuhan”. Ketika ditanya slh satu TV Swasta, Ibu Elisabeth dgn tenang menjawab : "Kami tdk boleh menghakimi. Tuhan, mengajar kami utk mengampuni”. IbuElisabethbhkn mendoakan Hafiz & Syifa“Sy berdoa, stlh proses hukum dilaksanakan, mrk jd anak yg baik”. Luar biasa ! SEBUAH KESAKSIAN SIKAP SEORANG KRISTIANI SEJATI. Dlm Kristus : kebencian berubah mjd pengampunan; penderitaan berubah mjd kemuliaan; kematian berubah mjd kehidupan. Dlm Kristus kita memperoleh cr pandang baru, paragdima baru. Dlm konteks inilah kita cb memahami injil hr ini yg berkisah ttg “Transfigurasi” (“Yesus dimuliakan” - Mt 17:1-9). Menurut tradisi, transfigurasi terjadi di gunung Tabor, dmn berdiri “Gereja Transfigurasi”, walau para ahli cenderung di Gunung Hebron. Peristiwa ini terjadi stlh Yesus memberitahukan “jln keselamatan” yg dipilihNya, yaitu jln “penderitaan, wafat & kebangkitan”(Mat 16:21-28). Pemberitahuan ini sgt mengejutkan, bahkan dpt membuat para murid mundur. Oleh krn itu Yesus membawa mrk ke atas gunung utk memberi kekuatan. Tapi hanya 3 murid yg dibawa yaitu Petrus, Yakobus & Yohanes (ayat 1). Utk apa Yesus ke atas gunung ? Menurut Lukas (Lk 9:28) Yesus pergi utk berdoa. Gunung mjd simbol tempat dr “Yang Mahatinggi”, shg mnjd lokasi yg pantas utk berkomunikasi dgn Allah. Dlm situasi berdoa itulah Yesus mengalami “transfigurasi” – “perubahan diri” yg mrpkn sebuah pengalaman spiritual yg tinggi. Ketika itu muncul Musa & Elia, tokoh yg berpengaruh besar dlm sejarah Yahudi. Musa memperkenalkan Hukum Allah & Elia adlh Nabi terbesar. Keduanya berbicara dgn Yesus ttg jln keselamatan. Lalu terdengar suara peneguhan dr surga : ”Inilah Anak yg Kukasihi, kepadaNya Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (ayat 5). Apa yg dpt kita pelajari dr injil hr ini ? Jln keselamatan Yesus adlh jalan “penderitaan, kesengsaraan & wafat”. Namun melalui jln itu, Yesus mencapai “kebangkitan & kemuliaan” & mendatangkan “keselamatan bagi dunia”. Maka bagi Kristus, “penderitaan & kematian” serta “kemuliaan & kebangkitan” merupakan 2 sisi dr satu koin yg sama. Tdk ada kebangkitan tanpa kematian; & sebaliknya, tdk ada kematian yg tdk menuju kebangkitan. “Per crucem ad salutem” - melalui “salib” menuju “keselamatan”. Maka dlm setiap kematian, kita melihat kebangkitan; & dlm setiap penderitaan kita melihat kemuliaan. Kematian bukanlah akhir dr segalanya, melainkan awal sbh kehidupan baru, kehidupan yg abadi. Ini adlh paragdima baru yg dibawa Kristus. Kalau dunia mengatakan “Celakalah yg miskin, yg menderita, dianiaya, dll”, Yesus mengatakan “Berbahagialah yg miskin, yg berdukacita, yg dianiaya, yg difitnah” (bdk Mat 5:3-12). Kalau dunia mengatakan : “Bencilah musuhmu” (Mat 5:43), Yesus mengatakan : “Kasihilah musuhmu & berdoalah utk mrk” (Mat 5:44). Dia jg mengatakan : “jgn menghakimi”, “jgn melakukan perbuatan baik utk dilihat org”, “jgn berdoa spt org munafik”, “jgn pamer bhw anda sdg berpuasa”, “jk memberi derma, jgnlah tangan kirimu mengetahui, apa yg dilakukan tangan kananmu”, “barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya”, “Aku dtg utk melayani, bkn utk dilayani”, “jadilah sempurna!” dll. Maka beranikah kita di Masa Prapaskah ini menghidupi cara pandang baru, paragdima baru yg diajarkan Kristus ? Semoga!