MINGGU BIASA XXIII (A/II), 7 September 2014
Yeh 33: 7-9; Mzm 95: 1-2. 6-7. 8-9 (8); Rom 13: 8-10; Mat 18: 15-20
Hari ini Yesus berkata: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata.”, bahkan dalam bacaan pertama dikatakan bahwa apabila kita tidak memperingati orang jahat atas kesalahannya, maka kita juga akan dituntut pertanggungan jawab atas nyawanya. Rasanya ini adalah tugas yang sangat sulit, malah bisa-bisa kita dimusuhi banyak orang karena bersikap kasar dengan memperingati mereka.
Tetapi, apakah benar demikian yang dimaksudkan Tuhan dalam diri kita? Dan apakah yang sebenarnya menghalangi kita untuk memperingati kesalahan orang-orang yang kita kenal? Sebenarnya penghalang untuk memperingati kesalahan orang lain, adalah pada seberapa dekat kita dengan orang tersebut. Ambilah contoh hubungan antara kita dengan orang tua, mungkin bukan hanya ratusan tetapi sudah ribuan kali orang tua memperingati kesalahan bahkan memarahi kita, tetapi apakah kita menjadi begitu marah dan memutuskan hubungan dengan orang tua? Tentunya tidak, karena hubungan kasih antara kita dengan orang tua jauh lebih kuat daripada kekesalan sesaat. Kuncinya adalah: Orang tua selalu mencurahkan kasih dan perhatian sepenuhnya kepada anak-anaknya, bahkan dengan rela berkorban bagi anak-anaknya, bahkan bilapun anak-anaknya tetap saja melakukan lagi kesalahan yang sama terus menerus.
Tunggu sebentar.... bukankah semuanya itu adalah yang selalu dilakukan Yesus, dan yang selalu dimintanya dari kita, yaitu “kasih” dan “kerelaan berkorban”, bahkan sampai “tujuh kali tujuh puluh kali”? Jadi mungkin karena memang kebanyakan hubungan-hubungan kita dengan orang lain, hampir semuanya berdasarkan asal kenal saja, asal tidak mengganggu saja, atau asal menguntungkan diriku saja, karenanya kita merasa tidak mungkin bisa melaksanakan apa yang diminta Yesus pada hari ini, yaitu untuk memperingatkan kedosaan saudara kita.
Tetapi bagaimana kalau sesudah kita peringati saudara kita tetap saja membandel, sedangkan dalam Kitab Suci dikatakan apabila ia tetap membandel maka: “pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai”, apakah Yesus meminta kita memutuskan hubungan dengannya? Masalahnya adalah Yesus justru selalu mendekati orang-orang yang tidak mengenal Allah dan pemungut cukai, dan persis seperti itulah pula yang akan kita lakukan. Karena bacaan-bacaan hari ini sebenarnya adalah tentang relasi yang penuh kasih dengan saudara kita, dan Yesus tidak ingin ada sedikitpun dosa yang mengganjal diantaranya, karena justru hari ini Ia berkata: “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Oleh karena itu, seperti yang dinyanyikan Mazmur hari ini: “Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba”, marilah kita mulai membereskan kembali semua hubungan kita dengan saudara-saudara kita. Karena disitulah justru Tuhan berada dan mendengarkan doa kita





Mother Teresa lahir tgl 26 Ags 1910 di Skopje, Ibu kota Masedonia. Dlm usia 18 thn, dia bergabung dgn Misionaris Suster Loreto dan ditugaskan sbg Guru di Sekolah Santa Teresia di Daarjeeling / India. Dia mengikrarkan kaul I tgl 24 Mei 1931 dan memilih nama “Theresia dari Kanak-kanak Yesus”, disingkat “Teresa”. Setelah hampir 20 thn mengajar, th ‘48 Suster Teresa meninggalkan Misionaris Suster Loreto dan tinggal dgn orang-orang miskin di Calcutta dgn mengenakan “Sari” – baju kas wanita India. Krn banyak org muda mengikuti jejaknya, Suster Teresa mendirikan Tarekat Misionaris Cintakasih. Dia mendirikan Rumah Duka, Rumah-rumah Sakit, Rumah Yatim Piatu, Rumah Sakit Lepra, dll. Kongregasinya menyebar ke seluruh Asia, Eropa, Afrika dan Amerika Latin. Mother Teresa mendpt berbagai penghargaan nasional dan internasional, termasuk Hadiah Nobel Perdamaian pd thn 1979. Dia meninggal tgl 5 September 1997 dan tgl. 19 Oktober 2003 digelarkan BEATA. Meninggalkan kehidupan mapan di Eropa dan tinggal bersama kaum miskin di India; mendirikan berbagai fasilitas utk kaum miskin, sakit dan cacat; memotivasi banyak org utk peduli kpd “orang-orang yg terpinggirkan” merupakan bentuk nyata dari Mother Teresa dlm mengikut Kristus.
Tgl. 7 Juni 2012 film “SOEGIJA” yg disutradarai Garin Nugroho ditayangkan di bioskop-bioskop besar di Tanah Air. Film ini mengisahkan peran Mgr Albertus Soegijapranata, uskup pribumi pertama, dlm perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia melalui “silent diplomacy”. Menurut Garin : "Indonesia pernah punya pemimpin yg tangguh dan tdk menjadikan kemanusiaan sbg sebuah wacana belaka." Dan ini nyata dlm diri Mgr Soegijapranata. Beliau lahir tgl 25 Nov 1986 di Surakarta dari keluarga Abdi Dalem Muslim. Ketika pindah ke Yogyakarta, Soegija masuk Kolese Xaverius – Yesuit di Muntilan. Di sana Soegija tertarik dgn agama Katolik dan dibaptis. Setelah lulus, Soegija menjadi seorang guru sambil belajar di Seminari di Muntilan. Thn. 1919 Soegija berangkat ke Belandautk bergabung dgn Serikat Yesus dan ditahbiskan pd 15 Ags 1931. Kembali ke Indonesia, Romo Soegija memulai tugas pastoralnya di Paroki Kidul Loji, Yogyakarta dan thn 1940 ditahbiskan sbg Vikaris Apostolik Semarang. Selama pendudukan Jepang, Mgr Soegija aktif menyelamatkan rakyat yg menjadi korban peperangan. Beliau juga banyak menulis ttg situasi Indonesia di media internasional. Dlm tulisannya, Beliau menekankan bhw kita hrs menjadi “100% katolik, 100% Indonesia”. Sikapnya ini membangkitkan semangat banyak warga katolik berjuang utk kemerdekaan, bahkan beberapa di antaranya mendpt gelar pahlawan seperti : Ignatius Slamet Rijadi (+1945), Agustinus Adisucipto (+1947) dan Yos Soedarso (+1961). Tgl 3 Jan 1961 Beliau diangkat sbg Uskup Agung Semarang. Namun tgl 22 Juli 1963 Mgr Soegijapranata meninggal di Belanda dan jenazahnya diterbangkan ke Indonesia. Atas perannya dlm perjuangan kemerdekaan, pd thn yg sama Presiden Soekarno memberi Beliau gelar “Pahlawan Nasional”. Meskipun Mgr Soegijapranata sdh pergi, namun pandangannya mengenai “100 % Katolik dan 100 % Indonesia” masih sangat relevan sampai saat ini.
Thn. 1970 Andrew Lloyd Weber dan Tim Rice menggemparkan dunia kekristenan dgn opera rock berjudul “Jesus Christ Superstar”. Walau diinspirasi oleh Kitab Suci, opera ini hanya melihat Yesus dari sisi kemanusiaannya. Yesus masuk kota Yerusalem, dikhianati oleh Yudas Iskariot, didera dan berakhir di salib. Tidak ada peristiwa kebangkitan dan kenaikan ke surga. Tim Rice, penulis lirik, mengatakan : “Kami tidak melihat Yesus sbg Allah, tapi sbg manusia saja”. Sbg manusia, Yesus bisa lapar, haus, lelah, marah, menangis, ragu-ragu, dlsb. Banyak yg mengecam opera ini krn menyebut Yesus sbg Superstar, padahal Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Melihat Yesus hanya satu sisi - Allah saja atau manusia saja - merupakan bentuk penyangkalan iman Kristiani.
Hari Minggu ini ditetapkan Gereja sbg Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga. Pesta ini biasanya dirayakan setiap tgl. 15 Agustus, sebuah tradisi sejak abad VI. Santa Perawan Maria diangkat ke surga merupakan sebuah dogma yg ditetapkan Paus Pius XII melalui Konstitusi Apostolik “Munificentissimus Deus” (Allah yg sangatmurah hati) yg diumumkan tgl. 1 Nopember 1950. Dogma adalah sebuah pengajaran yg terkait dgn wewenang mengajar Gereja (ex catedra) yg secara implisit maupun eksplisit dinyatakan di dlm Kitab Suci atau Tradisi Suci, yg hrs dipercaya oleh umat beriman sbg sebuah kebenaran. Dogma ini menyusul beberapa dogma sebelumnya ttg Bunda Maria, yaitu : 1. Maria Bunda Allah (Theotokos/Mater Dei) melalui Konsili Efesus thn 432 dan Konsili Chalcedon th 451. 2. Maria Tetap Perawan (Maria Virgini) melalui Konsili Konstantinopel th 553 dan Konsili Lateran th 649. 3. Maria dikandung tanpa noda dosa asal (Immaculata conception) yg dikeluarkan oleh Paus Pius IX tgl 8 Desember 1854. Bagaimana kita dpt memahami dogma ini ? Tuhan menciptakan Maria dlm rahim Santa Anna, ibunya, tanpa noda dosa asal. Mengapa ? Krn Tuhan menghendaki demikian spy Maria dpt mengandung Yesus, Putera Allah. Pada akhir hidup Maria di dunia, Tuhan memutuskan utk melakukan sesuatu yg istimewa bagi Bunda Maria. Tubuhnya tdk dimakamkan, tetapi Tuhan mengangkat tubuhnya ke surga. Bunda Maria diangkat jiwa dan raganya ke surga agar ia dpt senantiasa bersama dgn Yesus. Sungguh suatu karunia yg amat istimewa yg dianugerahkan kpd Maria, krn Tuhan amat mengasihinya. Beberapa dasar biblis dari dogma ini : 1) Kej 3:15 “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau (= ular/setan) dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu ..” 2) Gal 4:4 “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yg lahir dari seorg perempuan ..”. 3) Lk 1:28 : “Salam hai engkau yg dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” …. “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan (ayat 42) .. sesungguhnya mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku bahagia (ayat 48). 4) Why 12:1-6 : “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit : Seorg perempuan berselubungkan matahari, dgn bulan di bawah kakinya, dan sebuah mahkota dgn 12 bintang di atas kepalanya”. Keyakinan bhw Bunda Maria diangkat ke surga sdh dimulai sejak abad V. Tulisan dari Org-org kudus dan Bapa-Bapa Gereja dpt membuktikan hal ini, misalnya : St. Yohanes Damaskus (676-754), St. Antonius Padua, (1195-1231), St. Thomas Aquinas (1225-1274), St Albertus Agung (1206-1280) dan St. Alphosus Liguori (1696-1787). Lalu apa makna Pesta ini bagi kita ? Merayakan Pesta Maria diangkat ke surga dpt menjadi ungkapan kepercayaan akan masa depan kemanusiaan kita. Bahwa pd satu saat nanti umat manusia akan kembali berada bersama dgn Tuhan di surga. Kita yakin akan hal ini karena sdh terjadi pd Bunda Maria, yg kini sdh ada bersama Allah. Makna ini ditegaskan kembali oleh KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) dlm Surat “LIHATLAH BUNDAMU” (1973) : “Maria diangkat ke surga lbh merupakan suatu pengingat bagi Gereja bhw Tuhan menghendaki agar mereka semua yg telah diberikan Bapa kepadaNya dibangkitkan bersamaNya. Dalam Maria diangkat ke dalam kemuliaan, ke dalam persatuan dengan Kristus, Gereja melihat dirinya menjawab undangan dari Mempelai surgawi.” Madah Magnificat Maria dlm bacaan injil hari (Lk 1:39-56) ini merupakan pujian syukur atas karya agung Allah, yg “mengerjakan perbuatan-perbuatan besar dlm diri Maria, hambaNya yg hina”. Dan karya agung ini direspons oleh Maria dgn ketaatan tanpa syarat “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lk 1:38). Dan ketaatan itulah yg mengantar Maria kpd kemuliaan, kpd kebahagiaan bersama Allah di surga. Maka Pesta Santa Perawan Maria diangkat ke surga hendaknya mendorong kita utk selalu taat kepada kehendak Allah dan selalu hidup dalam FirmanNya. Madah Magnificat yg dinyanyikan Maria hendaknya menjadi madah hidup kita, karena “Allah telah mengerjakan hal-hal besar dalam diri kita” (Lk 1:49). Magnificat anima mea Dominum – Jiwaku mengagungkan Tuhan !!