MENJADI CERMIN CINTA TRITUNGGAL
Karena keindahan alam dan kekayaan budayanya, Yunani menjadi tujuan wisata papan atas. Tahun 2013 negara “kecil” itu dikunjungi 16 juta wisatawan asing (bandingkan, Indonesia dikunjungi 8,8 juta wisatawan). Salah satu kota yang ramai dikunjungi adalah Korinthos (Korintus), sekitar 100 km sebelah barat Athena. Kota pelabuhan ini menghadap Teluk Korintus yang sangat tenang. Dua ribu tahun silam, Korintus sudah menjadi kota pelabuhan yang ramai. Di kota itulah Rasul Paulus pernah tinggal untuk mewartakan Injil.
Dari surat-suratnya kita tahu bahwa Paulus begitu mencintai jemaat Korintus, betapa pun segala bentuk kejahatan khas pelabuhan (pertikaian, perjudian, pelacuran) ada di sana. Hari ini, pada bacaan kedua, kita mendengar penutup surat kedua Paulus kepada jemaat di Korintus. Tentu ada alasan mengapa surat itu ditutup dengan imbauan untuk: sehati-sepikiran, hidup dalam damai, saling memberi salam dengan cium kudus. Bisa diduga, pesan itu disampaikan dan ditekankan karena sebelumnya yang terjadi tidak seperti itu, atau bahkan sebaliknya. Imbauan untuk damai-sehati-sepikiran ini ditutup dengan doa penuh keyakinan akan Tritunggal Mahakudus: kasih karunia Tuhan YesusKristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.
Dengan mengutip ayat tersebut Gereja mau mengingatkan bahwa soal Tritunggal Mahakudus, yang kita rayakan hari ini, tidak semestinya hanya dihayati sebagai dogma. Bahwa Tritunggal Mahakudus adalah dogma, dan itu perlu dipahami, itu benar. Tetapi lebih penting dari itu, pemahaman itu jangan hanya berhenti di otak, melainkan mesti turun ke hati dan mewarnai hidup. Lebih dari sekadar mewarnai hidup (khas Paulus) semangat Tritunggal itu mesti mewujud dalam relasi hidup bersama: saling berdamai serta sehati-sepikiran.
Bisa jadi kita berdalih, ah bisa-bisanya Paulus, menggabungkan dua konsep yang berbeda ranah. Tritunggal adalah konsep dogma (teologis), sedangkan hidup bersama adalah konsep sosial.
Bukan hanya Rasul Paulus yang beriman dan mengajarkan iman dengan cara seperti itu. Injil Yohanes yang dikutip hari ini juga mengajarkan logika iman yang sama. Relasi Allah Bapa dengan Allah Putera oleh Yohanes ditempatkan dalam rangka relasi Allah dengan manusia sebagai sebuah keseluruhan, dalam kebersamaan. Karena begitu besar kasih Allah kepada dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Yohanes menambahkan, Yesus diutus bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan dunia. Bukankah cinta dan kasih menjadi satu-satunya alasan?
Karena itu Paus Fransiskus pertengahan Mei lalu berkata, cinta suami-istri, cinta orangtua pada anak, adalah cermin terindah relasi cinta Tritunggal. Di sana ada cinta yang sesungguhnya, yang tak bersyarat. Cinta, kasih, dan damai seperti itulah yang oleh Paulus diharapkan hidup di antara jemaatnya… di antara kita semua.





Apa dan siapakah Roh Kudus itu? Mungkin inilah misteri iman yang paling sulit dipahami. Kesulitan itu terjadi karena kita berpikir secara ruang dan waktu. Berbicara apa (benda) atau siapa (orang) kita selalu tergiring pada pertanyaan semua itu saat ini atau saat lain (waktu) ada di mana (ruang). Allah Bapa “mudah” kita pahami sebagai Tuhan pencipta, tinggal di surga, sepanjang segala waktu. Allah Putera masih “mudah” dipahami karena pada suatu ketika pernah tinggal di dunia, dan setelah bangkit menyatu kembali dengan Bapa. Lantas, apa dan siapa Roh Kudus? Saat ini ada di mana? Bagaimana dengan saat lain?
Seperti kata pepatah: lebih mudah memenangkan suatu pertandingan daripada mempertahankan status juaranya! Untuk menang memang dibutuhkan fokus belajar dan berlatih serta berusaha mencari kesempatan untuk berhasil, tapi mempertahankan status yang sudah diperoleh tersebut diperlukan stamina dan konsentrasi jangka panjang! Demikian pula dengan iman kita, upaya mempertahankan iman jauh lebih sulit daripada saat memperolehnya karena [..] Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. (1 Ptr 5:8).
Suatu malam tahun 1995 ayah saya yang tinggal di desa dikunjungi teman dekatnya, sebut saja A. Sang tamu membawa teman, B, yang tidak dikenal ayah saya. Si B diperkenalkan sebagai pedagang sapi (dalam arti sebenarnya) sukses, tapi sedang kesulitan keuangan. Anda tahu ke mana cerita selanjutnya. Si B bermaksud meminjam uang, seharga dua ekor sapi, dengan jaminan si A. Merasa tidak punya uang sebesar yang diminta, ayah saya memberikan “solusi”, yakni meminjamkan uang yang dibutuhkan ke credit union (CU, semacam koperasi) di paroki ayah saya. Solusi ini diberikan karena ayah saya percaya pada jaminan pribadi yang diberikan A. Pada gilirannya ayah saya bersedia memberikan jaminan pribadi kepada CU bagi B. CU di paroki memberikan kredit yang diminta dengan syarat yang menjadi debitur adalah ayah saya. Jadi ada dua model personal guarantee di sini. Si A menjadi penjamin tanpa ikatan apa pun, sedangkan ayah saya menjadi penjamin dengan ikatan. Dalam dunia bisnis personal guarantee adalah praktik yang biasa. Bank atau lembaga keuangan berani memberikan pinjaman sejauh ada jaminan. Jaminan yang umum adalah aset; tetapi jaminan pribadi juga masih dimungkinkan.Yang menarik dicermati adalah hubungan antara tiga pihak:yang dijamin, penjamin, dan kepada siapa jaminan diberikan. Bisa dipastikan bahwa si penjamin sepenuhnya percaya pada yang dijamin. Si A berani menjamin B karena percaya. Ayah saya memberikan jaminan pada A dan B juga karena sepenuhnya percaya. Yang menerima jaminan (CU) juga percaya pada yang memberikan jaminan (ayah saya). Percaya penuh. Hanya jika kepercayaan ini sepenuhnya muncul, maka proses penjaminan berjalan. Hari ini Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa di surga dengan sikap sebagai penjamin. Doa tersebut bisa diibaratkan sebagai argumentasi yang disampaikan pada Bapa, mengapa Beliau berani memberikan jaminan tentang kita para pengikutnya. Ada dua tahapan “negosiasi” Tuhan Yesus kepada Bapa. Pertama Beliau seperti “mengingatkan” relasi-Nya dengan Bapa. Aku telah mempermuliakan Engkau dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan. Tahap kedua, Beliau seperti mengangkat kredibilitas kita umat-Nya di hadapan Bapa. Hanya dalam sebelas ayat lima kali Beliau mengatakan bahwa kita umatnya adalah mereka yang Kauberikan kepada-Ku. Kalimat itu masih dua kali digarisbawahi bahwa mereka adalah milik-Mu.
Bisakah kita terus berjalan saat merasa ada kerikildalam sepatu? Tak jarang suatu masalah penting bisaterganjal atau bahkan gagal karena urusan remeh-temeh yangtidak dipandang sebelah mata; suatu kegiatan outdoor bisaberantakan karena gerimis yang tidak diduga, alarm yanggagal berbunyi menjadi sebab terlambat bangun, suasanaperjalanan jadi kurang nyaman karena kuatir kompor belumdimatikan, bahkan gigi bisa patah gara-gara mengunyah nasiberbatu; dalam kehidupan sosial, ketidak-adilan sekecilapapun, kalau dibiarkan bisa membesar dan menjadi batusandungan!