Advent Minggu I
Hari ini adalah hari pertama dalam tahun liturgi “A”, oleh karena itu: Selamat Tahun Baru Liturgi! Dan Selamat memasuki Masa Advent.
Dalam Injil hari pertama tahun liturgi ini, Yesus mengatakan: “Berjaga-jagalah!”, dan perkataan Kristus ini amat tepat untuk kita renungkan dalam memasuki masa Advent ini. Karena apabila seseorang yang sedang berjaga-jaga dapat dipastikan kalau orang itu bukan sedang tertidur. Dan bagaimanakah dengan iman kita, adakah kita sudah berjaga-jaga agar iman kita dapat teguh untuk percaya kepada Bapa di surga? Atau sebaliknya iman kita telah tertidur karena kita sudah menjadi terlalu sibuk akhir-akhir ini? Bagaimanakah dengan kelakuan dan tindakan kita sehari-hari, adakah kita sudah menjaganya agar selalu selaras dengan perintah-perintah yang diberikan Tuhan kepada kita? Atau sebaliknya kelakuan-kelakuan baik kita sudah tertidur karena kekurang pedulian kita terhadap orang-orang disekitar kita? Bagaimanakah dengan pandangan kita, adakah kita sudah lupa dan tertidur untuk selalu memandang kepada Tuhan, karena kita lebih asik memandang smartphone kita? “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” (Ef 5:14). Karena Yesus mengatakan bahwa orang-orang pada jaman nabi Nuh itu begitu sibuk makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sehingga tidak memperhatikan nabi Nuh yang sedang membangun bahtera yang diperuntukan untuk menjadi penyelamat orang-orang yang sadar dan mau ikut.
Tentu saja ‘berjaga-jaga’ bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, ditambah lagi seringkali kita memandangnya sebagai hal yang memberatkan atau menambah beratnya beban hidup kita. Akan tetapi kita sebaiknya memperhatikan pula ayat terakhir dalam bacaan Injil hari ini, dimana Yesus berkata: “Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya”, dan kata ‘pengawas’ yang dalam bahasa Ibrani: ?????????? ???berarti ‘penguasa tetap’ dari segala milik Allah. (Untuk referensi bacalah: “Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku” Lukas 22:29-30). Dari sini jelaslah bahwa “Berjaga-jaga” yang disebutkan Kristus kepada kita bukanlah suatu ‘suruhan’, ‘tugas’ atau ‘beban’. Melainkan suatu tawaran luar biasa yang tersedia bagi orang-orang yang mau melakukannya.
“Liturgi Advent membantu kita untuk memahami sepenuhnya nilai dan makna misteri Natal. Advent bukanlah sekedar sebuah peringatan akan sebuah peristiwa sejarah, yang terjadi sekitar 2.000 tahun yang lalu di sebuah desa kecil di Yudea. Sebaliknya, perlulah dipahami bahwa seluruh hidup kita seharusnya adalah “Advent” itu sendiri, yaitu menanti, berjaga-jaga akan hari kedatangan Kristus. Seperti yang selalu kita ucapkan berulang-ulang dalam Kredo kita – “Bahwa Ia akan datang mengadili orang hidup dan mati”
Paus Johannes Paulus II – Dalam Kotbah Adven 2002





Menutup tahun liturgi, Gereja merayakan “Tuhan Raja Semesta Alam”. Artinya, Tuhan Yang Mahabaik itu mengasihi dan menyelenggarakan hidup manusia sehingga lewat segala kerja dan usaha manusia – baik gagal maupun berhasil, susah maupun mudah, lancar atau penuh hambatan, sehat maupun sakit - Tuhan menyelenggarakan hidup manusia agar setiap orang memperoleh keselamatan. Masalah utamanya apakah kita percaya bahwa Tuhan memang Raja Semesta Alam? Benarkah Tuhan yang Mahabaik dan Mahakasih itu benar-benar merajai hidup kita setiap hari? Apa artinya Tuhan itu merajai hidup kita?
Pertanyaan orang Saduki tentang status perempuan sebagai isteri sesudah kematian hanya mau mengatakan bahwa kehidupan akhirat itu tanda tanya besar. Soalnya mereka memang tidak percaya. Mereka lalu mengajukan satu kasus. Kalau seorang perempuan yang menikahi 7 bersaudara berturut-turut di dunia karena satu per satu suaminya meninggal lalu siapa yang menjadi suaminya di akhirat nanti? Bukankah kehidupan sesudah kematian itu tanda tanya besar dan tidak masuk akal? Yesus menegaskan bahwa kehidupan yang akan datang orang “tidak kawin dan dikawinkan” sebab “mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Luk 20: 36).
Di bulan akhir Januari 1965 siaran radio Australia memberitakan seorang pastor “ekstrimist” ditembak oleh seorang pejabat pemerintah di Agats, Papua. Ceritanya, sesudah kembalinya wilayah Papua (dulu disebut Irian Barat) banyak sekolah negeri didirikan, termasuk di daerah Agats. Pemerintah menginginkan murid yang berada di sekolah misi pindah ke sekolah negeri seperti mau dipaksakan oleh pejabat KPS (Kepala Pemerintah Setempat) waktu itu. Pertentangan pun terjadi, sejumlah pertemuan di Pirimapun, Agats antara pemerintah dan pengurus yayasan Katolik untuk menyelesaikan konflik itu tidak membuahkan hasil. Pada 27 Januari 1965 Pater Yan Smit OSC, pengurus persekolahan Katolik setempat yang teguh mempertahankan keberadaan sekolah Katolik mendapatkan ultimatum 24 jam dari KPS agar menemuinya di kantor. Pater datang dan KPS mendesak agar pastor itu pergi, “Apakah Pastor mau kembali ke Amerika?” Pater Yan Smit yang berasal dari Belanda tetapi bersama-sama misionaris OSC dari Amerika menjawab, “Saya ingin tetap di sini!”
Pegawai pajak zaman Yesus tidak jauh bedanya dengan pegawai pajak masa kini. Penuh kontroversi dan banyak mendapat sorotan masyarakat. Tapi mengapa bisa, Yesus begitu akrab ketika melihat Zakheus di atas pohon? Diceritakan, “Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." (Luk 19: 5). Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita (ayat 6). Memang, seperti terjadi pada Zakheus, keselamatan atau dapat dirumuskan sebagai rasa-perasaan damai, sukacita dan sejahtera hidup seseorang akan didapatkan kalau manusia dekat dengan sang sumber hidup, yaitu Yesus. Dekat dalam pengertian ini adalah adanya jalinan komunikasi untuk membangun tali persahabatan, “Aku menyebut kamu sahabat (bukan hamba), karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh 15: 15). Seorang sahabat adalah “alter ego” atau diriku yang lain, bagian jiwa kita, seperti dikatakan Santo Agustinus, “Karena seorag sahabat adalah diri saya yang lain, saya dapat bicara dengan dia tentang apa saja yang biasanya hanya saya bicarakan dengan diri saya sendiri, dan saya menyadari memiliki sahabat sejati, ketika saya berani percaya kepadanya tentang apa yang biasanya saya simpan sendiri.” Dalam persahabatan, lanjut Santo Agustinus, kamu mengalami dirimu tidak hanya sebagai dirimu saja tetapi juga diri kita yang lain bahkan dalam hal yang paling rahasia dalam diri kita, jiwa kita, yang tidak mungkin kita buka bagi orang yang bukan sahabat. Tanpa seorang sahabat, hidup terasa hampa dan tidak berharga karena tidak ada yang dekat. Itulah sebabnya Yesus, Sang Sahabat Sejati, selalu membuang hal-hal yang menghalangi orang dekat dengan diriNya. Penghalang itu, seperti dosa, kelemahan manusiawi, cap dan penghakiman orang lain, bukan hanya meminggirkan orang tetapi bahkan menjauhkan orang itu dengan dariNya. Yesus menyingkirkan penghalang yang menyebabkan seorang seperti Zakheus jauh dari Nya.