SYARAT PENGIKUT KRISTUS
Mother Teresa lahir tgl 26 Ags 1910 di Skopje, Ibu kota Masedonia. Dlm usia 18 thn, dia bergabung dgn Misionaris Suster Loreto dan ditugaskan sbg Guru di Sekolah Santa Teresia di Daarjeeling / India. Dia mengikrarkan kaul I tgl 24 Mei 1931 dan memilih nama “Theresia dari Kanak-kanak Yesus”, disingkat “Teresa”. Setelah hampir 20 thn mengajar, th ‘48 Suster Teresa meninggalkan Misionaris Suster Loreto dan tinggal dgn orang-orang miskin di Calcutta dgn mengenakan “Sari” – baju kas wanita India. Krn banyak org muda mengikuti jejaknya, Suster Teresa mendirikan Tarekat Misionaris Cintakasih. Dia mendirikan Rumah Duka, Rumah-rumah Sakit, Rumah Yatim Piatu, Rumah Sakit Lepra, dll. Kongregasinya menyebar ke seluruh Asia, Eropa, Afrika dan Amerika Latin. Mother Teresa mendpt berbagai penghargaan nasional dan internasional, termasuk Hadiah Nobel Perdamaian pd thn 1979. Dia meninggal tgl 5 September 1997 dan tgl. 19 Oktober 2003 digelarkan BEATA. Meninggalkan kehidupan mapan di Eropa dan tinggal bersama kaum miskin di India; mendirikan berbagai fasilitas utk kaum miskin, sakit dan cacat; memotivasi banyak org utk peduli kpd “orang-orang yg terpinggirkan” merupakan bentuk nyata dari Mother Teresa dlm mengikut Kristus.
Bacaan Injil hari ini (Mat 16:21-27) berbicara ttg SYARAT MENGIKUT KRISTUS. Namun seblm itu, Yesus berbicara ttg penderitaanNya dan teguran Yesus kpd Petrus (ayat 21-23) dan “nilai kehidupan” (ayat 25-26). Yesus mengajukan 3 syarat utk mengikutNya (ayat 24) : 1) Ia harus menyangkal dirinya; 2) memikul salibnya; 3) mengikut Yesus. Pertama, “menyangkal diri” sama artinya dgn “melepaskan diri dari” atau “membebaskan diri dari”. Misalnya : saya ketagihan merokok. Tapi suatu saat, krn alasan kesehatan, saya berhasil melepaskan diri dari ketagihan itu. Pelepasan itu diartikan sbg “penyangkalan diri”. Artinya : saya berhasil menyangkal “diriku yg ketagihan merokok” menjadi “diriku yg bebas dari merokok”. Namun “menyangkal diri” dlm ayat ini artinya “mengatakan TIDAK kpd diri sendiri dan YA kpd Allah”. Dkl, Allah di tempat pertama dan diri sendiri di tempat kedua (bdk. Mzm 115:1 Non nobis Domine non nobis, sed nomini Tuo da gloriam .. bkn kpd kami ya Tuhan, bkn kpd kami, tapi kepadaMulah beri kemuliaan). Kedua, “memikul salib” artinya menanggung pengorbanan. Kita hrs mengorbankan waktu, tenaga, materi dan mungkin uang utk pelayanan kpd sesama. Kita melakukan pelayanan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan pujian atau penghargaan. Ketika mendpt Hadiah Nobel, Mother Teresa berkata : “Saya tdk butuh piala atau medali, tapi saya butuh uang utk membantu kaum miskin”. Dan kita melakukan pelayanan demi “Tuhan melalui sesama kita”. Ketiga, mengikut Yesus artinya mengambil sikap taat seutuhnya kpd Yesus. Seperti “Yesus taat kpd BapaNya sampai mati di kayu salib (Fil 2:8)”, demikian juga setiap pengikut Yesus hrs taat kpdNya. Mengikut Yesus artinya “meniru apa yg dilakukan Yesus dlm pikiran, kata-kata dan tindakanNya”. Mengikut Yesus artinya mengikut jejak Yesus ke manapun Dia pergi. Dan kita ketahui, jalan yg dipilih Yesus adalah jalan SALIB, yaitu melalui penderitaan, penyaliban dan wafat, Yesus mencapai kebangkitan dan kemuliaan. “Per crucem ad salutem” – melalui salib kpd keselamatan. Namun Yesus memberi jaminan pasti bahwa “Barangsiapa kehilangan nyawanya krn Aku, ia akan memperolehnya” (ayat 25). Maka pertanyaan refleksi bagi kita : Apakah saya sudah menjadi pengikut sejati dari Sang Kristus ? Kisah Mother Teresa di atas semoga memberi contoh bhw mengikut Yesus membutuhkan pengorbanan (meninggalkan tanah air dan hidup di tengah kaum miskin di India), namun pengorbanan itu tidak sia-sia, karena akhirnya Mother Teresa dianugerahi kebahagiaan abadi (sdh diakui Gereja dgn menganugerahi gelar ‘BEATA’).





Thn. 1970 Andrew Lloyd Weber dan Tim Rice menggemparkan dunia kekristenan dgn opera rock berjudul “Jesus Christ Superstar”. Walau diinspirasi oleh Kitab Suci, opera ini hanya melihat Yesus dari sisi kemanusiaannya. Yesus masuk kota Yerusalem, dikhianati oleh Yudas Iskariot, didera dan berakhir di salib. Tidak ada peristiwa kebangkitan dan kenaikan ke surga. Tim Rice, penulis lirik, mengatakan : “Kami tidak melihat Yesus sbg Allah, tapi sbg manusia saja”. Sbg manusia, Yesus bisa lapar, haus, lelah, marah, menangis, ragu-ragu, dlsb. Banyak yg mengecam opera ini krn menyebut Yesus sbg Superstar, padahal Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Melihat Yesus hanya satu sisi - Allah saja atau manusia saja - merupakan bentuk penyangkalan iman Kristiani.
Hari Minggu ini ditetapkan Gereja sbg Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga. Pesta ini biasanya dirayakan setiap tgl. 15 Agustus, sebuah tradisi sejak abad VI. Santa Perawan Maria diangkat ke surga merupakan sebuah dogma yg ditetapkan Paus Pius XII melalui Konstitusi Apostolik “Munificentissimus Deus” (Allah yg sangatmurah hati) yg diumumkan tgl. 1 Nopember 1950. Dogma adalah sebuah pengajaran yg terkait dgn wewenang mengajar Gereja (ex catedra) yg secara implisit maupun eksplisit dinyatakan di dlm Kitab Suci atau Tradisi Suci, yg hrs dipercaya oleh umat beriman sbg sebuah kebenaran. Dogma ini menyusul beberapa dogma sebelumnya ttg Bunda Maria, yaitu : 1. Maria Bunda Allah (Theotokos/Mater Dei) melalui Konsili Efesus thn 432 dan Konsili Chalcedon th 451. 2. Maria Tetap Perawan (Maria Virgini) melalui Konsili Konstantinopel th 553 dan Konsili Lateran th 649. 3. Maria dikandung tanpa noda dosa asal (Immaculata conception) yg dikeluarkan oleh Paus Pius IX tgl 8 Desember 1854. Bagaimana kita dpt memahami dogma ini ? Tuhan menciptakan Maria dlm rahim Santa Anna, ibunya, tanpa noda dosa asal. Mengapa ? Krn Tuhan menghendaki demikian spy Maria dpt mengandung Yesus, Putera Allah. Pada akhir hidup Maria di dunia, Tuhan memutuskan utk melakukan sesuatu yg istimewa bagi Bunda Maria. Tubuhnya tdk dimakamkan, tetapi Tuhan mengangkat tubuhnya ke surga. Bunda Maria diangkat jiwa dan raganya ke surga agar ia dpt senantiasa bersama dgn Yesus. Sungguh suatu karunia yg amat istimewa yg dianugerahkan kpd Maria, krn Tuhan amat mengasihinya. Beberapa dasar biblis dari dogma ini : 1) Kej 3:15 “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau (= ular/setan) dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu ..” 2) Gal 4:4 “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yg lahir dari seorg perempuan ..”. 3) Lk 1:28 : “Salam hai engkau yg dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” …. “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan (ayat 42) .. sesungguhnya mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku bahagia (ayat 48). 4) Why 12:1-6 : “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit : Seorg perempuan berselubungkan matahari, dgn bulan di bawah kakinya, dan sebuah mahkota dgn 12 bintang di atas kepalanya”. Keyakinan bhw Bunda Maria diangkat ke surga sdh dimulai sejak abad V. Tulisan dari Org-org kudus dan Bapa-Bapa Gereja dpt membuktikan hal ini, misalnya : St. Yohanes Damaskus (676-754), St. Antonius Padua, (1195-1231), St. Thomas Aquinas (1225-1274), St Albertus Agung (1206-1280) dan St. Alphosus Liguori (1696-1787). Lalu apa makna Pesta ini bagi kita ? Merayakan Pesta Maria diangkat ke surga dpt menjadi ungkapan kepercayaan akan masa depan kemanusiaan kita. Bahwa pd satu saat nanti umat manusia akan kembali berada bersama dgn Tuhan di surga. Kita yakin akan hal ini karena sdh terjadi pd Bunda Maria, yg kini sdh ada bersama Allah. Makna ini ditegaskan kembali oleh KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) dlm Surat “LIHATLAH BUNDAMU” (1973) : “Maria diangkat ke surga lbh merupakan suatu pengingat bagi Gereja bhw Tuhan menghendaki agar mereka semua yg telah diberikan Bapa kepadaNya dibangkitkan bersamaNya. Dalam Maria diangkat ke dalam kemuliaan, ke dalam persatuan dengan Kristus, Gereja melihat dirinya menjawab undangan dari Mempelai surgawi.” Madah Magnificat Maria dlm bacaan injil hari (Lk 1:39-56) ini merupakan pujian syukur atas karya agung Allah, yg “mengerjakan perbuatan-perbuatan besar dlm diri Maria, hambaNya yg hina”. Dan karya agung ini direspons oleh Maria dgn ketaatan tanpa syarat “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lk 1:38). Dan ketaatan itulah yg mengantar Maria kpd kemuliaan, kpd kebahagiaan bersama Allah di surga. Maka Pesta Santa Perawan Maria diangkat ke surga hendaknya mendorong kita utk selalu taat kepada kehendak Allah dan selalu hidup dalam FirmanNya. Madah Magnificat yg dinyanyikan Maria hendaknya menjadi madah hidup kita, karena “Allah telah mengerjakan hal-hal besar dalam diri kita” (Lk 1:49). Magnificat anima mea Dominum – Jiwaku mengagungkan Tuhan !!
Tgl. 7 Juni 2012 film “SOEGIJA” yg disutradarai Garin Nugroho ditayangkan di bioskop-bioskop besar di Tanah Air. Film ini mengisahkan peran Mgr Albertus Soegijapranata, uskup pribumi pertama, dlm perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia melalui “silent diplomacy”. Menurut Garin : "Indonesia pernah punya pemimpin yg tangguh dan tdk menjadikan kemanusiaan sbg sebuah wacana belaka." Dan ini nyata dlm diri Mgr Soegijapranata. Beliau lahir tgl 25 Nov 1986 di Surakarta dari keluarga Abdi Dalem Muslim. Ketika pindah ke Yogyakarta, Soegija masuk Kolese Xaverius – Yesuit di Muntilan. Di sana Soegija tertarik dgn agama Katolik dan dibaptis. Setelah lulus, Soegija menjadi seorang guru sambil belajar di Seminari di Muntilan. Thn. 1919 Soegija berangkat ke Belandautk bergabung dgn Serikat Yesus dan ditahbiskan pd 15 Ags 1931. Kembali ke Indonesia, Romo Soegija memulai tugas pastoralnya di Paroki Kidul Loji, Yogyakarta dan thn 1940 ditahbiskan sbg Vikaris Apostolik Semarang. Selama pendudukan Jepang, Mgr Soegija aktif menyelamatkan rakyat yg menjadi korban peperangan. Beliau juga banyak menulis ttg situasi Indonesia di media internasional. Dlm tulisannya, Beliau menekankan bhw kita hrs menjadi “100% katolik, 100% Indonesia”. Sikapnya ini membangkitkan semangat banyak warga katolik berjuang utk kemerdekaan, bahkan beberapa di antaranya mendpt gelar pahlawan seperti : Ignatius Slamet Rijadi (+1945), Agustinus Adisucipto (+1947) dan Yos Soedarso (+1961). Tgl 3 Jan 1961 Beliau diangkat sbg Uskup Agung Semarang. Namun tgl 22 Juli 1963 Mgr Soegijapranata meninggal di Belanda dan jenazahnya diterbangkan ke Indonesia. Atas perannya dlm perjuangan kemerdekaan, pd thn yg sama Presiden Soekarno memberi Beliau gelar “Pahlawan Nasional”. Meskipun Mgr Soegijapranata sdh pergi, namun pandangannya mengenai “100 % Katolik dan 100 % Indonesia” masih sangat relevan sampai saat ini.
I