
Bacaan I : Yes. 49:3,5-6; Bacaan II : 1Kor. 1:1-3;
Bacaan Injil: Yoh. 1:29-34.
SAKSI YANG SEJATI
Bacaan Kitab Suci minggu ini mengingatkan kita bahwa hidup kita adalah panggilan. Allah bukan hanya memanggil orang orang besar atau istimewa. Tetapi kita orang-orang biasa juga dipanggil untuk menjadi saksi Kristus.
Kitab Yesaya berbicara tentang Hamba Tuhan yang dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Hamba Tuhan di sini awalnya dipahami sebagai Israel sebagai sebuah bangsa. Namun pada Yes 49:5 sosok Hamba tersebut menunjuk pada figur mesianik yang dipersiapkan sejak dari kandungan. Tugasnya adalah mengembalikan Israel kepada-Nya dan mempersatukan mereka. Nubuatan ini juga menyatakan bahwa Allah adalah kekuatan dari Hamba tersebut dan berkat tugas tugas-Nya itu nama-Nya dipermuliakan. Hamba tersebut juga akan menjadi terang bagi bangsa-bangsa agar keselamatan Allah menjangkau seluruh dunia.
Jati diri Hamba tersebut diungkap oleh Yohanes Pembaptis yang menunjuk pada Yesus Kristus. Yohanes menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh 1:29). Sebutan Anak Domba Allah juga mengingatkan bahwa Yesus datang bukan dengan kekuasaan atau paksaan melainkan dengan kelembutan, kepasrahan dan pengorbanan. Ia menghapus dosa dunia dengan kasih yaitu rela menyerahkan diri-Nya sebagai kurban. Kata “dunia” menunjuk kepada seluruh umat manusia tanpa sekat-sekat bangsa dan budaya.
Sementara itu dalam kata pembuka suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus mengingatkan bahwa dia dipanggil menjadi rasul Yesus Kristus atas kehendak Allah. Dia juga mengingatkan bahwa jemaat Korintus adalah jemaat Allah yang yang dikuduskan dalam nama Kristus Yesus dan dipanggil menjadi orang-orang kudus (1Kor 1:1-2).
Ada benang merah dari ketiga bacaan hari ini. Yesaya dipakai Allah untuk mewartakan kedatangan Hamba-Nya, Yohanes Pembaptis dipakai Allah untuk membaptis Putera Nya supaya Ia dinyatakan kepada Israel dan Paulus dipakai oleh Tuhan Yesus untuk mewartakan kabar sukacita kepada dunia. Ketiga tokoh tersebut mengajak kita untuk berkata melalui hidup kita: “Biarlah Kristus yang terlihat bukan aku.”
Secara manusiawi kita ingin dilihat, diakui dan didengar. Dalam dunia yang penuh pencitraan dan persaingan orang mudah tergoda untuk menempatkan diri sebagai pusat perhatian. Kita ingin dipuji, dihargai dan dianggap penting. Tetapi Sabda Tuhan hari ini justru mengajak kita belajar akan makna menjadi saksi yang sejati: bukan menarik perhatian pada diri sendiri melainkan menunjuk kepada Dia yang menjadi sumber hidup.
Marilah kita memilih satu tindakan sederhana: bersikap lebih sabar, berkata lebih jujur atau berbuat baik tanpa ingin dilihat. Melalui kesederhanaan itulah kita menjadi saksi Kristus yang sejati dan menghadirkan terang-Nya bagi dunia. [SUT]




