MINGGU BIASA XXVI (A/II)
Hari ini kita disajikan sebuah perumpamaan yang tak kalah menarik dari yang sebelum-sebelumnya. Dikisahkan ada seorang ayah yang meminta anaknya untuk bekerja di kebun anggur, anaknya kemudian menjawab “Baik, bapa” (menarik sekali bahwa kata aslinya adalah: ????????: Eo kyrie, Ya Tuhan)tetapi ia tidak pergi, sedangkan anaknya yang lain sebaliknya menjawab: “Aku tidak mau”, tetapi kemudian ia menyesal dan pergi juga (ke kebun anggur).
Sebenarnya Yesus menujukan perumpamaan ini kepada imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi yang mempertanyakan kuasa mengajar Yesus. Tetapi untuk lebih memahaminya, marilah kita melihat bagaimana sudut pandang orang yahudi terhadap kisah ini: Bagi mereka yang sangat memegang hukum taurat, anak yang berkata tidak pada ayahnya adalah jelas-jelas sangat bersalah, karena ia melanggar hukum ke-4 dari 10 perintah Allah, yaitu: Hormatilah ayah ibumu. Tetapi yang menjadi pertanyaan Yesus bukanlah, siapakah yang bersalah... Melainkan: “Siapakah yang melakukan kehendak ayahnya?” Tentu saja jawabannya adalah:anakyangpergikekebunanggur.Pesan penting apakah yg ingin disampaikan Yesus dgn perumpamaan ini?
Kiranya cukup jelas bahwa Yesus mengkritik orang-orang Yahudi yang lebih mementingkan otoritas mengajar Yesus daripada isi pengajaran serta tindakan pelayanan Yesus. Dalam perumpamaan ini Yesus mengajarkan bahwa bukan sekedar status sebagai umat Tuhan yang menyelamatkan manusia, tetapi pada melakukan kehendak Allah. Dan rasanya apa yang diajarkan Yesus patut menjadi bahan permenungan kita juga sebagai umat-Nya: sudah seberapa banyakkah kita melakukan kehendak Allah dalam hidup kita? Perlu disadari bahwa pada umumnya manusia dengan mudah larut oleh berbagai urusan sehari-hari, oleh karena itu kita perlu untuk refleksi setiap hari. Seperti yang dinyanyikan dalam Mazmur hari ini “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.”
Bahkan Paus kita juga turut memperhatikan hal ini, seperti yang dikotbahkan olehnya baru-baru ini: “Kita menghadapi banyak tantangan dalam hidup: kemiskinan, penderitaan, penghinaan, perjuangan untuk keadilan, penganiayaan, sulitnya pertobatan harian, upaya untuk tetap setia pada panggilan kita untuk menjadi kudus, dan banyak lainnya. Tetapi jika kita membuka pintu kepada Yesus dan menjadikan Dia bagian dari kehidupan kita, berbagi suka dan duka dengan-Nya, maka kita akan mengalami kedamaian dan sukacita yang hanya Tuhan, dengan kasih-Nya yang tak terbatas, dapat memberikannya.” (Paus Fransiskus, World Youth Day, 2014)





Pada hari ini kita bertemu dengan perumpamaan seorang pemilik kebun anggur yang memperkerjakan beberapa orang pada jam yang berbeda dari jam 6 pagi, sampai jam 5 sore, dan semuanya diberi upah sama satu dinar. Yang bekerja dari pagi protes karena merasa sudah bekerja lebih lama. Dan pemilik kebun anggur itu menjawab bahwa yang diberikannya sudah adil karena sesuai janjinya diawal, dan bukankah ia bebas memberikan sesuka hatinya.
Mother Teresa lahir tgl 26 Ags 1910 di Skopje, Ibu kota Masedonia. Dlm usia 18 thn, dia bergabung dgn Misionaris Suster Loreto dan ditugaskan sbg Guru di Sekolah Santa Teresia di Daarjeeling / India. Dia mengikrarkan kaul I tgl 24 Mei 1931 dan memilih nama “Theresia dari Kanak-kanak Yesus”, disingkat “Teresa”. Setelah hampir 20 thn mengajar, th ‘48 Suster Teresa meninggalkan Misionaris Suster Loreto dan tinggal dgn orang-orang miskin di Calcutta dgn mengenakan “Sari” – baju kas wanita India. Krn banyak org muda mengikuti jejaknya, Suster Teresa mendirikan Tarekat Misionaris Cintakasih. Dia mendirikan Rumah Duka, Rumah-rumah Sakit, Rumah Yatim Piatu, Rumah Sakit Lepra, dll. Kongregasinya menyebar ke seluruh Asia, Eropa, Afrika dan Amerika Latin. Mother Teresa mendpt berbagai penghargaan nasional dan internasional, termasuk Hadiah Nobel Perdamaian pd thn 1979. Dia meninggal tgl 5 September 1997 dan tgl. 19 Oktober 2003 digelarkan BEATA. Meninggalkan kehidupan mapan di Eropa dan tinggal bersama kaum miskin di India; mendirikan berbagai fasilitas utk kaum miskin, sakit dan cacat; memotivasi banyak org utk peduli kpd “orang-orang yg terpinggirkan” merupakan bentuk nyata dari Mother Teresa dlm mengikut Kristus.
Yeh 33: 7-9; Mzm 95: 1-2. 6-7. 8-9 (8); Rom 13: 8-10; Mat 18: 15-20
Thn. 1970 Andrew Lloyd Weber dan Tim Rice menggemparkan dunia kekristenan dgn opera rock berjudul “Jesus Christ Superstar”. Walau diinspirasi oleh Kitab Suci, opera ini hanya melihat Yesus dari sisi kemanusiaannya. Yesus masuk kota Yerusalem, dikhianati oleh Yudas Iskariot, didera dan berakhir di salib. Tidak ada peristiwa kebangkitan dan kenaikan ke surga. Tim Rice, penulis lirik, mengatakan : “Kami tidak melihat Yesus sbg Allah, tapi sbg manusia saja”. Sbg manusia, Yesus bisa lapar, haus, lelah, marah, menangis, ragu-ragu, dlsb. Banyak yg mengecam opera ini krn menyebut Yesus sbg Superstar, padahal Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Melihat Yesus hanya satu sisi - Allah saja atau manusia saja - merupakan bentuk penyangkalan iman Kristiani.