DI BATAS NALAR
Anak-anak balita, ketika mulai bisa bicara, di ujung mulutnya seperti ada kata apa dan mengapa yang selalu menyala. Apa itu, Ma? Mengapa begitu? Sepertinya mereka, dengan otak kecil mereka, ingin mengetahui dan menalar segalanya dalam seketika. Dan ternyata itu memang baru awal. Sampai dewasa, bahkan tua, orang seperti mendewakan apa dan mengapa. Bagi manusia harus ada alasan bagi setiap hal. Kalau ada gunung, sungai, atau laut, seolah harus ada alasan mengapa. Apalagi kata kerja, harus selalu ada mengapanya. Begitu otak tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan mengapa, orang akan mengatakan hal itu tidak rasional, tidak masuk akal, karenanya tidak bisa diterima. Akal menjadi penentu apakah sesuatu bisa diterima atau tidak.
Dalam beriman juga sama saja. Salah satu tema perdebatan antaragama yang paling sengit juga menyangkut hal ini. Apakah agamamu cukup rasional… cukup nalar. Dalam pada itu salah satu cara saling menghujatnya juga ada di sana: agamamu tidak masuk akal. Maka kembalilah kita kepada cerita klasik St. Agustinus yang ingin memahami Tuhan sejelas-jelasnya, sampai disindir dengan perumpamaan anak kecil yang ingin memasukkan air laut di sumur pasir di pantai.
Bacaan hari ini mengingatkan kita pada kesombongan logika manusia. Kepada malaikat yang datang kepadanya Bunda Maria bertanya, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"Rahmat yang ditawarkan Tuhan seolah “mentok” di hadapan hukum alam, yang menjadi dasar sekaligus batas logika manusia. Nalar biologi modern menanyakan, jika tida ada sel sperma, bagaimana mungkin terjadi proses pembuahan atas sel telur?
Pada bacaan pertama, Daud juga membangun logikanya sendiri, bahwa Tuhan tentu senang dengan puji dan sembah, sehingga Tuhan akan “merestui” pembangunan Bait Allah. Namun ternyata, melalui Nabi Natan, Tuhan mewahyukan “logikanya” sendiri. Bukan Daud yang harus mendirikan Bait Allah, melainkan anak Daud, yang kemudian kita tahu adalah Raja Salomo.
Kedua bacaan hari ini kiranya bukan soal Bunda Maria atau Raja Daud, tetapi soal manusia, soal kita, yang selalu mengedepankan nalar, bahkan ketika berhadapan dengan Tuhan. Padahal nalar, sehebat apa pun dia, adalah bagian dari kemanusiaan, yang serba terbatas. Maka kiranya terlalu ngoyoworo (terlalu tidak pantas) untuk mengajukan pertanyaan, mengapa rahmat Tuhan, rahmat penyelamatan dalam Puteranya, yang akan segera kita terima dalam Natal, bisa dan harus terjadi. Tuhan mencintai dan merahmati manusia bukan karena… juga bukan dengan alasan. Tuhan mencintai manusia adalah kenyataan iman. Adven dan Natal adalah cara Gereja untuk mengingatkan kita akan “kasih Tuhan titik” itu.
Sepantas-pantasnya respon “tahu diri” atas kenyataan iman itu adalah apa yang diteladankan Bunda Maria, yakni jawaban tulus, “Amin.”





Dalam hal ekspresi, saya masuk kelompok orang yang “mati rasa”. Ketika orang-orang di sekitar saya tiba-tiba bergoyang mendengar irama musik tertentu, maksimal saya hanya ikut mengetuk hitungan irama. Jika dalam konser orang ikut berteriak bernyanyi, maksimal saya hanya ikut menggumam dalam hati. Saya mati ekspresi. Pernah saya berjuang untuk ekspresif. Ikut menari sambil menyanyi. Tentu saja di satu tempat asing, tak ada yang mengenal saya. Tapi di belakang kepala seperti ada saya lain yang berteriak, “Ini bukan gayamu.”
Seorang tetangga tampak jengkel dan kesal karena menunggu cukup lama dan tidak ada seorangpun yang membukakan pintu ketika dia pulang dari luar kota. Dia dan istrinya sudah memencet bel berkali-kali, menelpon berulang-ulang dan mengetuk pintu berulang-kali. Ketika ditanya, apakah mereka tidak bawa kunci rumah ? “Ini sudah berkali-kali kami alami. Pernah kami berdua pulang dari misa malam, pembantu kami tertidur lelap sehingga butuh waktu lama untuk membangunkannya. Pernah juga kami pulang dari olah raga pagi, ternyata rumah kami kosong karena pembantu yang kami tinggalkan untuk menjaga rumah justru pergi bertandang ke rumah tetangga, sehingga kami harus menunggu lama untuk bisa masuk ke rumah. Karena itu kami putuskan untuk membawa kunci pintu sendiri dan tidak mengandalkan pembantu” Itu tindakan yang bagus, tetapi mengapa malam ini tidak bisa masuk ke rumah juga ? “Ya, ternyata pembantu kami tidak mencabut kunci pintu dari dalam ketika dia tidur, sehingga kami tidak dapat membukanya dari luar” Injil Markus hari ini masih berbicara dalam rangkaian “khotbah tentang akhir jaman” "Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!" (Mrk 13:33-37) Betapa jengkel dan kesal, ketika tuan yang bepergian itu pulang dan didapati hamba-hambanya sedang tidur. Karena itu Yesus mengatakan agar kita semua selalu “berjaga-jaga” karena kedatangan Nya kembali pada akhir jaman dan secara khusus pada akhir dari kehidupan setiap dari kita tidak dapat dipastikan kapan, bagaimana dan dimana. Jangan sampai pada waktu Dia datang, justru iman kepercayaan kita pada Nya sedang tertidur lelap karena terlena oleh bujuk-rayu si iblis, atau justru kita sedang meninggalkan Dia karena terlalu asik dengan daya tarik dunia yang menggoda, atau bahkan kita telah mengunci pintu hati kita karena menolak kasih Nya. Setiap dari kita akan mengalami kedatangan Nya kembali pada akhir kehidupan kita masing-masing, sejauh mana kita telah mempersiapkan diri dan berjaga-jaga menantikan Dia ? Akhir kehidupan tidak dapat ditentukan waktunya, setiap saat dapat saja datang seperti pencuri (bdk Mat 24:42-44). Hiduplah seolah-olah waktunya akan segera tiba, sang tuan akan segera pulang, Dia akan datang untuk kedua kalinya, maka seperti apa yang dipesankan Yesus :”berjaga-jagalah !”. Semoga dalam masa penantian ini, kita akan dipenuhi oleh kasih karunia Nya dan diteguhkan sampai pada kesudahannya, sehingga kita tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus (bdk 1 Kor 1:4-9). Amien
Ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengadakan safari darat di Sumatra, satu kelompok nelayan di daerah Way Lunik, Lampung, mengaku kecewa, karena presiden tidak blusukan ke perkampungan mereka. Padahal para nelayan sudah bersiap menyampaikan berbagai keluhan, terkait pembuangan limbah industri yang berdampak pada kian sedikitnya ikan yang bisa mereka tangkap.
HR Yesus Kristus Raja Semesta Alam merupakan minggu terakhir dalam kalendarium liturgi sebelum memasuki tahun baru / Masa Adven. Sebagaimana terjadi pada peristiwa akhir, yaitu orang sering mengadakan refleksi atau evaluasi, marilah kita juga mengevaluasi dan berrefleksi atas diri kita masing-masing: panggilan, tugas perutusan dst. Adakah perkembangan atau pemantapan, peningkatan dalam hidup beriman, hidup manusiawi, karya / pegawai atau panggilan (berkeluarga, imam dan biarawan)? Apakah kita semakin dikuasai dan dirajai oleh Raja Yesus Kristus, sehingga memiliki `budaya Raja Yesus Kristus': cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak Yesus Kristus, dan bukan dengan caranya sendiri alias `sak penake wudhele dewe', menurut selera sendiri. Sebagai anggota tarekat / lembaga hidup bakti, sejauh mana saya semakin dijiwai oleh kharisma atau spiritualitas pendiri. Sebagai suami-isteri yang menyatu karena dan oleh cinta-kasih, sejauh mana semakin mengasihi sehingga berdua nampak bagaikan `anak kembar'. Sebagai pegawai atau karyawan semakin terampil dalam bekerja sesuai dengan bidang pekerjaan dan pelayanan masing-masing serta menghayati visi-misi unit / lembaga kerja di mana saya berada. Sebagai pelajar atau mahasiswa semakin mahir dalam belajar yang nampak dalam nilai-nilai akhir semester atau akhir tahun yang selalu naik meskipun hanya sedikit, dst. Dengan kata lain, pada akhir tahun liturgi ini marilah kita mawas diri apakah perjalanan setahun yang telah lewat sungguh bermanfaat dan berdaya-guna bagi hidup, keselamatan, kesejahteraan, panggilan atau tugas perutusan kita. Apakah kita juga sanggup menanggapi secara positif ajakan Sang Raja: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Hari ini di manapun berada, apapun yang kita kerjakan… ingat bahwa kita berada di Taman Firdaus. P. Ign. Sumarya, S.J.“dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”