RENUNGAN
Apabila pada kulit badan seseorang ada bengkak atau bintil-bintil atau panau, yang mungkin menjadi penyakit kusta pada kulitnya, ia harus dibawa kepada imam Harun. Im 3:1-2
Tiga hari lagi kita akan memasuki masa prapaskah, dan Yesus mempersiapkan kita melalui kisah penyembuhan seorang yang sakit kusta. Penelitian Kitab Suci modern mengatakan bahwa penyakit kusta yang dimaksud dalam kitab suci bukanlah penyakit lepra (leprosy/Hansen Disease), karena gejala-gejalanya berbeda. Dan kemungkinan penyakit yang dimaksud adalah “Psoriasis”, sebuah penyakit yang tidak menular tetapi sulit disembuhkan. Sehingga dapat dikatakan para penderita kusta/psoriasis pada masa itu diasingkan bukan karena penyakitnya menular, tetapi lebih pada kutukan yang dianggap dibawa oleh penderitanya.
Kembali pada penyakit kusta itu, kita mungkin tidak menderita kusta secara fisik, tetapi mungkin saja mengidap penyakit kusta itu secara rohani. Marilah meneliti gejala-gejalanya: Gejala pertamanya adalah ‘bengkak/scab’ yaitu seperti penebalan/keropeng pada bekas luka yang mulai sembuh. Lukanya sudah mulai sembuh.... tetapi disekitarnya masih terasa gatal, dan bila terbentur, rasanya sakit sekali. Kita mungkin pernah merasa sakit hati, kesal, marah pada suatu kejadian dimasa lalu, sebenarnya luka itu sudah mulai sembuh, akan tetapi karena kita sering tidak tahan untuk menggaruk dan mengorek-ngoreknya kembali, luka itu tidak sembuh-sembuh, dan bila luka itu tersentuh lagi, dengan cepat kita menjadi marah, tersinggung atau meledak kembali.
Gejala keduanya adalah ‘bintil-bintil/pustule’, yang disebabkan oleh infeksi/nanah didalam kulit. Mungkin kita masih terinfeksi oleh kebencian, kepahitan, kemarahan yang belum bisa kita ampuni. Yang bukan hanya satu, bukan hanya dua tetapi banyak hingga menjadi bintil-bintil yang rasanya sudah hampir meledak dalam hati kita? Dan bila tekanan hidup yang kita alami kebetulan tepat mengenai bintil itu, maka meledaklah racun kemarahan, kesinisan, keiri-hatian itu.
Gejala yang ketiga adalah ‘panau/blotch’, yang berupa bercak kemerahan seperti reaksi alergi pada kulit. Kita mungkin sudah merasa kalau hidup kita sudah nyaman dan tidak banyak masalah lagi, akan tetapi saat bertemu dengan orang tertentu, atau masalah tertentu, seperti alergi tiba-tiba kita menjadi kacau, kesal, marah dan tidak tenang.
Apabila masih ada gejala-gejala itu dalam diri kita, bukankah seperti orang yang sakit kusta dalam Injil hari ini; sekaranglah saatnya bagi kita untuk berlutut di depan Yesus dan berkata: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”. Dan dalam bacaan kedua kita diingatkan bahwa berubah secara rohani bukanlah berarti melakukan hal-hal yang fenomenal, melainkan melakukan hal-hal biasa dalam hidup kita: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”






Kalau kita menyimak bacaan injil hari ini (Mrk 1:14-20), sebenarnya terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama mengenai kotbah Yesus di Kapernaum daerah Galilea (bdk. Mt 4:13), sedangkan bagian kedua mengenai panggilan 4 murid pertama, yaitu Petrus dan Andreas, lalu Yakobus dan Yohanes. Kotbah perdana Yesus di Galilea hanya terdiri dari 3 kalimat singkat, padat dan jelas : 1) Waktunya telah genap; 2) Kerajaan Allah sdh dekat; 3) Bertobatlah dan percayalah kpd injil. (Mrk 1:15). Berbeda dgn harapan banyak orang bhw pembawa Khabar Gembira akan muncul di Yudea, ternyata Dia muncul di Galilea, sesuai ramalan Yesaya : "Tanah Zebulon dan Naftali (=Galilea) ..telah terbit Terang" (lht Mt 4:15-16 - Yes 8:23-9:1). Yesus tampil setelah Yohanes Pembaptis ditangkap seakan menunjukkan sebuah "serah-terima" perutusan, yg dimulai oleh Yohanes dan kini diteruskan dan disempurnakan oleh Yesus. Kata "waktu" atau "Kairos" (bah. Yunani) adalah sebuah momentum penting dari sejarah keslamatan atau klimaks dari rangkaian waktu yg direncanakan Allah. Klimaks itu terjadi ketika "Allah mengutus AnakNya, yg lahir dari seorang perempuan dan takluk kpd hukum Taurat. Ia diutus utk menebus mereka, yg takluk kpd hukum Taurat, spy kita diterima menjadi anak" (Gal 4:4). Lalu Yesus menegaskan bhw Kerajaan Allah sdh dekat (Mrk, 1:15) atau lebih tepat "Kerajaan Allah sdh ada" ! Org Yahudi merindukan datangnya kerajaan Allah, krn sampai saat itu mereka dijajah oleh Kekaiseran Romawi. Ketika Yesus memberitakan ttg "Kerajaan Allah sdh dekat", maka berita itu sungguh menggembirakan. Maka dpt dikatakan: "kerajaan Allah" sama dgn "berita gembira" atau "injil" ! Kerajaan Allah sering juga disebut "kerajaan surga" karena Allah memerintah dari surga. Apa yg dimaksudkan dengan kerajaan Allah (=basilea) ? Kerajaan Allah berarti Allah sedang bertindak dan berkarya di tengah umatNya atau Allah menguasai dan memimpin umatNya. Maka kerajaan Allah bkn sebuah pengertian "wilayah", melainkan "penguasaan" atas umatNya. Umat dituntut utk menyerahkan diri seutuhnya kpd Allah. Mereka hrs "meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Yesus", seperti kisah ttg panggilan 4 murid pertama. Hukum yg paling utama dlm kerajaan Allah adalah KASIH. Dan setiap org menyerahkan diri kpd Allah hrs memiliki sifat-sifat : lembah lembut, kemurnian hati dan kesucian hati (bdk. Sabda Bahagia, Mt, 5:3-11). Atau sesuai poin ke-3, dari kotbah perdana Yesus bhw seseorg hrs "bertobat" ! Bertobat atau "metanoein" bkn cuma sebuah tindakan tobat, melainkan sebuah perubahan total - berbalik 180 derajat dari cara hidup yg lama. Bdk dgn Kisah orang Ninive dalam bacaan I atau ajakan Rasul Paulus dlm bacaan II. Itulah pertobatan ! Lalu apa yg dapat kita petik dari bacaan-bacaan hari ini ? 1) Waktu atau momentum itu sangat berharga ! Kalau org Ninive tdk mendengarkan nasihat Yunus, maka kota Ninive akan hancur. Namun org Ninive sungguh memanfaatkan "waktu", yg diberikan Allah kpd mereka utk bertobat. 2) Kerajaan Allah artinya "Allah yg sungguh merajai hidup kita". Bukti bhw Allah merajai hidup kita jika kita menyerahkan seluruh hidup kita kpd penyelenggaraan Allah; jika kita hidup sesuai dgn hukum Allah yaitu hukum kasih. 3) Penyerahan diri kpd Allah ditunjukkan dgn sikap "meninggalkan hal-hal yg mungkin menyenangkan diri kita (=jala), dan mengikuti Yesus". Mengikuti Yesus artinya : "menyangkal dirinya, memikul salib, lalu mengikuti Yesus" (lht Mt 16:24). Sikap 4 murid pertama, ketika dipanggil Yesus langsung meninggalnya jalanya dan org-org upahannya lalu mengikuti Yesus adalah contoh nyata ttg bagaimana sikap seorg pengikut Yesus. Semoga kita juga demikian !
Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan—Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, - dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. —Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, — supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik. (Kutipan dari Bacaan Kedua).
Karya penyelamatan manusia dpt terlaksana melalui keterlibatan manusia. Dan manusia-manusia yg dilibatkan dlm karya penyelamatan itu dipanggil secara khusus oleh Allah. Bacaan pertama dan bacaan injil hari ini berbicara ttg panggilan khusus tersbt. Bacaan pertama menceriterakan ttg panggilan Samuel menjadi Nabi (1Sam 3:1-21). Sdgkan injil menceriterakan ttg panggilan 2 murid pertama, yaitu Yohanes dan Andreas (Yoh 1:35-39). Ada pola yg sama dlm kisah panggilan. Pertama, Allah yg mengambil inisiatip. Misalnya, Allah secara langsung memanggil Samuel 3 kali; dua murid pertama dipanggil melalui Yohanes Pembaptis. Bdk juga : Yoh 15:16 “Bukan kamu yg memilih Aku, melainkan Akulah yg memilih kamu”. Kedua, manusia hrs menjawab “ya” atas panggilan Tuhan. Bdk. Jawaban Samuel atas panggilan Allah : “Bersabdalah ya Tuhan, sebab hambaMu ini mendengar” (1 Sam 3:10). Sama dgn jawaban Bunda Maria : “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38). Juga Nabi Yeremias : “Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan, dan aku membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku, dan Engkau menundukkan aku” (Yer 20:7). Dan konsekuensi dari jawaban “ya” tersebut adalah mereka meninggalkan segala-galanya dan mengikuti panggilan Allah. Ketiga, orang yg dipanggil itu harus menjadi manusia yg berbeda dgn sebelumnya (=”manusia baru”) atau “harus menyangkal dirinya” (Mat 16:24; Mrk 8:34; Lk 9;23) dan ini sering disimbolkan dgn nama baru (bdk : Abram menjadi Abraham; Yakob menjadi Israel; Simon menjadi Kefas atau Petrus. Keempat, panggilan slalu mempunyai misi atau tugas khusus. Bdk panggilan Samuel utk mewartakan Firman Tuhan dan menjadi hakim atas Israel (Sam 3:19; 7:15); Maria menjadi “Bunda Allah”; kedua murid pertama utk “tinggal” bersama-sama dgn Yesus (Yoh 1:39). “Tinggal” di sini berarti mengenal Tuhan lbh dekat dan tentunya juga utk mencintai Dia. Dan setelah dipanggil, dia juga membawa orang lain utk menjumpai Tuhan. bdk Andreas yg membawa Simon, saudaranya, utk bertemu dgn Yesus (Yoh 1:42). Lalu apa makna panggilan ini bagi kita ? Pertama, krn panggilan adalah inisiatip dari Allah, maka kita hrs tetap rendah hati dan bersyukur. Bdk. Sikap Andreas, yg jadi murid pertama, tapi tetap rendah hati, walau tdk pernah jadi “orang dalam”, bahkan slalu di belakang Petrus, sdranya. Kedua, saat ini org membedakan pekerjaan sbg “profesi” dan sbg “panggilan” (=calling). Profesi biasanya dikaitkan dgn keahlian dan kompensasi (=gaji). Sedangkan panggilan dikaitkan dgn “pelayanan” dan “pengabdian total / passion ”. Maka, apakah kita menilai pekerjaan kita saat ini sbg sebuah panggilan atau hanya sebuah profesi ? Ketiga, panggilan menjadikan kita “manusia baru”. Nama baptis adalah simbol “manusia baru” dan menunjukkan sebuah relasi baru dgn Tuhan, yg diteladankan oleh Org Kudus, yg namanya kita ambil. Dlm konteks pekerjaan, maka menjadi “manusia baru” artinya menjadi pribadi-pribadi yg menguasai, menekuni dan mencintai pekerjaannya. Apakah kita juga telah menjadi “manusia baru” (bdk. 2 Kor 5:17; Kol 3:5-17). Keempat, panggilan slalu mempunyai misi atau tugas khusus. Maka, apa misi khusus yg kita emban sbg orang Katolik atau Pengikut Kristus ? Demikian juga sbg karyawan atau usahawan katolik, misi khusus apa yg kita jalankan ? Dkl, arti atau nilai khusus apa yg kita berikan sbg karyawan atau usahawan katolik ? Mari kita meneladani sikap Rasul Andreas dlm bacaan injil hari ini : 1) Dia tdk menyia-nyiakan peluang utk mengikuti Yesus, ketika Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus (Yoh. 1:36); 2) Dia langsung “tinggal” dgn Yesus (Yoh 1:39). 3) Dia mengakui Yesus sebagai “Mesias” (Kristus=Yang Terurapi) (Yoh 1:41). 4) Dia mengajak Simon, sdranya, utk berjumpa dgn Yesus (Yoh 1:41).