Dengan tibanya Minggu Palma kita mengakhiri masa Prapaskah dan mulai memasuki Pekan Suci, yaitu puncak dari upacara-upacara liturgi Gereja Katolik, sekaligus puncak dari perayaan iman kita. Perarakan liturgi Minggu Palma dimaksudkan untuk menghadirkan kembali peristiwa penyambutan Yesus secara meriah di Yerusalem Mat 21:1-11. Di sini Matius menggambarkan kedatangannya sebagai raja yang memasuki kota dimana kemuliaan-Nya yang sejati akan tampak, yakni kebangkitan-Nya. Kemudian Injil Minggu Palma tahun ini menelusuri peristiwa-peristiwa dalam Kisah Sengsara menurut Matius. Mengapa Dia yang disambut meriah di kota kediaman Yang Maha Kuasa membiarkan diri ditolak oleh para pemimpin di situ? Mengapa Ia tidak membela diri atau balas menyerang dengan kekuatan masa yang menyambut-Nya di sana? Dari bacaan pertama Yes 50:4-7 dapat diketahui sikap batin yang dimiliki Yesus. Ia hamba yang taat seutuhnya pada Yang Mahakuasa, bukan karena Ia mau menunjukkan ketaatan dengan menjalani segala akibat pilihan ini, melainkan karena kehidupan-Nya memang sudah terarah untuk itu. Sang hamba mengakui bahwa Ia diutus untuk menyampaikan Sabda Ilahi kepada siapa saja yang letih lesu, yang tidak lagi mampu mencari tahu kehendak-Nya. Itulah sebabnya Matius menggambarkan Yesus masuk ke Yerusalem dengan dua keledai, yaitu satu keledai betina muda, dan satu lagi anaknya, yang berarti selain masuk sebagai raja, Yesus juga masuk sebagai seorang pelayan. Matius mengajak mereka yang mendengar Injilnya melihat dengan mata batin kedua sisi Yesus itu: sebagai raja yang penuh wibawa tapi juga sebagai utusan Tuhan yang emah lembut. Dengan demikian nanti dalam mengikuti kisah penghinaan, penderitaan, penyalibannya orang akan tetap dapat melihat sisi Yesus yang anggun dan berwibawa itu. Dan sebelum memasuki passio, yaitu pembacaan kisah sengsara Yesus secara lengkap, terlebih dahulu kita dihantarkan pada bacaan kedua (Fil 2:5-11), yaitu suatu doa dan nyanyian kuno yang telah dinyanyikan berabad-abad oleh para rahib Benediktin, yang dikenal dengan nama Carmen Christi. Suatu doa luar biasa, yang bila dilantunkan berkali-kali dalam suasana meditasi akan membawa pada kekuatan dan keteguhan iman seperti yang dimiliki para rahib jaman dahulu. Karena tanpa kekuatan iman itu, orang hanya akan melihat kesengsaraan Yesus sampai pada kesia-siaan belaka, daripada misi mulia yang sedang dijalani Yesus. Pada masa Prapaskah tahun ini, bapa uskup telah meminta kita untuk merenungkan tema Prapaskah: “Dipilih untuk Melayani” dalam pertemuan-pertemuan lingkungan kita. Dan kiranya hasil permenungan kita itu akan disimpulkan dalam rentetan liturgi Pekan Suci ini. Dimana dalam surat gembalanya bapa uskup menyatakan tujuan dari melayani adalah untuk “Menampilkan wajah Allah”, karena iman yang sejati akan berbuah persaudaraan, dan selanjutnya persaudaraan yang sejati akan berbuah pelayanan yang tulus dan gembira. Semoga Paskah kali ini membawa kita semua kepada persaudaraan yang sejati dan kemudian kepada pelayanan yang tulus dan gembira, karena menjadi pengikut Yesus adalah berjalan bersama Dia untuk menampilkan wajah Allah di bumi.




