Kamu jangan nakal ya nak, nanti ibu (atau ayah) belikan mainan”, demikian pesan ayah atau ibu kepada anaknya. Tidak nakal menjadi syarat untuk mendapat mainan atau kasih sayang dari orang tua. Demikian pula orang yang dinilai jahat atau tidak baik, tetangga atau saudaranya tidak mau menolong bila ada musibah. Di pemukiman, orang yang tidak baik akan disingkirkan oleh lingkungannya. Ketika ia meninggal amat sedikit orang yang melayat sehingga seorang ketua lingkungan harus sibuk mencari massa untuk menolongnya. “Take and give” (menerima dan memberi) sudah menjadi hal yang normal bagi pergaulan hidup sehari-hari. Tetapi, Yesus justru meminta kepada kita untuk lebih dari itu. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5: 44-45). Yesus meminta kita untuk berbuat yang melebihi yang normal atau menjadi tuntutan minimal bagi pergaulan. Kalau orang hanya mengasihi orang yang baik kepada kita, apa hebatnya orang Katolik? Bukankah hanya sama dengan orang-orang kebanyakan?
Yesus mengharapkan kita, putra-putri Allah Bapa sama seperti Bapa yang sempurna karena mengasihi dan memberi kehidupan secara Cuma-Cuma. Dengan demikian, perbuatan baik dilakukan karena baik. Bukan dilakukan demi mendapatpahala atau hanya diberikan kepada orang yang baik. Perbuatan baik atau cinta kasih baru disebut kebaikan atau cinta kasih yang sejati bila diberikan secara cuma-cuma, seperti ketika Tuhan menerbitkan Matahari dan menurunkan hujan kepada siapa saja. Memang dalam kata dan tindakan Yesus seperti ditulis dalam Injil menjadi jelas bahwa “orang bukan baik dulu baru dikasihi”, tetapi sebaliknya “orang dikasihi supaya baik”. Itulah logika Yesus. Sementara orang Farisi dan ahli Taurat berpikir sebaliknya “orang harus baik dulu baru dikasihi dan diberkati”. Karena kasih dan kebaikan itu bila harus menuntut syarat dan imbalan bukan lagi kasih dan kebaikan, tetapi hanya transasksi jual beli. Mengasihi tanpa syarat seperti diminta Yesus memang bukan barang gampang, tetapi perlu latihan dan perjuangan. Mungkin selama hayat dikandung badan, latihan dan perjuangan itu harus dilakukan.
Kalau itu merupakan perjuangan terus menerus, apa modal kita agar dapat melaksanakannya? Modalnya sudah ada pada masing-masing dari kita, yaitu kasih Tuhan yang lebih dulu mengasihi kita agar kita saling mengasihi. Kita mempunyai kasih itu. Menyadari dan merenungkan kasih Tuhan dalam hidup selama ini dapat menjadi modal yang besar untuk melaksanakan kasih tanpa syarat itu. Pepatah mengatakan, Nemo dat quod non habet yang artinya “Hanya orang yang mempunyai yang dapat memberi”. Demikian pula berlaku pada kasih




