Thn. 1970 Andrew Lloyd Weber dan Tim Rice menggemparkan dunia kekristenan dgn opera rock berjudul “Jesus Christ Superstar”. Walau diinspirasi oleh Kitab Suci, opera ini hanya melihat Yesus dari sisi kemanusiaannya. Yesus masuk kota Yerusalem, dikhianati oleh Yudas Iskariot, didera dan berakhir di salib. Tidak ada peristiwa kebangkitan dan kenaikan ke surga. Tim Rice, penulis lirik, mengatakan : “Kami tidak melihat Yesus sbg Allah, tapi sbg manusia saja”. Sbg manusia, Yesus bisa lapar, haus, lelah, marah, menangis, ragu-ragu, dlsb. Banyak yg mengecam opera ini krn menyebut Yesus sbg Superstar, padahal Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Melihat Yesus hanya satu sisi - Allah saja atau manusia saja - merupakan bentuk penyangkalan iman Kristiani.
Bacaan injil hari ini (Mat 16:13-20) berbicara ttg PENGAKUAN PETRUS. Peristiwa ini terjadi di Kaisarea Filipi, yg letaknya 30 km utara danau Galilea. Daerah itu disebut demikian krn di sana terdpt kenisah besar yg dibangun Herodes Agung di dlmnya ada patung Kepala Kaisar Romawi. Kenisah itu kemudian diperindah oleh Filipus, putra Herodes Agung, lalu berubah menjadi "Kaisarea Filipi". Mayoritas penduduk Kaisarea Filipi bkn orang Yahudi. Krn hari "sengsara, wafat dan kebangkitanNya" semakin dekat, Yesus ingin memastikan apakah para murid mengenal siapa diriNya dan apa tujuan kedatanganNya. Mengutip pandangan org saat itu, para murid menjawab bhw Dia adalah Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia atau salah seorg Nabi (ayat 14). Ketiga tokoh ini dipandang sbg "perintis atau pembuka jalan" kedatangan Mesias. Tapi Yesus ingin mendapatkan jawaban langsung para murid dgn bertanya : "Tapi siapakah Aku menurut kamu ?" (ayat 15). Yesus meminta pandangan pribadi para murid, bkn cuma mengutip pendapat org lain. Pengetahuan kita ttg Yesus bkn berdasarkan pandangan atau penemuan org lain, melainkan penemuan pribadi kita sendiri. Kita boleh menguasai "Kristologi" (Ilmu ttg Kristus) dan menjelaskan secara detil siapa Kristus itu, tapi kalau hanya berdasarkan pandangan atau pikiran orang lain, itu belum cukup ! Kekristenan kita bkn diukur dari seberapa jauh kita "mengetahui atau mengenal tentang Kristus" (knowing about Christ), melainkan seberapa jauh kita "mengetahui atau mengenal Kristus" (knowing Christ). Iman kita ttg Kristus bkn diukur dari PENGETAHUAN kita ttg Kristus, melainkan dari ARTI Kristus bagi hidup kita. Perjumpaan atau penemuan pribadi dgn Kristus menunjukkan kualitas iman kita. Petrus yg tampil mewakili 11 murid lain menjawab : "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yg hidup" (ayat 16). Sebutan "Mesias" dlm bah. Aramaika atau "Kristus" dlm bah. Yunani artinya sama, yaitu : "Yang Diurapi". (bdk. Mrk 8:29 "Engkau adalah Mesias" dan Luk 9:20 "Mesias dari Allah"). Pengurapan adalah ritus utama pelantikan seorang Raja. Dgn menyebut Yesus sbg "Yang Diurapi", Yesus disejajarkan dgn seorg Raja, bahkan Dia adalah Raja Ilahi yg memerintah seluruh umat manusia. Mendengar pengakuan Petrus yg begitu tepat, Yesus menjadikan Petrus sbg pondasi gerejaNya. "Di atas batu karang ini (=Petrus/Kephas), Aku mendirikan gerejaKu" (ayat 18). Lalu apa makna firman Allah hari ini bagi kita ? 1. Jika Yesus mengajukan pertanyaan yg sama kpd kita : "Apa katamu, siapakah Aku ini?" apa jawaban kita ? Siapakah "Yesus bagiku"? Di dinding ruang kelas Seminari Menengah Pius XII Kisol Manggarai Flores, terpampang gambar-gambar unik ttg Yesus, al: Yesus sbg pemain basket, pemain bola kaki, pemain gitar, dokter yg sdg memeriksa pasien, dll. Yesus bisa memiliki "arti khusus" dlm berbagai profesi kehidupan manusia. Dan "arti khusus" itu akan menunjukkan kualitas hubungan kita dgn Yesus. 2. Petrus menyebut Yesus sbg "Yang Diurapi dari Allah" atau "Raja Ilahi". Dan pengakuan itu membawa konsekuensi atau tanggungjawab khusus utk Petrus. Dia dipercayakan menjadi "pondasi gerejaNya". Setelah Yesus naik ke surga, Petrus mewartakan injil di daerah Syria dan Asia kecil lalu ke Roma. Petrus mati di salib di Roma pd thn 67 dgn posisi kepala di bawah dan dimakamkan di bawah altar Basilika St. Petrus di Vatikan. "Siapa Yesus bagiku" membawa konsekuensi dan tanggungjawab khusus. Misalnya, kalau Yesus diakui sbg "Raja Ilahi", maka sanggupkah kita utk mempercayakan hidup kita kpd Raja Ilahi itu ? Sanggupkah kita utk hidup sesuai hukum atau undang-undang kerajaan ilahi itu ? "Walk the talk" (bah. Inggris) mengungkapkan bhw seseorg hrs menghidupi apa yg dikatakan atau diyakininya. Maka, kalau kita sdh menemukan "siapa Yesus bagiku", maka beranikah kita utk menghidupi keyakinan itu ? Semoga sikap Petrus dalam bacaan hari ini dapat menguatkan kita !
Tgl. 7 Juni 2012 film “SOEGIJA” yg disutradarai Garin Nugroho ditayangkan di bioskop-bioskop besar di Tanah Air. Film ini mengisahkan peran Mgr Albertus Soegijapranata, uskup pribumi pertama, dlm perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia melalui “silent diplomacy”. Menurut Garin : "Indonesia pernah punya pemimpin yg tangguh dan tdk menjadikankemanusiaan sbg sebuah wacana belaka." Dan ini nyata dlm diri Mgr Soegijapranata. Beliau lahir tgl 25 Nov 1986 di Surakarta dari keluarga Abdi Dalem Muslim. Ketika pindah ke Yogyakarta, Soegija masuk Kolese Xaverius – Yesuit di Muntilan. Di sana Soegija tertarik dgn agama Katolik dan dibaptis. Setelah lulus, Soegija menjadi seorang guru sambil belajar di Seminari di Muntilan. Thn. 1919 Soegija berangkat ke Belandautk bergabung dgn Serikat Yesus dan ditahbiskan pd 15 Ags 1931. Kembali ke Indonesia, Romo Soegija memulai tugas pastoralnya di Paroki Kidul Loji, Yogyakarta dan thn 1940 ditahbiskan sbg Vikaris Apostolik Semarang. Selama pendudukan Jepang, Mgr Soegija aktif menyelamatkan rakyat yg menjadi korban peperangan. Beliau juga banyak menulis ttg situasi Indonesia di media internasional. Dlm tulisannya, Beliau menekankan bhw kita hrs menjadi “100% katolik, 100% Indonesia”. Sikapnya ini membangkitkan semangat banyak warga katolik berjuang utk kemerdekaan, bahkan beberapa di antaranya mendpt gelar pahlawan seperti : Ignatius Slamet Rijadi (+1945), Agustinus Adisucipto (+1947) dan Yos Soedarso (+1961). Tgl 3 Jan 1961 Beliau diangkat sbg Uskup Agung Semarang. Namun tgl 22 Juli 1963 Mgr Soegijapranata meninggal di Belanda dan jenazahnya diterbangkan ke Indonesia. Atas perannya dlm perjuangan kemerdekaan, pd thn yg sama Presiden Soekarno memberi Beliau gelar “Pahlawan Nasional”. Meskipun Mgr Soegijapranata sdh pergi, namun pandangannya mengenai “100 % Katolik dan 100 % Indonesia” masih sangat relevan sampai saat ini.
Bacaan injil hari ini (Mt 22:15-21) berbicara ttg “Hal membayar pajak kpd Kaisar”. Saat itu daerah Palestina berada di bawah penjajahan Romawi. Dan Pontius Pilatus ditempatkan di Yerusalem sbg Wakil Kekaiseran Romawi. Sbg daerah jajahan, Palestina wajib membayar upeti / pajak kpd Kekaiseran Romawi. Ini itu sangat membebankan dan menyakitkan. Maka sering ada pemberontakan terhdp penjajahan Romawi, walau dgn mudah dpt ditumpas. Maka pertanyaan Kaum Farisi kpd Yesus sehrsnya ungkapan kegelisahan atau kekecewaan atas kondisi itu. Namun tdk demikian. Pertanyaan itu ternyata tdk tulus dan menjebak. Namun dgn tegas Yesus menjawab : “Berikanlah kpd Kaisar apa yg wajib diberikan kpd Kaisar dan kpd Allah apa yg wajib diberikan kpd Allah” (ayat 21). Jawaban Yesus memberi penegasan bhw dlm pandangan gereja katolik / Kristen : “institusi negara” terpisah dari “institusi agama atau gereja”. Dkl, urusan negara hrs dipisahkan dari urusan agama / gereja. Negara tdk bisa mencampuri urusan agama dan sebaliknya, agama tdk bisa terlibat dlm urusan politik atau negara. Negara hrs menjamin setiap warganya utk menjalankan ajaran agamanya, dan agama hrs mampu menjadi kekuatan moral dan spiritual bagi para penyelenggara negara. Maka setiap warga negara hrs bisa menjadi “garam dan terangdunia”, demikian sebaliknya, seorang anggota gereja hrs mampu menjadi “patriot sejati”. Maka semboyan “100% katolik dan 100% Indonesia” merupakan semangat yg timbul dari kesadaran bhw kita mempunyai misi ganda, yaitu demi kejayaan gereja dan negara – Pro Ecclesia et Patria. Maka dlm memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-69 thn ini, patut kita renungkan kata-kata Presiden John Kennedy – USA : “Jangan kau tanyakan ttg apa yg negara ( + gereja ) lakukan buat saya, melainkan tanyakan apa yg saya lakukan utk negara ( +gereja)”. Dirgahayu Republik Indonesia !
Iman adalah harta berharga dalam hidup kita. Oleh iman akan Yesus yang mengasihi dan berkorban untuk umat manusia, hidup kita memiliki arah yang jelas sehingga dapat dihayati dan dilaksanakan dengan sepenuh hati. Karena iman pula, orang yang menghayatinya memiliki daya pikir dan ketahanan mental menjadi pribadi tahan banting. Artinya, bila terkena musibah, kesusahan dan bahaya orang memiliki pegangan untuk bertahan. Iman juga membuat orang memiliki harapan akan hari depan yang lebih baik setelah peziarahan hidup di dunia ini diselesaikan. Karena iman pula kita dapat hidup dalam keadaan damai dan sejahtera dekat dengan Tuhan yang dapat kita dirumuskan sebagai hidup dalam Kerajaan Surga. Hidup dalam kerajaan surga bukannya besok atau sesudah kita mati, tetapi sudah dirasakan sejak sekarang hingga memenuhi pemenuhannya nanti. Tetapi iman juga menjadi demarkasi atau garis batas yang jelas antara yang “dulu” dan “sekarang”. Karena iman, kita sekarang tergerak membuat langkah-langkah yang jelas dan terukur. "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu”. (Mat 13: 44). Artinya, begitu menemukan “harta” itu orang lalu mengambil langkah hidup yang drastic. Dilukiskan dengan “menjual seluruh miliknya” untuk membeli atau memperoleh harta iman itu. Kerajaan surga juga dilukiskan “seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah” (ayat 45). Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, tegas Yesus, “iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu." (ayat 46). Iman memiliki “harga” tersendiri yang harus dibayar dalam perbuatan nyata. Artinya, iman harus diwujud-nyatakan dalam kehidupan agar tetap hidup. Menjadi nyata bahwa iman adalah fundamen untuk membangun hidup yang lebih baik. Tetapi, bukankah banyak orang beriman tetapi di dalam hidup mereka tidak terlihat iman atau “harta berharga” itu? Rupanya beriman tidak hanya berhenti pada tataran formal dengan membuat tanda salib, bersujud untuk berdoa, atau mengikuti perayaan Ekaristi di gereja. Orang beriman tidak hanya formalitas atau berhenti sampai tata lahir saja, tetapi iman yang dihayati dalam hati. Iman atau penyerahan diri kepada Tuhan menimbulkan rasa damai dan sejahtera sehingga mampu menggerakkan perasaan, daya pikir dan tindakan untuk tanpa pamrih. Atau bisa dirumuskan sebagai iman yang diwujud-nyatakan dalam kasih, kebaikan tanpa pamrih, akan tampak dalam hidup, tutur kata, perbuatan dan pekerjaan seseorang. Tetapi, iman atau penyerahan diri kepada Tuhan itu merupakan anugerah Allah yang harus kita mohon dan kita usahakan akan tumbuh dan berkembang sebagai harta yang berharga sehingga layak kita persembahkan bila kelak kita menghadap Tuhan.
Hari Minggu ini ditetapkan Gereja sbg Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga. Pesta ini biasanya dirayakan setiap tgl. 15 Agustus, sebuah tradisi sejak abad VI. Santa Perawan Maria diangkat ke surga merupakan sebuah dogma yg ditetapkan Paus Pius XII melalui Konstitusi Apostolik “Munificentissimus Deus” (Allah yg sangatmurah hati) yg diumumkan tgl. 1 Nopember 1950. Dogma adalah sebuah pengajaran yg terkait dgn wewenang mengajar Gereja (ex catedra) yg secara implisit maupun eksplisit dinyatakan di dlm Kitab Suci atau Tradisi Suci, yg hrs dipercaya oleh umat beriman sbg sebuah kebenaran. Dogma ini menyusul beberapa dogma sebelumnya ttg Bunda Maria, yaitu : 1. Maria Bunda Allah (Theotokos/Mater Dei) melalui Konsili Efesus thn 432 dan Konsili Chalcedon th 451. 2. Maria Tetap Perawan (Maria Virgini) melalui Konsili Konstantinopel th 553 dan Konsili Lateran th 649. 3. Maria dikandung tanpa noda dosa asal (Immaculataconception) yg dikeluarkan oleh Paus Pius IX tgl 8 Desember 1854. Bagaimana kita dpt memahami dogma ini ? Tuhan menciptakan Maria dlm rahim Santa Anna, ibunya, tanpa noda dosa asal. Mengapa ? Krn Tuhan menghendaki demikian spy Maria dpt mengandung Yesus, Putera Allah. Pada akhir hidup Maria di dunia, Tuhan memutuskan utk melakukan sesuatu yg istimewa bagi Bunda Maria. Tubuhnya tdk dimakamkan, tetapi Tuhan mengangkat tubuhnya ke surga. Bunda Maria diangkat jiwa dan raganya ke surga agar ia dpt senantiasa bersama dgn Yesus. Sungguh suatu karunia yg amat istimewa yg dianugerahkan kpd Maria, krn Tuhan amat mengasihinya. Beberapa dasar biblis dari dogma ini : 1) Kej 3:15 “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau (= ular/setan) dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya;keturunannya akan meremukkan kepalamu ..”2) Gal 4:4 “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allahmengutus AnakNya, yg lahir dari seorg perempuan ..”.3) Lk 1:28 : “Salam hai engkau yg dikaruniai,Tuhan menyertai engkau” …. “Diberkatilahengkau di antara semua perempuan (ayat 42) .. sesungguhnya mulai dari sekarang segala keturunan akanmenyebut aku bahagia (ayat 48). 4) Why 12:1-6 : “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit : Seorg perempuan berselubungkan matahari, dgn bulan di bawah kakinya, dan sebuah mahkota dgn 12 bintangdi atas kepalanya”. Keyakinan bhw Bunda Maria diangkat ke surga sdh dimulai sejak abad V. Tulisan dari Org-org kudus dan Bapa-Bapa Gereja dpt membuktikan hal ini, misalnya : St. Yohanes Damaskus (676-754), St. Antonius Padua, (1195-1231), St. Thomas Aquinas (1225-1274), St Albertus Agung (1206-1280) dan St. Alphosus Liguori (1696-1787). Lalu apa makna Pesta ini bagi kita ? Merayakan Pesta Maria diangkat ke surga dpt menjadi ungkapan kepercayaan akan masa depan kemanusiaan kita. Bahwa pd satu saat nanti umat manusia akan kembali berada bersama dgn Tuhan di surga. Kita yakin akan hal ini karena sdh terjadi pd Bunda Maria, yg kini sdh ada bersama Allah. Makna ini ditegaskan kembali oleh KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) dlm Surat “LIHATLAH BUNDAMU” (1973) : “Maria diangkat ke surga lbh merupakan suatu pengingat bagi Gereja bhw Tuhan menghendaki agar mereka semua yg telah diberikan Bapa kepadaNya dibangkitkan bersamaNya. Dalam Maria diangkat ke dalam kemuliaan, ke dalam persatuan dengan Kristus, Gereja melihat dirinya menjawab undangan dari Mempelai surgawi.” Madah Magnificat Maria dlm bacaan injil hari (Lk 1:39-56) ini merupakan pujian syukur atas karya agung Allah, yg “mengerjakan perbuatan-perbuatan besar dlm diri Maria, hambaNya yg hina”. Dan karya agung ini direspons oleh Maria dgn ketaatan tanpa syarat “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurutperkataanmu itu” (Lk 1:38). Dan ketaatan itulah yg mengantar Maria kpd kemuliaan, kpd kebahagiaan bersama Allah di surga. Maka Pesta Santa Perawan Maria diangkat ke surga hendaknya mendorong kita utk selalu taat kepada kehendak Allah dan selalu hidup dalam FirmanNya. Madah Magnificat yg dinyanyikan Maria hendaknya menjadi madah hidup kita, karena “Allah telah mengerjakan hal-hal besar dalam diri kita” (Lk 1:49). Magnificat anima mea Dominum – Jiwaku mengagungkan Tuhan !!
Seruan pertobatan untuk menyambut Kerajan Surga yang sudah dekat dinyatakan oleh Yesus. Kedatangan Yesus harus disambut dengan pertobatan. Bertobat berbalik kepada Tuhan. Bila selama ini memper-Tuhan-kan uang atau jabatan dan kekuasaan atau kekayaan, orang berbalik kepada Tuhan. Artinya, uang, kekayaan, atau jabatan harus dipandang sebagai sarana untuk mengabdi Tuhan dengan mengasihi dan mengabdi sesama. Berbalik kepada Tuhan adalah langkah untuk membuat perbuatan besar yaitu mewujudkan kerajaan Allah di dunia ini. Coba saja memeriksa pengalaman konkrit bila kita betul-betul dapat menolong orang lain tanpa pamrih. Bila kita berani mengampuni orang yang bersalah pada kita. Bila kita benar-benar mengasihi keluarga kita dengan tulus. Semua perbuatan itu menimbulkan rasa damai dan sejahtera yang luar biasa. Lewat perbuatan sederhana yang dilakukan dengan tulus, orang merasakan “kerajaan Allah” atau Allah yang merajai hati dan pikiran kita. Penjelasan Yesus tentang kerajaan Surga rupanya sederhana, "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya “ (Mat 13: 31). Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, sada Yesus, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara
datang bersarang pada cabang-cabangnya." (ayat 32)
Dengan demikian, menghayati Kerajaan Surga dalam hidup kita harus diawali dengan yang kecil. Tidak perlu yangbesar-besar atau hebat-hebat. Inti kerajaan Allah atau Kerajaan Surga justru diawali dengan hati kita sendiri. Yang merindukan kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Kerinduan itu diwujudkan dengan perbuatan mulai dari yang sederhana untuk mengasihi sesama kita yang terdekat serta orang-orang yang berjumpa dengan kita setiap hari. Memberi jalan kepada orang yang melintas, mempersilakan kendaraan yang memberi “sign” untuk menepi atau mendahului. Kerelaan hati untuk antri dan tidak main serobot. Menaati batas maksimum laju kendaraan dan aturan lalu lintas di jalan raya merupakan langkah-langkah kecil untuk mewujudkan kerajaan Allah agar jalan-jalan raya kita bukan arena kebut-kebutan yang membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Kerajaan Allah diawali dengan biji sesawi yang kecil. Bukankah kobaran api yang membakar rumah dan bangunan diawali dengan percikan api kecil? Demikian pula dengan kebaikan, meskipun kecil dia akan berakibat kebaikan yang lebih besar lagi sehingga kita semua pantas disebut putra-putri Allah sehingga Kerajaan Allah dapat kita wujudkan dalam hidup sehari-hari