Kegiatan beragama (doa, ibadat, berderma) tidak berdiri sendiri sehingga terpisah dari kehidupan nyata sehari-hari. Semestinya hari demi hari orang yang taat beragama akan berakibat pada kehidupannya yang lebih baik, lebih saleh, lebih mengasihi dan lebih rukun dengan sanak saudara serta lingkungannya. Yesus menegaskan bahwa persembahan kepada Tuhan di gereja atau rumah ibadah tidak akan berarti bila tidak disertai oleh sikap dan perbuatan baik kepada sesamanya. “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5: 23-24). Artinya, berbaik-baik dengan Allah tanpa berbaik-baik dengan sesama menjadi tidak berarti.
Ada kecenderungan, kalau perintah atau kewajiban agama dilaksanakan orang merasa sudah beres dan nanti pasti masuk surga. Tetapi, tanpa perbuatan konkrit kepada sesama, hidup beragama hanya sebuah formalisme yang justru menjauhkan orang dari Tuhan dan kenyataan hidup konkrit setiap hari. Beragama hanya akan menjadi perwujudkan egoisme, bila hanya dilakukan untuk “membayar” atau memperoleh imbalan, yaitu masuk surga, mendapat rahmat atau berkat dari Tuhan. Beragama yang betul, seperti ditegaskan Yesus adalah yang terhubung dengan kehidupan nyata. Kehidupan beragama bukan menjadi kotaktersendiri dari kehidupan bermasyarakat. Bagaimana orang mau mengasihi Allah kalau ia tidak mengasihi sesamanya? Bagaimana memberi kolekte yang besar di gereja padahal ada saudaranya yang sedang kesusahan tetapi malah tidak diberi pertolongan?
Kehidupan beragama semestinya menjadi ungkapan pergulatan hidup untuk mewujudkan kasih dan kebaikan Tuhan lewat sesama, mulai dari sesama yang terdekat yakni keluarga sampai ke orang-orang yang dijumpai setiap hari. Kehidupan beragama menjadi sarana untuk menimba kekuatan dan inspirasi agar dapat menjalani kehidupan ini dengan kasih dan persaudaraan dengan sesama. Dengan demikian doa dan ibadah menginspirasikan ke perbuatan kebaikan yang nyata. Sebaliknya, perbuatan kasih yang nyata akan mendorong orang untuk beribadah dan berdoa karena keduanya saling memperkaya satu sama lain. Santo Benedictus dari Nursia menegaskan pentingnya “ora et labora” (berdoa dan bekerja). Beriman bukan hanya dengan kata-kata (meskipun kata-kata itu merupakan) doa, tetapi sekaligus dengan perbuatan konkrit. Dengan itu, kehidupan batin atau kehidupan rohani orang beragama akan berkembang dan berbuat, yaitu rasa damai dan sejahtera serta perbuatan-perbuatan nyata bagi kebaikan dan kemajuan diri dan sesamanya




