KARYA ALLAH YANG SPEKTAKULER
KARYA ALLAH YANG SPEKTAKULER
Data statistik Umat Katolik sedunia saat ini kurang lbh mencapai 1.229.000.000 (1,2 milyard), di mana sebanyak 48,75 % berada di benua Amerika, khususnya Amerika Latin, 26.37% di Eropa, 12,57% di Afrika, 11.24 % di Asia dan 0.72% di Oceania. Umat katolik itu tersebar di 5132 keuskupan atau di 270.893 paroki. Jumlah imam mencapai 414.313, yg terdiri dari 279.561 imam projo dan 134.752 imam religious (biarawan). Sementara jumlah biarawati mencapai 705.529, bruder mencapai 55.314 dan frater mencapai 56.924 (Dikutip dari Centerfor Applied Research in the Apostolate, Washington DC, USA). Data di atas belum termasuk umat Kristen lainnya, yg mencapai ratusan juta jemaat. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yg spektakuler Umat Kristen sedunia (Katolik dan Kristen lainnya) dalam 2000 thn, yg bermula dari hanya 12 murid. Perkembangan ini bkn cuma karya manusia, tetapi karya Allah yg sungguh luar biasa. Bacaan injil hari ini (Mrk 4:26-34), menyampaikan perumpaan ttg Kerajaan Allah sbg “benih” (ayat 26-29) dan “biji sesawi” (ayat 30-32). Kerajaan Allah bkn dimaksudkan sebuah “pemerintahan atau wilayah”, melainkan “kebesaran dan kemuliaan Tuhan yg menguasai hidup manusia”. Melalui 2 perumpamaan itu, Yesus mau menjelaskan ttg hakekat Kerajaan Allah. Seperti benih, kerajaan Allah itu ditabur di dlm setiap manusia. Dia bertumbuh, mengeluarkan tunas, berbuah dan dipetik. Kerajaan Allah itu bertumbuh krn daya ilahi atauRoh Allah yg ada di dlm diri setiap manusia. Dgn demikian perkembangan kerajaan Allah itu lbh sbg karya Allah dp karya manusia. Kerajaan Allah itu juga diumpamakan sbg “biji sesawi”, yg disebut sbg “biji yg paling kecil dari segala benih yg ada di bumi” (ayat 30). Namun biji itu kemudian bertumbuh menjadi pohon besar, di mana burung-burung dpt bersarang dlm naungannya. Kerajaan Allah yg bermula dari 12 murid – seperti biji sesawi – namun kini mencapai milyaran umat, di mana mereka dpt menemukan “kedamaian, sukacita dan kebahagiaan”. Apa yg bisa kita petik dari 2 perumpamaan di atas ? 1) Pertumbuhan Kerajaan Allah, seperti ditunjukkan oleh data di atas, bukanlah semata karya manusia, melainkan karya spektakuler dari Allah sendiri. Allah yg memungkinkan perkembangan dan pertumbuhan itu bisa terjadi. Maka, apapun peran kita dalam membangun dan mengembangkan kerajaan Allah di dunia ini tdk boleh membuat kita “menepuk dada”. Seperti pemazmur, kita hendaknya berkata : “non nobis Domine, non nobis, sed Nomini Tuo da gloriam” ( bukan kpd kami ya Tuhan, bkn kpd kami, tapi kpd NamaMulah beri kemuliaan) (Mzm 115:1). 2) Seperti biji yg semula kecil lalu bertumbuh menjadi besar, hendaklah demikian juga perkembangan hidup iman kita. Kedewasaan iman dpt diukur dari seberapa besar keterlibatan kita dlm pembangunan kerajaan Allah. Tidak peduli, berapa kecilnya peran kita, namun jika kita turut mengembangkan kerajaan Allah, maka kita dinilai “berarti” di mata Allah. Maka, 2 perumpamaan dlm injil hari ini menyadarkan kita bhw Roh Allah senantiasa berperan di dlm pembangunan kerajaan Allah dan kita diharapkan turut ambil bagian dlm pembangunan itu.!





Pesta ini ditetapkan Paus Urbanus IV pada 8 Sept. 1264 sbg "Sollemnitas Sanctissimi CorporisChristi" (Hari Raya Tubuh Kristus yg mahakudus) atau disingkat "Corpus Christi". Penetapan ini didahului 2 peristiwa penting, yaitu 1) Penampakan Tuhan Yesus kpd Suster Yuliana dari Liege - Belgia (kemudian bergelar "Santa Yuliana") pd thn. 2016. Dlm penampakan itu Tuhan Yesus meminta agar Gereja merayakan Hari Raya Sakramen Mahakudus. Beberapa thn kemudian Suster Yuliana menyampaikan penampakan itu kpd Uskup Liege, Mgr Robert de Thournee disaksikan oleh Jacques Pantaleon - Diakon Agung Liege - yg kemudian menjadi Paus Urbanus IV. Mgr Robert memutuskan agar Hari Raya Sakramen Mahakudus dirayakan di seluruh wilayah keuskupannya. 2) Thn. 1263 Pastor Petrus dari Praha / Cekoslowakia - berziarah ke Roma utk mendptkan kekuatan ttg kehadiran nyata Kristus dlm Ekaristi. Krn masa itu muncul ajaran sesat Berengarianisme, yg tdk mengakui kehadiran Kristus. Ketika Pastor Petrus mengucapkan "INILAH TUBUHKU" pd perayaan Ekaristi di Gereja Santa Kristina di Bolsena, tiba-tiba hosti di tangannya berubah menjadi daging dan mengeluarkan darah. Dia lalu membawa hosti yg tlh berubah menjadi daging itu kpd Paus Urbanus IV. Dan setelah diadakan penyelidikan mendalam, Paus Urbanus IV akhirnya menerbitkan BULLA TRANSITURUS DE HOC MUNDO pd 8 Sept 1264 yg memaklumkan agar HARI RAYA TUBUH KRISTUS dirayakan setiap tahun pd hari Kamis sesdh Hari Raya TritunggalMahakudus. Dan Paus Urbanus IV meminta St Thomas Aquinas utk menyusun teks liturgi, doa, dan madah pujian utk hari raya tersbt dan muncullah karya-karya agung seperti : "Lauda Sion", "Pange Lingua", "O Salutaris", "Panis Angelicus" dan "Tantum Ergo". Hari Raya ini biasanya dimeriahkan dgn prosesi Sakramen Mahakudus. Sejak Konsili Vatikan II, perayaan Corpus Christi berubah menjadi "Sollemnitas Sanctissimi Corporis et Sanguinis Christi"- Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Hari Raya ini mengingatkan kita akan pentingnya EKARISTI. Ekaristi mahakudus merupakan Sakramen terluhur serta puncak seluruh ibadat dan kehidupan kristiani. Ekaristi Mahakudus disebut sbg "perayaan, kurban dan perjamuan", di mana Kristus Tuhan dirayakan kehadiranNya, dikurbankan dan disantap. Berkaitan dgn 3 aspek tsb, apa makna Ekakristi bagi hidup kita ? 1) Sebagai PERAYAAN / PESTA : hendaknya kita berpartisipasi dlm perayaan Ekaristi dgn kondisi yg bersih, baik fisik maupun hati dan budi. Secara fisik, hendaknya kita berpakaian dan bersikap pantas, sebagaimana lazimnya kita jika diundang ke sebuah pesta. Demikian juga hendaknya hati dan jiwa kita bersih, agar kita pantas menerima Tuhan yg mahakudus. Gereja menganjurkan kita menerima sakramen pengakuan, jika dlm kondisi berdosa. 2) Sebagai KURBAN : Ekaristi mengingatkan kita akan kurban Kristus (sengsara, wafat dan bangkit). Oleh krn itu, hendaknya kita bersyukur atas besarnya kasih Tuhan yg mau berkurban demi keselamatan kita. Dan hendaknya pengorbanan Kristus mendorong kita utk berani berkorban dan mau berkorban melalui sikap "peduli dan berbagi". 3) Sebagai PERJAMUAN : Di dlm perjamuan Ekaristi, Kristus sendiri yg menjadi Tuan Rumah sekaligus santapan, krn Yesus memberikan Tubuh dan DarahNya dlm rupa roti dan anggur. Setiap kali kita menerima komuni kudus, kita menerima Yesus Kristus dlm diri kita. Apa yg dimakan dan diminum senantiasa mempengaruhi orang yg memakan dan meminumnya. Maka dgn menerima dan menyantap Tubuh Kristus diharapkan kita hidup dan bertindak sesuai dgn perintah dan sabda Kristus, dan dgn demikian menjadi sahabat-sahabat Yesus. Maka semoga Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini membangkitkan rasa hormat kita terhdp perayaan Ekaristi serta mendorong kita utk berani dan mau berkorban melalui sikap peduli serta berbela rasa, serta sekaligus menguatkan kita utk menghidupi semangat Kristus di dlm hidup harian kita. Bersama St. Thomas Aquinas (1225-1274), marilah kita turut bermadah "Panis Angelicus fit panis hominus .. ... duc nos quo tendimus ad lucem quam inhabitas" Roti Malaikat menjadi santapan manusia ... ... antarlah kami ke Cahaya di mana Engkau berada".
Tahun 2013 terbit buku menarik berjudul Saksi Kunci. Buku ini bercerita tentang Vincentius Amin Sutanto, seorang pelaku kejahatan ekonomi yang menjadi saksi atas kejahatan yang lebih besar lagi. Vincent adalah pembobol dana sebesar Rp. 200 juta milik perusahaan tempatnya bekerja; di saat yang sama dia adalah saksi kunci bahwa perusahaan tempatnya bekerja mengemplang pajak bernilai triliunan rupiah. Ada begitu banyak drama dalam buku ini. Drama utamanya tentu Vincent, dan keluarganya, yang setiap saat diteror ancaman kematian. Drama kedua yang tak kalah menegangkan adalah tentang sang penulis, Metta Dharmasaputra, yang juga mengalami ancaman dan teror serupa. Siapa yang mengancam dan ikut-ikutan mengancam Vincent, Metta, dan keluarga mereka dengan mudah kita bisa menduga. Ini adalah skandal bernilai triliunan. Baik Vincent maupun Metta berada pada posisi terancam karena status dan posisi mereka: saksi. Vincent adalah saksi dalam konteks hukum, sedangkan Metta adalah saksi dalam konteks sosial kemasyarakatan. Vincent harus bersaksi di hadapan sistem pengadilan, Metta bersaksi kepada masyarakat melalui medianya. Baik sistem hukum maupun masyarakat madani menuntut kesaksian yang sama: kebenaran. Kita lupakan Metta, kita fokuskan Vincent. Mungkinkah seorang [yang dianggap sebagai] penjahat bersaksi tentang kebenaran? Apakah kesaksiannya mengurangi nilai kebenaran yang disampaikannya? Dalam masyarakat kita ada semacam etika umum: say what you do, do what you say. Katakan [hanya] yang kau lakukan, dan lakukan [semua] yang kau katakan. Jangan omdo. Jangan omong doang. Tentu kita menghormati mereka yang memiliki integritas yang sedemikian tinggi; kata dan perbuatannya sama. Lantas bagaimana “nasib” kita, dalam konteks kesaksian iman. Rasanya terlalu jumawa untuk mengatakan kita adalah orang-orang yang baik. Kita merasa sepantasnya untuk ikut berdoa tobat di awal setiap Misa. Tapi perintah injil hari ini tegas: Tetapi kamu semua harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku. Bersaksi tentang Dia adalah keharusan bagi mereka yang sudah menerima Roh, yang membuat kita de facto bisa connect dengan “berbagai bangsa”. Bahwa kita merasa bagian dari pendosa atau penjahat, hari ini adalah hari penuh rahmat. Karena kendati berdosa, kita masih diberi kesempatan untuk memberi kesaksian tentang Dia, tentang kebenaran. Seperti Vincent boleh bersaksi di depan hukum. Seperti terpidana mati yang menyanyikan lagu Amazing Grace. Seperti para serdadu yang bersaksi, “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.”
Di Pangkalpinang bertugas sahabat lama saya, pastor yang sangat bersahaja, Pastor Agus Tarnanu. Kami bertemu pertengahan Mei lalu. Ketika saya merenungkan, bagaimana memaknai bacaan hari ini, saya langsung teringat pada satu obrolan dalam pertemuan itu. Minimal ada dua poin menarik dari bacaan hari ini. Yang pertama, …pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Perintah ini dilanjutkan dengan bagian kedua, …dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Bagaimana “membaptis” harus dimaknai? Bagaimana cara membuat orang melakukan “yang Kuperintahkan?” Pastor Nanu, begitu sahabat saya ini dipanggil, sempat bercerita tentang pengalaman pastoralnya. Yang paling menarik buat saya adalah cara Pastor Nanu, begitu dia dipanggil, mempersiapkan katekumen. Menurut pastor ini, syarat untuk bisa dibaptis bukan semata-mata selama satu tahun selalu hadir dalam setiap pelajaran katekumenat. Juga bukan semata-mata bisa mengerjakan semua test yang diberikan. “Yang paling menentukan adalah apakah dia sudah menjadi orang katolik… pribadi katolik,” kata beliau. Pandangan ini akhirnya menentukan cara belajar menjadi katolik (katekumenat). Katekumenat bukan lagi sekadar urusan pelajaran agama di satu ruang tertentu, melainkan bagaimana seorang calon baptis belajar menjadi orang katolik “yang sepantasnya”. Maka ruang pelajarannya bukan hanya aula gereja atau ruang pastoran, tapi hidup bersama di lingkungan (dengan aneka kegiatannya), kemudian naik ke wilayah dan paroki. Dan ini yang lebih penting: karena itu guru katekumen yang sejati adalah semua umat lingkungan dengan segala bentuk tingkah lakunya; segala bentuk kegiatannya.Di akhir periode katekumenat, lulus tidaknya seorang calon tidak hanya ditentukan oleh guru agama, tetapi oleh rekomendasi warga lingkungan: apakah calon ini pantas untuk dipermandikan. Tetapi di lain pihak si calon juga ditanya: melihat cara hidup orang katolik di lingkungan, apakah masih tertarik menjadi katolik? Karena itu, menurut Pastor Nanu, katekumenat bukan hanya soal bagaimana calon baptis belajar menjadi katolik, tetapi dan yang lebih penting bagaimana kita semua menjadi lebih katolik, sehingga pantas untuk diteladani oleh para calon itu. Katekumenat adalah proses kita bersama menjadi semakin katolik, sehingga para katekumen itu semakin yakin bahwa menjadi katolik adalah pilihan tepat.
Setiap pekan di seluruh dunia ada seorang wartawan mati dibunuh dalam tugas. Menurut Unesco, sejak 2006 hingga 2013, 593 wartawan tewas terbunuh. Data tahun 2014 tidak lebih baik. Menurut Komite Perlindungan Wartawan Dunia, selama 2014, 61 wartawan terbunuh. Semua data itu merujuk pada wartawan yang dibunuh karena tugas jurnalistiknya. Indonesia juga tidak imun dari fenomena itu. Sebut saja Udin, wartawan Bernas yang dianiaya dan akhirnya tewas, Ersa Siregar (RCTI), Herliyanto (Delta Pos), Naimulah (Sinar Pagi), Agus (Asia Pers) dll. Belum lagi wartawan yang “hanya” dianiaya atau diteror. Untuk yang terakhir, “diteror”, rasanya setiap wartawan “yang bener” dan tidak mau berkompromi tentang kebenaran pernah mengalaminya. Teror, penganiayaan, hingga pembunuhan adalah risiko yang jelas, spesifik bagi wartawan yang tak mau berkompromi tentang kebenaran.Pada poin terakhir inilah, “tidak mau berkompromi tentang kebenaran”, cerita soal kewartawanan dan risikonya terhubung dengan kita, Gereja.Hari ini Gereja merayakan Hari Komunikasi sedunia. Sejak Konsili Vatikan II, Gereja memang menempatkan komunikasi sosial sebagai instrumen penting pewartaan sabda. Konsili menulis, “Gereja berhak menggunakan dan memiliki semua jenis media, sejauh diperlukan atau berguna bagi pendidikan kristen … dan demi keselamatan manusia.” Dalam konteks itu pula Gereja memilih bacaan injil hari ini. Teks ini merupakan bagian dari pidato plus doa panjang Yesus pada malam perjamuan terakhir. Ini adalah bagian eksklusif Yohanes, yang tidak ada dalam injil lain. Yesus berdoa kepada Bapa, “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka… [dan] firman-Mu adalah kebenaran…” Teks ini memberikan pemahaman bahwa ya, Yesus adalah seorang pewarta; yang diwartakan adalah firman-Mu; dan firman-Mu adalah kebenaran.Bahwa pada akhirnya Yesus dibunuh di kayu salib, pangkal soalnya adalah karena Beliau tidak mau berkompromi soal kebenaran. Bagaimana mungkin berkompromi, sebab Beliau adalah pewarta sekaligus sabda itu sendiri. Sabda sudah menjadi daging dan tinggal di antara kita.Jelas bahwa abad ini adalah abad media sosial. Hampir pasti kita semua adalah para aktivis media sosial. Kita adalah pewarta. Bahan refleksi kita adalah: apa yang kita wartakan; dan seteguh apa kita memegang kebenaran? Seorang wartawan pernah berkata, jika yang kau kautulis dan kausiarkan menyenangkan semua orang, sangat mungkin kau seorang kompromis. Kau tak akan disentuh, apa lagi dibunuh. Nah, Anda bisa menebak kalimat berikutnya