TIDAK MENYERAH
Pada thn 1951 Edmund Hillary berusaha mendaki puncak tertinggi dunia “Mount Everest”, namun gagal. Thn berikutnya, 1952, dia berusaha lagi, namun gagal. Tanpa kehilangan semangat, thn. 1953, dia berusaha bersama Tenzing Norgay, pemandu jalan bangsa Sherpa. Dan kali ini Edmund Hillary akhirnya berhasil menaklukkan Mount Everest. Dia menjadi orang pertama yg berhasil mencapai puncak tertinggi dunia. Kesuksesan Edmund Hillary mencapai Mount Everest krn dia tidak pernah menyerah setelah dua kali gagal. Pantang menyerah adalah semangat dasar org sukses. Maka benar kata-kata orang bijak : “Kegagalan adalah sukses yg tertunda”.
Injil hari ini (Lk 18:1-18) berbicara ttg SIKAP TEKUN atau tak kenal menyerah - khususnya dlm hal berdoa. Utk menggambarkan sikap itu, Yesus menceriterakan ttg “seorg hakim dan janda”. Masyarakat Yahudi tdk mengenal lembaga kehakiman. Masalah hukum biasanya diselesaikan oleh “orang tua-tua”. Hakim yg disinggung Yesus dlm injil hari ini adalah hakim yg diangkat oleh Penguasa Romawi. Mereka begitu berkuasa dan sangat ditakuti. Juga terkenal korup, krn sering memeras pihak-pihak yg berperkara. Injil menggambarkannya sbg org yang “tdk takut akan Allah dan manusia” (ayat 2). Jadi, hakim di sini adalah simbol pihak yg berkuasa dan kaya raya. Maka masuk akal kalau hakim ini tdk peduli mengurus perkara seorg janda. Janda adalah simbol pihak yg miskin dan tdk berdaya. Namun mengapa hakim itu mau membantu janda yg miskin itu? Alasannya : krn janda itu selalu (baca : tdk berhenti, tetap tekun) mendatangi hakim itu (bdk. ayat 3). Lalu Yesus membandingkan sikap hakim itu dgn sikap Allah. “Tidakkah Allah membenarkan org-org pilihan yg siang malam berseru kpdNya ?” (ayat 7) atau bdk Lk 11:13 “jika kamu yg jahat memberi apa saja yg baik kpd anak-anakmu, apalagi Bapamu yg di surga”. Injil lalu ditutup dgn pertanyaan yg menggugat “apakah Ia akan menemukan iman di bumi?” (ayat 18). Bacaan I (Kel 17:8-13) juga menceriterakan sikap tak menyerah. Ketika org Israel berperang melawan org Amalek, Musa mendukung dgn berdoa sambil mengangkat tangan. Agar tangan Musa tetap terangkat, maka Harun dan Hur menopangnya, sehingga orang Israel akhirnya menang (Kel. 17:12-13).
Apa yg dpt kita petik dari bacaan-bacaan hari ini ? 1) Kesuksesan hanya milik org yg memiliki sikap “pantang menyerah”. Dlm bukunya “Berani Gagal”, Billi P.S. Lim menceriterakan kisah tokoh-tokoh dunia, seperti : Abraham Lincoln, Thomas Alva Edison, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, dll. Satu hal yg sama dlm diri mereka adalah SIKAP PANTANG MENYERAH. Mereka tdk akan berhenti sebelum mimpinya menjadi kenyataan. Janda dlm injil bersikap demikian juga. Dia “selalu datang kpd hakim itu” sampai perkaranya tuntas (ayat 3). Yesus menegaskan sikap ini : “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihannya yg siang-malam berseru kpdNya” (ayat 7). 2) Kesuksesan hanya bisa dicapai dlm kebersamaan. Kesuksesan Edmud Hillary mencapai puncak Mount Everest tdk terwujud tanpa panduan Tenzing Norgay. Musa berhasil mendoakan kemenangan pasukan Israel, krn dibantu oleh Harun dan Hur. Kita tdk sukses sendirian. Selalu ada org-org lain di sekitar kita yg turut berperan. Demikian juga doa. Doa punya aspek kebersamaan. “Di mana 2 atau 3 orang berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mt 18:20). 3) Kesuksesan bisa tercapai kalau ada “rasa percaya”, baik terhdp diri sendiri maupun terhdp Allah. Selalu ada faktor “x” dlm setiap kesuksesan. Dan dlm kaca mata iman, kita percaya bhw faktor “X” itu adalah “campur tangan Allah”. Tdk ada kesuksesan tanpa Allah. Demikian juga dlm hal doa. Kita percaya bhw Allah mengabulkan doa-doa kita. Tapi kapan ? Hanya Allah yg tahu. Dari kita dituntut memiliki IMAN kpdNya, krn “jika kamu yg jahat memberi apa saja yg baik kpd anak-anakmu, apalagi Bapamu yg di surga” (Lk. 11:13). Maka pertanyaan dlm injil hari ini ditujukan juga kpd kita : Apakah kita memiliki sikap “pantang menyerah” (= berdoa siang malam) ? Apakah kita berdoa bersama orang-orang lain (bdk. Musa, Harun, Hur) ? Apakah kita percaya bhw Allah akan memberikan “yg terbaik kepada kita” ? Kalau kita berani menjawabnya “ YA”, maka mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yg memiliki ‘IMAN’ ketika Tuhan datang. Semoga !





Pada suatu hari seorg Ibu muda mendatangi seorg Counselor. Dia mempunyai seorg anak kecil berusia 4 thn yg super aktif. Anak itu tdk pernah tinggal diam. Mainannya slalu terpencar ke mana-mana. Bahkan kursi di rumahpun dijadikan mobil-mobilan. Dia juga senang bermain air sehingga lantai basah dan licin. Kalau sdg makan, dia tdk pernah tinggal diam. Sisa-sisa makanan bisa tercecer di mana-mana. Dinding-dinding rumahpun penuh coretan-coretan. Suasana rumah benar-benar berantakan. Ketika anak kecil itu pergi tidur di malam hari, barulah Ibu itu membereskan kembali rumahnya. Dan itu pekerjaan rutin setiap hari : menyapu, pel dan mengatur kembali kursi-kursi yg berantakan. Belum lagi mencuci baju yg kotor dan menyeterika. Merasa capeh dgn pekerjaan seperti itu, sang Ibu itu minta nasehat seorg Counselor. Dgn rasa kesal dia menceriterakan situasi rumahnya yg berantakan. Setelah mendengar ceritera Ibu tadi, si Counselor berkata : "Sekarang mana yg Ibu pilih : rumah slalu teratur dan bersih, tapi hidup sendirian tanpa anak, atau hidup seperti sekarang tapi dgn anak ?" Lalu Counselor itu membacakan sebuah tulisan kecil sbb : "Mendengar istri/suami mengomel di rumah itu berarti aku masih punya keluarga; merasa lelah setiap sore, itu berarti aku masih punya pekerjaan; membersihkan piring dan gelas kotor setelah menerima tamu, itu berarti aku masih punya teman; pakaianku terasa agak sempit, itu berarti aku makan cukup; mencuci dan menyeterika tumpukan baju, itu berarti aku memiliki pakaian ... dst. Akhirnya banyak hal yg kita bisa syukuri setiap hari ". Mendengar renungan itu, si Ibu itu meneteskan air mata dan kembali ke rumahnya dgn hati penuh syukur. Bacaan injil hari ini (Lk 17:11-19) berbicara ttg BERSYUKUR. Ketika Yesus menyusur perbatasan Galilea dan Samaria – tdk dijelaskan tepatnya di mana - datang 10 org kusta : 9 org Yahudi dan 1 org Samaria. Org Yahudi biasanya bermusuhan dgn org Samaria. Namun dlm penderitaan, mereka bisa hidup bersama. Jika seseorg dinyatakan "kusta" oleh seorg imam, maka dia dianggap najis dan hrs dikucilkan di luar kampung. Dia berpakaian compang-camping, tubuh diolesi abu dan hrs berteriak : "Najis, najis agar tdk bersentuhan dgn org sehat" (bdk. Im 13:45-46). Yesus tdk menyembuhkan mereka secara langsung, melainkan menyuruh mereka memperlihatkan diri kpd imam. Sesuai hukum Taurat, hanya seorg imam yg bisa menyatakan seorg kusta sdh sembuh atau belum (bdk. Im 13). Setelah 10 org kusta itu sembuh, ternyata hanya 1 org yg kembali kpd Yesus utk mengucap syukur sedangkan 9 org tdk. Dan org itu adalah seorg Samaria. Bacaan injil hari ini, mirip dgn bacaan pertama ttg Naaman yg disembuhkan oleh Nabi Elisa. Naaman adalah Panglima Raja Aram. Setelah disembuhkan, dia mengakui bhw "tdk ada Allah kecuali di Israel" (II Raj 5:15) serta siap menyerahkan "10 talenta perak, 6000 syikal emas dan 10 potong pakaian" (II Raj 5:5). Apa makna yg kita petik dari ceritera di atas ? 1) Penderitaan akibat “kusta” menyatukan org Yahudi dan Samaria. Kondisi kita yg tercemar akibat dosa dan dislamatkan oleh wafat, kematian dan kebangkitan Kristus menyatukan kita sbg anggota gereja. 2) Ke-10 org Kusta tdk disembuhkan secara langsung, melainkan ketika mereka di dlm perjalanan. Mukjizat tdk slalu terjadi pd saat kita diam, melainkan pd saat kita "sibuk". Oleh krn itu butuh "kepekaan rohani" utk menyadari bhw kita telah mengalami mukjizat dari Tuhan. 3) Org luar (Samaria) datang mengucap syukur kpd Yesus, sementara orang sebangsanya tidak. Dlm kehidupan sehari-hari, ucapan terimakasih seringkali datang dari org lain, bkn dari anggota keluarga sendiri, rekan se-kantor atau warga lingkungan sendiri. Dkl, org lain seringkali lbh menghargai kita dp org kita sendiri. 4) Rumusan : 10 %. Dari 10 org yg disembuhkan, hanya 1 org yg mengucap syukur atau hanya 10%. Ini menunjukkan bhw lbh banyak org yg “lupa” bersyukur (90%) dp org yg “tahu” bersyukur (100 %). Atau hal lain : dari 10 “berkat” yg diterima, hanya 1 “berkat” yg menggerakkan kita utk bersyukur. Rasa syukur sama sekali tdk seimbang dgn berkat yg diterima. Pertanyaan Tuhan dalam injil hari ini : “Di manakah yg sembilan orang itu” (Lk 17:17) pantas utk direnungkan. Maka, di manakah posisi kita ?
Betapa mahabesar dan mahaadilnya Allah Sang Pencipta langit dan bumi! Semua diciptakan sangat baik, sangat indah dan adil! Kekayaan variasi yang tak terbatas semakin mempercantik alam! Kekuatan dan kelemahan setiap elemen menjadi bagian manusia untuk ‘mengelola’ sedemikian supaya ‘lulus’ dalam ujian hidup di alam fana ini! Sudah ada keseimbangan antara kelebihan duniawi dan potensi sorgawi. Orang yang diberi kelebihan dalam aspek fisik-duniawi (wajah dan kekayaan) biasanya memiliki kelemahan dalam aspek spiritual (sombong dan mengandalkan diri); sebaliknya, kekurangan dalam bidang fisik-duniawi (orang miskin) biasanya ‘otomatis’ cenderung bersandar dan dekat pada Allah.
Sudah 10 thn Pak Anton menderita migrain. Dia sdh bolak balik ke klinik utk berobat, namun tdk sembuh-sembuh. Dia juga sdh coba pengobatan alternatif, namun tdk ada perubahan berarti. Sampai suatu saat istrinya mengajak Pak Anton mengikuti Seminar Penyembuhan di Katedral Jakarta. Walau agak berat, pak Anton berangkat juga. Tiba agak terlambat di Katedral, Pak Anton dan istrinya mengikuti seminar itu dgn serius. Seperti biasa, di akhir Seminar yg berlangsung selama hampir 2 jam, Romo Pembawa Seminar mengajak peserta menyerahkan diri kpd Tuhan agar bisa mengangkat berbagai penyakit fisik maupun psikis. Pak Anton yg menyadari dirinya sdh lelah berobat ke mana-mana, kini hanya berharap pada kekuatan Allah. Selama Romo membawakan doa penyembuhan, Pak Antonpun ikut berdoa dalam hati mohon mukjizat penyembuhan : “Tuhan Yesus, kalau dulu Engkau mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, membuat orang buta bisa melihat, orang bisu bisa berbicara, orang lumpuh bisa berjalan, bahkan orang mati bisa hidup kembali, kini sembuhkanlah migrain yg telah kuderita bertahun-tahun”. Demikian doa yg diucapkannya berulang-ulang dgn penuh keyakinan. Istrinya yg tercinta turut meneguhkan doa Pak Anton sambil meletakkan tangan di bahunya. Dan tiba-tiba, Pak Anton merasakan sebuah cahaya putih menerangi kepalanya, sehingga terasa panas. Dan beberapa saat kemudian, dia merasa migrainnya hilang. Puji Tuhan! Kekuatan iman Pak Anton mampu menyembuhkan migrain yg 10 thn dideritanya. Bagi orang beriman, tidak ada yg mustahil !!
Pada jaman modern ini sulit membayangkan hidup tanpa uang! Dalam bisnis, uang ibarat darah yang bersirkulasi untuk menghidupi dan menjalankan perusahaan! Dalam kehidupan sehari-haripun kita memerlukan uang untuk bertransaksi dalam segala bidang.