MEWUJUDKAN KERAJAAN SURGA DALAM HIDUP KITA
Seruan pertobatan untuk menyambut Kerajan Surga yang sudah dekat dinyatakan oleh Yesus. Kedatangan Yesus harus disambut dengan pertobatan. Bertobat berbalik kepada Tuhan. Bila selama ini memper-Tuhan-kan uang atau jabatan dan kekuasaan atau kekayaan, orang berbalik kepada Tuhan. Artinya, uang, kekayaan, atau jabatan harus dipandang sebagai sarana untuk mengabdi Tuhan dengan mengasihi dan mengabdi sesama. Berbalik kepada Tuhan adalah langkah untuk membuat perbuatan besar yaitu mewujudkan kerajaan Allah di dunia ini. Coba saja memeriksa pengalaman konkrit bila kita betul-betul dapat menolong orang lain tanpa pamrih. Bila kita berani mengampuni orang yang bersalah pada kita. Bila kita benar-benar mengasihi keluarga kita dengan tulus. Semua perbuatan itu menimbulkan rasa damai dan sejahtera yang luar biasa. Lewat perbuatan sederhana yang dilakukan dengan tulus, orang merasakan “kerajaan Allah” atau Allah yang merajai hati dan pikiran kita. Penjelasan Yesus tentang kerajaan Surga rupanya sederhana, "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya “ (Mat 13: 31). Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, sada Yesus, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara
datang bersarang pada cabang-cabangnya." (ayat 32)
Dengan demikian, menghayati Kerajaan Surga dalam hidup kita harus diawali dengan yang kecil. Tidak perlu yangbesar-besar atau hebat-hebat. Inti kerajaan Allah atau Kerajaan Surga justru diawali dengan hati kita sendiri. Yang merindukan kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Kerinduan itu diwujudkan dengan perbuatan mulai dari yang sederhana untuk mengasihi sesama kita yang terdekat serta orang-orang yang berjumpa dengan kita setiap hari. Memberi jalan kepada orang yang melintas, mempersilakan kendaraan yang memberi “sign” untuk menepi atau mendahului. Kerelaan hati untuk antri dan tidak main serobot. Menaati batas maksimum laju kendaraan dan aturan lalu lintas di jalan raya merupakan langkah-langkah kecil untuk mewujudkan kerajaan Allah agar jalan-jalan raya kita bukan arena kebut-kebutan yang membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Kerajaan Allah diawali dengan biji sesawi yang kecil. Bukankah kobaran api yang membakar rumah dan bangunan diawali dengan percikan api kecil? Demikian pula dengan kebaikan, meskipun kecil dia akan berakibat kebaikan yang lebih besar lagi sehingga kita semua pantas disebut putra-putri Allah sehingga Kerajaan Allah dapat kita wujudkan dalam hidup sehari-hari





S
D
Siapa orang yang tidak memiliki beban hidup? Pada umumnya orang akan mengatakan bahwa dirinya masih merasa “kurang ini dan kurang itu”. Ia masih memiliki beban atau tanggungan yang harus diselesaikan atau dibereskan. Seorang ibu rumah tangga yang mendidik dan mengantar anak-anaknya menjadi sarjana masih dibebani pikiran tentang jodoh anaknya atau karier anak-anaknya. Meskipun sudah menjadi pengusaha yang sukses, orang masih dibebani oleh pikiran tentang masa depan atau kelangsungan perusahaan atau jaminan kesejahteraan karyawan yang telah berjuang bersamanya membantu usaha. Orang yang sukses dalam karier, tetapi masih terbebani dengan masa depan anaknya atau cucunya atau tentang kesehatannya yang menurun digerogoti usia tua. Seorang karyawan atau pegawai kecil yang penghasilannya pas-pasan tentu dibayangi tentang hari esok apakah dapat mencukupi kebutuhan rumah tangganya atau tidak. Demikian pula dengan orang muda yang harus memikirkan dan membangun masa depannya. Beban hidup memang selalu menyertai setiap orang selama hidupnya.
Karena keindahan alam dan kekayaan budayanya, Yunani menjadi tujuan wisata papan atas. Tahun 2013 negara “kecil” itu dikunjungi 16 juta wisatawan asing (bandingkan, Indonesia dikunjungi 8,8 juta wisatawan). Salah satu kota yang ramai dikunjungi adalah Korinthos (Korintus), sekitar 100 km sebelah barat Athena. Kota pelabuhan ini menghadap Teluk Korintus yang sangat tenang. Dua ribu tahun silam, Korintus sudah menjadi kota pelabuhan yang ramai. Di kota itulah Rasul Paulus pernah tinggal untuk mewartakan Injil.