IMAN ADALAH HARTA DALAM HIDUP KITA
Iman adalah harta berharga dalam hidup kita. Oleh iman akan Yesus yang mengasihi dan berkorban untuk umat manusia, hidup kita memiliki arah yang jelas sehingga dapat dihayati dan dilaksanakan dengan sepenuh hati. Karena iman pula, orang yang menghayatinya memiliki daya pikir dan ketahanan mental menjadi pribadi tahan banting. Artinya, bila terkena musibah, kesusahan dan bahaya orang memiliki pegangan untuk bertahan. Iman juga membuat orang memiliki harapan akan hari depan yang lebih baik setelah peziarahan hidup di dunia ini diselesaikan. Karena iman pula kita dapat hidup dalam keadaan damai dan sejahtera dekat dengan Tuhan yang dapat kita dirumuskan sebagai hidup dalam Kerajaan Surga. Hidup dalam kerajaan surga bukannya besok atau sesudah kita mati, tetapi sudah dirasakan sejak sekarang hingga memenuhi pemenuhannya nanti. Tetapi iman juga menjadi demarkasi atau garis batas yang jelas antara yang “dulu” dan “sekarang”. Karena iman, kita sekarang tergerak membuat langkah-langkah yang jelas dan terukur. "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu”. (Mat 13: 44). Artinya, begitu menemukan “harta” itu orang lalu mengambil langkah hidup yang drastic. Dilukiskan dengan “menjual seluruh miliknya” untuk membeli atau memperoleh harta iman itu. Kerajaan surga juga dilukiskan “seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah” (ayat 45). Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, tegas Yesus, “iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu." (ayat 46). Iman memiliki “harga” tersendiri yang harus dibayar dalam perbuatan nyata. Artinya, iman harus diwujud-nyatakan dalam kehidupan agar tetap hidup. Menjadi nyata bahwa iman adalah fundamen untuk membangun hidup yang lebih baik. Tetapi, bukankah banyak orang beriman tetapi di dalam hidup mereka tidak terlihat iman atau “harta berharga” itu? Rupanya beriman tidak hanya berhenti pada tataran formal dengan membuat tanda salib, bersujud untuk berdoa, atau mengikuti perayaan Ekaristi di gereja. Orang beriman tidak hanya formalitas atau berhenti sampai tata lahir saja, tetapi iman yang dihayati dalam hati. Iman atau penyerahan diri kepada Tuhan menimbulkan rasa damai dan sejahtera sehingga mampu menggerakkan perasaan, daya pikir dan tindakan untuk tanpa pamrih. Atau bisa dirumuskan sebagai iman yang diwujud-nyatakan dalam kasih, kebaikan tanpa pamrih, akan tampak dalam hidup, tutur kata, perbuatan dan pekerjaan seseorang. Tetapi, iman atau penyerahan diri kepada Tuhan itu merupakan anugerah Allah yang harus kita mohon dan kita usahakan akan tumbuh dan berkembang sebagai harta yang berharga sehingga layak kita persembahkan bila kelak kita menghadap Tuhan.





Seruan pertobatan untuk menyambut Kerajan Surga yang sudah dekat dinyatakan oleh Yesus. Kedatangan Yesus harus disambut dengan pertobatan. Bertobat berbalik kepada Tuhan. Bila selama ini memper-Tuhan-kan uang atau jabatan dan kekuasaan atau kekayaan, orang berbalik kepada Tuhan. Artinya, uang, kekayaan, atau jabatan harus dipandang sebagai sarana untuk mengabdi Tuhan dengan mengasihi dan mengabdi sesama. Berbalik kepada Tuhan adalah langkah untuk membuat perbuatan besar yaitu mewujudkan kerajaan Allah di dunia ini. Coba saja memeriksa pengalaman konkrit bila kita betul-betul dapat menolong orang lain tanpa pamrih. Bila kita berani mengampuni orang yang bersalah pada kita. Bila kita benar-benar mengasihi keluarga kita dengan tulus. Semua perbuatan itu menimbulkan rasa damai dan sejahtera yang luar biasa. Lewat perbuatan sederhana yang dilakukan dengan tulus, orang merasakan “kerajaan Allah” atau Allah yang merajai hati dan pikiran kita. Penjelasan Yesus tentang kerajaan Surga rupanya sederhana, "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya “ (Mat 13: 31). Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, sada Yesus, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara
Siapa orang yang tidak memiliki beban hidup? Pada umumnya orang akan mengatakan bahwa dirinya masih merasa “kurang ini dan kurang itu”. Ia masih memiliki beban atau tanggungan yang harus diselesaikan atau dibereskan. Seorang ibu rumah tangga yang mendidik dan mengantar anak-anaknya menjadi sarjana masih dibebani pikiran tentang jodoh anaknya atau karier anak-anaknya. Meskipun sudah menjadi pengusaha yang sukses, orang masih dibebani oleh pikiran tentang masa depan atau kelangsungan perusahaan atau jaminan kesejahteraan karyawan yang telah berjuang bersamanya membantu usaha. Orang yang sukses dalam karier, tetapi masih terbebani dengan masa depan anaknya atau cucunya atau tentang kesehatannya yang menurun digerogoti usia tua. Seorang karyawan atau pegawai kecil yang penghasilannya pas-pasan tentu dibayangi tentang hari esok apakah dapat mencukupi kebutuhan rumah tangganya atau tidak. Demikian pula dengan orang muda yang harus memikirkan dan membangun masa depannya. Beban hidup memang selalu menyertai setiap orang selama hidupnya.
S
D