MAKNA SAKRAMEN PEMBAPTISAN
Hari ini Gereja merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Begitu pentingnya kisah pembaptisan ini, sehingga ke-4 Penginjil (Mateus, Markus, Lukas dan Yohanes) menceriterakannya. Ada kesamaan dlm kisah pembaptisan Tuhan sbb : "Yohanes Pembaptis membaptis Yesus di sungai Yordan. Pada saat itu turunlah Roh Allah berupa burung merpati. Dari dalam awan terdengar suara yg berkata : Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan" (Mt 3:13-17; Mrk 1:9-11; Lk 3:21-22; Yoh 1:32-34). Kisah pembaptisan Yesus dlm injil Markus hari ini sebenarnya terdiri dr 2 bagian, 1) Ttg status & peran Yohanes Pembaptis (ayat 7-8); 2) Ttg pembaptisan Yesus (ayat 9-11). Dlm bagian pertama, Yohanes mengakui statusnya sbg "hamba" bahkan lbh rendah dari hamba (bdk. "membuka tali kasutNya pun aku tidak layak"- ayat 7) serta pembaptisan dgn air yg hanya bermakna “pertobatan”, sdgkan pembaptisan Yesus yg bermakna memperoleh “hidup baru”. Pd bagian kedua dikisahkan ttg pembaptisan Yesus. Bagian pertama mengisahkan pelayanan Yohanes Pembaptis, yg begitu efektif shg semua org dtg kpdnya utk dibaptis. Mengapa efektif ? 1) Yohanes menjalani apa yg di-"kotbah"kannya atau dlm bhs Inggris : "walk the talk" - "melakukan apa yg diucapkan". Dia hidup di padang tandus, berpakaian kulit binatang serta makan belalang & madu hutan. Dia mengecam perilaku jahat kaum Farisi & Saduki serta tdk gentar menghadapi kekejaman Raja Herodes. 2) Kotbahnya langsung mengena (to the point) di hati pendengarnya, krn dia bicara ttg hal2 yg nyata terjadi pd bangsanya. Diapun bersikap rendah hati & mengakui statusnya sbg “Pembuka jalan”. Bagian kedua ttg pembaptisan Yesus. William Barclay dlm bukunya "The Daily Study Bible" menyebut 4 hal penting dari peristiwa ini : 1) MOMEN KEPUTUSAN. Selama 30 thn Yesus tinggal di Nazareth dan bekerja membantu orgtuanya. Dia pasti menunggu kapan waktu yg tepat utk bisa tampil ke depan umum. Munculnya Yohanes Pembaptis merupakan momen yg tepat, yg langsung direspons Yesus. Dlm hidup ini, kita bertemu dgn banyak momen. Berhdpan dgn momen2 itu, kita hrs berani ambil keputusan. Hidup tanpa kepastian adalah sia2. 2) MOMEN IDENTIFIKASI. Benar bhw Yesus tdk perlu bertobat.
Namun pembaptisan Yohanes merupakan sebuah gerakan bersama dari Umat Allah utk “kembali kpd Allah”. Dan Yesus mengidentifikasikan diriNya atau menyatukan DiriNya dgn Gerakan "kembali kpd Allah" krn itulah tujuan kedatanganNya. Siapkah kita utk bergabung dgn gerakan “kemanusiaan” atau gerakan “kerohanian” ? 3) MOMEN PENGAKUAN. Ketika meninggalkan Nazareth utk dibaptis di sungai Yordan demi sebuah misi yg dipercayakan kpdNya, Yesus butuh pengakuan atau persetujuan ttg apakah keputusanNya itu benar. Dan benar, ketika dibaptis, Allah mengakui atau menyetujui keputusan Yesus dgn mengatakan : "Engkaulah Anak yg Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan" (ayat 11). Dlm diri setiap orang, Allah akan berbicara kpdnya melalui "SUARA HATI". Jika kita melakukan yg baik, SUARA HATI akan menyetujui; tapi sebaliknya, jika kita melakukan yg jahat, SUARA HATI akan menolak. Maka, apakah kita selalu bersikap & bertindak sesuai SUARA HATI kita ? Atau sebaliknya ? 4) MOMEN PENDAMPINGAN. Dlm menjalankan misiNya, Yesus tdk sendirian. Allah mengirimkan RohNya untuk mendampingi dan menguatkan Yesus. Jika sikap dan tindakan yg kita ambil sesuai dgn kehendak Allah atau "berkenan kpd Allah", maka Allah tdk akan membiarkan kita sendirian. Allah akan selalu menyertai kita. Lalu apa yg bisa kita petik dari Perayaan Pembaptisan Tuhan hari ini ? Pertama, seperti Yohanes Pembaptis, kita hrs berani "menghidupi apa yg kita imani" serta bersikap "rendah hati". Seperti kata2 Yohanes : "Ia hrs makin besar, tetapi aku hrs makin kecil" (Yoh 3:30). Kedua, pembaptisan bkn saja bermakna "pertobatan" melainkan "mnjd ciptaan baru" (2 Kor 5:17). Siapkah kita utk mnjd “ciptaan baru” atau “manusia baru” ? Bdk Ef 4:17-32 ttg Manusia baru. Ketiga, kita hrs selalu "hidup bersih" (=kain putih) serta mjd "terang" (=lilin) & "garam" bagi org di sekitar kita (cat. Simbol dlm upacara pembaptisan). Memiliki "nama baptis" saja tdk cukup ! Yg lbh penting adlh menghayati "kekristenan / kekatolikan" itu dlm hidup setiap hari. Semoga perayaan PESTA PEMBAPTISAN TUHAN hari ini dpt menguatkan kita !





Saya kenal banyak romo yang senang menggoda ibu-ibu dengan pertanyaan nakal, anaknya boleh jadi romo atau suster atau tidak? Mungkin para romo itu berpikir bahwa dibanding bapak-bapak, ibu-ibu lebih mempunyai kelekatan emosional dengan anak. Kalau ibu bilang tidak, emang bapak bisa bilang apa? Tentu sah saja untuk merelakan atau tidak merelakan sang anak untuk menjalani hidup panggilan.
Dalam hal ekspresi, saya masuk kelompok orang yang “mati rasa”. Ketika orang-orang di sekitar saya tiba-tiba bergoyang mendengar irama musik tertentu, maksimal saya hanya ikut mengetuk hitungan irama. Jika dalam konser orang ikut berteriak bernyanyi, maksimal saya hanya ikut menggumam dalam hati. Saya mati ekspresi. Pernah saya berjuang untuk ekspresif. Ikut menari sambil menyanyi. Tentu saja di satu tempat asing, tak ada yang mengenal saya. Tapi di belakang kepala seperti ada saya lain yang berteriak, “Ini bukan gayamu.”
Anak-anak balita, ketika mulai bisa bicara, di ujung mulutnya seperti ada kata apa dan mengapa yang selalu menyala. Apa itu, Ma? Mengapa begitu? Sepertinya mereka, dengan otak kecil mereka, ingin mengetahui dan menalar segalanya dalam seketika. Dan ternyata itu memang baru awal. Sampai dewasa, bahkan tua, orang seperti mendewakan apa dan mengapa. Bagi manusia harus ada alasan bagi setiap hal. Kalau ada gunung, sungai, atau laut, seolah harus ada alasan mengapa. Apalagi kata kerja, harus selalu ada mengapanya. Begitu otak tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan mengapa, orang akan mengatakan hal itu tidak rasional, tidak masuk akal, karenanya tidak bisa diterima. Akal menjadi penentu apakah sesuatu bisa diterima atau tidak.
Ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengadakan safari darat di Sumatra, satu kelompok nelayan di daerah Way Lunik, Lampung, mengaku kecewa, karena presiden tidak blusukan ke perkampungan mereka. Padahal para nelayan sudah bersiap menyampaikan berbagai keluhan, terkait pembuangan limbah industri yang berdampak pada kian sedikitnya ikan yang bisa mereka tangkap.