PRO ECCLESIA ET PATRIA
Tgl. 7 Juni 2012 film “SOEGIJA” yg disutradarai Garin Nugroho ditayangkan di bioskop-bioskop besar di Tanah Air. Film ini mengisahkan peran Mgr Albertus Soegijapranata, uskup pribumi pertama, dlm perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia melalui “silent diplomacy”. Menurut Garin : "Indonesia pernah punya pemimpin yg tangguh dan tdk menjadikan kemanusiaan sbg sebuah wacana belaka." Dan ini nyata dlm diri Mgr Soegijapranata. Beliau lahir tgl 25 Nov 1986 di Surakarta dari keluarga Abdi Dalem Muslim. Ketika pindah ke Yogyakarta, Soegija masuk Kolese Xaverius – Yesuit di Muntilan. Di sana Soegija tertarik dgn agama Katolik dan dibaptis. Setelah lulus, Soegija menjadi seorang guru sambil belajar di Seminari di Muntilan. Thn. 1919 Soegija berangkat ke Belandautk bergabung dgn Serikat Yesus dan ditahbiskan pd 15 Ags 1931. Kembali ke Indonesia, Romo Soegija memulai tugas pastoralnya di Paroki Kidul Loji, Yogyakarta dan thn 1940 ditahbiskan sbg Vikaris Apostolik Semarang. Selama pendudukan Jepang, Mgr Soegija aktif menyelamatkan rakyat yg menjadi korban peperangan. Beliau juga banyak menulis ttg situasi Indonesia di media internasional. Dlm tulisannya, Beliau menekankan bhw kita hrs menjadi “100% katolik, 100% Indonesia”. Sikapnya ini membangkitkan semangat banyak warga katolik berjuang utk kemerdekaan, bahkan beberapa di antaranya mendpt gelar pahlawan seperti : Ignatius Slamet Rijadi (+1945), Agustinus Adisucipto (+1947) dan Yos Soedarso (+1961). Tgl 3 Jan 1961 Beliau diangkat sbg Uskup Agung Semarang. Namun tgl 22 Juli 1963 Mgr Soegijapranata meninggal di Belanda dan jenazahnya diterbangkan ke Indonesia. Atas perannya dlm perjuangan kemerdekaan, pd thn yg sama Presiden Soekarno memberi Beliau gelar “Pahlawan Nasional”. Meskipun Mgr Soegijapranata sdh pergi, namun pandangannya mengenai “100 % Katolik dan 100 % Indonesia” masih sangat relevan sampai saat ini.
Bacaan injil hari ini (Mt 22:15-21) berbicara ttg “Hal membayar pajak kpd Kaisar”. Saat itu daerah Palestina berada di bawah penjajahan Romawi. Dan Pontius Pilatus ditempatkan di Yerusalem sbg Wakil Kekaiseran Romawi. Sbg daerah jajahan, Palestina wajib membayar upeti / pajak kpd Kekaiseran Romawi. Ini itu sangat membebankan dan menyakitkan. Maka sering ada pemberontakan terhdp penjajahan Romawi, walau dgn mudah dpt ditumpas. Maka pertanyaan Kaum Farisi kpd Yesus sehrsnya ungkapan kegelisahan atau kekecewaan atas kondisi itu. Namun tdk demikian. Pertanyaan itu ternyata tdk tulus dan menjebak. Namun dgn tegas Yesus menjawab : “Berikanlah kpd Kaisar apa yg wajib diberikan kpd Kaisar dan kpd Allah apa yg wajib diberikan kpd Allah” (ayat 21). Jawaban Yesus memberi penegasan bhw dlm pandangan gereja katolik / Kristen : “institusi negara” terpisah dari “institusi agama atau gereja”. Dkl, urusan negara hrs dipisahkan dari urusan agama / gereja. Negara tdk bisa mencampuri urusan agama dan sebaliknya, agama tdk bisa terlibat dlm urusan politik atau negara. Negara hrs menjamin setiap warganya utk menjalankan ajaran agamanya, dan agama hrs mampu menjadi kekuatan moral dan spiritual bagi para penyelenggara negara. Maka setiap warga negara hrs bisa menjadi “garam dan terang dunia”, demikian sebaliknya, seorang anggota gereja hrs mampu menjadi “patriot sejati”. Maka semboyan “100% katolik dan 100% Indonesia” merupakan semangat yg timbul dari kesadaran bhw kita mempunyai misi ganda, yaitu demi kejayaan gereja dan negara – Pro Ecclesia et Patria. Maka dlm memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-69 thn ini, patut kita renungkan kata-kata Presiden John Kennedy – USA : “Jangan kau tanyakan ttg apa yg negara ( + gereja ) lakukan buat saya, melainkan tanyakan apa yg saya lakukan utk negara ( + gereja)”. Dirgahayu Republik Indonesia !





Hari Minggu ini ditetapkan Gereja sbg Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga. Pesta ini biasanya dirayakan setiap tgl. 15 Agustus, sebuah tradisi sejak abad VI. Santa Perawan Maria diangkat ke surga merupakan sebuah dogma yg ditetapkan Paus Pius XII melalui Konstitusi Apostolik “Munificentissimus Deus” (Allah yg sangatmurah hati) yg diumumkan tgl. 1 Nopember 1950. Dogma adalah sebuah pengajaran yg terkait dgn wewenang mengajar Gereja (ex catedra) yg secara implisit maupun eksplisit dinyatakan di dlm Kitab Suci atau Tradisi Suci, yg hrs dipercaya oleh umat beriman sbg sebuah kebenaran. Dogma ini menyusul beberapa dogma sebelumnya ttg Bunda Maria, yaitu : 1. Maria Bunda Allah (Theotokos/Mater Dei) melalui Konsili Efesus thn 432 dan Konsili Chalcedon th 451. 2. Maria Tetap Perawan (Maria Virgini) melalui Konsili Konstantinopel th 553 dan Konsili Lateran th 649. 3. Maria dikandung tanpa noda dosa asal (Immaculata conception) yg dikeluarkan oleh Paus Pius IX tgl 8 Desember 1854. Bagaimana kita dpt memahami dogma ini ? Tuhan menciptakan Maria dlm rahim Santa Anna, ibunya, tanpa noda dosa asal. Mengapa ? Krn Tuhan menghendaki demikian spy Maria dpt mengandung Yesus, Putera Allah. Pada akhir hidup Maria di dunia, Tuhan memutuskan utk melakukan sesuatu yg istimewa bagi Bunda Maria. Tubuhnya tdk dimakamkan, tetapi Tuhan mengangkat tubuhnya ke surga. Bunda Maria diangkat jiwa dan raganya ke surga agar ia dpt senantiasa bersama dgn Yesus. Sungguh suatu karunia yg amat istimewa yg dianugerahkan kpd Maria, krn Tuhan amat mengasihinya. Beberapa dasar biblis dari dogma ini : 1) Kej 3:15 “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau (= ular/setan) dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu ..” 2) Gal 4:4 “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yg lahir dari seorg perempuan ..”. 3) Lk 1:28 : “Salam hai engkau yg dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” …. “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan (ayat 42) .. sesungguhnya mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku bahagia (ayat 48). 4) Why 12:1-6 : “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit : Seorg perempuan berselubungkan matahari, dgn bulan di bawah kakinya, dan sebuah mahkota dgn 12 bintang di atas kepalanya”. Keyakinan bhw Bunda Maria diangkat ke surga sdh dimulai sejak abad V. Tulisan dari Org-org kudus dan Bapa-Bapa Gereja dpt membuktikan hal ini, misalnya : St. Yohanes Damaskus (676-754), St. Antonius Padua, (1195-1231), St. Thomas Aquinas (1225-1274), St Albertus Agung (1206-1280) dan St. Alphosus Liguori (1696-1787). Lalu apa makna Pesta ini bagi kita ? Merayakan Pesta Maria diangkat ke surga dpt menjadi ungkapan kepercayaan akan masa depan kemanusiaan kita. Bahwa pd satu saat nanti umat manusia akan kembali berada bersama dgn Tuhan di surga. Kita yakin akan hal ini karena sdh terjadi pd Bunda Maria, yg kini sdh ada bersama Allah. Makna ini ditegaskan kembali oleh KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) dlm Surat “LIHATLAH BUNDAMU” (1973) : “Maria diangkat ke surga lbh merupakan suatu pengingat bagi Gereja bhw Tuhan menghendaki agar mereka semua yg telah diberikan Bapa kepadaNya dibangkitkan bersamaNya. Dalam Maria diangkat ke dalam kemuliaan, ke dalam persatuan dengan Kristus, Gereja melihat dirinya menjawab undangan dari Mempelai surgawi.” Madah Magnificat Maria dlm bacaan injil hari (Lk 1:39-56) ini merupakan pujian syukur atas karya agung Allah, yg “mengerjakan perbuatan-perbuatan besar dlm diri Maria, hambaNya yg hina”. Dan karya agung ini direspons oleh Maria dgn ketaatan tanpa syarat “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lk 1:38). Dan ketaatan itulah yg mengantar Maria kpd kemuliaan, kpd kebahagiaan bersama Allah di surga. Maka Pesta Santa Perawan Maria diangkat ke surga hendaknya mendorong kita utk selalu taat kepada kehendak Allah dan selalu hidup dalam FirmanNya. Madah Magnificat yg dinyanyikan Maria hendaknya menjadi madah hidup kita, karena “Allah telah mengerjakan hal-hal besar dalam diri kita” (Lk 1:49). Magnificat anima mea Dominum – Jiwaku mengagungkan Tuhan !!
Seruan pertobatan untuk menyambut Kerajan Surga yang sudah dekat dinyatakan oleh Yesus. Kedatangan Yesus harus disambut dengan pertobatan. Bertobat berbalik kepada Tuhan. Bila selama ini memper-Tuhan-kan uang atau jabatan dan kekuasaan atau kekayaan, orang berbalik kepada Tuhan. Artinya, uang, kekayaan, atau jabatan harus dipandang sebagai sarana untuk mengabdi Tuhan dengan mengasihi dan mengabdi sesama. Berbalik kepada Tuhan adalah langkah untuk membuat perbuatan besar yaitu mewujudkan kerajaan Allah di dunia ini. Coba saja memeriksa pengalaman konkrit bila kita betul-betul dapat menolong orang lain tanpa pamrih. Bila kita berani mengampuni orang yang bersalah pada kita. Bila kita benar-benar mengasihi keluarga kita dengan tulus. Semua perbuatan itu menimbulkan rasa damai dan sejahtera yang luar biasa. Lewat perbuatan sederhana yang dilakukan dengan tulus, orang merasakan “kerajaan Allah” atau Allah yang merajai hati dan pikiran kita. Penjelasan Yesus tentang kerajaan Surga rupanya sederhana, "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya “ (Mat 13: 31). Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, sada Yesus, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara
I
S