Helen Keller adalah seorg dosen, penulis, pejuang kemanusiaan dan inspirator. Dia lahir 7 Juni 1880 di Tuscumbia, Alabama, USA sbg anak normal, namun jadi buta dan tuli di usia 19 bln krn meningitis. Dlm usia 14 thn, Helen Keller masuk “The Wright Humason School for the Deaf” di New York dan lanjut ke Radcliffe College. Thn 1904 dia tamat dgn predikat “cum laude” sbg Tuna Netra & Tuna Rungu pertama yg capai gelar “Bachelor of Arts”. Dia menulis 14 buku, al : The Story of my life, The World I live In. Dia kunjungi 35 negara di 5 benua utk kampanye “kepedulian bagi yg cacat, khususnya yg buta dan tuli”. Atas prestasi tsb, Helen Keller meraih banyak penghargaan baik di USA maupun dunia. Hari kelahirannya diperingati sbg Hari Nasional di Pennsylvania - USA. Namun siapa di balik suksesnya Helen Keller ? Dialah Anne Mansfield Sullivan, guru dan temannya selama 49 thn. Anne, lulusan terbaik Perkins Institution for the Blind di Boston / USA, seorg Tuna Netra. Thn 1887 Anne bergabung dgn keluarga Keller. Membimbing Helen, yg buta dan tuli serta bersifat kasar dan keras kepala tdk gampang. Namun dgn penuh kesabaran dan kasih sayang, Anne mendidiknya. Baru 1 bln bimbingan terjadi peristiwa luar biasa. Helen mampu mengucapkan kata “WATER” (air). Setlh itu kemajuan demi kemajuan terjadi sangat cepat. Peran penting Anne Sullivan dikisahkan William Gybson dlm film "Miracle Worker", di mana Anne digambarkan sbg Tokoh yg tlh membuat mukjizat atas Helen Keller, yg awalnya buta dan bisu menjadi salah satu Tokoh Dunia abad XX. Kehebatan Helen Keller tdk mungkin tercapai tanpa Anne Sullivan. Injil hari ini (Yoh 9:1-41) ttg YESUS MENYEMBUHKAN MATA ORG YG BUTA SEJAK LAHIR. Mukjizat ini agak unik, krn Yesus menggunakan media (“tanah dan ludah”); mengolesnya di mata si pasien; lalu menyuruh dia membasuh di kolam Siloam. Mukjizat ini menuai kontroversi krn terjadi pd hari Sabat. Pd hari Shabbat yg artinya “berhenti bekerja”, org dilarang melakukan pekerjaan, seperti : menabur, menuai, menyalakan api, memasak, mencuci, kecuali berdoa, kunjungi sanak keluarga atau terima tamu. Selain Yesus dan si Tuna Netra, ada 3 pihak lain dlm kisah ini, yaitu : para murid, kaum Farisi dan keluarga. Para murid mendorong terjadinya mukjizat (“siapa yg berdosa, sehingga ia dilahirkan buta” – ayat 3); kaum Farisi mengecam terjadinya mukjizat (“Orang ini tdk datang dari Allah” ayat 16); keluarga bersikap lepas tanggungjawab krn takut (“Tanyakanlah kpdnya sendiri, ia sdh dewasa, ia dpt berkata-kata utk dirinya sendiri” - ayat 21). Dlm kisah ini terjadi pertumbuhan iman si Tuna Netra dgn mengakui Yesus sbg : “Orang yg disebut Yesus” (ayat 11); “Dia seorang Nabi” (ayat 17); “Percayakah engkau akanAnak Manusia ? Aku percaya, Tuhan” (ayat 35-38). Sebaliknya, 3 kali kaum Farisi tdk mengakui Yesus : “Org ini tdk datang dari Allah” (ayat 16); “Org itu org berdosa” (ayat 24); “ttg Dia itu kami tdk tahu dari mana Ia datang” (ayat 29). Apa makna yg dpt kita petik dr kisah ini ? Pertama, “penderitaan” (penyakit, cacat, cedera, dll) tdk ada hubungan langsung dgn “dosa”. Penderitaan adalah kesempatan utk memuliakan Allah, baik yg kita sendiri alami maupun ketika kita membantu org lain. Kedua, setiap mukjizat atau peristiwa penting dpt menimbulkan 2 sikap : lbh dekat kpd Tuhan (bdk. sikap si Tuna Netra) atau lbh jauh dari Tuhan (bdk sikap kaum Farisi). Cat. Bagaimana sikap kita ? Ketiga, kasih atau perbuatan baik lbh tinggi nilainya dari aturan atau hukum. Seperti kata-kata St Agustinus : Ama et fac quod vis - kasihilah, maka engkau dpt melakukan apa saja. Bdk I Kor 13:1-13 – Madah Kasih. Keempat, buta hati jauh lbh memprihatinkan dp buta mata. "Cacat yg lbh parah, bkn tdk dpt melihat, melainkan tdk peduli atau tdk dpt merasakan penderitaan org lain" tulis HelenKeller. Kemampuan ber-empati atau merasakan beban dan penderitaan org lain jauh lbh penting. Kelima, bersikap rendah hati dan mau mengakui kekurangan adalah dasar kemajuan (bdk. Si Tuna Netra), sedangkan tdk mau mengakui kekurangan adalah awal kehancuran (bdk. Kaum Farisi – ayat 40 s/d 41). Keenam, seperti Yesus atau Anne Sullivan, kita juga dipanggil utk membuka mata org lain agar dpt melihat penderitaan sesama, utk peduli dan berbagi serta dpt melihat kebaikan dan kebesaran Tuhan dlm setiap peristiwa hidup ini.




