Pembaharuan karismatik katolik [PDKK] paroki, mengajak seluruh umat berdoa dan bersekutu bersama setiap hari Senin pada jam 19.30 di aula Santa Anna dan setiap Jumat pertama, ketiga dan kelima [ Persekutuan Doa Pagi ] di aula Santo Benedictus pada jam 10.00. dalam rangka bulan Valentine pada tanggal, 21 Februari dengan tema cinta kasih, mari bersama-sama mewujudkan cinta kasih Allah....informasi Hub: Raidjonan : 0818.117855
Mohon Partisipasi seluruh umat untuk mengumpulkan daun palma kering yang sudah diberkati. Daun dapat ditaruh disetiap pintu masuk gereja pada hari Sabtu dan Minggu atau hari biasa. Catatan : Batas pengumpulan daun palma kering paling telat tanggal 25 Februari
Akan diadakan pada hari Sabtu Minggu,23 Februari,jam 10.30. Diharapkan para ketua lingkungan dan wilayah untuk hadir dalam pertemuan tersebut. Agenda : Sosialisasi dan Pembagian bahan APP. Undangan dapat diambil dikotak lingkungan masing-masing
Mulai Sabtu dan Minggu ini, Pendaftan untuk anak-anak yang sekolah di sekolah katolik di Sekolah masing-masing, untuk anak-anak yang sekolah non katolik pendaftaran di Sekretariat paroki pada jam kerja. Persyaratan : sudah kelas 4 SD tahun 2014. melampirkan foto copy surat baptis, surat perkawinan gereja orangtua
Norma-norma liturgis Gereja memang menetapkan warna-warna busana liturgis yang khusus untuk beragam perayaan. Penggunaan aneka warna dalam busana liturgis memiliki dua tujuan: Pertama, warna menegaskan masa liturgi tertentu dan perjalanan rohani umat beriman melewati masa-masa ini. Kedua, warna memberi makna masa liturgi dengan menegaskan suatu peristiwa tertentu atau suatu misteri iman tertentu. Penjelasan berikut disampaikan berdasarkan norma-norma Pedoman Umum Misale Romawi no 345-347.
KUNING, warna-warna yang melambangkan sukacita dan kemurnian jiwa, dikenakan sepanjang Masa
Natal dan Masa Paskah. Busana liturgis putih juga dikenakan pada perayaan-perayaan Tuhan Yesus (kecuali peringatan sengsara-Nya); begitu pula pada pesta Santa Perawan Maria, para malaikat, para kudus yang bukan martir, pada Hari Raya Semua Orang Kudus (1 November), Kelahiran St Yohanes Pembaptis (24 Juni), Pesta St Yohanes Pengarang Injil (27 Desember), Pesta Tahta St Petrus Rasul (22 Februari) dan Pesta Bertobatnya St Paulus Rasul (25 Januari). Putih juga dapat dikenakan pada Misa Pemakaman Kristiani dan Misa Arwah guna melambangkan kebangkitan Tuhan kita, ketika Ia menang atas dosa dan maut, kesusahan dan kegelapan.
MERAH memiliki makna ganda. Di satu pihak, merah melambangkan pencurahan darah; di lain pihak, merah juga melambangkan api kasih Allah yang bernyala-nyala. Karenanya, busana liturgis merah dikenakan pada hari Minggu Palma (ketika Kristus memasuki Yerusalem untuk menyongsong kematian-Nya), pada hari Jumat Agung, pada hari Minggu Pentakosta (ketika Roh Kudus turun atas para rasul dan lidah-lidah api hinggap di atas kepala mereka), dalam perayaan-perayaan Sengsara Tuhan, pada pesta para rasul dan pengarang Injil (terkecuali St Yohanes yang tidak mengalami kemartiran), dan pada perayaan-perayaan para martir
HIJAU dikenakan sepanjang masa liturgi yang disebut Masa Biasa. Masa Biasa berfokus pada masa tiga tahun pewartaan Tuhan kita di depan publik, dan ayat-ayat Injil, teristimewa pada hari-hari Minggu, mengisahkan ajaran-ajaran, mukjizat-mukjizat, pengusiran setan dan perbuatan-perbuatan baik lain yang dilakukan-Nya selama masa itu. Segala pengajaran dan peristiwa ini mendatangkan pengharapan besar dalam misteri keselamatan. Kita berfokus pada hidup-Nya yang Ia bagi bersama umat manusia semasa hidup-Nya di dunia ini, hidup yang sekarang kita bagi bersama-Nya dalam komunitas Gereja dan melalui sakramen-sakramen-Nya, dan kita menanti dengan rindu berbagi hidup abadi bersama-Nya dalam kesempurnaan di surga. Hijau melambangkan pengharapan dan hidup ini, sama seperti tunas-tunas hijau yang menyembul di antara pepohonan yang tandus di awal musim semi membangkitkan pengharapan akan hidup baru.“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”




