
Bacaan I : 2Raj. 4:8-11,14-16a; Bacaan II : Rm. 6:3-4,8-11;
Bacaan Injil: Mat. 10:37-42.
RUANG BAGI ALLAH
Ketiga bacaan hari ini mengisahkan tiga peristiwa dari tiga tokoh yang berbeda. Namun jika dirangkai maka akan dapat ditarik sebuah benang merah apa yang diinginkan Allah dalam hidup kita.
Bacaan pertama mengisahkan seorang Perempuan Sunem kaya yang memiliki mata iman yang tajam. Dia melihat Nabi Elisa dan menyadari bahwa Elisa adalah abdi Allah yang kudus [2Raja 4:9]. Perempuan ini tidak diam saja, melainkan menyediakan sebuah ruang yang tetap di rumahnya bagi Elisa. Dalam kepercayaan orang Israel, menerima seorang abdi Allah merupakan bentuk penghormatan kepada Allah itu sendiri.
Sebuah ruang bagi Allah tersedia bagi para pengikut Kristus yang telah menerima baptisan dalam nama Kristus. Dalam suratnya kepada Jemaat di Roma, Paulus mengatakan bahwa kita semua yang telah:3]. Maka mengikuti Kristus berarti “mati bagi dosa” dan kemudian dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya [Rm. 6meletakkan Kristus di atas cinta duniawi. Di situlah kita menyediakan ruang bagi Allah agar Dia berkuasa sepenuhnya atas diri kita.
Sementara itu dalam bacaan Injil Yesus menyampaikan suatu ajaran yang radikal dan menguji hati, sebuah undangan terbuka kepada SIAPA SAJA yang layak mengikuti-Nya. (1). Siapa aja mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; (2). Siapa saja mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Atas kedua ajaran ini, Yesus tidak bermaksud agar para pengikut-Nya meninggalkan keluarga. Dia sedang mengajarkan bahwa Allah sebagai pusat hidup. Jika Allah menjadi pusat hidup maka semua relasi akan menemukan tempat yang benar.
Tiga ajaran radikal lainnya yaitu (3). Siapa saja tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. (4). Siapa saja mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan (5). Siapa saja kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Dari ketiga bacaan hari ini kita diajak untuk belajar seperti Perempuan Sunem yang peka akan kehadiran Allah. Kita juga diajak memiliki keberanian yang radikal dalam mengasihi Kristus dan menguburkan “manusia lama” bersama kematian Kristus di kayu salib. Semuanya itu adalah untuk menyediakan ruang bagi Allah di dalam hidup kita. Di sanalah Allah akan bekerja, memberikan ganjaran berupa hidup baru, damai sejahtera dan sukacita yang tidak ditawarkan oleh dunia.
Marilah kita berdoa: Tuhan Yesus, mampukan kami untuk dapat mengenali dan mengutamakan apa yang menjadi kehendak-Mu. Jadikanlah hati kami terbuka untuk mengenali-Mu melalui orang orang yang hadir di dalam kehidupan kami. Amin..[DN]




