Akan mengadakan seminar kesehatan dengan tema “ REPRODUKSI TRANSISI” pada hari Minggu, 23 Maret, jam 10.30 di aula Santo Benedictus. Pendaftaran dapat menghubungi ke Ibu. Sri [ 0815.89.20560 ] Theresia [ 085.2800.86.206 ]
Masa Prapaskah/Waktu Puasa Tahun 2014 dimulai pada hari Rabu Abu, 5 Maret sampai dengan hari Sabtu, 19 April 2014. “Semua orang beriman kristiani menurut cara masing-masing wajib melakukan tobat demi hukum ilahi’ (KHK k.1249). Dalam masa tobat ini Gereja mengajak umatnya “secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan karya amalkasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang”(ibid). Semua orang beriman diajak untuk merefleksikan pengalaman hidup dan mengadakan pembaharuan untuk semakin setia sebagai murid Yesus.Dalam rangka pertobatan dan pembaharuan hidup beriman, Gereja mengajak kita semua untuk mewujudkannya, terutama dalam masa prapaskah ini dengan memperhatikan beberapa ketentuan berikut ini :Dalam Masa Prapaskah kita diwajibkan:
-
Berpantang dan berpuasa pada hari Rabu, 5 Maret dan hari Jumat Suci, 18 April 2014. Pada hari Jumat lain-lainnya dalam Masa Prapaskahhanya berpantang saja
-
Yang diwajibkan berpuasa menurut Hukum Gereja yang baru adalah semua yang sudah dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (KHK k.1252). Yang disebut dewasa adalah orang yang genap berumur delapanbelas tahun (KHK k.97 §1).
-
Puasa artinya: makan kenyang satu kali sehari
-
Yang diwajibkan berpantang: semua yang sudah berumur 14 tahun ke atas (KHK k.1252).
-
Pantang yang dimaksud di sini: tiap keluarga atau kelompok atau perorangan memilih dan menentukan sendiri, misalnya: pantang daging, pantang garam, pantang jajan, pantang rokok
-
Dalam rangka mewujudkan pertobatan ekologis, kita diajak untuk ambil bagian dalam gerakan pantang plastik dan styrofoam
Untuk memaknai masa prapaskah ini marilah kita mengusahakan orientasi dan perilaku yang membuat kita semua makin beriman, makin bersaudara dan makin berbelarasa. Kita usahakan agar suasana tobat dan syukur mewarnai masa penuh rahmat ini. Sangat dianjurkan agar berbagai kegiatan yang bersuasana pesta, misalnya: perkawinan, tidak dilakukan dalam kesempatan ini. Namun jika ada alasan yang berat untuk melakukannya, hendaklah tetap dilaksanakan secara sederhana.
Semoga dengan menjalani masa prapaskah ini, iman kita semakin diteguhkan. Kita percaya dengan-Nya persaudaraan kita akan semakin diakrabkan dan pada gilirannya kita semakin berbelarasa terhadap saudara-saudara kita yang menderita
Sudah terbit, diharapkan para ketua lingkungan atau wakilnya yang diberi delegasi untuk mengambil majalah tersebut di aula rumah seberang pastoran setiap hari Sabtu dan Minggu setelah Misa</p> <p></p>
Para ketua lingkungan yang tidak hadir dalam pertemuan pembekalan bahan App 2014, dipersilahkan untuk mengambil bahan tersebut di Sekretariat paroki pada jam kerja
Apa itu Masa Prapaskah? Masa Prapaskah adalah masa 40 hari sebelum Paskah, yang digunakan Gereja untuk mempersiapkan diri dalam merayakan Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus pada hari Minggu Paskah.Bilamanakah Masa Prapaskah dimulai?Masa Prapaskah dimulai pada hari Rabu Abu, yaitu hari di mana umat beriman menerima tanda Salib dari abu di dahinya. Masa Prapaskah berakhir pada siang hari Sabtu Suci. Lima hari Minggu Prapaskah tidak terhitung dalam masa 40 hari tersebut
Mengapa orang Katolik membubuhi dahinya dengan tanda salib pada hari Rabu Abu? Sebab menurut Injil tanda di dahi adalah lambang kepemilikan seseorang. Dengan tanda salib didahinya melambangkan bahwa orang tersebut adalah milik Yesus Kristus, yang wafat di Kayu Salib. Tanda itu serupa dengan tanda rohani atau meterai yang dimeteraikan dalam Baptisan Kristiani, yaitu ketika manusia dibebaskan dari perbudakan dosa, serta dijadikan hamba kebenaran. (Roma 6:3-18). Tanda itu juga serupa dengan gambaran orang-orang benar dalam Kitab Wahyu: "Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!" (Why 7:3)
Mengapa diberi tanda dengan abu?Karena abu adalah lambang biblis dari sesal dan tobat. Dalam jaman Kitab Suci, umat Allah mempunyai kebiasaan untuk berpuasa, mengenakan kain kabung, duduk di atas abu, serta menaburi kepala mereka dengan abu. Sekarang kita tidak lagi mengenakan kain kabung atau duduk di atas abu, tetapi kita masih meneruskan kebiasaan berpuasa dan membubuhkan abu pada kening kita sebagai tanda sesal dan tobat. Sesungguhnya, Hari Rabu Abu bukanlah hari sekedar membubuhi dahi kita dengan abu, tetapi juga adalah hari puasa
Adakah makna lain dari abu?Ya. Abu juga melambangkan kematian, dan dengan demikian mengingatkan kita akan ketidakabadian kita. Karenanya, ketika imam dengan ibu jarinya membubuhkan abu di kening umat, ia akan berkata, “Ingatlah, manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu", seperti yang difirmankan Tuhan kepada Adam (Kej 3:19, Ayb 34:15; Mzm 90:3; Mzm 104:29; Pengkhotbah 3:20). Perkataan tersebut diucapkan juga dalam pemakaman, “Abu menjadi abu; debu menjadi debu,” sesuai firman Tuhan kepada Adam, dan sesuai dengan pengakuan Abraham, “Aku debu dan abu” (Kej 18:27). Demikianlah abu menjadi tanda ketidakabadian kita serta mengingatkan kita akan pentingnya bertobat sebelum hidup kita di dunia ini berakhir dan kita menghadap Sang Pencipta. [ Bersambung Di edisi Warta Monika Minggu yang akan datang ] “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”




