
Bacaan I : Za. 9:9-10; Bacaan II : Rm. 8:9,11-13;
Bacaan Injil: Mat. 11:25-30.
RENDAH HATI MEMBAWA DAMAI SEJATI
Kitab Zakharia lahir di tengah reruntuhan fisik dan patah hati spiritual Bangsa Yahudi yang pulang dari pembuangan di Babel. Saat itu Yerusalem masih berupa puing-puing, Bait Allah hancur dan kondisi sosial ekonomi carut marut. Namun Allah tidak berhenti bekerja. Dia sedang merajut sebuah rencana besar. Untuk itu Dia mengutus Zakaria untuk terus menghidupkan asa bangsa Yahudi.
Dalam nubuatnya Zakharia menghadirkan sebuah gambaran yang mengejutkan. Ia bernubuat bagi Bangsa Yahudi: "Lihat, Rajamu datang kepadamu." Tetapi Raja ini bukanlah raja perkasa yang menunggang kuda perang atau membawa senjata. Ia datang dengan lemah lembut, menunggang seekor keledai. Raja ini tidak mengobarkan api peperangan, melainkan mewartakan damai sejahtera. Dia tidak menaklukkan dengan kekuatan, melainkan memenangkan hati manusia dengan kerendahan hati. Sebuah nubuat penghiburan bagi bangsa yang sedang mengalami kelelahan jasmani maupun rohani akibat peperangan dan penjajahan.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang memuji Bapa karena rahasia Kerajaan Allah dinyatakan kepada orang-orang kecil, bukan kepada orang bijak menurut dunia. Lalu, Yesus menyampaikan sebuah ajakan yang penuh kasih "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." Ajakan ini seperti setetes air segar di tengah kehidupan orang Yahudi yang tertindas baik oleh penjajah Romawi maupun perilaku kaum elite yang cenderung menguntungkan kelompok mereka saja.
Cara Yesus bekerja bertolak belakang dengan para penguasa dunia yang mengandalkan kekuatan fisik untuk menjadi pemenang. Yesus justru mengandalkan kerendahan hati dan kelemahlembutan. Sejalan dengan itu Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengingatkan mereka agar tidak hidup menurut keinginan hawa nafsu duniawi [daging], melainkan hidup menurut Roh. Hawa nafsu duniawi membuat manusia terikat pada dirinya sendiri, sedangkan hidup menurut Roh membuka hati bagi Allah untuk bekerja dalam diri manusia.
Melalui ketiga bacaan ini, kita diajak bercermin: apakah selama ini kita memikul beban hidup sendiri? Beban hidup itu bisa berupa kekuatiran tentang keluarga, pekerjaan, masa depan, kesehatan, atau pergumulan hidup lainnya. Tuhan tidak meminta kita menanggungnya sendirian. Ia hanya meminta kita datang kepada-Nya dengan kerendahan hati. Orang yang merasa dirinya paling kuat biasanya sulit menerima pertolongan Tuhan. Namun bagi mereka yang rendah hati dapat mengalami damai yang sejati..[CT]




