
Bacaan I : Kis. 6:1-7; Bacaan II : 1Ptr. 2:4-9;
Bacaan Injil: Yoh. 14:1-12.
UMAT TERPILIH
Para murid adalah orang-orang pilihan Yesus sendiri. Karena itu menjelang sengsara-Nya, Yesus menguatkan mereka dengan memberikan wejangan. Wejangan ini juga merupakan pesan bagi tiap orang percaya sepanjang masa. Para murid yang gelisah karena kabar perpisahan-Nya dan ancaman terhadap komunitas mereka, Yesus menegaskan: “Janganlah gelisah hatimu.” (Yoh. 14:1). Ini bukan sekadar nasihat menenteramkan, namun sebuah kekuatan bagi para murid di tengah ketidakpastian. Kata-kata ini adalah panggilan untuk meletakkan kepercayaan pada Allah yang sama yang telah memanggil dan menyertai umat-Nya sejak semula. Percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Bapa; percaya kepada Bapa berarti menemukan dasar jaminan hidup kekal (Yoh 14:1; 14:11).
Yesus membuka dasar pengharapan dengan mengajak para murid “tinggal di rumah Bapa.” Gambaran rumah Bapa melampaui ruang fisik, tempat di mana hubungan anak dengan Bapa dinyatakan, sekaligus sebuah realitas surga yang menjadi tujuan perjalanan iman (Yoh. 14:2–3). Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus menyiapkan tempat bagi mereka yang beriman bukan untuk menjadi tamu yang terasing, melainkan anak yang berhak tinggal.
Kata-kata Yesus: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup,” menempatkan diri-Nya sebagai teladan dan jembatan menuju Bapa (Yoh. 14:6). Jalan yang ditunjukkan-Nya bukanlah jalan mudah, melainkan jalan kebenaran yang menuntut iman, kesetiaan, dan kemauan untuk ikut menanggung salib (Yoh. 12:24–26). Itulah jalan menuju kepada hidup sejati, bermartabat, dan kudus karena terpaut pada sumbernya, yakni Sang Bapa.
Ketika Filipus meminta untuk melihat Bapa, Yesus menjawab: “Siapa yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Pernyataan ini mengarahkan kita pada misteri inkarnasi sekaligus hubungan intim antara Bapa dan Anak (Yoh 14:11). Pernyataan ini juga memiliki arti sebuah undangan kepada para pengikut-Nya untuk percaya bahwa karya penyelamatan-Nya bukan sekadar tindakan historis, melainkan persekutuan hidup yang terus berlangsung (Yoh. 14:10).
Wejangan ditutup dengan sebuah tantangan kepada para murid bahwa siapa saja yang percaya kepada Yesus akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya. Sikap iman para murid untuk melanjutkan karya Yesus ini terwujud di dalam jemaat perdana yang memilih tujuh diakon (Kis 6:5). Mereka diperbantukan agar para janda mendapat perhatian dalam pelayanan. Semakin banyak yang percaya maka semakin banyak lahan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.
Sebagai umat Katolik, kita dipanggil bukan hanya mengenang kata-kata-Nya, tetapi diajak untuk menjadi batu hidup (1Ptr 2:5) dalam pelayanan, doa, dan pengorbanan. Kita percaya bahwa kita adalah umat terpilih yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib. Mari kita melakukan pekerjaan-pekerjaan yang pernah dilakukan-Nya sebagai bentuk ketaatan dan kasih kepada-Nya. [CL]




