
Bacaan I : Kis. 1:12-14; Bacaan II : 1Ptr. 4:13-16;
Bacaan Injil: Yoh. 17:1-11a.
DOA BUKAN SEKEDAR KATA-KATA KE ATAS
Pada hari Minggu sebelum Pentakosta, Gereja Katolik merayakan Hari Komunikasi Sedunia. Tahun ini merupakan perayaan yang ke-60. Dalam pesannya Paus Leo XIV menyampaikan “Wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia.”
Semasa karya pelayanan-Nya, Yesus menyusuri tanah Palestina, mengadakan perjumpaan untuk mengajar orang-orang Yahudi termasuk para murid-Nya. Dia melakukan komunikasi dengan banyak pihak. Tidak hanya itu, komunikasi dengan Bapa juga tetap berjalan intim melalui doa-doa yang didaraskan-Nya.
Perjumpaan dengan para murid terus berlanjut dan menjadi lebih pribadi menjelang saat-saat sengsara-Nya. Injil Yohanes menampilkan kisah sepanjang 4 bab – yang berisi nasihat-nasihat Yesus dan ditutup dengan doa. Kita mengimani bahwa nasihat dan doa itu tidak hanya untuk para murid waktu itu, tetapi juga untuk kita yang hidup pada zaman ini. Yesus mengetahui tantangan hidup yang akan dialami oleh para murid sepeninggal-Nya nanti. Dia tahu bahwa dunia ini penuh dengan tawaran dan cobaan sehingga manusia harus memilih, apakah melakukan perintah-perintah-Nya atau lebih memilih kehendak dunia. Karena itu di dalam doa kepada Bapa, Yesus memohonkan agar Bapa memelihara para murid saat Yesus tidak lagi bersama mereka (Yoh 17:11).
Teladan hidup yang diwariskan Yesus kepada para murid berlanjut saat Yesus telah naik ke surga. Mereka semua tetap bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Meski Yesus tidak bersama lagi dengan mereka, namun komunikasi dengan-Nya tetap berlangsung melalui doa. Ikut serta bersama para rasul adalah Bunda Maria, Ibu Yesus, beberapa perempuan dan saudara-saudara Yesus (Kis 1:14).
Dalam konteks teologi komunikasi, doa bukan sekedar kata-kata ke Atas saja melainkan mencakup dimensi vertikal (kita dengan Bapa) dan horizontal (mendoakan sesama). Di tengah badai kehidupan yang melanda, doa merupakan sarana untuk memuliakan seluruh hidup kita kepada Bapa. Teladan Yesus mengajarkan kita bahwa di saat-saat sengsara-Nya yang menunggu di depan mata, Yesus tidak lupa memuliakan Bapa dan mendoakan para murid. Yesus tidak kehilangan identitas-Nya sebagai Putera Allah di dalam penderitaan. Maka kitapun wajib meneladani Penebus kita, tetap bertahan dalam identitas kita sebagai pengikut Kristus yang tetap memuliakan Allah di dalam sekalipun di dalam penderitaan (1Ptr 4:16). Marilah kita meningkatkan kualitas doa kita sebagai sarana komunikasi dengan Bapa dan saling mendoakan sebagai bentuk kesatuan pengikut Kristus. [MS]




