MENJADI KATOLIK SECARA KONSISTEN
Sama-sama kita pahami bahwa hidup ini memang pilihan. Sepanjang jalan kita lalui terhampar beragam pilihan hidup yang harus ditentukan. Dan apapun pilihan yang dijatukan pasti mendatangkan konsekuensi yang harus kita hadapi. Demikian juga halnya dalam beriman. Ketika memilih untuk menganut Katholik tentu saja konsekuensi keimanan Katholik itu harus kita hadapi. Bukankah selalu ada harga yang mesti dibayar untuk setiap pilihan hidup kita?
Dewasa ini berkembang fenomena unik dalam mengekspresikan iman sehingga orang terjebak dalam cara yang agak keliru dalam beragama. Fenomena yang dimaksud adalah sinkretisme gaya baru, dimana orang beriman layaknya berbelanja di pasar swalayan. Ibarat belajaan, pandangan agama dijadikan bahan pilihan tanpa memandang darimana sumbernya demi membenarkan cara hidupnya. Misalnya meski menganut Katolik tetapi dalam soal perkawinan cenderung memihak ajaran yang melegalkan poligami demi membenarkan perselingkuhan yang dibuat. Memang manusiawi bila orang akan memihak pada pilihan yang mudah dikerjakan dan sekaligus menguntungkan.





Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Pertanyaan ini singkat namun menikam kesadaran terdalam. Sepertinya Yesus hendak mencari sari pengenalan para murid tentang diriNya. Jelas ini pertanyaan yang agak aneh, bukankah para murid adalah kumpulan orang terdekat yang tiap hari bersama Dia? Bukankah sejak awal mereka telah mengenal Yesus dengan baik sehingga memutuskan untuk meninggalkan segala sesuatu dan kemudian dengan sukarela mengikut kemana saja Dia pergi? Belum cukupkah kesetiaan dan komitmen yang sudah diperlihatkan para murid sehingga terlontar pertanyaan ini? Entah mengapa kemudian hanya Petrus seoranglah yang menjawab "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
Tahun 1944 Perang Dunia II berakhir. Sekelompok tentara memasuki sebuah kota, yang hancur akibat bom. Di pinggir kota, para tentara tiba di suatu tempat di mana pernah tertanam sebuah salib besar. Salib itu hancur berantakan. Mereka coba mencari pecahan-pecahannya. Selama 2 hari mereka berjuang mengumpulkan pecahan salib itu dan berhasil menyusun kembali : kepala, tubuh dan kaki Yesus. Namun mereka tidak berhasil menemukan tangan Yesus. Mereka tidak kehilangan akal. Mereka mendirikan kembali salib Yesus dan di kaki salib itu mereka pasang sebuah tulisan : AKU BUTUH TANGANMU. Setiap orang yang lewat di tempat itu dan melihat Yesus disalibkan tanpa tangan, seolah mendengar seruan Yesus : AKU BUTUH TANGANMU ..!!
Kedekatan umat Katolik di berbagai belahan dunia dengan Bunda Maria sungguh luar biasa. Di Meksiko atau sebagian besar Negara Amerika Latin, setiap sudut rumah bahkan jalanan selalu dihiasi dengan patung Maria. Berbagai tempat ziarah bertema devosi kepada Bunda Maria berkembang pesat. Dalam bentuk yang paling sederhana banyak orang menyatakan kedekatan itu dengan berdoa rosario. Bahkan bagi sebagian orang, kesalehan mereka sungguh nyata saat berkanjang dalam devosi kepadaBunda Maria. Kita juga terbiasa menyimpan rosario dalam saku, mengalungkan di leher atau menggantungnya dalam kendaraan dengan maksud agar selamat dan lebih tenang tentunya.
Thn. 1928 Agnes Gonxha Bojaxhiu – gadis berusia 18 tahun – meninggalkan tanah airnya di Skopje / Kosovo untuk masuk Biara Suster Loreto di Calcutta / India. Th. 1931 dia mengikrarkan kaul pertama dgn memilih nama “Teresa”. Th 1946 dia meninggalkan biaranya untuk melayani orang-orang miskin di India. Thn 1950 Teresa mendirikan ordonya “Missionaries of Charity” dgn misi “melayani si lapar, si telanjang, si gelandangan, si pincang, si buta dan semua yg merasa tak diinginkan, tak dicintai, tak diperhatikan dalam masyarakat dan yg ditolak oleh siapapun”. Karyanya ini telah mjd monumen kemanusiaan yg tiada tandingannya. Th. 1979 dia dianugerahi Hadiah Nobel. Dia meninggal tgl. 5 September 1997 dlm usia 87 tahun & th. 2003 diberi gelar BEATO oleh Paus Yohanes Paulus II. Dia dikenal dgn panggilan “Mother Teresa” atau Bunda Teresa. Kata2nya antara lain : “Dlm hidup ini kita mungkin tdk dpt melakukan hal2 yg besar. Namun kita dpt melakukan hal2 kecil dgn cinta yg besar”.