MARI MEMBAYAR ‘PAJAK’ KEPADA TUHAN
Rupanya membayar pajak selalu menjadi kontroversi (perbantahan) sejak dahulu kala. Apalagi bagi orang beragama yang mengaku hanya mau menyembah Tuhan YME sebagai satu-satunya Allah. Santo Agustinus membedakan dengan jelas antara civitas Dei (kota atau “wilayah” Tuhan) dan civitas terrena (kota dunia). Jadi, ada pembedaan yang jelas antara Tuhan dan Dunia. Membayar pajak dipandang sebagai mengakui kekuasaan lain selain Kuasa Tuhan sebagai satu-satunya Pemilik manusia dan dunianya. Sebagian orang Yahudi memang tidak mau membayar pajak kepada kaisar, karena dipandang mengakui ketundukan kepada penjajah Romawi. Sekarang ini pun, tetap ada pro dan kontra tentang membayar pajak “dengan jujur”. Ada kekhawatiran uang pajak itu disalah-gunakan atau dimanipulasi bukan untuk kepentingan masyarakat atau kepentingan negara, tetapi kepentingan pribadi atau kelompok.
Tapi mari simak baik-baik, Yesus hanya mengatakan "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (Mat 22: 21). Pajak seperti diperdebatkan oleh orang Yahudi zaman dulu dan orang pada zaman sekarang, bagi Yesus, harus dilihat dalam kerangka (hak) milik pihak lain yang harus dihormati oleh semua orang. Hak yang harus menjadi milik kaisar harus diberikan, demikian juga apa yang menjadi hak atau milik Allah. Memang, pengaturan dunia (pemerintahan dan sistem pajaknya sebagai ongkos untuk menjalankan tugasnya) merupakan otonomi yang harus diurus sendiri oleh manusia. Tetapi harus diingat, karena Allah adalah pemilik dunia dan isinya, maka semestinya hak milik kaisar maupun yang “bukan kaisar’ juga termasuk “yang hrs diberikan” kpd Allah. Lalu pertanyaannya adlh “pajak” spt apa yg hrs diberikan kpd Allah sbg pemilik dunia ini?
Karena segala milik yang dipunyai manusia di dunia adalah milik Allah sebagai Pencipta maka hak milik pribadi setiap manusia adalah milik Allah juga. Artinya, milik itu seharusnya memiliki fungsi sosial. Apa pun yang dimiliki harus ditujukan atau dipakai bukan hanya (sekali lagi: bukan hanya!) untuk memenuhi kehidupan pribadi dan keluarga, tetapi juga memiliki fungsi sosial atau untuk memenuhi kebutuhan hidup orang lain. Dengan itu, harta atau milik diabdikan sebagai bagian dari penyelenggaraan Allah (providentia Dei) agar manusia dan dunianya dapat tetap hidup. Kepemilikan uang dan harta benda harus dikembalikan kepada Allah, lewat tindakan-tindakan kasih (baik untuk “memberi ikan” maupun “memberi kail”-nya). Pengembalian milik Tuhan itu merupakan tindakan “tahu diri” atau mengenal diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang empunya seluruh dunia beserta isinya. Mengenal diri merupakan bagian dari kerendahan hati yang diperlukan untuk berkembang dalam iman kepada Yesus, yang berkorban dan mengabdikan seluruh hidup-Nya untuk keselamatan setiap manusia, termasuk kita.





Pernah di milis paroki Santa Monika terjadi diskusi hangat soal tata busana saat perayaan Misa Kudus. Pasalnya, ada sementara warga yang terganggu gara-gara pakaian sesama umat yang hadir saat misa. Diskusi kemudian berkembang tentang etika berbusana saat misa. Kesimpulan dari diskusi itu adalah perayaan Misa Kudus adalah undangan perjamuan dari Tuhan sehingga pakaian yang dikenakan harus pantas sebagai orang yang diundang.
Sekarang banyak sekali perlombaan. Semua hal dilombakan. Bahkan ada yang mensertifikasi pada tingkat paling (ultimate level). Lucu-lucu. Pesertanya banyak, penontonnya juga banyak. Pemenangnya adalah “yang ter....”. Entah tercepat, entah terlama. Itulah salah satu yang menarik saat ini.
Tidak sulit menemukan kenyataan dunia yang terbalik-balik di media massa cetak maupun elektronik. Seorang ayah yang seharusnya melindungi anaknya, justru melukai atau menjual anaknya. Suami yang harusnya mengasihi pasangan hidupnya, justru melakukan KDRT dengan menganiaya sang isteri bahkan ada yang tega-teganya membunuhnya. Pejaba...t public yang seharusnya mengabdi atau mewakili masyarakat atau rakyat justru hanya mewakili kantongnya sendiri alias korupsi. Anehnya hanya mendapat hukuman ringan-ringan saja. Pokoknya, banyak kejadian yang menunjukkan kenyataan yang tidak seharusnya atau yang terbalik-balik itu. Minggu ini suguhan bacaan Injil (Mat 21: 33 - 43) adalah tentang kenyataan yang terbalik-balik itu. Bagaimana tidak, lha wong pekerja kebun anggur kok malah gak memberikan bagian panenan yang menjadi hak pemilik kebun anggur. Anehnya, para utusan sang pemilik kebun anggur malah dianiaya. Bahkan, begitu keterlaluannya para pekerja itu sampai tega-teganya membunuh putra pemilik kebun anggur. Memang benar-benar keterlaluan para pekerja itu. Kalau sang pekerja itu harus dihukum seberat-beratnya pasti semua orang pasti setuju. Perumpamaan itu dimaksudkan untuk orang Yahudi yang tidak mau menerima Yesus sebagai Mesias, Putra Allah. Pengalaman berjumpa dengan Yesus tidak menjadikan mereka beriman, malahan nanti menyalibakan-Nya. Pertanyaan yang relevan, "Bagaimana agar dunia kita atau hidup kita tdk terbalik-balik?" Adakah cara atau kiatnya? Apakah pengalaman hidup kita dpt menghantar kita pd Yesus shg makin beriman atau percaya pd Allah sbg Bapak yg mahabaik?
Salah satu cara mencerapi injil adalah beridentifikasi dengan tokohnya. Dalam bacaan kali ini, yang paling mudah adalah “Bila Aku Menjadi...Buruh Upahan”. Kerennya: karyawan. Maka pesannya adalah tidak boleh iri kalau ada karyawan baru lainnya yang menerima upah yang sama. Begitu sederhana.