Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Pertanyaan ini singkat namun menikam kesadaran terdalam. Sepertinya Yesus hendak mencari sari pengenalan para murid tentang diriNya. Jelas ini pertanyaan yang agak aneh, bukankah para murid adalah kumpulan orang terdekat yang tiap hari bersama Dia? Bukankah sejak awal mereka telah mengenal Yesus dengan baik sehingga memutuskan untuk meninggalkan segala sesuatu dan kemudian dengan sukarela mengikut kemana saja Dia pergi? Belum cukupkah kesetiaan dan komitmen yang sudah diperlihatkan para murid sehingga terlontar pertanyaan ini? Entah mengapa kemudian hanya Petrus seoranglah yang menjawab "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
Kisah unik di balik perikop ini rupanya hendak menyentil juga kesadaran kita tentang beriman. Keintiman relasi pribadi kita dengan Yesus seakan diaudit lewat pertanyaan tadi, "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Memang sedari lahir kita sudah dibaptis atau sudah bertahun-tahun lamanya kita menjadi Katolik tetapi sesungguhnya keadaan ini tidak memberi garansi seratus persen bhw kualitas iman kita mmg bagus. Mengapa? Krn kualitas iman itu ternyata ditentukan oleh sejauhmana kita mengenal Tuhan Yesus scr pribadi & kemudian pengenalan yg pribadi itu menuntun kita utk bersikap atau berlaku tapa serupa dgn Tuhan Yesus.
Boleh jadi pertanyaan Tuhan Yesus ini akan mendapat jawaban yang beragam. Lantaran kualitas relasi pribadi dengan Tuhan Yesus pun beragam. Ada sebagian orang yang dengan kekaguman memandang Dia sebagai Allah. Ada juga yang mungkin memandang Dia sebagai manusia luar biasa yang mengerjakan banyak hal yang tidak biasa. Tidak sedikit tentu memandang Dia sebagi penolongyang setia membantu kapan pun dan dimana pun. Bisa jadi sebagian memandang Dia sebagai teman yang paling setia dan teruji dalam berbagai dinamika persahabatan. Apa pun penilain pribadi kita ttg Tuhan Yesus tetap mencerminkan sejauhmana rajutan keraraban kita dgn Dia sdh terbentuk.
Sudah seharusnya tiap orang memberi jawaban yang spesial atas pertanyaan ini. Petrus memberikan jawaban yang mencerminkan kedalaman pengenalan dan keyakinan dirinya tentang tuhan Yesus. Bagaimana dengan kita? Saatnya kita perlu mengoreksi keberimanan selama ini, jika jawaban kita sebatas retorika umum yang biasa terdengar. Maksudnya dalam kematangan iman setiap pribadi akan memandang Dia secara lebih intim dan menempatkan Tuhan Yesus sebagai pusat dlm kehidupan ini. Sebab panggilan kita adlh mjd alter cristus, pribadi yg terus mewartakan Tuhan Yesus dlm kehidupan ini.
Pada situasi tertentu jawaban atas pertanyaan ini akan memperlihatkan sedalam apa keyakinan kita terhadap Tuhan Yesus. Bayangkan bila pertanyaan itu terlontar dari mulut seseorang yang mungkin belum mengenal atau bahkan menolak Dia, lantas apa jawaban kita? Jika relasi pribadi yang kita rajut selama ini merupakan relasi yang intim mungkin bukan perkara yang sukar bagi kita untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus dalam situasi apa pun. Sebaliknya jika relasi kita dengan Tuhan Yesus adalah relasi yang renggang atau biasa-biasa saja, boleh jadi jadi kita akan disergap keraguan dalam memberikan kesaksian ttg Dia atau bahkan boleh jadi kita terjebak dlm tindakan menyangkal Dia. Bagi kita merajut keimanan seharusnya berujung pd perubahan sikap & laku tapa yg makin menyerupai Tuhan Yesus. Sudahkan kita menempatkan Dia sbg sosok spesial dlm hidup ini?




