Dalam bacaan pertama, para rasul berkata: “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.” Melayani meja (diakonein) berarti melayani berbagai persiapan dan pembagian makanan disekitar meja, yang pada jaman sekarang bisa berarti melayani berbagai persiapan dan pembagian makanan (rohani) disekitar meja (altar). Itulah pelayanan yang dilakukan oleh orang-orang awam yang dengan rela melayani berbagai bidang dalam Gereja. Dan yang menarik dari kata-kata para rasul tadi adalah, bahwa tidak melayani meja berarti melalaikan Firman Allah.
Salah seorang yang terpilih untuk melayani meja pada waktu itu adalah Stefanus, dan dia pulalah yang akan berkata: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” (Kis 7:56).
Memang kata melayani lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Salah satunya penyebabnya adalah; karena melayani Gereja dalam pandangan jaman sekarang, tidaklah mendatangkan keuntungan bagi (dunia) hidup kita yang penuh dengan keinginan dan tuntutan, oleh karena itu santo Petrus mengatakan bahwa tugas itu: “memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah.” (1Pet 2:4)
Secara khusus dalam Injil, Yesus menjanjikan bahwa “ada banyak tempat” di rumah Bapa, dan Ia justru pergi untuk mempersiapkannya bagi murid-murid-Nya. Dan untuk bisa mendapatkannya, dengan sangat tepat Yesus berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6), yang berarti tidaklah ada jalan lain untuk bisa sampai kepada Allah Bapa selain melalui, yaitu dengan cara bersatu dan masuk kedalam diri Yesus Kristus. Dan bahkan sebelum itu, Kristus sendiri mampu menjadi jalan bagi seluruh umat manusia karena: “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh 14:10). Dan seperti yang dikatakan Yesus, bahwa jalan untuk bisa masuk kedalam diri-Nya adalah dengan “menuruti firman-Nya” (Yoh 14:23), maka ajakan para rasul agar kita turut serta “melayani meja” di gereja, sangatlah relevan untuk kita pertimbangkan, karena selain untuk “menuruti firman-Nya”, dengannya kita bisa menjadi jalan bagi orang lain untuk mengenal Kristus. Karena: “kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1Pet 2:9)




