HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Pertanyaan para ahli Taurat tentang "Hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat" (Mat 22: 36) bukan hanya pertanyaan tentang urutan mana yang terpenting dari hukum Taurat. Tetapi, tentang semangat dan tatanan hokum ("rezim hukum") yang dibangun untuk mempertentangkan ajaran Yesus tentang kasih dengan hukum Taurat. Yesus mengajak orang untuk melihat hukum lain yang mengatasi segala hukum, termasuk Taurat. Hukum bukan untuk kekuasaan atau ideologi. Artinya, orang yang taat hukum tidak dapat merasa legitim atau sah untuk menindak orang yang tidak taat sebagai pendosa atau kafir. Hukum bukan untuk menindas atau balas dendam. Hukum juga bukan hanya untuk orang yang kuat (kaya, memiliki jabatan, atau memiliki kekuasaan) sehingga terjadi survival of the fittest" (yang kuat yang bertahan hidup). Lalu semangat dan tatanan hukum seperti apa?
Bagi Yesus tatanan hukum harus mewujudkan cinta kasih. Hukum itu hukum kasih. "Kasihilah Tuhan, Allahmu. [..] Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ayat 37-39), tegas Yesus. Dari kedua hal itulah segala hukum, termasuk hukum agama bergantung. Lewat hukum kasih itu, manusia dibina untuk bertanggung jawab kepada Tuhan dan terhadap sesamanya. Tanggung jawab kepada Sang Pencipta itu diwujud-nyatakan dengan tanggung jawab sosial atau tanggung jawab terhadap keselamatan orang lain. Hukum atau aturan kehidupan bersama seharusnya mewujudkan kasih dengan memberi keadilan dan melindungi setiap orang. Jadi bukan hanya survival of the fittest (yang kuat yang bertahan hidup), tetapi juga survival of the weakest (yg terlemah yg bertahan hidup).
Sayangnya, seperti disaksikan di pemberitaan media,massa hukum seperti diatur-atur sehingga orang yang “benar” menjadi “salah”. Orang yang seharusnya memperoleh keadilan justru mengalami sengsarana karena ditindas. Penegakkan hukum atau menempatkan hukum sebagai hukum kasih seperti digariskan Yesus masih jauh dari kenyataan. Apa yang mesti kita lakukan?
Dalam pelaksanaan hukum, kita tidak cukup bertanya “mana yang dapat atau tidak dapat dilakukan” (segi juridis formal) saja, tetapi harus menambahkan “mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan” (segi moral). Ambil contoh “UU Lalu Lintas”, soal keamanan berkendara di jalan-jalan raya. Begitu banyak orang yang hanya bertanya “mana yang dapat dan tidak” dengan asal belok atau asal menyalip atau mendahului kendaraan lain, dan bukan bertanya “mana yang boleh dan tidak”. Tengok saja penggunaan lampu sign di sepeda motor atau mobil sering diabaikan sehingga tidak hanya membuat “jantungan” pengendara lain juga dapat menyebabkan tabrakan. Demikian pula dengan orang yang menyeberang jalan seenaknya tanpa lewat jembatan penyeberangan yang disediakan dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang yang berkendara. Menggunakan telepon genggam saat menyetir mobil dan aneka tindakan indispliner lainnya menjadi contoh bahwa sebetulnya hukum atau aturan itu merupakan tanggung jawab sosial, karena menyangkut keselamatan dan hidup diri sendiri dan sesama. Mungkin dengan belajar bertindak benar di jalan raya kita berlatih untuk tertib dalam segi2 kehidupan lainnya, termasuk utk tdk korupsi , tdk merugikan org lain, atau menyalahgunakan jabatan demi uang.





Rupanya membayar pajak selalu menjadi kontroversi (perbantahan) sejak dahulu kala. Apalagi bagi orang beragama yang mengaku hanya mau menyembah Tuhan YME sebagai satu-satunya Allah. Santo Agustinus membedakan dengan jelas antara civitas Dei (kota atau “wilayah” Tuhan) dan civitas terrena (kota dunia). Jadi, ada pembedaan yang jelas antara Tuhan dan Dunia. Membayar pajak dipandang sebagai mengakui kekuasaan lain selain Kuasa Tuhan sebagai satu-satunya Pemilik manusia dan dunianya. Sebagian orang Yahudi memang tidak mau membayar pajak kepada kaisar, karena dipandang mengakui ketundukan kepada penjajah Romawi. Sekarang ini pun, tetap ada pro dan kontra tentang membayar pajak “dengan jujur”. Ada kekhawatiran uang pajak itu disalah-gunakan atau dimanipulasi bukan untuk kepentingan masyarakat atau kepentingan negara, tetapi kepentingan pribadi atau kelompok.
Tidak sulit menemukan kenyataan dunia yang terbalik-balik di media massa cetak maupun elektronik. Seorang ayah yang seharusnya melindungi anaknya, justru melukai atau menjual anaknya. Suami yang harusnya mengasihi pasangan hidupnya, justru melakukan KDRT dengan menganiaya sang isteri bahkan ada yang tega-teganya membunuhnya. Pejaba...t public yang seharusnya mengabdi atau mewakili masyarakat atau rakyat justru hanya mewakili kantongnya sendiri alias korupsi. Anehnya hanya mendapat hukuman ringan-ringan saja. Pokoknya, banyak kejadian yang menunjukkan kenyataan yang tidak seharusnya atau yang terbalik-balik itu. Minggu ini suguhan bacaan Injil (Mat 21: 33 - 43) adalah tentang kenyataan yang terbalik-balik itu. Bagaimana tidak, lha wong pekerja kebun anggur kok malah gak memberikan bagian panenan yang menjadi hak pemilik kebun anggur. Anehnya, para utusan sang pemilik kebun anggur malah dianiaya. Bahkan, begitu keterlaluannya para pekerja itu sampai tega-teganya membunuh putra pemilik kebun anggur. Memang benar-benar keterlaluan para pekerja itu. Kalau sang pekerja itu harus dihukum seberat-beratnya pasti semua orang pasti setuju. Perumpamaan itu dimaksudkan untuk orang Yahudi yang tidak mau menerima Yesus sebagai Mesias, Putra Allah. Pengalaman berjumpa dengan Yesus tidak menjadikan mereka beriman, malahan nanti menyalibakan-Nya. Pertanyaan yang relevan, "Bagaimana agar dunia kita atau hidup kita tdk terbalik-balik?" Adakah cara atau kiatnya? Apakah pengalaman hidup kita dpt menghantar kita pd Yesus shg makin beriman atau percaya pd Allah sbg Bapak yg mahabaik?
Pernah di milis paroki Santa Monika terjadi diskusi hangat soal tata busana saat perayaan Misa Kudus. Pasalnya, ada sementara warga yang terganggu gara-gara pakaian sesama umat yang hadir saat misa. Diskusi kemudian berkembang tentang etika berbusana saat misa. Kesimpulan dari diskusi itu adalah perayaan Misa Kudus adalah undangan perjamuan dari Tuhan sehingga pakaian yang dikenakan harus pantas sebagai orang yang diundang.
Sekarang banyak sekali perlombaan. Semua hal dilombakan. Bahkan ada yang mensertifikasi pada tingkat paling (ultimate level). Lucu-lucu. Pesertanya banyak, penontonnya juga banyak. Pemenangnya adalah “yang ter....”. Entah tercepat, entah terlama. Itulah salah satu yang menarik saat ini.