KESAKSIAN HIDUP AGAR ORANG PERCAYA MESKIPUN TIDAK MELIHAT
Ada ungkapan, “Jangan melihat buku hanya dari sampulnya saja!” Sampul buku atau sering disebut “cover” bisa saja menarik, tetapi isi atau materi buku setelah dibaca ternyata tidak menarik. Melihat buku memang tidak cukup hanya dari tampilan luar, meskipun tampilan luar itu eye-catching (mengundang mat untuk melihat karena memiliki daya tarik) untuk melihatnya. Injil pada hari ini mengajarkan kita tentang “melihat”. Santo Thomas yang tidak mudah percaya akan kata orang menjadi percaya akan Yesus yang Bangkit setelah “melihat” kelima luka Yesus. Sikap tidak mudah percaya seperti Thomas ini umum terjadi sekarang ini. Aneka penipuan, kejahatan, dan kriminalistas terjadi karena orang mudah percaya sehingga tertipu dan membuka peluang terjadinya kejahatan. Kepercayaan menjadi barang mahal dalam masyarakat kita.
Percaya memang tidak cukup hanya dengan kata-kata saja, tetapi kata-kata itu dibarengi dengan seluruh hidup dan pribadi orang itu. Dengan demikian ada kaitan yang erat antara kata-kata dan siapa yang mengatakan. Melihat adalah suatu proses untuk menjadi percaya. Melihat itu lebih penting dari pada sekedar mendengar, seperti dalam ungkapan “Lebih baik melihat sekali dari pada mendengar beribu kali”. Mendengar dalam hal ini berarti hanya dari kata orang lalu menjadi asal percaya. Tetapi, Yesus justru menegaskan sebaliknya, “Karena engkau (=Thomas) telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” ( Yoh 20: 29). Orang tidak melihat langsung, tetapi percaya karena kata-kata orang lain. Karena dalam hidup yang benar adanya satunya kata dan perbuatan sehingga kata-kata itu menjadi kesaksian hidup bahwa “kata-kata” itu memang benar.
Tidak seperti Rasul Thomas, kita juga percaya akan Yesus yang bangkit dari kata-kata orang lain, termasuk orang tua, teman, saudara, juga pastor yang dulu membaptis kita atau dapat dikatakan kita percaya karena kesaksian hidup Gereja. Kesaksian hidup itu membwa iman akan Yesus yang bangkit. Kebangkitan itu nyata dalam kehidupan Gereja yang tampak dalam diri anggota-anggotanya bahwa cinta kasih mampu mengatasi aneka kesulitan, hambatan, penderitaan bahkan kematian, seperti ditunjukkan dalam peristiwa penyaliban Yesus . Dalam hidup yang diresapi oleh iman akan kebangkitan itu orang beriman tetap memiliki harapan, sikap optimis sehingga mampu menjalani hidup ini dengan cinta kasih kepada diri sendiri dan sesama. Menjadi tugas kita semua orang beriman untuk memberi kesaksian akan kebangkitan Yesus dalam kehidupan nyata sehari-hari sehingga makin banyak orang di sekitar kita yang “meskipun tidak melihat namun percaya”. ***





Berbeda dengan Injil Sinoptik lainnya (Matius dan Lukas), Injil Markus tidak menjelaskan secara detail bagaimana Yesus memasuki kota Yerusalem dengan dielu-elukan oleh orang banyak. Pada awal cerita hanya dikatakan bahwa ada konspirasi dari para imam kepala yang mau menangkap Yesus. Peristiwa Minggu Palma merupakan tragedi tersendiri. Di suatu hari orang-orang mengelu-elukan rakyat banyak sebagai raja, di kemudian hari mereka meneriakkan salib, hukuman mati bagi Yesus. Demokrasi sering mengundang tragedi, bila tidak mengusung kebenaran. Kebenaran dalam hal ini adalah bahwa Allah berkomitmen mengasihi dan menyelamatkan manusia. Komitmen Allah seperti diusung Yesus seakan-akan rapuh oleh kekuasaan dari para imam dan pemerintahan penjajah Romawi.
Bersama dengan seorang imam, pada suatu waktu kami mampir di suatu gereja. Meskipun sudah masa prapaskah, hiasan Natal dan tulisan, “Gloria ini excelsis Deo” masih dipasang di depan pintu. Kemudian beliau bertanya kepada salah satu umat dan jawabnya, “Kami masih senang dengan lagu-lagu Natal yang penuh dengan kegembiraan daripada lagu saat ini yang melow dan penuh penderitaan!” Kata imam itu, “Para saudara, Yesus itu datang ke dunia, tidak menjadi bayi terus. Yesus juga dewasa dan Ia bekerja membantu St. Yosef sebagai tukang kayu dan terlebih lagi, Ia harus bekerja keras untuk membantu orang yang menderita, supaya selamat jiwa dan raganya. Jika kita hendak mengikuti Yesus, kita tidak hanya ingat Natal yang penuh suka-cita, melainkan kita juga diajak merenungkan bagaimana Yesus berkarya bagi umat manusia dan menderita sengsara untuk menebus dosa-dosa kita.
“Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Jawab Yesus kepada mereka, Rombaklah Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh. 2: 18 – 19).
Hari Senin, 20 Februari 2012, ada perdebatan sengit berkenaan dengan pemberitaan korupsi. Ada yang tidak setuju jika memperbincangkan hal-hal yang “tidak bermutu”. Lalu ia berseru, “....jangan sumpêk..., nyantai saja”