IMAN YANG MENYELAMATKAN
Hidup di dunia ini memang keras, perlu perjuangan untuk menjalaninya. Penderitaan dan kesulitan yang datang silih berganti sungguh memberatkan; gemerlap dunia dan ‘dukungan’ hawa nafsu menjadi godaan kuat untuk mencari jalan pintas walaupun tak sesuai nurani. Peringatan Santo Petrus ini sungguh patut diperhatikan: ‘Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya’, siapapun yang lengah tentu akan menjadi sasaran empuk bagi sang Iblis!
Lalu, siapa yang sanggup waspada setiap saat? Deraan kelengahan yang bertubi-tubi dan berakibat dosa ini sangat melemahkan, membuat orang menjadi putus asa, dan kehilangan harapan untuk hidup berkenan dihadapanNYA, maka Allah yang Maharahim memberi jalan keluar asal kita sungguh mau bertobat meninggalkan kejahatan yang dilakukan. Firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai2 di padang belantara. (Yes 43:18-19). Aku, Akulah Dia yg menghapus dosa pemberontakanmu oleh krn Aku sendiri, & Aku tdk mengingat-ingat dosamu. (Yes 43:25).
Allah telah mengutus Sang Putra untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan maut dengan cara yang sangat ajaib: melaksanakan kasih dan pengorbanan yang tiada tara! Kebaikan yang luar biasa dan tidak masuk akal ini sulit diterima akal sehat, sehingga membuat orang yang merasa diri pandai justru berprasangka buruk. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dlm hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- (Mrk 2:5-10). Bukankah seharusnya manusia mau mengakui keterbatasan dan kelemahannya? Bukankah tidak semua hal bisa dipahami dengan indra dan kecerdasan? Simaklah St Thomas Aquinas yg lebih mengandalkan iman dari pada indra: karna indra tidak mampu, iman jadi tumpuan; walau indra tak cerap, agar hati diteguhkan, iman saja cukuplah!
Allah telah menjanjikan keselamatan dan kehidupan kekal bagi orang yang percaya bahwa Sang Putra sudah wafat dan bangkit dengan mulia. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan (Rm 10:9). Apakah ada yang masih diragukan? Kalau sungguh percaya, marilah kitamengikuti teladanNYA dengan melakukan kehendak Bapa dengan setia. Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah. Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita. (2 Kor1:20-22).





Adakah yang perlu dipertanyakan dari kasih Allah? Allah telah menciptakan semuanya baik adanya. Walaupun manusia berdosa dan jatuh kedalam maut, Allah tidak segan mengutus AnakNYA untuk menebus dosanya sekaligus memberi teladan melakukan kehendakNYA dengan setia. Bukankan semua kebaikan itu patut disyukuri? Tapi, apa balasan dari umatnya? Tidaklah banyak yang mau berserah dan bersyukur, sebagian besar ‘menghujani’ Allah dengan berbagai tuntutan: mengapa doa permohonan saya belum dikabulkan? Mengapa saya yang rajin beribadah dan berdoa terus dirundung berbagai kemalangan sementara orang lain yang tidak jujur menikmati kehidupan nyaman? Mengapa Allah membiarkan ketidak-keadilan terjadi dimana-mana?
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk 1:38). Dalam permenungan yang panjang kerap saya menyimpulkan bahwa sesungguhnya pernyataan kesanggupan Maria untuk menerima karunia sebagai Bunda Allah adalah kunci yang membuka gerbang keselamatan bagi seluruh umat manusia. Bayangkan saja apa yang mungkin terjadi jika Maria berkata sebaliknya. Bukan tidak mungkin bahwa sejarah keselamatan kita masih menjadi tanda tanya besar, buram dan tak berpengharapan. Pasalnya hanya melalui pernyataan itulah Allah merealisasikan janji penyelamatan-Nya dengan menjadi manusia.
Keserakahan yang melanda negeri ini sungguh sudah sangat luar biasa. Jaman edan seperti yang diramalkan oleh pujangga Jawa Ronggowarsito sedang terjadi. Orang beramai-ramai melakukan kecurangan dan korupsi karena takut tidak mendapat bagian. Namun Sang Pujangga tetap menyimpulkan bahwa betapapun beruntungnya sang koruptor dan ketidak-jujuran, pada akhirnya yang lebih beruntung adalah orang yang selalu waspada menjauhkan diri dari kejahatan dan mendekat pada Sang Pencipta.
Kemunculan Yohanes Pembaptis membuat geger orang farisi dan para imam agung. Pasalnya sudah lama memang suara kenabian yang seperti diserukan Yohanes itu telah lama hilang dari tengah kehidupan orang Israel sebagai umat pilihan. Situasi yang menggambarkan krisis relasi antara Allah dan umat manusia. Allah begitu jauh sampai-sampai nubuatnya tidak terdengar lagi. Jadi tidak heran bila rasa penasaran yang mendalam bercampur rasa tidak percaya akhirnya menghantar mereka untuk mengorek lebih dalam sosok Yohanes Pembaptis. Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."