Dalam suatu milis, ramailah didiskusikan perihal tersebut. Sebagian menuliskan bahwa ketika Yesus berdoa, ada ketakutan yang amat sangat. Ketakutan itu sungguh manusiawi, karena Yesus tahu penderitaan sehebat apa yang harus dialami. Yesus mungkin tampaknya kalah, karena tidak dapat menghindar dari jalan hidupNya sehingga harus disiksa sampai wafat.
Pada suatu renungan, seorang imam yang bertugas di Papua menulis demikian. Adalah seorang Guru Buddhis yang terkenal dari India diundang datang ke Tibet untuk membabarkan Dharma. Guru ini membawa serta seorang laki-laki yang tidak hanya bawel dan tidak bertanggung jawab, tetapi juga sebagai tukang masak judes. Setelah beberapa waktu, orang-orang Tibet mendekati sang guru dan berkata dengan penuh hormat, "Mengapa guru begitu tenggang rasa dengan tukang masak yang tidak berguna itu? Ia kelihatannya cuma menimbulkan masalah, alih-alih membantu guru." Sang Guru tersenyum dan menjawab, "Ah, kalian tidak mengerti. Ia bukan pelayanku, ia adalah guruku." Orang-orang Tibet kaget dan memohon penjelasan, "Kenapa bisa begitu?" Sang guru menjelaskan, "Kalian lihat, perangainya yang rewel dan tidak menyenangkan itu telah mengajariku untuk bersikap sabar dan bertenggang rasa setiap hari. Karena itulah aku menghargainya dan menyebutnya sebagai guruku."
Bacaan I :Yes 11:1-10, ; Bacaan II: Rom 15:4-13, Injil: Mat 3:1-12
TUNGGUL ANDA MATI ?
Dalam bacaan hari ini nabi Yesaya berkata: “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai”, kemudian Paulus menulis hal senada dalam bacaan kedua, dan dalam Injil Yohanes Pembaptis berkata: “setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” Tunggul yang dimaksudkan Yesaya adalah sisa batang pohon (keturunan Daud) yang telah patah dan roboh karena banyak melakukan dosa, dan tidak menghasilkan buah yang baik. Akan tetapi dari tunggul patah itu Allah malah menumbuhkan suatu tunas baru yaitu Yesus, yang melalui kasih, dan pengurbanan-Nya justru menyelamatkan seluruh umat manusia.
Bagi kita: “Adakah kita juga memiliki tunggul-tunggul itu dalam hidup kita?” Sisa-sisa batang kehidupan, yang telah patah dalam kegagalan, kesalahan dan kedosaan kita? Adakah kita masih sering memandangi tunggul-tunggul itu dengan penuh kesedihan, sesal dan gagal move on?
Menyambut kedatangan Kristus dalam advent ini, kita diajak untuk bersama Kristus menumbuhkan kembali tunggul kehidupan kita, dengan penuh harapan agar dapat berbuah baik. Khususnya, menyambut Hari Difabilitas Internasional—3 Desember 2016, kita diingatkan akan saudara-saudara kita penyandang difabilitas, untuk mulai menumbuhkan kepedulian kepada mereka, jangan sampai mereka akan hanya tinggal patah menjadi tunggul-tunggul mati dalam masyarakat karena ketidak pedulian kita, melainkan sebaliknya mereka dapat tumbuh menjadi tunas yang kuat dan berbuah baik karena perhatian dan kepedulian kita.
Semoga advent kali ini: “seperti hujan yang turun ke atas padang rumput” (Mazmur hari ini), yang kita jalani dengan mulai menumbuhkan berbagai harapan, niat baik dan kepedulian di dalam hidup kita, khususnya kepada saudara-saudara kita penyandang difabilitas. Saudara-saudara kita sungguh butuh diterima, disapa, dipedulikan, dan dilayani dalam kasih, karena: “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Dan seperti kita menyambut kedatangan Kristus, Sang Tunas yang dikaruniakan Allah kepada kita, marilah kita mulai menerima saudara-saudara kita penyandang difabilitas yang telah dihadirkan Allah, sebagai karunia dan sarana untuk menghasilkan buah yang baik.
Apa hebatnya seorang Zakheus? Dalam Injil Lukas 19: 1- 10) hari ini menjadi jelas. Pertama ia ingin melihat dan kemudian mencari kesempatan agar bertemu. Meskipun terhalang oleh orang banyak, ia berusaha keras berlarian mendahului orang banyak sampai memanjat pohon. Dan anehnya, Yesus yang dicarinya itu justru mau menemuinya dan meminta untuk turun dari pohon karena ia mau singgah di rumah Zakheus. Perjumpaan dengan Yesus dari atas pohon dan kemudian Yesus yang masuk ke rumahnya mengubah hidup Zakheus. Ia dari seorang pemungut cukai yang pada zaman dulu (dan sekarang) sering ditengarai tidak jujur untuk kepentingan pribadi berubah menjadi orang yang memberi silih atas ketidakjujurannya dan mau memulai hidup baru.
Pada saat Roh Kudus turun atas para rasul di hari Pentakosta, dikatakan ada bunyi seperti tiupan angin keras yang turun pada rumah dimana para rasul berkumpul.
Kemudian orang-orang Yahudi yang saleh berkumpul untuk mendengarkan para rasul. Apakah yang membuat orang-orang Yahudi yang saleh itu berkumpul? Bila hanya suara tiupan angin saja, belum tentu mereka berkumpul, apalagi tentunya mereka orang-orang yang mempunyai urusan dan kesibukan masing-masing sehingga seharusnya belum tentu sempat untuk berkumpul, jadi pastinya ada sesuatu yang istimewa pada suara hembusan itu. Kita tentu ingat pada waktu pertama kali Allah menciptakan manusia, yang dilakukan Allah adalah “menghembuskan nafas hidup” kepada tanah liat yang dibentuk oleh-Nya. Sehingga suara hembusan angin saat Roh Kudus datang tentulah memanggil manusia untuk datang, karena suara Roh adalah suara hembusan nafas kehidupan. Kemudian Roh Kudus juga telah diturunkan kepada kita dalam baptisan dan krisma, apakah dengan sudah hadirnya Roh Kudus di dalam diri kita juga membuat orang-orang berkumpul? Bila tidak, mungkin masih ada sesuatu yang masih kurang tepat pada diri kita.
Karenanya, hembusan nafas seperti apakah yang keluar dari diriku? Apakah nafas yang menghidupkan, menggembirakan, memberi kelegaan dan harapan, menghibur dan memerdekakan, ataukah sebaliknya yang keluar dari diri kita adalah hembusan nafas kematian, berupa keluhan, kekesalan, celaan, kemarahan, putus asa, atau ketidakpuasan? Tak heran bila kita merasa Roh Kudus jarang hadir pada diri kita, bila yang kita hembuskan sehari-hari adalah nafas kematian, dan yang kebanyakan hadir di sekitar kita tentunya juga adalah orang-orang kurang bernafaskan kehidupan. Mungkin kita berharap untuk hadir juga disitu pada peristiwa Pentakosta untuk mendengarkan suara Roh Kudus.
Akan tetapi bukankah Roh Kudus sesungguhnya sudah terus menerus bersuara bagi kita, hanya kita tidak dapat mendengarkan Dia, karena sudah terlalu berisiknya berbagai suara dan keinginan dalam diri kita. Inilah saatnya berhenti sejenak, meninggalkan semuanya, dan mendengarkan suara berhembusnya Roh Kudus. -- AJ