Sama-sama kita pahami bahwa hidup ini memang pilihan. Sepanjang jalan kita lalui terhampar beragam pilihan hidup yang harus ditentukan. Dan apapun pilihan yang dijatukan pasti mendatangkan konsekuensi yang harus kita hadapi. Demikian juga halnya dalam beriman. Ketika memilih untuk menganut Katholik tentu saja konsekuensi keimanan Katholik itu harus kita hadapi. Bukankah selalu ada harga yang mesti dibayar untuk setiap pilihan hidup kita?
Dewasa ini berkembang fenomena unik dalam mengekspresikan iman sehingga orang terjebak dalam cara yang agak keliru dalam beragama. Fenomena yang dimaksud adalah sinkretisme gaya baru, dimana orang beriman layaknya berbelanja di pasar swalayan. Ibarat belajaan, pandangan agama dijadikan bahan pilihan tanpa memandang darimana sumbernya demi membenarkan cara hidupnya. Misalnya meski menganut Katolik tetapi dalam soal perkawinan cenderung memihak ajaran yang melegalkan poligami demi membenarkan perselingkuhan yang dibuat. Memang manusiawi bila orang akan memihak pada pilihan yang mudah dikerjakan dan sekaligus menguntungkan.
Namun wajarkah kita menghindari konsekuensi atau tuntutan beriman tetapi tetap mengharapkan keselamatan? Demikanlah yang terjadi pada Petrus, niatnya sungguh manusiawi, yaitu menghindarkan Sang Guru melewati jalan penderitaan. Bagi Petrus memilih untuk menderita adalah pilihan yang tidak popular bagi seorang Yesus yang Maha Kuasa. Petrus belum memahami bahwa jalan penderitaan itulah yg akan mendatangkan keselamatan. Sedari awal Tuhan Yesus sdh tahu bhw tdk ada pilihan lain utk menyelamatkan umat manusia kecuali menempuh jln salib. DIA tahu akan konsekuensi penderitaan yg bakal tjd namun DIA tetap konsisten merampungkan karya keselamatan
Lantas bagaiman dengan keberimanan kita? Sudah seharusnya kita menjadi orang Katolik yang utuh dalam segala hal dan kondisi. Kapanpun dan bagaimanapun keadaannya kita harus tegar menjadi umat Katolik sebab jalan keselamatan kita ada dalam iman Katolik. Tidak layak jika kita hanya mengharapkan keselamatan tetapi mangkir saat dituntut untuk bersaksi dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Oleh krn itu jgn pernah malu utk mengakui identitas kita sbg orang Katolik, krn iman Katolik itulah harta yg tdk terhingga nilainya.
Bagaimana menjadi Katolik secara utuh ditetapkan Yesus kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Dengan menjadi Katolik kita menyangkal diri dari hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai Katolik, sekalipun pilihan hidup itu menawarkan kenikmatan yang lebih. Kadang kita merasa kekatolikan mendatangkan konsekuensi yang sungguh tidak nyaman atau tidak menyenangkan. Bisa jadi terkucilkan, bahkan dihina. Paling tidak semua pernah merasakan susahnya mengasihi orang yang sdh menyakiti atau memusuhi kita. Mengasihi dlm konteks tertentu jg mjd salib yg hrs dipanggul sembari mengikut DIA.
Kita dipanggil utk beriman scr konsisten. Ada saatnya kita terseok tetapi kita hrs bangkit. Kita kembali tegar saat memandang perjuangan Tuhan Yesus di sepanjang jln salib menuju Golgota. Dunia & segala sesuatu yg kita hadapi mmg penting namun jauh lbh penting bersaksi sesuai dgn iman Katolik. Sebagaimana diungkapkan Rasul Paulus, “Janganlah kamu menjadi serupa dgn dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, shg kamu dpt membedakan manakah kehendak Allah: apa yg baik, yg berkenan kpd Allah & yg sempurna.”




