Dalam dunia jurunalistik dikenal istilah “trial by the press” atau hukuman oleh media massa. Seseorang diberitakan bersalah oleh media massa, walau belum tentu terbukti bersalah secara hukum. Amien Rais menyebut “trial by the press dapat memasung kebenaran dan keadilan”. Dan lebih berbahaya jika ini kemudian berubah menjadi “trial by the mass” (pengadilan oleh publik) yang dapat membawa hasil yang tidak fair dan tidak obyektif bagi proses pengadilan. Dan lebih menyedihkan lagi jika menimbulkan “pembunuhan karakter” (character assassination) di mana seseorang yang sebenarnya masih “bersih”, namun telah telanjur dicap “bersalah” atau “kotor” tanpa didukung fakta yang dapat dipercaya. “Pembunuhan karakter” sering jauh lebih berat daripada keputusan pengadilan, karena seseorang seakan-akan “terbunuh” secara moral.
Injil hari ini berbicara tentang realitas yang sama. Dalam perumpamaan tentang “Lalang di antara Gandum” (Mt 13,24-30; 37-40), Yesus menyinggung tentang soal penghakiman. Bagian I (Mt 13,24-30) berisi perumpamaan, sedangkan bagian II (Mt 13, 37-40) berisi arti dari perumpaman. Dalam bagian I diceriterakan ttg seseorang yg menabur benih gandum; lalu musuh menaburkan benih lalang; pemilik ladang membiarkan gandum dan lalang tumbuh bersama sampai saat panen; dan di saat panen, gandum dikumpulkan di dalam lumbung, sedangkan lalang dibakar. Dalam bagian II dikemukakan arti perumpamaan. Penabur benih yg baik adalah Kristus; ladang adalah dunia; penabur benih lalang adalah iblis; saat panen adalah akhir zaman; orang yang baik akan masuk kerajaan Bapa; sedangkan orang jahat akan masuk ke dalam neraka.
Lalu apa makna yang dapat kita petik dari perumpamaan di atas. Pertama : dalam realitas kehidupan ini selalu ada pihak yang berniat buruk. Perbuatan baik yang kita lakukan selalu dianggap jelek. Dalam situasi seperti ini, kita harus tetap tenang dan berpikiran positip. Penilaian orang lain hendaknya menjadi masukan, agar kita tetap rendah hati dan bisa lebih baik lagi. Kedua : sulit membedakan antara “orang yg baik” dan “orang yg jahat”. Ada orang yg kelihatannya baik, tapi hatinya jahat. Atau sebaliknya, ada yg kelihatannya “tidak menarik”, tapi hatinya baik. Untuk itu kita butuh kemampuan untuk “mengenal orang lain”. Bukan cuma tampilan luarnya saja, melainkan “siapa orang itu sesungguhnya”. Seperti Raja Salomo kita berdoa : “Berikanlah hambaMu ini ya Tuhan hati yang faham mengenal antara yang baik dan yang jahat” (I Raja-raja 3,9). Ketiga : ada “waktu yang tepat” untuk memberi penilaian. Kadang-kadang kita buru-buru memberi penilaian atas sikap, kata-kata, atau perilaku seseorang. Terlalu cepat memberi ”cap” atau ”label” kepada orang lain. Mungkin orang yg saat ini ”jelek” dalam pandangan kita, kemudian hari berubah menjadi orang ”baik”. ”Nolli laudare, ante vesperam” – jangan memuji seseorang sebelum matahari terbenam. Keempat : segala sesuatu akan ”dinilai”. Apapun yang kita kerjakan, apapun yang kita ucapkan, yang kita lakukan pasti akan dinilai. Kita mungkin berpikir :”Ah, tindakan saya aman-aman saja kok. Tidak ada yang melihat”. Ingat : ”Allah akan melihat yang tersembunyi” (Mt 6,4.6.18). Kita juga menyaksikan : orang baik mendapat hukuman, sedangkan pelaku kejahatan dibebaskan. Di mana rasa keadilan ? Bacaan ini mengingatkan bahwa ”Pada akhirnya semua akan dihakimi secara adil!” (ayat 42.43). Tidak ada yang luput dari penilaian. Kelima : Allah adalah Hakim yang sesungguhnya; Dialah yang memilik hak untuk menghakimi siapapun. ”Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Mt 7,1). Dan Dia akan menghakimi secara adil.
Maka ada 2 refleksi penting dari bacaan hari ini : 1) Dalam melakukan evaluasi, penilaian atau penghakiman terhadap orang lain hendaknya kita bersikap bijak. 2) Penghakiman yang sebenarnya datang dari Allah. Dialah Hakim yang adil.




