Hari sabtu, tgl 18 Juni 2011 Ruyati bin Satubi (54 tahun) dihukum pancung di Arab Saudi. Nenek, asal Bekasi yang memiliki 3 anak dan 7 cucu ini dihukum karena terbukti membunuh majikannya. Dihukum-matinya Ibu Ruyati menambah daftar panjang TKI yang dihukum mati di Arab Saudi. Menurut data yang dikeluarkan oleh Migrant Care, sudah puluhan TKI yang dieksekusi mati di Arab Saudi dan masih 26 orang yang masih menunggu nasibnya.
Ironis memang. “Pahlawan Devisa” yang mencari nafkah di luar negeri untuk menyejahterakan keluarganya berakhir dengan kematian. Namun perlakuan kasar atau kekerasan tidak saja menimpa TKI. Berita Kekerasaan Dalam Rumah Tangga – KDRT – sudah sering kita dengar atau baca lewat media massa. Dan dalam kehidupan bermasyarakat, kondisi seperti inipun sering kita saksikan, seperti : tawuran antara sekolah, bentrokan antar warga, pengrusakan rumah ibadat, terorisme, dll. Kondisi ini sepertinya membenarkan apa yang diungkapkan oleh sebuah pepatah tua : “Jika ingin damai, bersiaplah untuk berperang” ( Si vis pacem, para bellum ). Jika ingin menang, anda harus bersikap keras dan tegas. Namun apa itu tepat ?
Bacaan injil hari ini menawarkan sebuah solusi yang berbeda. “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” ( Mt 11,28-29). Tuhan Yesus mengangkat sebuah realitas kehidupan yang tidak bisa kita pungkiri. Beban, “kuk”,kesulitan, sakit bahkan penderitaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan ini. Tidak ada kehidupan tanpa beban, seperti “tidak ada mawar tanpa duri”. Maka kunci persoalannya adalah bukan pada “beban” kehidupan itu, melainkan bagaimana kita “menyikapi” beban kehidupan itu sendiri. Seperti contoh : buah duren bagi sebagian orang dianggap “buah yang baunya busuk” karena itu tak disukai. Sementara sebagian orang, buah duren merupakan buah yang “paling enak”. Buah yang sama,tetapi dilihat dengan “cara yang berbeda”, akan menimbulkan sikap dan tindakan yang berbeda.
Maka sikap yang ditawarkan Yesus pada injil hari ini sangatlah tepat. ”Bersikaplah lemah lembut dan rendah hati” ( Mt 11,29). Dua sikap atau lebih tepat “dua keutamaan” ini merupakan satu kesatuan dan saling melengkapi ! Sikap lemah-lembut sama artinya dengan sikap tenang, sabar, halus, penuh pengertian. Sikap rendah hati artinya sikap mau menerima sesuatu sebagai apa adanya, mau menghargai orang lain, berani mengakui kelemahan dan tidak mengutamakan diri sendiri.
Banyak situasi dan peristiwa dalam kehidupan ini bila dihadapi dengan kedua sikap di atas akan memberikan dampak yang berbeda. Saya teringat sebuah cerita tentang seorang ayah yang pagi hari marah besar kepada putrinya yang duduk di kls I SD gara-gara menyenggol cangkir kopinya dan tumpah. Akibat kemarahan itu, putrinya terlambat masuk sekolah dan dia sendiri lupa membawa peralatan kantor, sehingga membuat suasana kerja di hari itu menjadi berantakan. Padahal kalau dia lebih tenang, lebih sabar, tidak “emosional”, mungkin suasana akan berbeda dan hasilnya akan berbeda.
Memang tidak mudah menerapkan kedua sikap itu dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kepada kita bagaimana bersikap ”lemah lembut dan rendah hati”. Ketika dalam penderitaan yang sangat berat, Tuhan tidak pernah mengeluh. BahkanDia menjanjikan ”Firdaus” bagi penjahat yang disalibkan bersamaNya. Maka, seperti Tuhan menyelalamatkan dunia dengan ”berani menerima beban salib dan penderitaan”, demikianpun kita akan menyelamatkan banyak situasi dan peristiwa dalam kehidupan ini, jika ”berani bersikap lemah lembut dan rendah hati”. Maka doa yang paling tepat di saat kita menghadapi problem kehidupan ini adalah : ”Yesus, lemah lembut dan rendah hati, jadikan hati kami seperti hatiMu!” Semoga !




