Thn. 1928 Agnes Gonxha Bojaxhiu – gadis berusia 18 tahun – meninggalkan tanah airnya di Skopje / Kosovo untuk masuk Biara Suster Loreto di Calcutta / India. Th. 1931 dia mengikrarkan kaul pertama dgn memilih nama “Teresa”. Th 1946 dia meninggalkan biaranya untuk melayani orang-orang miskin di India. Thn 1950 Teresa mendirikan ordonya “Missionaries of Charity” dgn misi “melayani si lapar, si telanjang, si gelandangan, si pincang, si buta dan semua yg merasa tak diinginkan, tak dicintai, tak diperhatikan dalam masyarakat dan yg ditolak oleh siapapun”. Karyanya ini telah mjd monumen kemanusiaan yg tiada tandingannya. Th. 1979 dia dianugerahi Hadiah Nobel. Dia meninggal tgl. 5 September 1997 dlm usia 87 tahun & th. 2003 diberi gelar BEATO oleh Paus Yohanes Paulus II. Dia dikenal dgn panggilan “Mother Teresa” atau Bunda Teresa. Kata2nya antara lain : “Dlm hidup ini kita mungkin tdk dpt melakukan hal2 yg besar. Namun kita dpt melakukan hal2 kecil dgn cinta yg besar”.
Bacaan Injil dalam beberapa minggu terakhir ini berbicara tentang “Kerajaan Allah”. Sangat sulit menggambarkan Kerajaan Allah, sehingga Yesus menyampaikannya dalam bentuk perumpamaan. Dalam injil hari ini (Mt 13,44-46) kerajaan Allah digambarkan sebagai sesuatu yang sangat bernilai (bdk. “harta yang terpendam” dan “mutiara yangsangat indah”). Karena begitu besar nilainya maka seseorang berani menjual seluruh miliknya untuk memiliki harta yg sangat bernilai tersebut.
Apa makna yang dapat kita petik dari injil hari ini ? Pertama : Si petani menemukan harta terpendam ketika “bekerja di ladang” (Mt 13,44). Kitapun bisa menemukan harta berharga dalam “keseharian” hidup kita. Banyak hal berharga di sekitar kita, asal kita rajin dan jeli melihatnya. Kita bisa menemukan banyak hal yang memperkaya hidup kita, ketikakita sedang “aktif”. Hidup ini bagaikan sebuah sekolah. Banyak ilmu yang dapat kita timba asal kita mau belajar. Seringkali kemampuan kita dalam bekerja, bukan karena ilmu yg kita pelajari di sekolah, melainkan karena ilmu yg kita pelajari dari penghalaman hidup sehari-hari. Demikianpun dalam kehidupan beriman. Banyak pengetahuan keagamaan dapat kita petik dalam pertemuan di lingkungan, dalam perayaan ekaristi dan aktivitas lainnya. Partisipasi aktif dalam kehidupan di lingkungan, di wilayah, di paroki dapat memperkaya hidup iman kita. Kedua : untuk mendapat harta terpendam dan mutiara yg sangat indah, seseorang berani menjual seluruh miliknya (Mt 13,46). Untuk mendapat sesuatu yang lebih berharga, kita harus berani mengorbankan harta, waktu, uang dan kesenangan kita. Semakin tinggi nilai dari sesuatu yang kita raih, semakin tinggi pengorbanan yang dituntut dari kita. Dalam istilah finansial : high risk, high return. Semakin tinggi hasil yang kita inginkan, semakin tinggi risiko yang kita hadapi. Tidak ada hasil besar, tanpa risiko besar. Mother Teresa meninggalkan kehidupan yang serba nyaman di tanah airnya untuk mengabdikan diri bagi orang-orang sakit dan terlantar, karena Tuhan hadir dalam diri mereka. “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamumelakukannya untuk Aku” (Mt 25,40). Maka apakah kita tahu : mana saja hal-hal yg “berharga” dlm hidup kita ? Dan beranikah kita membayar “harga” utk sesuatu yg “berharga” ? Seperti Mother Teresa berani mengorbankan hidupnya utk melayani Tuhan dlm diri orang2 sakit & terlantar, demikian juga kita diharapkan utk berani mengorbankan “yg kurang penting” dlm hidup kita utk mengejar “hal2 yg penting”. Maka prinsip yg perlu terapkan dlm hidup kita : First Things First – DAHULUKAN YANG UTAMA




