BALAPAN BERHENTI
Sekarang banyak sekali perlombaan. Semua hal dilombakan. Bahkan ada yang mensertifikasi pada tingkat paling (ultimate level). Lucu-lucu. Pesertanya banyak, penontonnya juga banyak. Pemenangnya adalah “yang ter....”. Entah tercepat, entah terlama. Itulah salah satu yang menarik saat ini.
Dalam perikop injil minggu ini, Yesus mengatakan perlunya berlomba untuk bertobat. Dan nyatanya yang sering menang justru adalah orang-orang yang paling sering berdosa, atau yang dicap berdosa (entahlah yang benar bagaimana).
Benarlah bahwa karena tidak merasa sakit, kita tidak perlu berobat. Hanya bila mencemaskan kondisi kesehatan, baru kita pergi memeriksakan diri. Yesus sering mengumpamakan dirinya sebagai tabib, dokter jaman dulu. Karena kehadiran Yesus yang mengampuni dosa sungguh membebaskan. Bagaikan tabib yang menyembuhkan. Dan kehadiran Yesus sampai kini tetap membawa efek yang sama persis. Karena itulah kita pun mengungkapkan pengakuan Yesuslah Kristus Tuhan yang datang mengampuni jiwa-jiwa berdosa.
Lantas bagaimana bila kita dapat berhasil hidup tanpa cacat dan tak bercela? Ya...tentu bagus sekali. Sama seperti orang yang sehat walafiat tentu tidak memerlukan dokter untuk menyembuhkan, maka orang berdosa juga tidak memerlukan Tuhan untuk mengampuninya. Lho...wajar toh ya? Kalau no sick no medicine. Ya mestinya, no sin no mercy. (pssst kalau sudah jadi orang benar, boleh nggak minta pin bb-nya? Hihihihi...)
Benarkah? Mungkin benar. Tapi juga mungkin tidak. Karena orang sehat juga tetap memerlukan saran hidup yang sehat dari ahli kesehatan: mungkin ahli gizi, mungkin jugadokter. Jadi orang benar juga perlu petunjuk hidup yang benar di hadapan sesama dan di hadapan Tuhan-nya. Dalam kerangka pikiran inilah, kita tetap perlu Tuhan.
Tetapi mengapa bacaan injil kali ini bernada keras? Seolah-olah orang berdosa dapat mengungguli orang benar untuk masuk kerajaan Allah. Jawabnya mungkin karena perbedaan sikap batin. Orang benar tidak merindukan pengampunan, tidak dahaga akan penghiburan. Hidupnya begitu tenang, teduh, bening, hening. Hidup orang berdosa justru sebaliknya. Ia penuh hingar bingar, keras, keruh, gelap. Hidupnya seolah jauh dari kebenaran.
Tetapi usahlah cemas. Karena perikop ini mengabarkan yang sebaliknya. Orang berdosa berpeluang sama untuk meraih surga. “karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:13) Bahkan menurut Yesus, orang berdosa mungkin lebih cepat masuk surga. (Mat 21:31)
Jadi, percuma jadi orang benar? Tidak juga! Orang berdosa harus didorong untuk jadi orang benar. Orang berdosa bisa masuk surga pasti bukan karena dosanya, melainkan karena pertobatannya dan lalu berhasil jadi orang benar. Wah...ruwet ya?
Hmm...kira-kira begini penjelasannya. Kerinduan orang berdosa begitu besar, hingga ia selalu mencari-cari jalan ke surga. Begitu besar semangat ini sehingga – menurutYesus – ia lebih cepat sampai dari pada orang benar. Ibarat perlombaan, orang berdosa lebih cepat berhenti berdosa untuk menemukan pintu surga. Nah...orang benar sering masih terhanyut dan terapung dalam kedamaian hidupnya sehingga justru sulit berhenti di depan pintu surga.
Ada yang sudah sampai? Hehehe....kenalan dong..





Salah satu cara mencerapi injil adalah beridentifikasi dengan tokohnya. Dalam bacaan kali ini, yang paling mudah adalah “Bila Aku Menjadi...Buruh Upahan”. Kerennya: karyawan. Maka pesannya adalah tidak boleh iri kalau ada karyawan baru lainnya yang menerima upah yang sama. Begitu sederhana.
Sama-sama kita pahami bahwa hidup ini memang pilihan. Sepanjang jalan kita lalui terhampar beragam pilihan hidup yang harus ditentukan. Dan apapun pilihan yang dijatukan pasti mendatangkan konsekuensi yang harus kita hadapi. Demikian juga halnya dalam beriman. Ketika memilih untuk menganut Katholik tentu saja konsekuensi keimanan Katholik itu harus kita hadapi. Bukankah selalu ada harga yang mesti dibayar untuk setiap pilihan hidup kita?
“Siapa ingin pandai?” tanya seorang guru. “Sayaaaaaa... .” jawab semua murid serempak. “Siapa ingin pandai berhitung?” tanya guru itu lagi. “Sayaaaaaa... .” jawab semua murid serempak lagi.
Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Pertanyaan ini singkat namun menikam kesadaran terdalam. Sepertinya Yesus hendak mencari sari pengenalan para murid tentang diriNya. Jelas ini pertanyaan yang agak aneh, bukankah para murid adalah kumpulan orang terdekat yang tiap hari bersama Dia? Bukankah sejak awal mereka telah mengenal Yesus dengan baik sehingga memutuskan untuk meninggalkan segala sesuatu dan kemudian dengan sukarela mengikut kemana saja Dia pergi? Belum cukupkah kesetiaan dan komitmen yang sudah diperlihatkan para murid sehingga terlontar pertanyaan ini? Entah mengapa kemudian hanya Petrus seoranglah yang menjawab "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"