Sungguh beruntung kedua murid yang sedang berjalan ke Emaus pada cerita Injil minggu ini (lukas 24:13-35), mereka ditemani Yesus sepanjang perjalanan mereka! Sebaliknya dalam hidup kita sehari-hari, seringkali rasanya Tuhan seakan-akan tidak melihat serta tidak mau peduli dengan masalah dan persoalan yang kita hadapi. Persoalan-persoalan dalam hidup terasa makin berat saja dari hari ke hari, walaupun sudah berusaha menuruti perintah-Nya untuk hidup baik. Tetapi tunggu dulu…., ada yang menarik disini…., ternyata kedua murid itu juga tidak mengenali Yesus (ay 16). Jadi jangan-jangan, seperti kedua murid itu, bukan Yesus yang tidak menemani dan tidak peduli kepada kita, tetapi mungkin kita sendiri yang tidak menyadari Yesus telah berada disamping kita.
Dalam suatu milis, ramailah didiskusikan perihal tersebut. Sebagian menuliskan bahwa ketika Yesus berdoa, ada ketakutan yang amat sangat. Ketakutan itu sungguh manusiawi, karena Yesus tahu penderitaan sehebat apa yang harus dialami. Yesus mungkin tampaknya kalah, karena tidak dapat menghindar dari jalan hidupNya sehingga harus disiksa sampai wafat.
Apa hebatnya seorang Zakheus? Dalam Injil Lukas 19: 1- 10) hari ini menjadi jelas. Pertama ia ingin melihat dan kemudian mencari kesempatan agar bertemu. Meskipun terhalang oleh orang banyak, ia berusaha keras berlarian mendahului orang banyak sampai memanjat pohon. Dan anehnya, Yesus yang dicarinya itu justru mau menemuinya dan meminta untuk turun dari pohon karena ia mau singgah di rumah Zakheus. Perjumpaan dengan Yesus dari atas pohon dan kemudian Yesus yang masuk ke rumahnya mengubah hidup Zakheus. Ia dari seorang pemungut cukai yang pada zaman dulu (dan sekarang) sering ditengarai tidak jujur untuk kepentingan pribadi berubah menjadi orang yang memberi silih atas ketidakjujurannya dan mau memulai hidup baru.
Pada suatu renungan, seorang imam yang bertugas di Papua menulis demikian. Adalah seorang Guru Buddhis yang terkenal dari India diundang datang ke Tibet untuk membabarkan Dharma. Guru ini membawa serta seorang laki-laki yang tidak hanya bawel dan tidak bertanggung jawab, tetapi juga sebagai tukang masak judes. Setelah beberapa waktu, orang-orang Tibet mendekati sang guru dan berkata dengan penuh hormat, "Mengapa guru begitu tenggang rasa dengan tukang masak yang tidak berguna itu? Ia kelihatannya cuma menimbulkan masalah, alih-alih membantu guru." Sang Guru tersenyum dan menjawab, "Ah, kalian tidak mengerti. Ia bukan pelayanku, ia adalah guruku." Orang-orang Tibet kaget dan memohon penjelasan, "Kenapa bisa begitu?" Sang guru menjelaskan, "Kalian lihat, perangainya yang rewel dan tidak menyenangkan itu telah mengajariku untuk bersikap sabar dan bertenggang rasa setiap hari. Karena itulah aku menghargainya dan menyebutnya sebagai guruku."
Bacaan I :Yes 11:1-10, ; Bacaan II: Rom 15:4-13, Injil: Mat 3:1-12
TUNGGUL ANDA MATI ?
Dalam bacaan hari ini nabi Yesaya berkata: “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai”, kemudian Paulus menulis hal senada dalam bacaan kedua, dan dalam Injil Yohanes Pembaptis berkata: “setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” Tunggul yang dimaksudkan Yesaya adalah sisa batang pohon (keturunan Daud) yang telah patah dan roboh karena banyak melakukan dosa, dan tidak menghasilkan buah yang baik. Akan tetapi dari tunggul patah itu Allah malah menumbuhkan suatu tunas baru yaitu Yesus, yang melalui kasih, dan pengurbanan-Nya justru menyelamatkan seluruh umat manusia.
Bagi kita: “Adakah kita juga memiliki tunggul-tunggul itu dalam hidup kita?” Sisa-sisa batang kehidupan, yang telah patah dalam kegagalan, kesalahan dan kedosaan kita? Adakah kita masih sering memandangi tunggul-tunggul itu dengan penuh kesedihan, sesal dan gagal move on?
Menyambut kedatangan Kristus dalam advent ini, kita diajak untuk bersama Kristus menumbuhkan kembali tunggul kehidupan kita, dengan penuh harapan agar dapat berbuah baik. Khususnya, menyambut Hari Difabilitas Internasional—3 Desember 2016, kita diingatkan akan saudara-saudara kita penyandang difabilitas, untuk mulai menumbuhkan kepedulian kepada mereka, jangan sampai mereka akan hanya tinggal patah menjadi tunggul-tunggul mati dalam masyarakat karena ketidak pedulian kita, melainkan sebaliknya mereka dapat tumbuh menjadi tunas yang kuat dan berbuah baik karena perhatian dan kepedulian kita.
Semoga advent kali ini: “seperti hujan yang turun ke atas padang rumput” (Mazmur hari ini), yang kita jalani dengan mulai menumbuhkan berbagai harapan, niat baik dan kepedulian di dalam hidup kita, khususnya kepada saudara-saudara kita penyandang difabilitas. Saudara-saudara kita sungguh butuh diterima, disapa, dipedulikan, dan dilayani dalam kasih, karena: “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Dan seperti kita menyambut kedatangan Kristus, Sang Tunas yang dikaruniakan Allah kepada kita, marilah kita mulai menerima saudara-saudara kita penyandang difabilitas yang telah dihadirkan Allah, sebagai karunia dan sarana untuk menghasilkan buah yang baik.