BERTAHAN DI JAMAN EDAN
Keserakahan yang melanda negeri ini sungguh sudah sangat luar biasa. Jaman edan seperti yang diramalkan oleh pujangga Jawa Ronggowarsito sedang terjadi. Orang beramai-ramai melakukan kecurangan dan korupsi karena takut tidak mendapat bagian. Namun Sang Pujangga tetap menyimpulkan bahwa betapapun beruntungnya sang koruptor dan ketidak-jujuran, pada akhirnya yang lebih beruntung adalah orang yang selalu waspada menjauhkan diri dari kejahatan dan mendekat pada Sang Pencipta.
Betapa tragisnya hidup ini apabila hanya berisi kefanaan yang mendorong orang berebut nikmat sesaat. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita memerlukan ‘makanan dan pakaian’, namun kita juga tahu bahwa dunia ini hanyalah ‘jalan-setapak’ menuju keabadian; hanya ‘pelaksanaan tugas’ atas peran yang harus kita jalani: kadang cerah menyenangkan, kadang menyedihkan dan penuh penderitaan. Yang sedang diatas sering lupa diri menikmati kesenangan sesaat itu, sementara yang dibawah sering putus asa dihajar penderitaan yang seolah tiada akhir. Alangkah baiknya kalau kita mau belajar dari penderitaan dan kesulitan itu. "Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya, demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan. Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari. (Ayub 7:1-4).
Kesenangan yang bisa dikejar di dunia ini samasekali tidak bisa dibandingkan dengan Kehidupan Kekal dalam Kerajaan Allah walau harus mengalami penderitaan duniawi, oleh karena itu pemberitaan injil agar sebanyak mungkin orang bisa diselamatkan adalah jauh lebih utama untuk dilakukan. Maka, walaupun masih banyak orang yang menderita sakit dan kerasukan setan mencariNYA, Yesus pergi meneruskan perjalanan untuk mewartakan Kabar Keselamatan itu. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang." Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan. (Mrk 1:35-39).
Pertimbangan untuk memilih Jalan Tuhan tentu tergantung pada iman dan latar belakang kehidupan seseorang; kalau lebih mengutamakan kehidupan kekal berarti harus melakukan kehendak Allah dengan segala konsekuensinya dalam memikul salib penderitaan. Santo Paulus yang mendapat tugas memberitakan Injil mempunyai strategi berempati untuk mendekati dan memenangkan jiwa orang, dengan satu tujuan yaitu mendapat bagian dalam KerajaanNYA! Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. (1 Kor 9:17). Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya. (ayat 22-23).
Bagaimana pilihan kita?





“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk 1:38). Dalam permenungan yang panjang kerap saya menyimpulkan bahwa sesungguhnya pernyataan kesanggupan Maria untuk menerima karunia sebagai Bunda Allah adalah kunci yang membuka gerbang keselamatan bagi seluruh umat manusia. Bayangkan saja apa yang mungkin terjadi jika Maria berkata sebaliknya. Bukan tidak mungkin bahwa sejarah keselamatan kita masih menjadi tanda tanya besar, buram dan tak berpengharapan. Pasalnya hanya melalui pernyataan itulah Allah merealisasikan janji penyelamatan-Nya dengan menjadi manusia.
(dibacakan sebagai pengganti kotbah, dalam setiap Misa, Sabtu/Minggu, [Adven I] 26/27 November 2011)
Kemunculan Yohanes Pembaptis membuat geger orang farisi dan para imam agung. Pasalnya sudah lama memang suara kenabian yang seperti diserukan Yohanes itu telah lama hilang dari tengah kehidupan orang Israel sebagai umat pilihan. Situasi yang menggambarkan krisis relasi antara Allah dan umat manusia. Allah begitu jauh sampai-sampai nubuatnya tidak terdengar lagi. Jadi tidak heran bila rasa penasaran yang mendalam bercampur rasa tidak percaya akhirnya menghantar mereka untuk mengorek lebih dalam sosok Yohanes Pembaptis. Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
Untuk menerima hukuman dari Tuhan, seseorang tidak harus berbuat dosa! Ada ‘dosa kolektif’ yang hukumannya harus ditanggung bersama oleh seluruh komunitas. Hal ini sangat disadari oleh bangsa Israel yang saat itu sedang menderita dalam pembuangan. Mereka sadar bahwa penderitaan yang sedang mereka alami: ditawan dan dibuang ke tempat asing, dihina dan ditindas oleh musuh adalah konsekuensi yang harus mereka alami karena ketidaksetiaan nenek moyang mereka yang terus menerus melanggar kehendak Allah. Mereka ‘mengingatkan’ Allah bahwa mereka hanya tanah liat buatan tanganNya yang mohon ‘diingatkan’ apabila sesat dan tenggelam dalam kebodohan. Ya TUHAN, mengapa Engkau biarkan kami sesat dari jalan-Mu, dan mengapa Engkau tegarkan hati kami, sehingga tidak takut kepada-Mu? Kembalilah oleh karena hamba-hamba-Mu, oleh karena suku-suku milik kepunyaan-Mu! Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin. Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu; sebab Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami. Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adlh buatan tangan-Mu. (Yes 64:6-8).