Masa Bodo Sajalah!
“Siapa ingin pandai?” tanya seorang guru. “Sayaaaaaa... .” jawab semua murid serempak. “Siapa ingin pandai berhitung?” tanya guru itu lagi. “Sayaaaaaa... .” jawab semua murid serempak lagi.
Memang begitulah adanya. Semua orang ingin pandai. Termasuk juga pandai berhitung. Bahkan jadi sangat pandai berhitung kalau yang dihitung adalah uang, piutang dan hak. Tetapi sebaliknya, entah bagaimana mendadak sangat bodoh kalau yang dihitung adalah utang, kewajiban. Karena banyak yang seperti ini, lalu menjadi lumrah.
Tidak salah! Sejak jaman dulu juga memang begitu itu. Bahkan sebelum Yesus lahir di kandang domba, Bethlehem. Maka tepatlah pengajaran Yesus dalam bacaan Injil hari ini.
Perikop ini diawali pelajaran pengampunan. Agak lucu juga ceritanya. Sempat-sempatnya orang menghitung 7 kali mengampuni. Yesus berpesan agar ia mengampuni hingga 70 kali 7 kali. Mungkin biar pusing menghitungnya. Cape deh....
Tapi cerita ini sangat aktual. Nyatanya, kebanyakan orang tidak sampai menghitung sampai 7 kali. Cuma 1 sampai 2 kali saja.
“Jangan keseringan. Jangan sampai ke-3 kali ya.” Jadi kalau bisa sampai 7 kali, pasti sudah hebat. Bukan main!
Kita semakin jengkel membaca (bagi sebagian orang: mendengar) cerita hamba yang tidak tahu diri karena tetap menagih piutangnya meskipun semua hutangnya telahdihapuskan. Terlalu! Urusan hutang dan hak memang seringkali membutakan hati dan meniadakan tali kasih.
Banyak yang mengandalkan tali kasih dan ketulusan hati untuk mendapatkan pengampunan: agar hutangnya dihapuskan, agar kewajibannya dinihilkan. Tipe orang seperti ini tidak segan mencaci dan mengutuk apabila keinginannya tidak terpenuhi. Ia akan langsung ngrumpi kesana kemari tentang tuan yang kejam dan tak berperasaan. Namun ia seolah tidak bersyukur dan berterima kasih bila keinginannya dipenuhi. Tak sepenggal kalimatpun diberitakannya bila hutangnya dilunasi. Benar-benar seperti hamba itu juga, bukan? Hmm....dasar!
Dunia penuh hamba dan kurang tuan.
Pelajaran minggu ini kiranya adalah berhitung. Kita terlalu sering memperhitungkan kesalahan orang dan kurang mengampuni, padahal selalu minta diampuni. Kita acap mengikat hutang dan kurang mengikhlaskan, padahal selalu minta dihapuskan. Sama sekali berlawanan. Tetapi itulah kita, saya dan sebagian anda.
Padahal berapa kali sehari kita berdoa Bapa Kami? Apa perlu doa itu dimodifikasi sedikit: ....dan ampunilah kesalahan kami, meskipun kami jarang mengampuni...? Nimbole bagitu dang, ni doa yang Tuhan Yesus so ajarkan pa torang akang ne (logat Manado = jangan gitu dong, ini kan doa yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri).
Kalau begitu janganlah kita pandai menghitung dosa orang, apalagi bergunjing. Lebih baik masa bodo sajalah. Itu 'kan urusan Tuhan. So lebe bae badoa jo, biar Tuhan kase berkat voor torang samua (=lebih baik berdoa, supaya Tuhan memberkati kita semua). Amin





Sama-sama kita pahami bahwa hidup ini memang pilihan. Sepanjang jalan kita lalui terhampar beragam pilihan hidup yang harus ditentukan. Dan apapun pilihan yang dijatukan pasti mendatangkan konsekuensi yang harus kita hadapi. Demikian juga halnya dalam beriman. Ketika memilih untuk menganut Katholik tentu saja konsekuensi keimanan Katholik itu harus kita hadapi. Bukankah selalu ada harga yang mesti dibayar untuk setiap pilihan hidup kita?
Kedekatan umat Katolik di berbagai belahan dunia dengan Bunda Maria sungguh luar biasa. Di Meksiko atau sebagian besar Negara Amerika Latin, setiap sudut rumah bahkan jalanan selalu dihiasi dengan patung Maria. Berbagai tempat ziarah bertema devosi kepada Bunda Maria berkembang pesat. Dalam bentuk yang paling sederhana banyak orang menyatakan kedekatan itu dengan berdoa rosario. Bahkan bagi sebagian orang, kesalehan mereka sungguh nyata saat berkanjang dalam devosi kepadaBunda Maria. Kita juga terbiasa menyimpan rosario dalam saku, mengalungkan di leher atau menggantungnya dalam kendaraan dengan maksud agar selamat dan lebih tenang tentunya.
Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Pertanyaan ini singkat namun menikam kesadaran terdalam. Sepertinya Yesus hendak mencari sari pengenalan para murid tentang diriNya. Jelas ini pertanyaan yang agak aneh, bukankah para murid adalah kumpulan orang terdekat yang tiap hari bersama Dia? Bukankah sejak awal mereka telah mengenal Yesus dengan baik sehingga memutuskan untuk meninggalkan segala sesuatu dan kemudian dengan sukarela mengikut kemana saja Dia pergi? Belum cukupkah kesetiaan dan komitmen yang sudah diperlihatkan para murid sehingga terlontar pertanyaan ini? Entah mengapa kemudian hanya Petrus seoranglah yang menjawab "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
Tahun 1944 Perang Dunia II berakhir. Sekelompok tentara memasuki sebuah kota, yang hancur akibat bom. Di pinggir kota, para tentara tiba di suatu tempat di mana pernah tertanam sebuah salib besar. Salib itu hancur berantakan. Mereka coba mencari pecahan-pecahannya. Selama 2 hari mereka berjuang mengumpulkan pecahan salib itu dan berhasil menyusun kembali : kepala, tubuh dan kaki Yesus. Namun mereka tidak berhasil menemukan tangan Yesus. Mereka tidak kehilangan akal. Mereka mendirikan kembali salib Yesus dan di kaki salib itu mereka pasang sebuah tulisan : AKU BUTUH TANGANMU. Setiap orang yang lewat di tempat itu dan melihat Yesus disalibkan tanpa tangan, seolah mendengar seruan Yesus : AKU BUTUH TANGANMU ..!!