CUKUP BELAJAR CUKUP
Salah satu cara mencerapi injil adalah beridentifikasi dengan tokohnya. Dalam bacaan kali ini, yang paling mudah adalah “Bila Aku Menjadi...Buruh Upahan”. Kerennya: karyawan. Maka pesannya adalah tidak boleh iri kalau ada karyawan baru lainnya yang menerima upah yang sama. Begitu sederhana.
Tapi...kiranya tidak hanya itu. Pelajaran lain ada pada kalimat terakhir pada perikop ini. Belajar untuk tidak iri. Bagaimana caranya supaya tidak iri atas upah sedinar sehari? Bila sedinar itu seumpana anugerah rahmat talenta berkat rejeki yang Tuhan telah beri, dan bila sehari itu seumpana waktu seumur hidup kita, maka bagaimana caranya agar kita tidak iri karena Tuhan murah hati?
Ternyata caranya sederhana saja. Bila hidup adalah suatu simfoni, maka caranya adalah menjalaninya dengan nada dasar C! Nada dasar CUKUP.
Cukup adalah pelajaran yang sangat sulit karena sangat mudah. Wah! Aneh ya? Ya, benar. Kita sangat mudah menyatakan cukup, apabila hak kita diinjak, apabila kesenangan kita diganggu. Kita mengatakan cukup, bila kita harus mengampuni, harus mengasihi. Pendek kata, kalau terkait dengan kewajiban biasanya cukup adalah kata paling manjur untuk mengakhiri semuanya. “Cukup!”, maka hilanglah kasih itu.
Bila demikian, jelaslah bahwa cukup menjadi pelajaran yang sangat sulit. Betapa sulit kita mengatasi keengganan untuk mengasihi, memaafkan? Semakin sulit mengasihi akan semakin sulit pula kita mengatakan cukup untuk semua yang menjadi hak kita. Pantaslah bila banyak pegawai mengeluhkan gajihnya, pengusaha mengeluhkan keuntungannya, istri mengeluhkan suaminya (dan sebaliknya), anak-anak mengeluhkan orangtuanya gurunya. Semua merasa serba kurang. Tunggu saja sampai intensitasnya meningkat: keluhan itu akan menjadi kemarahan dan meletup menjadi amukan. Duilah....kalau tertangkap gelombang radio, maka dunia akan riuh frekwensi negatif.
Padahal pengertian cukup tidak serta merta terkait dengan jumlah, nilai, mutu. Tidak. Dalam banyak hal cukup adalah soal rasa, kepuasan, hati. Cukup hanya bisa diungkapkan oleh orang yang bisa bersyukur. Cukup juga bukan mantra sakti yang akan mengakhiri perjuangan, menghentikan usaha pertumbuhan, mematikan semangat berkarya. Namun cukup adalah kata kunci untuk menjadi bahagia menikmati semua jerih payah itu.
Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kita saat ini, yang Tuhan sudah berikan sebagai berkat dan rejeki, maka niscaya kita akan menjadi lebih berbahagia.
Bila semuanya sudah, maka cukuplah belajar cukup. Sekarang. Cukup.





“Siapa ingin pandai?” tanya seorang guru. “Sayaaaaaa... .” jawab semua murid serempak. “Siapa ingin pandai berhitung?” tanya guru itu lagi. “Sayaaaaaa... .” jawab semua murid serempak lagi.
Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Pertanyaan ini singkat namun menikam kesadaran terdalam. Sepertinya Yesus hendak mencari sari pengenalan para murid tentang diriNya. Jelas ini pertanyaan yang agak aneh, bukankah para murid adalah kumpulan orang terdekat yang tiap hari bersama Dia? Bukankah sejak awal mereka telah mengenal Yesus dengan baik sehingga memutuskan untuk meninggalkan segala sesuatu dan kemudian dengan sukarela mengikut kemana saja Dia pergi? Belum cukupkah kesetiaan dan komitmen yang sudah diperlihatkan para murid sehingga terlontar pertanyaan ini? Entah mengapa kemudian hanya Petrus seoranglah yang menjawab "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
Sama-sama kita pahami bahwa hidup ini memang pilihan. Sepanjang jalan kita lalui terhampar beragam pilihan hidup yang harus ditentukan. Dan apapun pilihan yang dijatukan pasti mendatangkan konsekuensi yang harus kita hadapi. Demikian juga halnya dalam beriman. Ketika memilih untuk menganut Katholik tentu saja konsekuensi keimanan Katholik itu harus kita hadapi. Bukankah selalu ada harga yang mesti dibayar untuk setiap pilihan hidup kita?
Kedekatan umat Katolik di berbagai belahan dunia dengan Bunda Maria sungguh luar biasa. Di Meksiko atau sebagian besar Negara Amerika Latin, setiap sudut rumah bahkan jalanan selalu dihiasi dengan patung Maria. Berbagai tempat ziarah bertema devosi kepada Bunda Maria berkembang pesat. Dalam bentuk yang paling sederhana banyak orang menyatakan kedekatan itu dengan berdoa rosario. Bahkan bagi sebagian orang, kesalehan mereka sungguh nyata saat berkanjang dalam devosi kepadaBunda Maria. Kita juga terbiasa menyimpan rosario dalam saku, mengalungkan di leher atau menggantungnya dalam kendaraan dengan maksud agar selamat dan lebih tenang tentunya.