BERJAGA MENANTI DENGAN SETIA
Untuk menerima hukuman dari Tuhan, seseorang tidak harus berbuat dosa! Ada ‘dosa kolektif’ yang hukumannya harus ditanggung bersama oleh seluruh komunitas. Hal ini sangat disadari oleh bangsa Israel yang saat itu sedang menderita dalam pembuangan. Mereka sadar bahwa penderitaan yang sedang mereka alami: ditawan dan dibuang ke tempat asing, dihina dan ditindas oleh musuh adalah konsekuensi yang harus mereka alami karena ketidaksetiaan nenek moyang mereka yang terus menerus melanggar kehendak Allah. Mereka ‘mengingatkan’ Allah bahwa mereka hanya tanah liat buatan tanganNya yang mohon ‘diingatkan’ apabila sesat dan tenggelam dalam kebodohan. Ya TUHAN, mengapa Engkau biarkan kami sesat dari jalan-Mu, dan mengapa Engkau tegarkan hati kami, sehingga tidak takut kepada-Mu? Kembalilah oleh karena hamba-hamba-Mu, oleh karena suku-suku milik kepunyaan-Mu! Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin. Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu; sebab Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami. Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adlh buatan tangan-Mu. (Yes 64:6-8).
Kesadaran akan kelemahan diri membuka mata hati kita untuk lebih mampu menerima kenyataan, merasakan kebaikan Allah dan bersyukur, sehingga makin meneguhkan kita untuk mengharap janji Allah. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. (1 Kor 1:7-9).
Pada masa Adven ini kita menanti kedatangan Sang Imanuel dalam rupa bayi mungil, namun secara rohani kita terus menantikan kedatanganNya pada akhir zaman. Allah sungguh maha adil. Kekuasaan, kekayaan dan kekuatan sama sekali tidak menjadi syarat untuk berkenan padaNya; kekuasaan akan berakhir, kekayaan dan kekuatan akan hilang. Penantian yang panjang dan tidak menentu memang membosankan, melelahkan dan membuat lengah; hanya mereka yang setia yang akan mampu bertahan menanti kedatanganNya sambil terus bekerja melayani sesama, melakukan hal-hal kecil sehari-hari demi kebaikan bersama. "Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!" (Mrk 13:33-37).






Kehidupan yang berat membuat orang berjuang memperoleh hidup layak dengan berusaha mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan orang lain, lupa akan peringatan Yesus dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh itu: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Luk 12:15).
Seseorang yang sadar bahwa dia punya hutang yang tidak mungkin terlunaskan tentu akan berusaha sekuat tenaga untuk berbuat baik kepada pemberi utang, ibaratnya rela menjadi hamba, mau melakukan apa saja sesuai kehendak Sang Tuan. Apalagi kalau Sang Tuan yang baik hati itu justru mempercayakan hartanya untuk dikelola oleh hambanya itu, tentunya sang hamba harus berusaha sebaik-baiknya mengelola kepercayaan itu agar menghasilkan buah dan menyenangkan hati Sang Tuan!
Pernah dalam suatu kesempatan diungkapkan kritik ke salah seorang pemuka agama yang terkenal seperti selibritis, “Bicaramu baik, tetapi kelakuanmu amburadul!” Tokoh itu langsung dengan enteng menjawab, “Masih baik saya omong yang bagus-bagus, tetapi kelakuan saya jelek, dari pada kedua-duanya jeblok!” Rupanya antara kata-kata dan perbuatan sering ada jurang yang dalam sehingga omongan dan perbuatan bisa bertolak belakang. Selain itu, sudah umum berlaku yang namanya pemimpin atau tokoh sering dituntut untuk berbuat lebih dari yang lain. Memang menjadi kecenderungan orang untuk mau “menerima lebih” dengan menikmati kedudukannya sebagai pemimpin tanpa mau “memberi lebih” dengan memberikan keteladanan berupa prestasi kerja yang nyata atau perbuatan-perbuatan baik yang bermanfaat langsung kepada orang lain, termasuk ke anak buahnya.