“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15,13)
Tgl 17 Pebruari 1941 tentara Nazi Jerman menangkap Pastor Maximilian Kolbe karena dituduh memberi perlindungan kepada orang-orang Yahudi, lalu menjebloskannya ke penjara Auschwitz. Di sana dia ditahan di barak no. 16667 bersama banyak narapidana lainnya. Lima bulan kemudian 3 narapidana dari barak tsb melarikan diri. Sebagai sanksinya 10 rekan Pastor Kolbe harus dihukum mati, termasuk Franciszek Gajowniczek. Mengetahui Gajowniczek menangis karena terpaksa akan meninggalkan keluarganya, Pastor Kolbe dengan sukarela mengganti tempatnya. Lalu Pastor Kolbe dihukum mati dengan suntikan asam karbolik. Melihat kesaksian hidupnya serta keberanian mengorbankan nyawa untuk rekannya, tgl 10 Oktober 1982 Pastor Kolbe digelarkan “Santo” oleh Paus Yohanes Paulus II dan dihadiri oleh Gajowniczek, orang yang dia selamatkan nyawanya.
Bacaan Injil hari ini berbicara tentang “kasih seorang sahabat”. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15,13). Ada 3 hal yang ingin kita refleksikan dari ayat ini yakni memberikan, nyawa dan para sahabat. Pertama, kasih atau cinta itu adalah aktivitas “memberi”. Kita tidak bisa mengatakan “mengasihi” seseorang, kalau tidak diikuti dengan tindakan “memberi”. Kalau seseorang mencintai orang miskin, maka sikap itu harus disertai dengan tindakan “memberi” sesuatu kepada orang miskin. Cinta itu menjadi konkret kalau kita memberikan sesuatu kepada orang lain. Cinta harus diungkapkan keluar. Kedua, cinta itu memberikan nyawa. Nyawa adalah sesuatu yang paling berharga yang kita miliki. Cinta itu adalah aktivitas memberikan apa yang paling berharga, yang paling bernilai, yang terbaik dari diri kita. Memberikan nyawa artinya memberikan segala-galanya. Apa bedanya kalau kita memberi hadiah berupa : baju, kalung, gelang kepada seseorang ? Bedanya ialah jika memberikan nyawa berarti memberikan semuanya tanpa mengharapkan balasan. Kalau kita dengan tulus memberikan hidup kita kepada orang lain, itu berarti kita tidak memberi kesempatan orang lain untuk merespons. Orang mau balas atau tidak, bukanlah persoalannya. Jadi memberikan nyawa adalah aktivitas cinta yang tuntas. Ini yang dilakukan Allah kepada manusia, ketika Dia mengutus Putra TunggalNya untuk menyelamatkan manusia (Lht bacaan 2 : Allah adalah kasih – I Yoh 4,7-10) Ketiga, cinta sejati adalah memberikan nyawa kepada sahabatnya. Persahabatan adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup manusia. Manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain, apa lagi tanpa sahabat. Orang yang saling bersahabat biasanya saling berbagi, peduli satu sama lain, saling membantu dalam kesulitan dan menikmati kegembiraan bersama. Seorang sahabat tidak akan meninggalkan sendiri sahabatnya dalam kemelut permasalahan, namun dia akan mendampingi. “Friend in need is friend indeed”. Sahabat yg setia ketika kita dalam kesulitan adalah sahabat yang sesungguhnya. Dalam persahabatan hubungan “aku-engkau” menemukan kepenuhan penjabarannya. Dalam persahabatan “engkau” tidak lagi sebagai pribadi yang “lain yang berbeda dari aku”, melainkan menjadi “aku yang lain”. Karena orang lain adalah aku yang lain, maka aneka pengalaman kegembiraan, harapan dan kecemasannya adalah kegembiraan, harapan dan kecemasanku juga. Kalau sahabatku susah, lapar, itu juga adalah kesusahan dan kelaparanku. “Untuk sahabat-sahabatnya” artinya untuk dia yang dengannya saya sungguh terlibat, seperasaan dan sehati. Dalam konteks yang lebih luas, memberikan nyawa kepada sahabat adalah memberikan seluruh diri kita, perhatian kita kepada orang lain, khususnya mereka yang menderita, yang miskin, yang terkena bencana. Mereka adalah “para sahabat” kita, kepada siapa kita bersedia memberikan apa yang kita miliki, termasuk apa yang paling berharga di dalam hidup kita. Itulah makna dari kasih sejati. Itu pula yang diajarkan kepada kita oleh Kristus – Sang Sahabat Sejati kita - dan kemudian ditunjukkan secara heroik oleh Pastor Kolbe ketika “memberikan nyawanya” untuk Gajownizcek. Maka pertanyaan reflektif buat kita : beranikah kita menjadi ‘SAHABAT SEJATI” bagi orang lain ( baca : istri / suami, anak, tetangga, rekan kerja, dll ) ? Semoga !
“Siapa yg tinggal di dalam Aku akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 15,5)
Tgl. 31 Maret 2007 : 1000 lebih penonton memadati Balai Kartini Jakarta. Mereka terkagum-kagum menikmati konser tunggal Pianis ajaib dari Korea Selatan : Hee Ah Lee. Berbagai lagu klasik gubahan Komponis terkenal dunia, seperti : Mozart, Chopin, Bethoven, Bach dimainkannya dengan lincah dan dinamis. Namun yang mengherankan adalah Hee Ah Lee memainkan gubahan itu hanya dengan empat jari. Sejak lahir Hee Ah Lee menderita lobster claw syndrome, di mana pada masing-masing ujung tangannya terdapat 2 jari yang berbentuk huruf V seperti capit kepiting. Kakinya hanya sebatas bawah lutut, sehingga tinggi badannya hanya satu meter. Dan Ia juga mengalami keterbelakangan mental. Namun ibunya – Woo Kap Sun – dengan sabar dan penuh cinta membimbing putrinya itu berlatih piano. Dan Hee Ah Lee akhirnya menjadi Pianis terkenal. Selain telah banyak menerima penghargaan dari dalam dan luar negeri, Hee Ah Lee telah konser di banyak negara. Sesuai judul konser malam itu “Sharing the Strength of Love” - Berbagi Kekuatan Cinta, Hee Ah Lee mau mengatakan bahwa cintalah yang mengantar dia menjadi Pianis terkenal. Cinta ibunya itulah yang mengubah Hee Ah Lee dari anak AIB menjadi anak AJAIB.
Bacaan injil hari ini berbicara tentang POHON ANGGUR (Yoh .15,1-8). Ada 3 Tokoh yg tampil di sini : 1. Bapa di surga sebagai Pengusaha, atau lebih tepat sebagai Pemelihara atau “Penata” pohon anggur (vinedresser). 2. Yesus sebagai Pokok Anggur 3. Murid-murid sebagai ranting. Tugas dari Pengusaha adalah memotong ranting yg tidak berbuah serta membersihkan yg sudah berbuah agar bisa berbuah lebih banyak. Alat yang dipakai untuk memotong dan membersihkan ranting-ranting adalah Firman Tuhan. “Kamu memang sudah bersih karena FIRMAN yg telah Kukatakan kepadamu” (ayat 3) Lalu Yesus menyimpulkan perumpamaan ini dengan mengatakan : Tinggallah di dalam Aku… Barangsiapa tinggal di dalam Aku akan menghasilkan banyak buah. Jika kamu tinggal di dalam Aku, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapaku dipermuliakan !
Apa yang dapat kita petik dari bacaan-bacaan hari ini ? Hidup kita sebagai murid Yesus harus menyatu dengan Kristus. Sama seperti ranting tidak bisa hidup tanpa menyatu dengan pokok anggur, demikian juga kita kita tidak bisa hidup tanpa Kristus. Kristuslah yang menjadi dasar dan landasan hidup beriman kita. Kristuslah yang mengubah diri kita yang “aib menjadi ajaib”. Sama seperti Hee Ah Lee tidak bisa berprestasi tanpa dorongan, motivasi dan cinta dari Ibunya, demikian juga kita tidak bisa melakukan hal-hal yang luar biasa tanpa Kristus. Kristuslah yang memberi paragdima baru di dalam hidup kita. Seperti Saulus dalam bacaan I, yang sebelumnya mengejar dan menganiaya murid Tuhan, kemudian berubah menjadi Pewarta dan Rasul yg sejati. Kristuslah yang mengubah hidup kita. Demikian juga umat gereja purba dapat hidup dalam damai dan takut akan Tuhan karena semangat dan Roh Kristus.
Sebagai murid Tuhan kita dipanggil untuk berbuah. Murid yang tidak menghasilkan buah tidak layak disebut murid Kristus. Dia bukan pengikut Kristus lagi. Sedangkan murid yang sudah menghasilkan buah tetap harus dibersihkan, agar dapat menghasilkan buah lebih banyak. Dan buah yang dihasilkan oleh Roh Kristus adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Galatia 5,22). Seorang murid Kristus harus memancarkan roh Kristus dalam hidupnya. Dia harus memancarkan dan menyaksikan “kasih, sukacita, damai , dll”. Mungkin tidak mudah untuk hidup di dalam roh atau semangat Kristus. Tetapi jika kita tinggal di dalam Kristus, kita sanggup untuk menghidupinya. Ketika menghadiri Pesta Perkawinan Emas ( 50 tahun ) satu pasangan katolik, mereka menyaksikan bahwa Kristuslah yang mempersatukan mereka selama 50 tahun hidup berkeluarga. Tanpa Kristus, hidup rumah tangga mereka bisa berantakan ! Banyak rohaniwan & rohaniwati yang puluhan tahun hidup SETIA dalam panggilan suci karena mereka “tinggal dan menyatu” dengan Kristus. Tanpa Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi dengan DIA, kita bisa menghasilkan banyak buah, kita bisa berprestasi. Kita itu “0” (nol) dan Kristus itu “1”(satu). Bersama Kristus menjadi “10”(sepuluh). Bersama Kristus, kita bisa menjadi pribadi yg luar biasa, PRIBADI PLUS !!!
Menjadi saksi perkawinan, saksi perjanjian kerja sama bisnis, atau saksi di pengadilan sudah dialami oleh sejumlah orang di paroki kita. Tetapi, kalau “menjadi saksi Kristus” semua orang Katolik harus menjalaninya. Apa boleh buat! Itu yang dikatakan Yesus, “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini” (Lukas 24: 46 – 48) Senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, sadar atau tidak sadar setiap hari kita semua “harus” menjadi saksi itu. Orang di sekitar kita akan mengatakan, “Dia orang Katolik!” Kesaksian itu memang tidak bisa dibuat-buat atau artificial. Lalu apa bedanya, kita sebagai orang Katolik dengan orang yang beragama Kristen atau agama lain? Mari kita jawab bersama-sama.
Menjadi Katolik berarti menerima Injil atau kabar gembira bahwa Allah itu mengasihi kita. Allah itu Bapak (atau Ibu) kita semua yang mengasihi dengan menciptakan dan menebus dari dosa kita. Kasih Allah itu tampak dalam hidup dan karya serta kebangkitan Yesus. Kabar gembira itu bisa kita baca Kitab Suci. Makanya Kita Suci itu harus sering kita dengarkan (dalam Misa) dan kita baca (sendiri) agar makin hari kita makin paham akan kasih Tuhan. Iman akan kabar gembira itu kita hayati dalam “sistem” (cara hidup) Gereja Katolik dengan para pemimpinnya, ajarannya, tradisinya, kebiasaan-kebiasaannya. Lewat hidup sesuai dengan ajaran, tradisi , perintah-perintah Gereja itu kita mengalami bahwa Allah itu sungguh baik. Yesus yang hidup dan wafat serta bangkit itu bukan hanya “dulu” terjadi tapi sekarang pun kita alami dalam sakramen ekaristi, sakramen tobat, dan sakramen-sakramen lain. Hidup yang mengimani Allah sebagai Bapak itu juga kita alami dalam hidup menjemaat (menggereja) dengan pemimpin yang menyatukan dari paus, uskup hingga pastor paroki dan pengurus lingkungan dan keluarga kita.
Bagaimana mengembangkan iman akan Kristus atau iman akan Injil itu? Itu memang menjadi tanggung jawab masing-masing orang Katolik. Menjadi orang saleh yang bukan hanya secara individual, tetapi juga secara sosial, karena memberi arti dan makna bagi orang lain sehingga orang lain “mengalami” Allah yang mahabaik itu dalam perbuatan-perbuatan baik kita. Bahwa untuk mewujudkannya (=menjadi serupa dengan Yesus), kita semua harus berusaha dan jungkir balik karena memang bukan barang mudah mewujud-nyatakan iman dalam kehidupan itu juga menjadi risiko setiap orang beriman Katolik dengan salib hidupnya masing-masing. Sudah cukup? Belum. Ada satu hal lagi. Orang Katolik mestinya hidup lebih bergembira dibandingkan dengan yang bukan Katolik, karena di samping mengimani Allah sebagai Bapak juga dapat menjumpai Yesus yang menebus kita dalam perayaan Ekaristi. Bila jatuh berdosa kita bisa datang menerima sakramen Pengampunan, karena berkat Yesus, kita akan diampuni, baik sekarang maupun nanti. Dengan demikian, dari hari ke hari hidup kita mestinya menjadi lebih berkualitas sehingga makin pantas disebut putera-puteri Allah, bapak yang mahabaik.
Ada sebuah pohon yang sedang berbuah lebat. Buahnya terlihat kuning keemasan & sangat menggiurkan.
Seekor burung jalak terbang ke pohon tersebut. Dengan suara keras burung jalak itu berteriak memuji pohon tersebut.
"Pohon yang subur, engkau terlihat indah dengan buah-buah pohon ini."
Setelah mendengar pujian tersebut, si pohon berkata kepada burung jalak, "Teman, tinggallah di tempat saya!"
Kemudian, seekor burung kenari terbang ke pohon ini sambil bernyanyi, "Pohon ini sangat hijau, buahnya sangat wangi, sangat bagus."
Pohon berkata kepada burung kenari itu, "Jika engkau ingin makan buahku, silahkan ambil saja!"
Seekor burung pelatuk terbang ke pohon ini, dia mematuk-matuk di sana sini di badan si pohon buah. Hal itu membuat si pohon buah sangat kesakitan. Sambil menjerit kesakitan, si pohon berteriak kepada burung pelatuk. Tapi, burung pelatuk berkata, "Saya melihat di dalam tubuhmu ada seekor ulat, saya ingin mematuknya keluar. Jika tidak, maka Anda akan sakit dimakan ulat."
Si pohon dengan marah berkata, "Omong kosong ! Engkau mematuk saya, krn sengaja ingin membunuh saya. Cepat pergi dari sini!". Si burung pelatuk akhirnya terbang & pergi meninggalkan si pohon buah.
Tidak berapa lama kemudian, si pohon buah menderita sakit. Daunnya berubah kuning kemudian gugur.
Akhirnya dahannya juga layu, & tidak bisa berbuah lagi.
Burung jalak terbang meninggalkannya, burung kenari juga tidak datang bernyanyi lagi.
Pada saat buruk itu, si burung pelatuk datang lagi. Walau si pohon menjerit kesakitan, si burung pelatuk tidak peduli. Ia terus mematuknya sampai seluruh ulat di tubuh pohon itu habis.
Beberapa waktu kemudian, pohon ini tumbuh kembali. Daun2x hijau mulai terlihat. Si pohon lalu berbuah lagi.
Pada saat itulah si pohon dgn perasaan terharu berkata, "Yg bernyanyi dan memuji Anda belum tentu seorang teman. Tetapi yang bersedia menunjukkan kekurangan Anda & mau membantu Anda saat sulit, itulah teman sejati Anda."
Sebuah kisah yang amat menyentuh hati & bagus untuk direnungkan… (◦ˆ◡ˆ◦)
Sebuah kecelakaan telah merenggut orang yg kukasihi…
Sering aku bertanya², bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik² sajakah? ƪ(▔ ̯▔)ʃ
Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan seorang suami yg tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yg masih begitu kecil…
Begitulah yg kurasakan, karena selama ini aku merasa bahwa aku telah gagal, ga bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anakku, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anakku… ( ˘͡ ―˘͡)
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja…
Aku harus segera berangkat ke kantor…
Anakku masih tertidur…
Ohhh… aku harus menyediakan makan untuknya… (─‿─)
Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan…
Setelah memberitahu anakku yg masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja…
Peran ganda yg kujalani, membuat energiku benar² terkuras…
Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari…
Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku…
Aku langsung masuk ke kamar tidur dan melewatkan makan malam…
Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dgn maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan… ƪ(´~`)ʃ
Tiba² aku merasa ada sesuatu yg pecah dan tumpah seperti cairan hangat!
Aku membuka selimut dan di sanalah sumber 'masalah'nya…
Sebuah mangkuk yg pecah dgn mie instan yg berantakan di seprai dan selimut!
Oh…Tuhan! (⋋ ̯⋌)
Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anakku yg sedang gembira bermain dgn mainannya dgn pukulan²! (`д⊂彡☆))Д゚)
Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat…
"Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi… Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan… Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar… Maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie… Satu untuk ayah dan yang satu lagi untukku… Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang… Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dgn mainanku… Aku minta maaf Dad…"
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku… (ㄒ﹏ㄒ)
Tetapi, aku ga ingin anakku melihat ayahnya menangis…
Maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dgn menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangisku… (˘̩̩̩~˘̩̩̩ƪ)
Setelah beberapa lama, aku hampiri anakku, memeluknya dgn erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur…
Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie ditempat tidur…
Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam…
Aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yg dikasihinya… (>_<。)
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, aku mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dgn memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya…
Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari TK…
Untungnya insiden yg terjadi ga meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dgn bahagia… (◦'ں'◦)
Namun, belum lama, aku sudah memukul anakku lagi…
Aku benar² menyesal… (´⌒`)
Guru TKnya memanggilku dan memberitahukan bahwa anakku absen dari sekolah…
Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan…
Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil² namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis sedang bermain komputer game dgn gembira…
Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan²…
Dia diam aja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Dad…"
Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan bakat" yg diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dgn ibunya…
Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu…
Beberapa hari setelah penghukuman dgn pukulan rotan…
Anakku pulang ke rumah memberitahuku, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis…
Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yg aku yakin, jika istriku masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat aku bangga juga!
Waktu berlalu dgn begitu cepat…
1 tahun telah lewat. Saat ini musim dingin dan hari Natal telah tiba…
Semangat Natal ada dimana² juga di hati setiap orang yg lalu lalang…
Lagu² natal terdengar diseluruh pelosok jalan…
Tapi astaga, anakku membuat masalah lagi!
Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari² terakhir kerja…
Tiba² kantor pos menelpon…
Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sdng sibuk²nya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus…
Mereka menelpon saya dgn marah², untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat…
Walaupun aku sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anakku lagi, tetapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi…
Karena aku merasa bahwa anak ini sudah benar² keterlaluan…
Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf: "Maaf, Dad""... (ಠ_ಠ)
Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu…
Setelah itu aku pergi ke kantor pos untuk mengambil surat² tanpa alamat tersebut lalu pulang…
Sesampai di rumah, dgn marah aku mendorong anakku ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini?
Apa yg ada dikepalanya? (˘̶ِ̀ ˘̶́')
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah "Surat² itu untuk mommy…".
Tiba² mataku berkaca²…
Tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya, "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat² pada waktu yg sama?"
Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yg lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat²ku… Tapi baru² ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus…"
Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata²… (॓ ̯॔)
Aku bingung ga tahu apa yg harus aku lakukan dan apa yg harus aku katakan…
Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dgn membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy…"
Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dgn nyenyak…
Aku berjanji akan membakar surat² atas namanya, jadi aku membawa surat² tersebut ke luar…
Tapi aku jadi penasaran untuk membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu…
Dan salah satu dari isi surat²nya membuat hatiku hancur… ( ˘̶̀• ̯•˘̶́ )
Mommy sayang…
Aku sangat merindukanmu!
Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut…
Tapi kamu tidak ada, jadi aku tidak ingin menghadirinya juga…
Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi…
Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko…
Ayah keliling² mencariku, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yg sebenarnya…
Mommy, setiap hari aku melihat ayah merindukanmu…
Setiap kali dia teringat padamu…
Dia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya…
Aku pikir kita berdua amat sangat merindukanmu…
Terlalu berat untuk kita berdua, aku rasa…
Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu…
Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga aku dapat melihat wajahmu dan mengingatmu?
Temanku bilang jika kau tertidur dengan photo orang yg kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu…
Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?
Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti…
Karena aku tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yg tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istriku…
Untuk para suami, yg telah dianugerahi seorang istri yg baik, yg penuh kasih terhadap anak²mu selalu berterima kasihlah setiap hari padanya…
Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak²mu… ƪ(◦ˇーˇ◦)¬
Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dgn segala kekurangan dan kelebihannya…
Karena apabila engkau telah kehilangan dirinya, maka tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya di keluarga dan hatimu dan anak-anakmu… ┓(◦ˇεˇ◦)┏