Yes 66: 10-14c Mzm 66: 1-3,4-5,6-7,16,20 (1) Gal 6: 14-18 Luk 10: 1-12,17-20
Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan Yesus mengutus 70 murid-Nya untuk mendahului Dia dan memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Para murid yang diutus itu diminta untuk tidak membawa bekal, untuk menyampaikan salam damai sejahtera, dan untuk tinggal dan makan minum bersama, menyembuhkan yang sakit serta menyerukan pertobatan karena Kerajaan Allah sudah dekat. Dan yang menarik adalah: apabila orang yang mendapat salam damai sejahtera itu tidak layak maka mereka tidak mendapatkan damai sejahtera itu, lalu apabila para utusan itu tidak diterima, Yesus menyuruh mereka mengebaskan debu di kaki lalu pergi.
Kisah ini ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita, para pastor yang mendahului Yesus selalu menyampaikan salam damai sejahteranya, mendoakan kesembuhan dan kebaikan kita, sementara mereka juga mentaati kaul kemiskinan dalam hidupnya, kemudian merekapun menyerukan pertobatan pada Kerajaan Allah dlmsetiap homilinya, &ygterakhir kitapun berkumpul bersama utkmakan &minum Sakramen Maha Kudus setiap minggunya.
Semua ini menimbulkan pertanyaan dalam diri kita: Sudahlah kita mengalami damai setiap kali kita mengikuti Sakramen Ekaristi? Dan bisakah kita menerima seruan untuk bertobat itu dengan sungguh melakukan pertobatan dan perubahan dalam hidup kita? Dan kemudian keberatan-keberatan apakah yang selalu menghalangi kita untuk menerima tawaran-tawaran dari Tuhan itu?
Memang saat ini kita hidup dalam jaman yang amat berbeda dibandingkan jaman Yesus berkarya. Saat itu belum ada mal-mal yang dengan meriah menawarkan berbagai brand-brand yang memikat hati, yang dalam setiap iklannya menjanjikan kehidupan yang lebih baik kepada kita, belum lagi ditambah dengan tawaran diskon-diskon mid-year sale yang hampir tak bisa kita tolak. Padahal dalam kenyataannya, kitapun tetap harus membayar mahal untuk semua tawaran itu.
Ataukah kita perlu mengusulkan kepada dewan paroki untuk mulai menghias gereja dengan berbagai umbul-umbul, bendera dan banyak dekorasi untuk membuatnya menjadi menarik. Dan tentunya tidak lupa sebuah spanduk super besar bertuliskan: “Great Sale!!! Diskon 70% untuk kolekte anda!” Agar kita cukup tertarik untuk mulai mengambil tawaran-tawaran dari Tuhan itu?
Kembali pada pertanyaan-pertanyaan tadi, Injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan sudah sejauh manakah kita membuka diri pada tawaran-tawaran Tuhan. Apabila kita belum merasa damai, masih penuh kekuatiran dan kurang bersyukur dalam hidup kita, mungkin kita perlu ber-refleksi, jangan-jangan kita hanya makan debu yang dikibaskan kepada orang yang tidak mau menerima Tuhan?





Wawancara antara seseorg yg baru saja menjadi Pengikut Kristus dgn temannya yg tdk beriman. “Jadi, kau sdh bertobat menjadi Pengikut Kristus?” Ya ! “Kalau begitu tentu kau tahu banyak ttg Dia. Misalnya, di negara mana Ia dilahirkan ?” Aku tdk tahu. “Berapa usianya waktu Ia meninggal?” Aku tdk tahu. “Lho, bagi org yg menyatakan telah bertobat menjadi pengikut Kristus, kau mengetahui sedikit sekali” Kau benar. Aku malu krn begitu sedikit pengetahuanku ttg Dia. Tapi, sekurang-kurangnya aku tahu hal ini : 3 thn lalu, aku seorg pemabuk. Hutangku banyak. Keluargaku berantakan. Anak-istriku slalu takut setiap kali aku pulang. Tapi skarang, aku sdh tdk mabuk lagi. Hutangku sdh lunas. Keluarga kami bahagia. Anak-anak senang menantiku pulang ke rumah setiap sore. Ini semua karya Kristus bagiku. Sebanyak inilah yg saya ketahui ttg Kristus. (Dikutip dari : “Burung Berkicau” oleh A. de Mello SJ).
Ada yg tdk lazim saat Sri Paus Fransiskus memimpin Misa Agung Paskah tgl 31 Mrt 2013 di halaman Basilika Santu Petrus - Roma. Setelah injil, Sri Paus tdk memberikan kotbah, melainkan mengajak umat utk hening dan merenung. Saya bertanya dlm hati : kok bisa ya ? Tdk ada kotbah pada sebuah Misa Agung. Kita rindu mendengar pesan rohani Sri Paus di hari yg menjadi pondasi pokok iman kita : Kristus bangkit ! Setelah Misa Agung selesai, Sri Paus turun dari altar dan menyalami satu per satu pembantunya : para Kardinal. Lalu dgn jeep terbuka, Sri Paus berkeliling menyalami ribuan umat yg menyambutnya dgn penuh antusias. Beberapa kali dia menghentikan mobil, krn ingin memeluk, bahkan mencium org-org cacat dan anak-anak. Sikapnya yg begitu tulus dan penuh empati mengundang decak kagum. Saya berani mengatakan : inilah kotbah yg paling dalam dan efektif. Sri Paus tidak hanya “mengajar”, tapi juga memberi contoh. “Verba movent, exempla trahunt”. Kata-kata menggerakkan, tapi contoh itu menarik. Atau pernyataan St. Yakobus : “Jika iman tdk disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya mati” (Yak 2:17).
Tgl. 6 Maret 2012 Raka Widyarma ditangkap polisi di rumahnya Jl. Perkici Raya No. 42 Bintaro Jaya krn mengkonsumi ekstasi. Orangtua Raka, Bpk Rano Karno, sangat terpukul dgn peristiwa ini. “Saya sulit percaya ini” katanya. “Raka terkenal pendiam, tak pernah macam-macam dan tdk suka berantem”. Ketika memberikan konperensi pers di kediamannya, Perumahan Bumi Karang Indah Cinere hari Sabtu, 10 Maret 2012, Rano Karno berharap Raka yg melepas dirinya jika dia meninggal dunia. ”Saya selalu bilang, Raka jangan mati dulu sebelum saya. Saya ingin kamu azani saya saat saya mati”, ungkap Rano Karno sambil meneteskan air mata. Dia siap menjadi saksi utk Raka kalau diminta oleh pengadilan, bahkan rela melepaskan jabatannya. Sungguh suatu ekspresi kasih yg luar biasa dari seorang ayah. Karena kasih yg begitu besar, Bpk Rano Karno mampu memaafkan kesalahan Raka, putranya. “Saya ayahnya dan saya tidak marah maupun kecewa”.
Apa sih bedanya "tolong" dengan "bantu"? Kalau kita beli beras sekarung di supermarket, kemudian pelayannya datang mengangkat dan memindahkan beras dari rak ke troli kita, pelayan itu menolong kita atau membantu kita ya? :)