MENYIASATI DILEMA MEMILIH
Dalam menjalani kehidupan ini kita tidak pernah berhenti membuat pilihan! Kalau kita tidak mau memilih, maka orang lain atau lingkungan-lah yang akan menentukan pilihan bagi kita! Salah satu pilihan sulit yang dilematis adalah pilihan antara duniawi dan surgawi; keduanya kita inginkan dan kita butuhkan, namun keduanya saling bertentangan! Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging -- karena keduanya bertentangan -- sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (Gal 5:17).
Bagi orang waras (baca: orang percaya) tentu akan memilih kerajaan Sorga atau kehidupan kekal karena hal duniawi manakah yang bisa dibandingkan dengan keabadian bersama Allah? Kerajaan Sorga adalah pilihan wajib yang tak tergantikan! Tapi, itu baru wacana, baru pilihan sebatas kata-kata! Untuk benar-benar menentukan pilihan itu sebagai jalan hidup ternyata ada konsekuensi dan syarat-syarat yang sangat berat. "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. (Luk 14:26-33).
Betapa beratnya tantangan untuk menjadi muridNya! Beranikah kita menerimanya? Mampukah kita mengorbankan segala yang kita miliki untuk mengikuti Dia? Tampaknya tidak mungkin bagi manusia namun bagi Allah tidak ada yang mustahil!
Tuhan Yesus menyarankan agar kita mempertimbangkan masak-masak sebelum menentukan pilihan itu dan ‘celakanya’, sadar atau tidak, dengan dibaptis dan menjadi katolik, kita sudah menentukan pilihan yang super berat itu!
Allah tentu mengetahui kelemahan manusia ciptaanNya, karena itu Dia selalu terbuka menerima anakNya yang berusaha dengan sungguh-sungguh melakukan kehendakNya! Bisakah orang mendengarkan, merenungkan dan melakukan Firman Allah dengan perut lapar, atau ketika keluarga tercerai-berai terbelit masalah ekonomi, pertengkaran/perselingkuhan atau penyakit berat?
Menyiasati dilemma ini bisa dilakukan dengan berusaha tidak mempertentangkannya secara langsung: memilih persoalan duniawi yang masih bisa ditoleransi. Apakah salah bekerja keras mencari nafkah? Apakah tidak boleh mengutamakan saudara dan keluarga sendiri? Apakah berdosa rekreasi, beristirahat dan menghibur diri? Selama kita bersyukur, berdoa dan beramal dengan tulus; selama kita tidak melalaikan ibadat kepadaNya, kiranya Allah juga tidak akan menghukum kita! Bukankah Yesus juga bersabda: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah"? Semoga





Kata org bijak, kita hrs berkaca spy bisa membawa diri atau menempatkan diri dengan baik. Sebaiknya dalam situasi yang masih belum jelas, disarankan untuk menempatkan diri di tempat rendah! Kalau sudah dibawah, bisa jatuh kemana lagi?
Pada tahun 2011 yang lalu, terjadi kasus yang cukup menghebohkan di dunia pendidikan. Kasus ini dialami Alif (14), siswa yang melaporkan kecurangan UN di sekolahnya, SD Negeri Gadel 2, Tandes, Surabaya. Alif diminta guru memberikan jawaban soal UN kepada temannya yang tidak tahu. Kasus ini ramai diperbincangkan hingga keluarga Siami (ibu Alif) diusir warga dari rumahnya yang tidak suka dengan kejujuran Alif. Alif dan keluarganya pun dituding sok jujur oleh guru, orangtua siswa yang lain, dan juga oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
Ada pemandangan yang menarik yang selalu berulang setiap tahun di berbagai stasiun bus dan kereta api di pulau Jawa. Peristiwa yang sudah menjadi rutin ini terjadi setiap menjelang lebaran dan sehabis lebaran ketika orang-orang harus mudik ke kampung halaman untuk merayakan hari raya Idul Fitri. Mereka harus berjuang untuk mendapatkan tiket bus atau kereta api , bahkan harus antri sejak malam hari untuk mendapatkan tiket dan setelah mendapatkan tiket harus berjuang lagi berdesak- desakan untuk masuk kedalam bus atau naik ke gerbong kereta api. Pintu-pintu kereta api dan bus menjadi penuh sesak dan tidak jarang orang berjuang dengan cara memanjat dan masuk melewati jendela yang sudah dijebol. Pemandangan ini cukup menarik walaupun sangat tragis dan memprihatinkan. Namun di balik itu semua terlihat adanya perjuangan keras untuk masuk ke dalam dan mereka yang berhasil masuk akan dapat merayakan lebaran bersama orang-orang yang dikasihinya di kampung halaman.
Ada satu kisah tentang seorang bangsawan Inggris yang kaya raya. Pada suatu hari ia memanggil pembantunya, dan ia memberikan tongkat ajaibnya seraya berkata :”Simpanlah tongkat ajaib ini sampai engkau menemukan orang yang lebih dungu daripadamu. Setelah menemukannya berikanlah tongkat ini kepadanya.” Hambanya yang pelawak itu menerimanya dengan senang hati dan sejak itu ia selalu membawanya sambil mencari orang yang lebih dungu daripadanya. Ia tak juga menemukannya.