ADA PENGHIBUR DALAM HIDUP KITA
Banyak hal tidak enak dan mengkhawatirkan dalam hidup ini? Hidup ini kemana dan mau apa sesudah hidup kita ini sering amat mengkhawatirkan. Belum lagi soal-soal keseharian dari masalah mencari nafkah, kesehatan sampai masa depan anak-anak yang membuat orang tidak nyaman dan bersedih. Orang yang bersikap fatalistik hanya pasrah saja. Begitulah hidup, kata mereka, ada senang, ada susah, ada sehat dan sakit. Ada untung bisa juga buntung alias rugi. Ada masa muda, ada masa tua renta yang hanya menunggui hari-hari terakhir. Orang beragama sering mencari mudahnya dengan menyerahkan semuanya kepada “Yang di atas”. Mulai dari kejadian yang menyenangkan sampai-sampai kesalahan sendiri yang membawa petaka semuanya dianggap karena ketentuan dari Atas. Begitu mengkhawatirkan dan tidak pastikah hidup kita ini?
Tapi Injil hari ini memberi titik terang pada kita semua. Yesus menyatakan, “Tetapi Penghibur, yaitu RohKudus yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku. Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang Kukatakan kepadamu” (Yoh 14: 26). Roh Penghibur dalam hati kita akan menyatakan bahwa hidup kita sebetulnya tidak perlu dikhawatirkan. Apa saja hiburan atau jaminan dari Roh itu? Roh Penghibur akan menyatakan bahwa Allah telah lebih dahulu mengasihi kita. Hidup dan karya Yesus menjadi jaminan bahwa hidup kita sebagai manusia tidak akan sia-sia. Tuhan Sang Pencipta yang menciptakan kita di dunia akan menyelamatkan kita semua. Bagaimana keselamatan Tuhan itu terwujud dalam hidup kita masing-masing? Marilah kita mohon kepada Allah Roh Kudus, Penghibur kita agar apapun kejadian dan peristiwa yang kita alami, kita memahami dan menemukan karya keselamatan Tuhan dalam kehidupan kita setiap hari. Pemahaman akan karya keselamatan dalam hidup kita pribadi yang ditunjukkan Roh Kudus akan membuat kita merasakan damai dan sejahtera dan jauh dari segala kekhawatiran dan rasa takut. Tentu saja rasa damai dan sejahtera itu harus menjadi motivasi untuk tetap berusaha dengan bekerja tanpa mengenal putus asa bagi peningkatan kualitas hidup kita.





Di negara ini kejujuran dan kesetiaan semakin langka, sebaliknya keserakahan dan kemunafikan semakin merajalela; sebagai hasilnya permusuhan, perceraian dan korupsi terjadi dimana-mana. Tidak mudah membedakan siapa yang salah dan siapa yang benar karena keadilan bisa dibeli, bahkan koruptor yang sudah dihukum pidanapun masih tetap membantah tanpa merasa bersalah!
Menyadari atau tidak, hampir setiap saat kita dihadapkan pada pilihan: dari yang paling sederhana seperti misalnya apakah mau sarapan atau mandi dulu, apakah mau lewat jalan tol atau jalan biasa; sampai yang lebih serius seperti menentukan pilihan sekolah/jurusan pendidikan anak, memilih jodoh, sampai memilih iman yang akan menentukan ‘nasib’ di akhirat!
Pergumulan manusia dalam menjalani kehidupan yang fana ini tak jarang seperti sebuah ironi; seringkali orang menantang ‘alam’ dengan sengaja! Bukankah semua pelajar tahu bahwa malas belajar akan berakibat hasil ujian tidak memuaskan? Bukankah semua perokok tahu bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan? Mengapa orang sepertinya sengaja memilih yang buruk? Demikianlah karena penuh dengan iri hati orang Yahudi menegarkan diri untuk menolak Allah! Mereka tidak mau mendengarkan nasihat St. Paulus yang mengajarkan Firman Allah supaya mereka tetap hidup dalam kasih karunia Allah.[…] ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus. Tetapi dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: "Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai keujung bumi." (Kis 13:45-47).
Iman atau kepercayaan kepada seseorang tidak datang begitu saja; tentu ada alasannya, ada motivasinya! Ada yang merasa punya ‘chemistry’ cocok, ada yang dipicu oleh kekaguman pada yang dipercaya, ada yang ikutan karena tertarik pada janji-imbalan-ganjaran yang akan diperoleh, dsb. Semua punya dasar logika atau pertimbangan untung-rugi; prinsipnya kalau membawa manfaat dunia-akhirat mengapa tidak? Kondisi ini dapat dibaca dari sikap Santo Tomas yang tidak mau menerima penjelasan Rasul lain yang dianggap tidak logis: "Kami telah melihat Tuhan!". Kitapun sering lebih mengandalkan logika berpikir, tanpa menyadari bahwa kecerdasan nalar kita amat terbatas bila dibandingkan dengan kebesaran Allah, jalan pikiran kita sering menuntut bukti fisik seperti jawaban Santo Tomas ini […] "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku kedalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku kedalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yoh 20:25).