Iman atau kepercayaan kepada seseorang tidak datang begitu saja; tentu ada alasannya, ada motivasinya! Ada yang merasa punya ‘chemistry’ cocok, ada yang dipicu oleh kekaguman pada yang dipercaya, ada yang ikutan karena tertarik pada janji-imbalan-ganjaran yang akan diperoleh, dsb. Semua punya dasar logika atau pertimbangan untung-rugi; prinsipnya kalau membawa manfaat dunia-akhirat mengapa tidak? Kondisi ini dapat dibaca dari sikap Santo Tomas yang tidak mau menerima penjelasan Rasul lain yang dianggap tidak logis: "Kami telah melihat Tuhan!". Kitapun sering lebih mengandalkan logika berpikir, tanpa menyadari bahwa kecerdasan nalar kita amat terbatas bila dibandingkan dengan kebesaran Allah, jalan pikiran kita sering menuntut bukti fisik seperti jawaban Santo Tomas ini […] "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku kedalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku kedalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yoh 20:25).
Para murid Yesus yang berantakan tercerai-berai waktu melihat Sang Idola menyerahkan diri mati disalib sudah kehilangan pegangan dasar logika untuk mempertahankan imannya. Mereka berkumpul bersama untuk mengumpulkan sisa-sisa iman dan keberanian menghadapi situasi yang sangat mencekam itu. Maka betapa penuh semangat dan sukacita mereka waktu Tuhan menampakkan diri untuk menguatkan dan mengutus mereka! Setelah dasar logika itu terlampaui, iman mereka sudah tidak terbendung lagi! Para murid Yesus sudah tidak membutuhkan perhitungan untung-rugi, aman-bahaya, jauh-dekat atau siang-malam; suka cita dan semangat untuk bersaksi memberitakan Kabar Baik itu terus menggebu sehingga jumlah mereka terus bertambah dengan cepat. Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan, bahkan mereka membawa orang-orang sakit keluar, kejalan raya, dan membaringkannya di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka. Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan (Kis 5:14-16).
Bagi pengikut Kristus, iman atau percaya bukanlah hal sepele karena menyangkut keselamatan jiwa! Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. (Rm 10:10). Percaya mempunyai konsekuensi mau mendengarkan, mentaati dan mengikuti perintah dari yang dipercayai itu! Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya. (1Yoh 2:28). Iman tidak muncul begitu saja, karena itu, perlu keberanian dan komitmen untuk menerima konsekuensinya, termasuk ikut menderita bersama Kristus! Beranikah kita menerima tantangan itu?
Yesus bersabda:[...] “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yoh 20:29). Beranikah kita percaya kepada-Nya? Apakah masih perlu bukti fisik?




