Menyadari atau tidak, hampir setiap saat kita dihadapkan pada pilihan: dari yang paling sederhana seperti misalnya apakah mau sarapan atau mandi dulu, apakah mau lewat jalan tol atau jalan biasa; sampai yang lebih serius seperti menentukan pilihan sekolah/jurusan pendidikan anak, memilih jodoh, sampai memilih iman yang akan menentukan ‘nasib’ di akhirat!
Ada pilihan yang diambil tanpa dipikir karena sudah rutin, ada pula yang perlu pertimbangan mendalam karena punya dampak besar! Dampak besar bisa dalam arti mempunyai nilai ekonomi tinggi, menentukan masa depan, atau bahkan menentukan keselamatan jiwa!
Sebagai pengikut Kristus, tentunya kita tahu bahwa untuk memperoleh hidup kekal kita harus melakukan kehendak Bapa dengan segala konsekuensinya! Siapkah kita dikucilkan oleh masyarakat karena menentang atau menolak korupsi? Beranikah kita dimusuhi lingkungan kerja karena mempertahankan kejujuran? Kalau kita menganggap bahwa kehidupan kekal adalah yang paling berharga, tentu kita tidak segan berkorban untuk mendapatkannya seperti yang dilakukan oleh para Rasul yang tanpa ragu bersaksi, […] "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia”. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia." (Kis 5:29-32). Bahkan mereka merasa sukacita walaupun disesah karena merasa dianggap layak untuk ikut mengalami penderitaan seperti Sang Idola!Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus (ayat 41).
Allah sangat mengasihi kita dan tidak menginginkan satu dombapun hilang. Dia tahu bahwa sangat banyak dombanya yang masih berkeliaran, merana dan tersesat. Diperlukan banyak tangan dan usaha untuk membawa domba-domba ini kepada jalanNya! Allah tidak memilih manusia super untuk menggembalakan domba-domba yang merana itu, tapi menunjuk manusia sederhana bekas nelayan kasar yang telah menyangkalNya tiga kali. Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. (Yoh 21:17).
Semakin banyak kita berhutang dan hutang itu dihapuskan, semakin besar rasa syukur dan hutang budi yang kita rasakan! Kalau kita mau hitung-hitungan perihal dosa, mungkin bisa kita pakai perumpamaan Yesus (Mat 18:23-35), bahwa nilai kesalahan kita kepada Allah sebesar 10,000 Talenta sedangkan nilai kesalahan sesama kepada kita hanya 100 Dinar (1 Talenta = 6,000 Dinar), maka apabila Allah telah menghapus dosa kita, tentunya kitapun harus mengampuni dosa sesama kita! Dengan analogi yang sama, dalam kondisi apapun dan dalam keadaan yang bagaimanapun, tentu seharusnya kita lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia!
Sesungguhnya pilihan itu tidaklah sulit; lantas, kita mau pilih yang mana?




