Pegawai pajak zaman Yesus tidak jauh bedanya dengan pegawai pajak masa kini. Penuh kontroversi dan banyak mendapat sorotan masyarakat. Tapi mengapa bisa, Yesus begitu akrab ketika melihat Zakheus di atas pohon? Diceritakan, “Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." (Luk 19: 5). Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita (ayat 6). Memang, seperti terjadi pada Zakheus, keselamatan atau dapat dirumuskan sebagai rasa-perasaan damai, sukacita dan sejahtera hidup seseorang akan didapatkan kalau manusia dekat dengan sang sumber hidup, yaitu Yesus. Dekat dalam pengertian ini adalah adanya jalinan komunikasi untuk membangun tali persahabatan, “Aku menyebut kamu sahabat (bukan hamba), karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh 15: 15). Seorang sahabat adalah “alter ego” atau diriku yang lain, bagian jiwa kita, seperti dikatakan Santo Agustinus, “Karena seorag sahabat adalah diri saya yang lain, saya dapat bicara dengan dia tentang apa saja yang biasanya hanya saya bicarakan dengan diri saya sendiri, dan saya menyadari memiliki sahabat sejati, ketika saya berani percaya kepadanya tentang apa yang biasanya saya simpan sendiri.” Dalam persahabatan, lanjut Santo Agustinus, kamu mengalami dirimu tidak hanya sebagai dirimu saja tetapi juga diri kita yang lain bahkan dalam hal yang paling rahasia dalam diri kita, jiwa kita, yang tidak mungkin kita buka bagi orang yang bukan sahabat. Tanpa seorang sahabat, hidup terasa hampa dan tidak berharga karena tidak ada yang dekat. Itulah sebabnya Yesus, Sang Sahabat Sejati, selalu membuang hal-hal yang menghalangi orang dekat dengan diriNya. Penghalang itu, seperti dosa, kelemahan manusiawi, cap dan penghakiman orang lain, bukan hanya meminggirkan orang tetapi bahkan menjauhkan orang itu dengan dariNya. Yesus menyingkirkan penghalang yang menyebabkan seorang seperti Zakheus jauh dari Nya.
Yesus membuka babakan baru dalam hidup Zakheus, yaitu membuka persahabatan sejati dengannya. Dari sisi Zakheus, ia punya keberanian untuk menemui dan menyambut Yesus sebagai sahabat. Dengan demikian persahabatan menjadi amat penting dalam seluruh hidup kita yang merupakan perjalanan tersendiri tetapi bukan perjalanan seorang diri. Zakheus mendengar, mendatangi dan berjumpa dengan Yesus sehingga menerima keselamatan. Relasi kita dengan Tuhan dapat disejajarkan dengan pasang surut kita dalam membina persahabatan dengan Yesus. Yesus adalah wajah Tuhan yang mendatangi kita yang juga tampak dalam wajah-wajah para sahabat kita yaitu sesama kita. Membina relasi persahabatan dengan Tuhan dan sesama lewat doa dan merenung menyadari kebersamaan dengan Yesus, bukan hanya menjadi modal untuk mampu berbuat baik, sabar, bekerja keras dan tekun, tetapi juga menjadikan kita mampu menangkap misteri dan keagungan karya Tuhan sebagai Bapa yang Mahabaik dalam hidup kita setiap hari. ***
Pada thn 1951 Edmund Hillary berusaha mendaki puncak tertinggi dunia “Mount Everest”, namun gagal. Thn berikutnya, 1952, dia berusaha lagi, namun gagal. Tanpa kehilangan semangat, thn. 1953, dia berusaha bersama Tenzing Norgay, pemandu jalan bangsa Sherpa. Dan kali ini Edmund Hillary akhirnya berhasil menaklukkan Mount Everest. Dia menjadi orang pertama yg berhasil mencapai puncak tertinggi dunia. Kesuksesan Edmund Hillary mencapai Mount Everest krn dia tidak pernah menyerah setelah dua kali gagal. Pantang menyerah adalah semangat dasar org sukses. Maka benar kata-kata orang bijak : “Kegagalan adalah sukses yg tertunda”.
Injil hari ini (Lk 18:1-18) berbicara ttg SIKAP TEKUN atau tak kenal menyerah - khususnya dlm hal berdoa. Utk menggambarkan sikap itu, Yesus menceriterakan ttg “seorg hakim dan janda”. Masyarakat Yahudi tdk mengenal lembaga kehakiman. Masalah hukum biasanya diselesaikan oleh “orang tua-tua”. Hakim yg disinggung Yesus dlm injil hari ini adalah hakim yg diangkat oleh Penguasa Romawi. Mereka begitu berkuasa dan sangat ditakuti. Juga terkenal korup, krn sering memeras pihak-pihak yg berperkara. Injil menggambarkannya sbg org yang “tdk takut akan Allah dan manusia” (ayat 2). Jadi, hakim di sini adalah simbol pihak yg berkuasa dan kaya raya. Maka masuk akal kalau hakim ini tdk peduli mengurus perkara seorg janda. Janda adalah simbol pihak yg miskin dan tdk berdaya. Namun mengapa hakim itu mau membantu janda yg miskin itu? Alasannya : krn janda itu selalu (baca : tdk berhenti, tetap tekun) mendatangi hakim itu (bdk. ayat 3). Lalu Yesus membandingkan sikap hakim itu dgn sikap Allah. “Tidakkah Allah membenarkan org-orgpilihan yg siang malam berseru kpdNya ?” (ayat 7) atau bdk Lk 11:13 “jika kamu yg jahat memberi apa saja ygbaik kpd anak-anakmu, apalagi Bapamu yg di surga”. Injil lalu ditutup dgn pertanyaan yg menggugat “apakahIa akan menemukan iman di bumi?” (ayat 18). Bacaan I (Kel 17:8-13) juga menceriterakan sikap tak menyerah. Ketika org Israel berperang melawan org Amalek, Musa mendukung dgn berdoa sambil mengangkat tangan. Agar tangan Musa tetap terangkat, maka Harun dan Hur menopangnya, sehingga orang Israel akhirnya menang (Kel. 17:12-13).
Apa yg dpt kita petik dari bacaan-bacaan hari ini ? 1) Kesuksesan hanya milik org yg memiliki sikap “pantang menyerah”. Dlm bukunya “Berani Gagal”, Billi P.S. Lim menceriterakan kisah tokoh-tokoh dunia, seperti : Abraham Lincoln, Thomas Alva Edison, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, dll. Satu hal yg sama dlm diri mereka adalah SIKAP PANTANG MENYERAH. Mereka tdk akan berhenti sebelum mimpinya menjadi kenyataan. Janda dlm injil bersikap demikian juga. Dia “selalu datang kpd hakim itu” sampai perkaranya tuntas (ayat 3). Yesus menegaskan sikap ini : “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihannya yg siang-malam berseru kpdNya” (ayat 7). 2) Kesuksesan hanya bisa dicapai dlm kebersamaan. Kesuksesan Edmud Hillary mencapai puncak Mount Everest tdk terwujud tanpa panduan Tenzing Norgay. Musa berhasil mendoakan kemenangan pasukan Israel, krn dibantu oleh Harun dan Hur. Kita tdk sukses sendirian. Selalu ada org-org lain di sekitar kita yg turut berperan. Demikian juga doa. Doa punya aspek kebersamaan.“Di mana 2atau 3 orang berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mt 18:20). 3) Kesuksesan bisa tercapai kalau ada “rasa percaya”, baik terhdp diri sendiri maupun terhdp Allah. Selalu ada faktor “x” dlm setiap kesuksesan. Dan dlm kaca mata iman, kita percaya bhw faktor “X” itu adalah “campur tangan Allah”. Tdk ada kesuksesan tanpa Allah. Demikian juga dlm hal doa. Kita percaya bhw Allah mengabulkan doa-doa kita. Tapi kapan ? Hanya Allah yg tahu. Dari kita dituntut memiliki IMAN kpdNya, krn “jika kamu yg jahatmemberi apa saja yg baik kpd anak-anakmu, apalagi Bapamu yg di surga” (Lk. 11:13). Maka pertanyaan dlm injil hari ini ditujukan juga kpd kita : Apakah kita memiliki sikap “pantang menyerah” (= berdoa siang malam) ? Apakah kita berdoa bersama orang-orang lain (bdk. Musa, Harun, Hur) ? Apakah kita percaya bhw Allah akan memberikan “yg terbaik kepada kita” ? Kalau kita berani menjawabnya “ YA”, maka mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yg memiliki ‘IMAN’ ketika Tuhan datang. Semoga !
Sudah 10 thn Pak Anton menderita migrain. Dia sdh bolak balik ke klinik utk berobat, namun tdk sembuh-sembuh. Dia juga sdh coba pengobatan alternatif, namun tdk ada perubahan berarti. Sampai suatu saat istrinya mengajak Pak Anton mengikuti Seminar Penyembuhan di Katedral Jakarta. Walau agak berat, pak Anton berangkat juga. Tiba agak terlambat di Katedral, Pak Anton dan istrinya mengikuti seminar itu dgn serius. Seperti biasa, di akhir Seminar yg berlangsung selama hampir 2 jam, Romo Pembawa Seminar mengajak peserta menyerahkan diri kpd Tuhan agar bisa mengangkat berbagai penyakit fisik maupun psikis. Pak Anton yg menyadari dirinya sdh lelah berobat ke mana-mana, kini hanya berharap pada kekuatan Allah. Selama Romo membawakan doa penyembuhan, Pak Antonpun ikut berdoa dalam hati mohon mukjizat penyembuhan : “Tuhan Yesus, kalau dulu Engkau mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, membuat orang buta bisa melihat, orang bisu bisa berbicara, orang lumpuh bisa berjalan, bahkan orang matibisahidup kembali, kini sembuhkanlah migrain yg telah kuderita bertahun-tahun”. Demikian doa yg diucapkannya berulang-ulang dgn penuh keyakinan. Istrinya yg tercinta turut meneguhkan doa Pak Anton sambil meletakkan tangan di bahunya. Dan tiba-tiba, Pak Anton merasakan sebuah cahaya putih menerangi kepalanya, sehingga terasa panas. Dan beberapa saat kemudian, dia merasa migrainnya hilang. Puji Tuhan! Kekuatan iman Pak Anton mampu menyembuhkan migrain yg 10 thn dideritanya. Bagi orang beriman, tidak ada yg mustahil !!
Bacaan injil hari ini (Lk 17:5-10) berbicara ttg KEKUATAN IMAN. “Kalau kamu mempunyai iman sebesarbiji sesawi saja, kamu bisa memerintahkan pohon ara ini tercabut dan tertanam di laut” (Lk 17:6). Biji sesawi adalah biji terkecil dari semua biji-bijian dan pohon ara merupakan pohon dgn akar yg sangat kuat dan dalam serta bisa mencapai usia ratusan thn. Kutipan Lukas di atas mirip dgn Mt 21:21 : “….jikalau kamu berkata kepada gunung ini : beranjaklah dan tercampaklah ke dlmlaut, hal itu akan terjadi”. Sabda Yesus ini disampaikan setelah Dia mengutuk pohon ara sehingga kering (Mt 21:18-20). Di dlm injil terdapat 4 jenis pernyataan Yesus ttg iman. 1) Iman adalah prasyarat sebuah mukjizat. Bdk Mt 9:28 : “Percayakah kamu bhw Aku dpt melakukanNya ? Orang buta itu menjawab : Ya Tuhan,kami percaya” Dan org buta itu kemudian disembuhkan. 2) Setelah mukjizat terjadi. Bdk Mt 9:22 “…hai anakKu, imanmu telahmenyelamatkan engkau”.3) Yesus menegur murid-murid krn kekurangan iman. Bdk. Mt 8:26 “Mengapa kamu takut, hai kamu yg kurang percaya?” 4) Yesus memuji perwira yg memiliki iman yg dalam. Mt 8:5-13 “ …sesungguhnya iman sebesar ini tdk pernah Aku jumpai pada seorangpun diantara org Israel”. Iman adalah penyerahkan total kpd Allah dan pondasi dasar hidup beragama. Tanpa “iman”, hidup beragama hanyalah slogan. Iman begitu dahsyat. Dia menyatukan manusia dari berbagai suku, bangsa dan bahasa sbg ”saudara dan saudari” dlm Kristus. Iman juga yg menjadi sumber dan pusat hidup para rohaniwan/ti. Mereka meninggalkan segala-galanya krn iman. Imanlah juga yg menjadi pondasi hidup gereja. Tanpa “iman”, gereja tdk mungkin bertahan 2000-an thn dan akan terus bertahan. Iman itu juga yg membuat kita bertahan dalam berbagai cobaan dan penderitaan, bahkan siap menghadapi maut sekalipun. Beato Yohanes Paulus II mengatakan : “Sikapmu dalam situasi krisis, seperti dalamcobaan dan penderitaan akan menunjukkan kadar imanmu kpd Allah”. Iman itulah yg “mengubah” dan “membentuk” diri kita, seperti ditegaskan dlm bacaan pertama : “Orang yg benar akan hidup oleh imannya” (Hab 2:4). Ceritera ttg “hamba yg tak berguna” dlm injil hari ini (Lk 17:7-10) menggambarkan sikap seorang beriman yg loyal. Kita hanyalah hamba-hamba yg hrs melakukan pekerjaan Tuhan. Dan nasehat Rasul Paulus kpd Timotius dlm bacaan II relevan juga utk kita. “Peganglah segala sesuatu yg telah engkau dengar .. dan lakukanlah itu dlm iman dan kasih akan Kristus Yesus” (2 Tim 1:13). Dan jika percaya kepadaNya, maka “kita dpt melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan, bahkan yg lbh besar daripada itu” (Yoh 14:12). Itulah kekuatan IMAN !!
Pada suatu hari seorg Ibu muda mendatangi seorg Counselor. Dia mempunyai seorg anak kecil berusia 4 thn yg super aktif. Anak itu tdk pernah tinggal diam. Mainannya slalu terpencar ke mana-mana. Bahkan kursi di rumahpun dijadikan mobil-mobilan. Dia juga senang bermain air sehingga lantai basah dan licin. Kalau sdg makan, dia tdk pernah tinggal diam. Sisa-sisa makanan bisa tercecer di mana-mana. Dinding-dinding rumahpun penuh coretan-coretan. Suasana rumah benar-benar berantakan. Ketika anak kecil itu pergi tidur di malam hari, barulah Ibu itu membereskan kembali rumahnya. Dan itu pekerjaan rutin setiap hari : menyapu, pel dan mengatur kembali kursi-kursi yg berantakan. Belum lagi mencuci baju yg kotor dan menyeterika. Merasa capeh dgn pekerjaan seperti itu, sang Ibu itu minta nasehat seorg Counselor. Dgn rasa kesal dia menceriterakan situasi rumahnya yg berantakan. Setelah mendengar ceritera Ibu tadi, si Counselor berkata : "Sekarang mana yg Ibu pilih : rumah slalu teratur dan bersih, tapi hidup sendirian tanpa anak, atau hidup seperti sekarang tapi dgn anak ?" Lalu Counselor itu membacakan sebuah tulisan kecil sbb : "Mendengar istri/suami mengomel di rumah itu berarti aku masih punya keluarga; merasa lelah setiap sore, itu berarti aku masih punya pekerjaan; membersihkan piring dan gelas kotor setelah menerima tamu, itu berarti aku masih punya teman; pakaianku terasa agak sempit, itu berarti aku makan cukup; mencuci dan menyeterika tumpukan baju, itu berarti aku memiliki pakaian ... dst. Akhirnya banyak hal yg kita bisa syukuri setiap hari ". Mendengar renungan itu, si Ibu itu meneteskan air mata dan kembali ke rumahnya dgn hati penuh syukur. Bacaan injil hari ini (Lk 17:11-19) berbicara ttg BERSYUKUR. Ketika Yesus menyusur perbatasan Galilea dan Samaria – tdk dijelaskan tepatnya di mana - datang 10 org kusta : 9 org Yahudi dan 1 org Samaria. Org Yahudi biasanya bermusuhan dgn org Samaria. Namun dlm penderitaan, mereka bisa hidup bersama. Jika seseorg dinyatakan "kusta" oleh seorg imam, maka dia dianggap najis dan hrs dikucilkan di luar kampung. Dia berpakaian compang-camping, tubuh diolesi abu dan hrs berteriak : "Najis, najis agar tdk bersentuhandgn org sehat" (bdk. Im 13:45-46). Yesus tdk menyembuhkan mereka secara langsung, melainkan menyuruh mereka memperlihatkan diri kpd imam. Sesuai hukum Taurat, hanya seorg imam yg bisa menyatakan seorg kusta sdh sembuh atau belum (bdk. Im 13). Setelah 10 org kusta itu sembuh, ternyata hanya 1 org yg kembali kpd Yesus utk mengucap syukur sedangkan 9 org tdk. Dan org itu adalah seorg Samaria. Bacaan injil hari ini, mirip dgn bacaan pertama ttg Naaman yg disembuhkan oleh Nabi Elisa. Naaman adalah Panglima Raja Aram. Setelah disembuhkan, dia mengakui bhw "tdkada Allah kecuali di Israel" (II Raj 5:15) serta siap menyerahkan "10 talenta perak, 6000 syikal emasdan 10 potong pakaian" (II Raj 5:5). Apa makna yg kita petik dari ceritera di atas ? 1) Penderitaan akibat “kusta” menyatukan org Yahudi dan Samaria. Kondisi kita yg tercemar akibat dosa dan dislamatkan oleh wafat, kematian dan kebangkitan Kristus menyatukan kita sbg anggota gereja. 2) Ke-10 org Kusta tdk disembuhkan secara langsung, melainkan ketika mereka di dlm perjalanan. Mukjizat tdk slalu terjadi pd saat kita diam, melainkan pd saat kita "sibuk". Oleh krn itu butuh "kepekaan rohani" utk menyadari bhw kita telah mengalami mukjizat dari Tuhan. 3) Org luar (Samaria) datang mengucap syukur kpd Yesus, sementara orang sebangsanya tidak. Dlm kehidupan sehari-hari, ucapan terimakasih seringkali datang dari org lain, bkn dari anggota keluarga sendiri, rekan se-kantor atau warga lingkungan sendiri. Dkl, org lain seringkali lbh menghargai kita dp org kita sendiri. 4) Rumusan : 10 %. Dari 10 org yg disembuhkan, hanya 1 org yg mengucap syukur atau hanya 10%. Ini menunjukkan bhw lbh banyak org yg “lupa” bersyukur (90%) dp org yg “tahu” bersyukur (100 %). Atau hal lain : dari 10 “berkat” yg diterima, hanya 1 “berkat” yg menggerakkan kita utk bersyukur. Rasa syukur sama sekali tdk seimbang dgn berkat yg diterima. Pertanyaan Tuhan dalam injil hari ini : “Di manakah yg sembilanorang itu” (Lk 17:17) pantas utk direnungkan. Maka, di manakah posisi kita ?
Betapa mahabesar dan mahaadilnya Allah Sang Pencipta langit dan bumi! Semua diciptakan sangat baik, sangat indah dan adil! Kekayaan variasi yang tak terbatas semakin mempercantik alam! Kekuatan dan kelemahan setiap elemen menjadi bagian manusia untuk ‘mengelola’ sedemikian supaya ‘lulus’ dalam ujian hidup di alam fana ini! Sudah ada keseimbangan antara kelebihan duniawi dan potensi sorgawi. Orang yang diberi kelebihan dalam aspek fisik-duniawi (wajah dan kekayaan) biasanya memiliki kelemahan dalam aspek spiritual (sombong dan mengandalkan diri); sebaliknya, kekurangan dalam bidang fisik-duniawi (orang miskin) biasanya ‘otomatis’ cenderung bersandar dan dekat pada Allah.
Oleh karena itu orang yang miskin dihadapan Allah dan yang dianiaya oleh sebab kebenaran disebut bahagia karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga; demikian pula, orang yang berduka cita juga seharusnya berbahagia karena mereka akan mendapat penghiburan dalam KerajaanNya! Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. (Luk 16:22-25).
Allah tak harus menunggu pengadilan akhir untuk menghukum orang yang berfoya-foya tak tahu diri. Nabi Amos mengingatkan hukuman Allah bagi orang yang berpesta pora tanpa mempedulikan kondisi masyarakat yang tengah menuju kehancuran. "Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, yang berbaring di tempat tidur dari gading dan duduk berjuntai di ranjang; yang memakan anak-anak domba dari kumpulan kambing domba dan anak-anak lembu dari tengah-tengah kawanan binatang yang tambun; yang bernyanyi-nyanyi mendengar bunyi gambus, dan seperti Daud menciptakan bunyi-bunyian bagi dirinya; yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf! (Am 6:1,4-6).
Santo Paulus juga berpesan agar kita waspada terhadap uang dan berani melawan nafsu duniawi yang bercokol di hati kita. Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi. Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu: Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. (1Tim 6:11-15).
Maukah kita menahan diri berjuang melawan nafsu duniawi? Atau perlu bukti dari dunia orang mati? [..] “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." (Luk 16:31)
Betapa mahabesar dan mahaadilnya Allah Sang Pencipta langit dan bumi! Semua diciptakan sangat baik, sangat indah dan adil! Kekayaan variasi yang tak terbatas semakin mempercantik alam! Kekuatan dan kelemahan setiap elemen menjadi bagian manusia untuk ‘mengelola’ sedemikian supaya ‘lulus’ dalam ujian hidup di alam fana ini! Sudah ada keseimbangan antara kelebihan duniawi dan potensi sorgawi. Orang yang diberi kelebihan dalam aspek fisik-duniawi (wajah dan kekayaan) biasanya memiliki kelemahan dalam aspek spiritual (sombong dan mengandalkan diri); sebaliknya, kekurangan dalam bidang fisik-duniawi (orang miskin) biasanya ‘otomatis’ cenderung bersandar dan dekat pada Allah.
Oleh karena itu orang yang miskin dihadapan Allah dan yang dianiaya oleh sebab kebenaran disebut bahagia karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga; demikian pula, orang yang berduka cita juga seharusnya berbahagia karena mereka akan mendapat penghiburan dalam KerajaanNya! Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. (Luk 16:22-25).
Allah tak harus menunggu pengadilan akhir untuk menghukum orang yang berfoya-foya tak tahu diri. Nabi Amos mengingatkan hukuman Allah bagi orang yang berpesta pora tanpa mempedulikan kondisi masyarakat yang tengah menuju kehancuran. "Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, yang berbaring di tempat tidur dari gading dan duduk berjuntai di ranjang; yang memakan anak-anak domba dari kumpulan kambing domba dan anak-anak lembu dari tengah-tengah kawanan binatang yang tambun; yang bernyanyi-nyanyi mendengar bunyi gambus, dan seperti Daud menciptakan bunyi-bunyian bagi dirinya; yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf! (Am 6:1,4-6).
Santo Paulus juga berpesan agar kita waspada terhadap uang dan berani melawan nafsu duniawi yang bercokol di hati kita. Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi. Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu: Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. (1Tim 6:11-15).
Maukah kita menahan diri berjuang melawan nafsu duniawi? Atau perlu bukti dari dunia orang mati? [..] “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." (Luk 16:31)