SUKACITA KARENA KEBANGKITAN
SUKACITA KARENA KEBANGKITAN
Murid-murid Yesus yang sedang galau karena kehilangan Sang Pemimpin seperti orang linglung yang tidak bisa berpikir jernih; padahal sudah tiga kali Yesus menyampaikan kepada mereka bahwa Dia akan ditangkap, dihina, dianiaya, dibunuh dan bangkit pada hari ketiga. Mereka percaya bahwa Yesus adalah Nabi yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah. Mereka mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Namun ketika semuanya itu terjadi mereka kebingungan! Dan setelah tiga hari peristiwa penyaliban mereka mendapat berita yang dapat dipercaya bahwa mayat Yesus tidak ada dan bahwa malaikat-malaikat mengatakan bahwa Ia hidup, mereka semakin kebingungan! Sehingga Yesus menegur mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. (Luk 24:25-27).
Dengan alasan apapun, bukankah kita juga sering lalai atau abai pada sesuatu hal yang sebenarnya penting? Kita tahu bahwa hidup di dunia fana ini hanya sementara; kita percaya bahwa ada kehidupan kekal setelah masa hidup di dunia ini; kita tahu bahwa Allah akan menghakimi kita berdasarkan perbuatan yang kita lakukan selama hidup didunia ini untuk menentukan apakah kita layak masuk dalam KerajaanNya! Bahwa siapa melakukan kehendak Bapa yang di Sorga akan memperoleh hidup yang kekal, dan siapa yang tidak melakukan kehendak Bapa akan menerima hukuman di Neraka!
Namun, kita tetap mengandalkan kekuatan kita dan melakukan keinginan kita sendiri; kita masih terkejut mendengar atau mengetahui kematian dari orang-orang dekat & kerabat kita; kita masih menyayangkan dan merasa ‘kasihan’ melihat orang baik mati muda! Masih kurang percayakah kita bahwa Allah tidak akan membiarkan orang yang melakukan kehendakNya jatuh binasa? Kebangkitan Yesus yang membawa sukacita dunia diwartakan dengan penuh semangat oleh St. Petrus: Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu. (Kis 2:24-28).
Dengan penuh kegembiraan karena telah diselamatkan oleh kebangkitan Yesus, St. Petrus memberi nasihat supaya kita berhati-hati agar tidak terpeleset menuruti hawa nafsu yang menguasai kita pada waktu kebodohan. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. (1 Ptr 1:17).
Sukacita keselamatan itu terlalu berharga dibanding kenikmatan sesaat karena menuruti hawa nafsu yang menguasai pada waktu kebodohan kita; semoga teguran Yesus: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu” menyadarkan kita untuk selalu berjaga-jaga…





Saat para murid sedang berkumpul di dalam kamar terkunci, Yesus menampakan diri diantara mereka. Dulu saya membayangkan betapa senangnya mereka saat melihat Yesus hadir diantara mereka, akan tetapi setelah dipikir-pikir, disana ada Petrus yang telah menyangkal Yesus tiga kali, Yakobus dan Yohanes yang ketiduran sewaktu diminta menjaga Yesus berdoa, dan semua murid Yesus yang lain juga malah lari terbirit-birit ketakutan saat Yesus ditangkap. Saya membayangkan kalau ada seorang kenalan yang meninggal tiga hari lalu, sementara disaat-saat akhir hidupnya saya banyak berbuat kesalahan kepadanya, lalu tiba-tiba dia menampakan diri dihadapan saya, reaksi pertama saya pasti sangat ketakutan. Akan tetapi yang diucapkan Yesus saat pertama kali menampakan diri kepada mereka justru sangat menenteramkan: “Damai sejahtera bagi kamu!” Sungguh suatu sapaan yang menyejukan hati, walaupun sebenarnya semua murid-murid-Nya sudah melakukan kesalahan kepada Yesus. Bahkan sesudah itu, Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada mereka, yang mengingatkan akan debu tanah yang dihembusi oleh Allah dan menjadi manusia (Kej 2:7). Karena Yesus memang ingin agar kita murid-murid-Nya mempunyai hidup yang baru.
Beberapa hari yang lalu saya bertanya kepada anak saya: “Sedang belajar apa?”, dan anak saya menjawab: “Papa mau tahu aja... apa mau tahu banged???”, dengan lucunya. Tetapi jawaban anak saya itu rupanya terbawa saat saya merenungkan bacaan-bacaan hari ini. Bacaan pertama adalah bagian dari sebuah kisah yang sangat terkenal, yaitu: “Kisah Tulang Yehezkiel”, dimana dikatakan nabi Yehezkiel berada di dalam lembah yang dipenuhi dengan tulang-tulang kering. Lalu Tuhan menyuruh dia untuk bernubuat kepada tulang-tulang itu, dan kemudian daging dan kulit tumbuh pada tulang-tulang itu serta akhirnya mereka bangkit hidup kembali. Tentu saja disini kita melihat betapa hebatnya kuasa Tuhan, akan tetapi yang lebih menarik adalah betapa besarnya keinginan Tuhan untuk membangkitkan kembali umat-Nya (3 kali diucapkan dalam perikopnya), bahkan umat-Nya yang telah menjadi tulang-tulang kering sekalipun (tulang-tulang kering menggambarkan besarnya penderitaan orang Israel pada pembuangan Babylon, dan telah lenyapnya harapan mereka). Sehingga bila kita dapat bertanya kepada Tuhan: “Tuhan, apakah Engkau mau membangkitkan umat-Mu.... mau aja.. apa mau banged??”, kiranya Tuhan akan menjawab: “Mau banged!”. (Buktinya Ia mengutus Putera terkasih-Nya untuk menderita bagi manusia). Akan tetapi, sungguh ironis apabila di satu sisi kita melihat begitu besarnya keinginan Tuhan agar umat-Nya hidup dan merdeka (Aku akan membuka kubur-kuburmu, membangkitkanmu… dan membiarkan kamu…), akan tetapi disisi lain kita melihat betapa besar pula kerinduan manusia untuk memperoleh keselamatan tetapi merasa tidak dapat memperolehnya, seperti yang diratapkan oleh pemazmur hari ini: “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! — Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti” (Maz 130). Bukankah sungguh aneh apabila dari satu sisi Tuhan ingin menyelamatkan umat-Nya, akan tetapi dari sisi lain manusia justru juga sangat ingin diselamatkan Tuhan, akan tetapi seolah-olah kedua hal itu tidak bisa terjadi? Kitab Roma pada bacaan kedua memberi penjelasan: “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu.”. Rupanya tinggal dalam Roh Allah adalah kuncinya, dan kita tahu bahwa kita perlu berdamai kembali dengan Allah (bertobat), dan melalukan perintah-Nya untuk tinggal di dalam-Nya, persis seperti yang sedang anda dan saya lakukan dalam masa Prapaskah ini. Kesemuanya itu dirangkum dan disimpulkan oleh Yesus dalam Injil hari ini saat Ia membangkitkan Lazarus, kata-katanya: “Saudaramu akan bangkit”–“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.”–“Angkat batu itu!”(membuka kubur)–“Lazarus, marilah ke luar!”–“Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi”(memerdekakan). Menegaskan kembali betapa besarnya keinginan Tuhan akan keselamatan kita. Dan bagi kita yang sebentar lagi merayakan Paskah, apakah kita sudah mau sungguh-sungguh percaya dan hidup dalam Roh Tuhan agar kita turut dibangkitkan kelak?.. Mau aja.. apa mau banged??
Dengan tibanya Minggu Palma kita mengakhiri masa Prapaskah dan mulai memasuki Pekan Suci, yaitu puncak dari upacara-upacara liturgi Gereja Katolik, sekaligus puncak dari perayaan iman kita. Perarakan liturgi Minggu Palma dimaksudkan untuk menghadirkan kembali peristiwa penyambutan Yesus secara meriah di Yerusalem Mat 21:1-11. Di sini Matius menggambarkan kedatangannya sebagai raja yang memasuki kota dimana kemuliaan-Nya yang sejati akan tampak, yakni kebangkitan-Nya. Kemudian Injil Minggu Palma tahun ini menelusuri peristiwa-peristiwa dalam Kisah Sengsara menurut Matius. Mengapa Dia yang disambut meriah di kota kediaman Yang Maha Kuasa membiarkan diri ditolak oleh para pemimpin di situ? Mengapa Ia tidak membela diri atau balas menyerang dengan kekuatan masa yang menyambut-Nya di sana? Dari bacaan pertama Yes 50:4-7 dapat diketahui sikap batin yang dimiliki Yesus. Ia hamba yang taat seutuhnya pada Yang Mahakuasa, bukan karena Ia mau menunjukkan ketaatan dengan menjalani segala akibat pilihan ini, melainkan karena kehidupan-Nya memang sudah terarah untuk itu. Sang hamba mengakui bahwa Ia diutus untuk menyampaikan Sabda Ilahi kepada siapa saja yang letih lesu, yang tidak lagi mampu mencari tahu kehendak-Nya. Itulah sebabnya Matius menggambarkan Yesus masuk ke Yerusalem dengan dua keledai, yaitu satu keledai betina muda, dan satu lagi anaknya, yang berarti selain masuk sebagai raja, Yesus juga masuk sebagai seorang pelayan. Matius mengajak mereka yang mendengar Injilnya melihat dengan mata batin kedua sisi Yesus itu: sebagai raja yang penuh wibawa tapi juga sebagai utusan Tuhan yang emah lembut. Dengan demikian nanti dalam mengikuti kisah penghinaan, penderitaan, penyalibannya orang akan tetap dapat melihat sisi Yesus yang anggun dan berwibawa itu. Dan sebelum memasuki passio, yaitu pembacaan kisah sengsara Yesus secara lengkap, terlebih dahulu kita dihantarkan pada bacaan kedua (Fil 2:5-11), yaitu suatu doa dan nyanyian kuno yang telah dinyanyikan berabad-abad oleh para rahib Benediktin, yang dikenal dengan nama Carmen Christi. Suatu doa luar biasa, yang bila dilantunkan berkali-kali dalam suasana meditasi akan membawa pada kekuatan dan keteguhan iman seperti yang dimiliki para rahib jaman dahulu. Karena tanpa kekuatan iman itu, orang hanya akan melihat kesengsaraan Yesus sampai pada kesia-siaan belaka, daripada misi mulia yang sedang dijalani Yesus. Pada masa Prapaskah tahun ini, bapa uskup telah meminta kita untuk merenungkan tema Prapaskah: “Dipilih untuk Melayani” dalam pertemuan-pertemuan lingkungan kita. Dan kiranya hasil permenungan kita itu akan disimpulkan dalam rentetan liturgi Pekan Suci ini. Dimana dalam surat gembalanya bapa uskup menyatakan tujuan dari melayani adalah untuk “Menampilkan wajah Allah”, karena iman yang sejati akan berbuah persaudaraan, dan selanjutnya persaudaraan yang sejati akan berbuah pelayanan yang tulus dan gembira. Semoga Paskah kali ini membawa kita semua kepada persaudaraan yang sejati dan kemudian kepada pelayanan yang tulus dan gembira, karena menjadi pengikut Yesus adalah berjalan bersama Dia untuk menampilkan wajah Allah di bumi.
Helen Keller adalah seorg dosen, penulis, pejuang kemanusiaan dan inspirator. Dia lahir 7 Juni 1880 di Tuscumbia, Alabama, USA sbg anak normal, namun jadi buta dan tuli di usia 19 bln krn meningitis. Dlm usia 14 thn, Helen Keller masuk “The Wright Humason School for the Deaf” di New York dan lanjut ke Radcliffe College. Thn 1904 dia tamat dgn predikat “cum laude” sbg Tuna Netra & Tuna Rungu pertama yg capai gelar “Bachelor of Arts”. Dia menulis 14 buku, al : The Story of my life, The World I live In. Dia kunjungi 35 negara di 5 benua utk kampanye “kepedulian bagi yg cacat, khususnya yg buta dan tuli”. Atas prestasi tsb, Helen Keller meraih banyak penghargaan baik di USA maupun dunia. Hari kelahirannya diperingati sbg Hari Nasional di Pennsylvania - USA. Namun siapa di balik suksesnya Helen Keller ? Dialah Anne Mansfield Sullivan, guru dan temannya selama 49 thn. Anne, lulusan terbaik Perkins Institution for the Blind di Boston / USA, seorg Tuna Netra. Thn 1887 Anne bergabung dgn keluarga Keller. Membimbing Helen, yg buta dan tuli serta bersifat kasar dan keras kepala tdk gampang. Namun dgn penuh kesabaran dan kasih sayang, Anne mendidiknya. Baru 1 bln bimbingan terjadi peristiwa luar biasa. Helen mampu mengucapkan kata “WATER” (air). Setlh itu kemajuan demi kemajuan terjadi sangat cepat. Peran penting Anne Sullivan dikisahkan William Gybson dlm film "Miracle Worker", di mana Anne digambarkan sbg Tokoh yg tlh membuat mukjizat atas Helen Keller, yg awalnya buta dan bisu menjadi salah satu Tokoh Dunia abad XX. Kehebatan Helen Keller tdk mungkin tercapai tanpa Anne Sullivan. Injil hari ini (Yoh 9:1-41) ttg YESUS MENYEMBUHKAN MATA ORG YG BUTA SEJAK LAHIR. Mukjizat ini agak unik, krn Yesus menggunakan media (“tanah dan ludah”); mengolesnya di mata si pasien; lalu menyuruh dia membasuh di kolam Siloam. Mukjizat ini menuai kontroversi krn terjadi pd hari Sabat. Pd hari Shabbat yg artinya “berhenti bekerja”, org dilarang melakukan pekerjaan, seperti : menabur, menuai, menyalakan api, memasak, mencuci, kecuali berdoa, kunjungi sanak keluarga atau terima tamu. Selain Yesus dan si Tuna Netra, ada 3 pihak lain dlm kisah ini, yaitu : para murid, kaum Farisi dan keluarga. Para murid mendorong terjadinya mukjizat (“siapa yg berdosa, sehingga ia dilahirkan buta” – ayat 3); kaum Farisi mengecam terjadinya mukjizat (“Orang ini tdk datang dari Allah” ayat 16); keluarga bersikap lepas tanggungjawab krn takut (“Tanyakanlah kpdnya sendiri, ia sdh dewasa, ia dpt berkata-kata utk dirinya sendiri” - ayat 21). Dlm kisah ini terjadi pertumbuhan iman si Tuna Netra dgn mengakui Yesus sbg : “Orang yg disebut Yesus” (ayat 11); “Dia seorang Nabi” (ayat 17); “Percayakah engkau akanAnak Manusia ? Aku percaya, Tuhan” (ayat 35-38). Sebaliknya, 3 kali kaum Farisi tdk mengakui Yesus : “Org ini tdk datang dari Allah” (ayat 16); “Org itu org berdosa” (ayat 24); “ttg Dia itu kami tdk tahu dari mana Ia datang” (ayat 29). Apa makna yg dpt kita petik dr kisah ini ? Pertama, “penderitaan” (penyakit, cacat, cedera, dll) tdk ada hubungan langsung dgn “dosa”. Penderitaan adalah kesempatan utk memuliakan Allah, baik yg kita sendiri alami maupun ketika kita membantu org lain. Kedua, setiap mukjizat atau peristiwa penting dpt menimbulkan 2 sikap : lbh dekat kpd Tuhan (bdk. sikap si Tuna Netra) atau lbh jauh dari Tuhan (bdk sikap kaum Farisi). Cat. Bagaimana sikap kita ? Ketiga, kasih atau perbuatan baik lbh tinggi nilainya dari aturan atau hukum. Seperti kata-kata St Agustinus : Ama et fac quod vis - kasihilah, maka engkau dpt melakukan apa saja. Bdk I Kor 13:1-13 – Madah Kasih. Keempat, buta hati jauh lbh memprihatinkan dp buta mata. "Cacat yg lbh parah, bkn tdk dpt melihat, melainkan tdk peduli atau tdk dpt merasakan penderitaan org lain" tulis HelenKeller. Kemampuan ber-empati atau merasakan beban dan penderitaan org lain jauh lbh penting. Kelima, bersikap rendah hati dan mau mengakui kekurangan adalah dasar kemajuan (bdk. Si Tuna Netra), sedangkan tdk mau mengakui kekurangan adalah awal kehancuran (bdk. Kaum Farisi – ayat 40 s/d 41). Keenam, seperti Yesus atau Anne Sullivan, kita juga dipanggil utk membuka mata org lain agar dpt melihat penderitaan sesama, utk peduli dan berbagi serta dpt melihat kebaikan dan kebesaran Tuhan dlm setiap peristiwa hidup ini.