PINTU YANG SESAK
Ada pemandangan yang menarik yang selalu berulang setiap tahun di berbagai stasiun bus dan kereta api di pulau Jawa. Peristiwa yang sudah menjadi rutin ini terjadi setiap menjelang lebaran dan sehabis lebaran ketika orang-orang harus mudik ke kampung halaman untuk merayakan hari raya Idul Fitri. Mereka harus berjuang untuk mendapatkan tiket bus atau kereta api , bahkan harus antri sejak malam hari untuk mendapatkan tiket dan setelah mendapatkan tiket harus berjuang lagi berdesak- desakan untuk masuk kedalam bus atau naik ke gerbong kereta api. Pintu-pintu kereta api dan bus menjadi penuh sesak dan tidak jarang orang berjuang dengan cara memanjat dan masuk melewati jendela yang sudah dijebol. Pemandangan ini cukup menarik walaupun sangat tragis dan memprihatinkan. Namun di balik itu semua terlihat adanya perjuangan keras untuk masuk ke dalam dan mereka yang berhasil masuk akan dapat merayakan lebaran bersama orang-orang yang dikasihinya di kampung halaman.
Fenomena “pintu yang sesak” ternyata tidak hanya menyangkut perjalanan hidup manusia di dunia ini saja. Perjalanan manusia ke surga pun rupanya mirip dengan perjalanan mudik lebaran.Pada dasarnya, kehidupan manusia di dunia yang dimulai dengan lahir dan akan diakhiri pada saat meninggal dunia adalah sebuah proses mudik ke dunia akhirat , kembali ke Sang Pencipta yang adalah sumber dan tujuan hidup manusia. Bila orang orang Jakarta menjadikan Jawa Tengah , Jawa Timur ataupun kota-kota lainnya sebagai tujuan mudiknya, dan dahulu kala orang Yahudi ingin mudik ke tanah terjanji, yaitu Kanaan, maka orang Kristen pengikut Kristus mempunyai tanah terjanji ilahi, yaitu surga.
Surga – Kerajaan Allah – adalahtujuan mudik akhir orang Kristen. Kita lalu bertanya , gampang atau sulitkah mudik ke surga? Pertanyaan ini sebenarnya sudah disampaikan oleh seseorang kepada Yesus dalam rumusan yang berbeda sebagaimana terungkap dalam Injil Lukas 12:22-30. Orang itu bertanya kepada Yesus:”Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan ?”(Luk 13:23). Yesus kemudian menjawab :”Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Luk 13;24) Mengapa ? Karena rupanya banyak orang yang terlalu sibuk dengan urusan dunia ini dan mereka melakukan kejahatan sehingga mereka lupa bahwa ada saatnya pintu ke surga ditutup. Ketika mereka sadar bahwa mereka harus mudik dan mengusahakan tiket ke surga, ternyata kereta api atau bus ke surga sudah penuh sesak dan orang-orang yang terlalu sibuk dengan urusan dunia ini tidak sempat lagi berjuang memasuki pintu yang sudah penuh sesak. Mereka berdiri di luar sambil menepuk dada ; ada yang menangis menyesal, ada yg marah & menggertakan gigi, tetapi Tuhan tdk perduli lagi (Luk 13:29). Pintu yg sesak itu sudah terkunci rapat!
Satu2nya alasan Tuhan utk menolak orang msk ke surga adalah ketidak-perdulian manusia pada peringatan Tuhan. Ketidak perdulian itu dikategorikan sbg perbuatan penuh kejahatan : “…. Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu semua yg melakukan kejahatan !” (Luk13:27).
Manusia memang hrs bekerja & krn bekerja harus selalu sibuk mengurus dunia ini. Hanya saja manusia sering mjd terlalu sibuk mengurus dunia ini dan akhirnya melupakan Tuhan. Orang-orang yang terlalu menyibukkan diri dengan dunia ini tidak sadar bahwa Tuhan datang seperti pencuri di tengah malam (bdk 1 Tes 5:2). Maka , marilah kita juga meluangkan waktu untuk Tuhan, berbuat baik kepada sesama agar kita pun dapat masuk kedalam kerajaan Allah melalui pintu yang sesak itu. Amin





Pada tahun 2011 yang lalu, terjadi kasus yang cukup menghebohkan di dunia pendidikan. Kasus ini dialami Alif (14), siswa yang melaporkan kecurangan UN di sekolahnya, SD Negeri Gadel 2, Tandes, Surabaya. Alif diminta guru memberikan jawaban soal UN kepada temannya yang tidak tahu. Kasus ini ramai diperbincangkan hingga keluarga Siami (ibu Alif) diusir warga dari rumahnya yang tidak suka dengan kejujuran Alif. Alif dan keluarganya pun dituding sok jujur oleh guru, orangtua siswa yang lain, dan juga oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
Dalam bacaan pertama kita dihadapkan dengan kisah rencana penghancuran kota Sodom dan Gomorah, serta kegagalan usaha Abraham untuk mencegah Tuhan menghancurkan kedua kota itu, dan bila kita perhatikan; bukankah cerita ini justru sangat bertentangan dengan apa yang diucapkan Yesus dalam Injil hari ini: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”, karena bukankah Abraham sudah meminta?
Ada satu kisah tentang seorang bangsawan Inggris yang kaya raya. Pada suatu hari ia memanggil pembantunya, dan ia memberikan tongkat ajaibnya seraya berkata :”Simpanlah tongkat ajaib ini sampai engkau menemukan orang yang lebih dungu daripadamu. Setelah menemukannya berikanlah tongkat ini kepadanya.” Hambanya yang pelawak itu menerimanya dengan senang hati dan sejak itu ia selalu membawanya sambil mencari orang yang lebih dungu daripadanya. Ia tak juga menemukannya.
Injil hari ini berkisah tentang Yesus dan murid-murid-Nya mampir ke rumah Marta. Kita bisa membayangkan betapa sibuknya Marta karena kedatangan rombongan itu, apalagi lagi pada jaman itu belum ada kompor gas, dan layanan cepat antar atau delivery service seperti sekarang. Sebaliknya Maria hanya duduk saja dekat kaki Yesus untuk mendengarkan perkataan-Nya. Akhirnya Marta tidak tahan lagi dan meminta Yesus agar menyuruh Maria membantunya. Tetapi Yesus menjawab: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”