TUHAN YANG KOMUNIKATIF
Pernah seorang katekis (guru agama) melakukan visitasi, kunjungan ke keluarga-keluarga Katolik di suatu desa. Tibalah ke suatu keluarga yang kedua anak laki-lakinya amat bandel dan nakal. Ayah anak kecil itu meminta katekis untuk menasehati mereka. Katekis kemudian mendatangi kedua anak itu dan bertanya, “Kok kamu nakal sekali nak. Kamu tahu Tuhan itu dimana?” Kedua anak itu sangat gugup dan berjalan mundur, tetapi katekis terus bertanya, “Kamu tahu Tuhan dimana?”. Karena tidak bisa menjawab dan takut, mereka berjalan mundur makin cepat, Katekis terus bertanya dengan suara yang lebih keras, “Kamu tahu Tuhan dimana?” Kedua anak itu karena takut lari ke dalam rumah sambil masih mendengar pertanyaan suara keras katekis, “Tuhan dimana?” Anak-anak kemudian bersembunyi di kamar. Ketika suasana rumah sudah agak sepi, sang kakak membukakan pintu lemari tempat adiknya bersembunyi. Sang adik yang ketakutan berkata, “Wah kak kita celaka! Celaka ini!” Sang kakak balik bertanya, “Kenapa?” “Tuhan hilang kak. Dan kita yang dituduh menghilangkannya!” Kakak: ????
Apa yang perlu kita katakan kepada kedua anak itu? Tuhan tidak hilang. Tuhan ada dalam dirimu. Ketika Ia berbisik-bisik agar kamu jujur dan berbuat baik. Ia adalah Roh Kudus yang membimbing menjalani hidup ini. Tuhan ada dalam diri ayah dan ibu kita. Lewat kasih dan asuhan orang tua kita dapat menangkap Tuhan sebagai Bapa yang Mahabaik dan Mahakasih. Tuhan juga ada dalam peristiwa hidupmu, karena Tuhan itu selalu menyertai. Mungkin di saat kita sulit dan hidup susah tak ada harapan, Dia tidak hanya mendampingi, tetapi bisa jadi malah menggendong kita agar kita bertahan. Tuhan itu juga ditemui dalam bacaan Injil dan Kitab Suci. Dalam Injil kita melihat Tuhan dalam diri Yesus yang menderita di Salib untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia. Tuhan juga kita temui dalam kebersamaan hidup menggereja dan juga dalam upacara sakramen Gereja. Lewat Misa Kudus, kita mengenang dan merayakan hidup, kematian dan kebangkitan Yesus agar sekarang ini kita mengalami karya penyelamatan-Nya.
Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang komunikatif. Tuhan yang mendatangi dan menyapa manusia. Kita dapat menemui-Nya dimana pun. Hari ini kita merayakan pestanya, Pesta Tritunggal Yang Maha Kudus. “Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku" (Yoh 16: 15). Kalau kita mau, Tuhan dapat kita alami dan temui di mana pun dan kapan pun dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin





Suatu hari minggu anda bersama keluarga berkunjung ke rumah mertua. Di sana mertua mengajak istri dan anak-anak anda ke supermarket. Anda memilih untuk menunggu saja di rumah. Untuk mengusir rasa bosan, anda melihat-lihat rak di bawah TV dan menemukan sebuah DVD film bagus yang belum pernah anda tonton. Anda menyalakan TV dan DVD player. Film mulai berjalan. Tapi anda tidak nyaman dengan bahasa Inggris. Anda ingin memunculkan subtitle (teks) dalam bahasa Indonesia. Repotnya hari itu anda lupa membawa kacamata. Anda tidak tahu tombol mana di remote-nya yang harus ditekan untuk memunculkan teksnya. Anda mencoba satu per satu tombol di remote, sampai akhirnya menemukan tombol yang seharusnya. Suatu tombol gunanya adalah membantu kita, tapi kita harus tahu dulu, tombol mana yang harus ditekan.
Shusaku Endo, novelis Jepang menulis buku terkenal berjudul “Silence”, Hening (1996; Edisi Indonesia : 2008). Ceritanya, Shogun Ieyasu yang memusuhi orang Kristen. Pada tahun 1614 ia mulai mengusir para misionaris dan menganiaya gerombolan Kirishitan (Kristen). Penyiksaan terhadap orang Katolik dilakukan yang tentu menjadi salib bagi 300.000 orang Katolik pada waktu itu. Salib itu makin bertambah besar sesudah Pemberotakan petani Shimabara karena pajak tinggi dan penindasan dari mereka yang berkuasa. Tuhan dimana? Itu pertanyaan umat Katolik waktu itu. Dengan latar belakang Jepang abad ke-17 novel ini digelar. Alkisah Pater Sebastian Rodrigues, Jesuit dari Portugal diutus untuk membantu gereja setempat di Jepang sekaligus mencari jejak rekannya Pater Ferreira yang “hilang” karena tidak tahan menanggung siksaan dari para algojo Shogun.
Heboh bagi orang-orang Yahudi di seluruh dunia yang sedang berkumpul di Yerusalem ketika tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras (Kis 2: 2). Lebih aneh lagi mereka mendengar Petrus dan murid-murid Yesus yang lain berbicara dengan bahasa-bahasa yang dipakai seperti di negeri asal mereka (ayat 8). Mereka bertanya bagaimana mungkin mereka bisa mengerti satu sama lain. “Kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia.., pendatang-pendatang dari Roma, [..] kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah," kata mereka. Bagaimana kisah Pantekosta ini bisa kita pahami?