Sebuah perusahaan “Sales” selalu menyelenggarakan perjalanan gratis keluar negeri utk tenaga penjual yg berprestasi. Tahun ini para pemenangnya berangkat ke Macau dan London. Tahun depan ke Bangkok dan San Fransisco, Amerika Serikat. Apa alasan perjalanan keluar negeri ini ? Selain sebagai penghargaan atas prestasi kerja para Sales, juga utk memberi motivasi dlm aktivitas penjualan. Kerja seorang Sales tidaklah mudah. Ada seribu satu macam tantangan. Bahkan ada formula yg merumuskan : dari 10 calon pembeli, hanya 1 yg benar-benar membeli. Artinya hanya 10% ratio sukses dan 90% kegagalan. Namun impian atau gambaran akan kondisi finansial yg lebih baik serta jalan-jalan gratis keluar negeri bisa menjadi sumber kekuatan bagi para Sales menghadapi berbagai tantangan dan kegagalan dlm proses penjualan.
Dalam konteks inilah kita coba memahami injil hari ini yg berbicara ttg “Transfigurasi” (“Yesus dimuliakan di atas gunung” (Lk 9:28-36). Menurut tradisi, transfigurasi terjadi di atas gunung Tabor, di mana saat ini berdiri “Gereja Transfigurasi”. Peristiwa ini terjadi setelah Yesus memberitahukan ttg “jalan keselamatan” yg dipilihNya, yaitu melalui “penderitaan, wafat dan kebangkitan”. Pemberitahuan ini tentu saja mengejutkan, bahkan mungkin dpt membuat para murid mengundurkan diri. Oleh krn itu, Yesus membawa mereka ke atas gunung utk memberi kekuatan. Hanya 3 murid yg dibawa ke sana yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Ini adalah 3 murid pertama yg dipilih Yesus (Lk 5:1-12). Mereka juga yg diajak Yesus ke Taman Getsemani (Mat. 26:37). Utk apa Yesus ke atas gunung ? Menurut Lukas, Yesus pergi utk berdoa. Gunung memang menjadi simbol tempat dari “Yang Mahatinggi”, sehingga menjadi lokasi yg pantas utk berkomunikasi dengan Allah. Bandingkan, Abraham mengurbankan anaknya kpd Yahwe di atas gunung Moria. Dan Musa menerima 2 loh batu dari Yahwe di atas gunung Sinai. Dalam situasi berdoa itulah Yesus mengalami “transfigurasi” - sebuah pengalaman spiritual yg tinggi. Dlm peristiwa itu muncul Musa dan Elia. Kedua orang ini mempunyai pengaruh besar dalam sejarah bangsa Yahudi. Musa yg memperkenalkan Hukum Allah dan Elia adalah Nabi terbesar. Jadi keduanya mewakili “Hukum dan para Nabi”. Yesus berbicara dgn mereka ttg perjalananNya ke Yerusalem utk “menderita dan wafat”. Mungkin minta restu dari dua Tokoh Perjanjian Lama tsb. Menyaksikan pengalaman yg menakjubkan itu, Petrus mengusulkan utk tetap tinggal di sana (“mendirikan kemah”). Tetapi Yesus kemudian mengajak mereka utk turun ke bawah. Dalam peristiwa itu, terdengar suara peneguhan dari surga :”Inilah Putra kesayanganKu” – sama seperti di saat Yesus dipermandikan di sungai Yordan (Lk 3:22). Ada catatan khusus pada injil Lukas, bhw Petrus dkk sempat tertidur (Lk 9:32). Apa yg dpt kita pelajari dari bacaan ceritera transfigurasi tsb ? Pertama, perlu keseimbangan dalam hidup ini. Setiap hal ada waktunya. Bdk Pengkotbah 3:1-8. Seperti Yesus : ada waktu mengajar, ada waktu bersama murid-muridNya, ada waktu berdoa kepada BapaNya. Kedua, tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan. Kisah orang-orang sukses menunjukkan bahwa tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan. “No pain, No gain”. Tidak ada kebangkitan, tanpa kematian. Tidak ada Paskah, tanpa Jumat Agung. Penderitaan bukanlah akhir. Kegagalan bukan kiamat. Ketiga, kita harus selalu “berjaga”. Kalau Petrus dkk tetap tertidur, mereka tdk bisa menyaksikan peristiwa transfigurasi. Banyak peristiwa menakjubkan di dalam hidup ini yg lewat begitu saja krn kita seolah “tertidur”. Dunia ini begitu indah oleh cinta pasangan hidup kita; begitu hangat oleh keceriaan putra-putri kita; begitu akrab oleh persaudaraan dan persahabatan; begitu segar oleh alam nan indah. Tapi kita harus “membuka mata”, kita tidak boleh “tertidur”. Keempat, kita tdk boleh tinggal di atas gunung. Kita hrs turun. Kesuksesan tdk boleh membuat kita tetap tinggal “di atas gunung”. Kita hrs berani turun ke lembah, ke kaki gunung. Seperti Yesus, kitapun harus siap ke Yerusalem, bahkan ke Golgota. Itulah realita kehidupan yg harus kita hadapi. Namun kita percaya bhw akhir dari segalanya adalah kemuliaan. Kelima, transfigurasi Yesus adalah transfigurasi kita. Dalam kaca mata hidup beriman kita percaya bhw suatu saat kita juga akan “dimuliakan” bersama dengan Tuhan. Sama seperti yg ditulis Paulus dalam bacaan II : “Yesus akan mengubah tubuh kita yg hina menjadi serupa dengan TubuhNya yg mulia” (Fil 3:21). Dan janji Allah kepada Abraham seperti dalam bacaan I akan menjadi janji kepada kita juga (Kej. 15:5). Tetapi syaratnya seperti dalam bacaan II tadi : “kita harus berdiri teguh dalam Tuhan!” (Fil 4:1).




