[Renungan kristiani untuk suami] Suami Yang Bete

ilikitik... ilikitik .... koq kaya arca
susah amat ajak bicara
susah amat ajak bercanda
apalagi ajak dia untuk tertawa....."
Demikianlah lirik lagu yang dibawakan oleh seorang artis cilik di masa lampau. Mungkin lagu tersebut anda nyanyikan juga pada masa itu. Sekarang anda sendiri yang menjadi orang yang menjadi objek lagu tersebut. Susah diajak bicara, susah diajak bercanda. Bawaannya stress melulu :(
Pulang kerja pasang muka masam. Soalnya kalau di tempat kerja harus seharian pasang muka manis. Jadi, keluar dari tempat kerja..... bebas.... boleh menjadi diri sendiri.... yang sayangnya, lebih suka bermuka datar. Dan kalau bisa, sampai di rumah, jangan ada yang ganggu. Semalaman. Sampai waktu tidur.
Pernah ga pada saat anda bete begitu, istri anda ngajak bicara? Pernah ya. Bahkan sering, mungkin.
Kalau pada saat seperti itu, apa yang anda pikirkan? "MENGGANGGU. Memangnya ga liat ya kalau aku lagi bete?"
Sekarang coba ingat-ingat lagi. Pernah ga karena habis berselisih paham, anda tidak bisa bicara dengan istri? Komunikasi terputus. Walaupun anda bicara bermanis-manis, istri anda tetap mendiamkan.
Ya... kedua situasi tersebut sama jeleknya ya. Pada saat anda tidak bisa bicara dengan istri, anda menjadi korban. Pada saat anda tidak ingin diajak bicara, istri anda yang jadi korban. Dalam kedua situasi ini, suami dan istri lupa dengan lagu-lagu cinta yang pernah dinyanyikannya bersama.
Mari kembali lagi kepada situasi bete yang anda alami. Memang anda berhak bete. Anda berhak punya hati datar. Tapi harus diingat, bahwa istri anda berhak untuk mendapat perhatian juga.
Apakah istri anda selalu menjadi putri manis yang mengajak anda bicara? Tidak kan ya. Jadi moment-moment di saat istri anda begitu terbuka, mau bicara dengan anda, adalah moment yang patut disyukuri. Bersyukur karena istri anda sedang dalam suasana hati yang baik.
Hendaknya kita selalu ingat dengan firman ini.
"Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya." Efesus 5:33
Walaupun hati lagi bete, ketika istri butuh perhatian, kita wajib memberikan waktu dan perhatian kita padanya. Suasana harmonis perlu dijaga oleh kedua belah pihak. Jangan sampai ketika istri anda merasa begitu harmonis dengan anda, malah anda sakiti hatinya dengan men-cuek-kannya.
Jadilah suami kesayangan istri senantiasa. Tuhan Yesus memberkati keluarga anda.
Salam,
Julius Saviordi (7 Sept 2013)
www.priasejatikatolik.wordpress.com





Dalam menjalani kehidupan ini kita tidak pernah berhenti membuat pilihan! Kalau kita tidak mau memilih, maka orang lain atau lingkungan-lah yang akan menentukan pilihan bagi kita! Salah satu pilihan sulit yang dilematis adalah pilihan antara duniawi dan surgawi; keduanya kita inginkan dan kita butuhkan, namun keduanya saling bertentangan! Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging -- karena keduanya bertentangan -- sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (Gal 5:17).
Ada pemandangan yang menarik yang selalu berulang setiap tahun di berbagai stasiun bus dan kereta api di pulau Jawa. Peristiwa yang sudah menjadi rutin ini terjadi setiap menjelang lebaran dan sehabis lebaran ketika orang-orang harus mudik ke kampung halaman untuk merayakan hari raya Idul Fitri. Mereka harus berjuang untuk mendapatkan tiket bus atau kereta api , bahkan harus antri sejak malam hari untuk mendapatkan tiket dan setelah mendapatkan tiket harus berjuang lagi berdesak- desakan untuk masuk kedalam bus atau naik ke gerbong kereta api. Pintu-pintu kereta api dan bus menjadi penuh sesak dan tidak jarang orang berjuang dengan cara memanjat dan masuk melewati jendela yang sudah dijebol. Pemandangan ini cukup menarik walaupun sangat tragis dan memprihatinkan. Namun di balik itu semua terlihat adanya perjuangan keras untuk masuk ke dalam dan mereka yang berhasil masuk akan dapat merayakan lebaran bersama orang-orang yang dikasihinya di kampung halaman.
Kata org bijak, kita hrs berkaca spy bisa membawa diri atau menempatkan diri dengan baik. Sebaiknya dalam situasi yang masih belum jelas, disarankan untuk menempatkan diri di tempat rendah! Kalau sudah dibawah, bisa jatuh kemana lagi?
Pada tahun 2011 yang lalu, terjadi kasus yang cukup menghebohkan di dunia pendidikan. Kasus ini dialami Alif (14), siswa yang melaporkan kecurangan UN di sekolahnya, SD Negeri Gadel 2, Tandes, Surabaya. Alif diminta guru memberikan jawaban soal UN kepada temannya yang tidak tahu. Kasus ini ramai diperbincangkan hingga keluarga Siami (ibu Alif) diusir warga dari rumahnya yang tidak suka dengan kejujuran Alif. Alif dan keluarganya pun dituding sok jujur oleh guru, orangtua siswa yang lain, dan juga oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya.