MENTAL KELIMPAHAN
Dalam Kebiasaan ke-4 “Berpikir Menang Menang” dari “7 KEBIASAAN MANUSIA YG SANGAT EFEKTIF”, Stephen R. Covey mengemukakan gagasan tentang “Mental Kelimpahan” (Abundance Mentality) vs “Mental Kelangkaan” (Scarcity Mentality). Org yg memiliki “mental kelangkaan” berpikir bhw kita tidak mempunyai cukup sumber utk dinikmati oleh semua orang. “Roti yg saya miliki” tidak cukup untuk dibagikan kpd org lain. Mereka sulit membagi “pengakuan dan penghargaan, wewenang dan keuntungan”. Mereka memiliki “paragdima zero-sum” bhw apa yg saya bagikan akan mengurangi apa yg saya miliki. Sebaliknya, “Mental Kelimpahan” mengalir dari nilai diri dan rasa aman pribadi yg mendalam. Mereka berpikir bhw di luar sana tersedia cukup sumber yg dpt dibagi utk semua org. Mereka tdk pelit utk memberi pujian, pengakuan dan penghargaan. Mental ini lahir dari karakter yg kaya oleh integritas, kematangan dan kejujuran. Mental ini dapat menumbuhkan hubungan yg didasari oleh sikap “menang menang”. Atau menurut istilah Thomas A. Harris dalam “Analisa Transaksional” : Saya Oke, Kamu Oke !
Bacaan Injil hari ini (Lk 9:11b-17) berbicara tentang Mukjizat Penggandaan Roti. Ini satu-satunya mukjizat yg diceriterakan dalam 4 injil (Mateus, Markus, Lukas, Yohanes). Ada beberapa hal penting yg bisa kita catat dari bacaan injil ini. 1) Ketika hari mulai malam, para murid mengusulkan orang banyak itu pergi (ayat 12). “Malam” adalah simbol kegelapan, bahaya, godaan dan masalah. Usulan para murid cukup masuk akal, tetapi terkesan melepaskan tanggungjawab. Mereka mencari jalan pintas dgn menyuruh orang banyak pergi. Ketika menghadapi masalah atau bahaya, kita cenderung mencari jalan pintas atau melepaskan tanggungjawab. 2) Sikap Yesus sangat tepat dengan mengatakan “Kamu hrs beri mereka makan” (ayat 13). Ini sikap mau bertanggungjawab, sikap berani ambil risiko. Sebagai calon pemimpin gereja, Yesus mengharapkan para murid utk peduli dan mau bertanggungjawab terhadap situasi orang banyak, situasi umat manusia. 3) Hanya ada “5 roti dan 2 ikan” (ayat 13). Ini sikap “mental kelangkaan” (scarcity mentality), di mana “untuk kami saja tdk cukup, apalagi buat orang lain”. Sikap egoisme membuat “apa yg dimiliki” tidak pernah cukup, sehingga tidak mungkin bisa dibagikan kpd orang lain. 4) Yesus berkata : “Suruhlah mereka duduk berkelompok” (ayat 14). Ini cara paling efektif utk memecahkan masalah – bagian per bagian, sekaligus utk memudahkan distribusi makanan. 5) Yesus mengambil roti itu, menengadah ke langit utk berdoa, mengucap syukur, memecah-mecahkan roti dan memberikannya kpd para murid (ayat 16). Ini rumusan EKARISTI. Bdk Doa Syukur Agung I : ..Ia mengambil roti ..dan sambil menengadah kepadaMu ..Ia mengucap syukur dan memuji Dikau .. memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-muridNya seraya berkata .. Bagi Yesus, 5 roti dan 2 ikan sangat cukup utk dibagikan kpd orang banyak (“lima ribu laki-laki” ayat 14 - belum terhitung perempuan dan anak-anak). Yesus mengubah “mental kelangkaan” menjadi “mental kelimpahan”. Menurut Yesus : kita memiliki cukup daya dan kemampuan untuk dibagikan. Itulah sebabnya Yesus mengatakan “Kamu harus memberi mereka makan”. Makanan di sini bukan saja makanan jasmani, tapi terlebih makanan rohani, makanan mental, seperti : sikap saling mengasihi, saling memaafkan, mau mengerti, saling menghargai, saling berbela rasa, dll. Yesus mengubah “kekurangan kita” menjadi “kekayaan”, “kelemahan” menjadi “kekuatan”, “keragu-raguan” menjadi “keberanian”, “pesimisme” menjadi “optimisme”. Seperti Yesus yang mau membagi “Tubuh dan DarahNya” untuk keslamatan kita, demikian pula kita harus berani membagi “apa yg kita miliki” untuk kepentingan orang lain. Inilah makna Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Berani bersaksi, berani berbagi dan berani berbelarasa. Keberanian yg timbul dari “mental kelimpahan” (abundance mentality), mental seorang Kristiani sejati !





Pernah seorang katekis (guru agama) melakukan visitasi, kunjungan ke keluarga-keluarga Katolik di suatu desa. Tibalah ke suatu keluarga yang kedua anak laki-lakinya amat bandel dan nakal. Ayah anak kecil itu meminta katekis untuk menasehati mereka. Katekis kemudian mendatangi kedua anak itu dan bertanya, “Kok kamu nakal sekali nak. Kamu tahu Tuhan itu dimana?” Kedua anak itu sangat gugup dan berjalan mundur, tetapi katekis terus bertanya, “Kamu tahu Tuhan dimana?”. Karena tidak bisa menjawab dan takut, mereka berjalan mundur makin cepat, Katekis terus bertanya dengan suara yang lebih keras, “Kamu tahu Tuhan dimana?” Kedua anak itu karena takut lari ke dalam rumah sambil masih mendengar pertanyaan suara keras katekis, “Tuhan dimana?” Anak-anak kemudian bersembunyi di kamar. Ketika suasana rumah sudah agak sepi, sang kakak membukakan pintu lemari tempat adiknya bersembunyi. Sang adik yang ketakutan berkata, “Wah kak kita celaka! Celaka ini!” Sang kakak balik bertanya, “Kenapa?” “Tuhan hilang kak. Dan kita yang dituduh menghilangkannya!” Kakak: ????
Heboh bagi orang-orang Yahudi di seluruh dunia yang sedang berkumpul di Yerusalem ketika tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras (Kis 2: 2). Lebih aneh lagi mereka mendengar Petrus dan murid-murid Yesus yang lain berbicara dengan bahasa-bahasa yang dipakai seperti di negeri asal mereka (ayat 8). Mereka bertanya bagaimana mungkin mereka bisa mengerti satu sama lain. “Kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia.., pendatang-pendatang dari Roma, [..] kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah," kata mereka. Bagaimana kisah Pantekosta ini bisa kita pahami?
Suatu hari minggu anda bersama keluarga berkunjung ke rumah mertua. Di sana mertua mengajak istri dan anak-anak anda ke supermarket. Anda memilih untuk menunggu saja di rumah. Untuk mengusir rasa bosan, anda melihat-lihat rak di bawah TV dan menemukan sebuah DVD film bagus yang belum pernah anda tonton. Anda menyalakan TV dan DVD player. Film mulai berjalan. Tapi anda tidak nyaman dengan bahasa Inggris. Anda ingin memunculkan subtitle (teks) dalam bahasa Indonesia. Repotnya hari itu anda lupa membawa kacamata. Anda tidak tahu tombol mana di remote-nya yang harus ditekan untuk memunculkan teksnya. Anda mencoba satu per satu tombol di remote, sampai akhirnya menemukan tombol yang seharusnya. Suatu tombol gunanya adalah membantu kita, tapi kita harus tahu dulu, tombol mana yang harus ditekan.
Shusaku Endo, novelis Jepang menulis buku terkenal berjudul “Silence”, Hening (1996; Edisi Indonesia : 2008). Ceritanya, Shogun Ieyasu yang memusuhi orang Kristen. Pada tahun 1614 ia mulai mengusir para misionaris dan menganiaya gerombolan Kirishitan (Kristen). Penyiksaan terhadap orang Katolik dilakukan yang tentu menjadi salib bagi 300.000 orang Katolik pada waktu itu. Salib itu makin bertambah besar sesudah Pemberotakan petani Shimabara karena pajak tinggi dan penindasan dari mereka yang berkuasa. Tuhan dimana? Itu pertanyaan umat Katolik waktu itu. Dengan latar belakang Jepang abad ke-17 novel ini digelar. Alkisah Pater Sebastian Rodrigues, Jesuit dari Portugal diutus untuk membantu gereja setempat di Jepang sekaligus mencari jejak rekannya Pater Ferreira yang “hilang” karena tidak tahan menanggung siksaan dari para algojo Shogun.