BAGAIMANA BERDOA
Dalam bacaan pertama kita dihadapkan dengan kisah rencana penghancuran kota Sodom dan Gomorah, serta kegagalan usaha Abraham untuk mencegah Tuhan menghancurkan kedua kota itu, dan bila kita perhatikan; bukankah cerita ini justru sangat bertentangan dengan apa yang diucapkan Yesus dalam Injil hari ini: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”, karena bukankah Abraham sudah meminta?
Tetapi, apakah benar terjadi demikian? Pada saat dikatakan Sodom akan dihancurkan, pertama kali Abraham mencoba menawar agar Tuhan membatalkan niat-Nya untuk menghancurkan Sodom dan Gomora apabila ada 50 orang benar di dalam kedua kota itu, tawaran Abraham itu terus turun menjadi 45, 40 dan seterusnya sampai tinggal 10 orang. Sampai disini kisah itu berhenti.. dan kita tahu kota Sodom dan Gomorah kemudian dihancurkan. Apakah itu berarti permohonan Abraham tidak dikabulkan? Atau apakah memang tidak sampai ada 10 orang benar di Sodom? Sesungguhnya apabila kita memperhatikan dialog itu: Tidak sekalipun Tuhan mengatakan “tidak” ataupun menolak setiap permintaan Abraham. Bahkan dikatakan Tuhan selalu berjanji untuk tidak menghancurkan Sodom pada setiap permintaan Abraham. Akan tetapi Abraham sendirilah yang menghentikan permintaannya.
Sedangkan di dalam Injil hari ini, kita dihadapkan dengan kisah Yesus yang menjawab permintaan murid-Nya: “Tuhan, ajarlah kamiberdoa” dengan mengajarkan doa Bapa Kami. Akan tetapi yang menarik adalah; pengajaran Yesus kali ini bukan hanya tentang doa Bapa Kami, melainkan digabungkan dengan cerita tentang seorang yang dengan tidak tahu malu, yang terus menerus meminta roti di tengah malam kepada tetangganya. Tentunya kita bisa memahami bahwa Yesus pasti bukan ingin mengajarkan kita untuk menjadi orang yang tidak tahu malu, melainkan karena di dalam cerita itu terdapat unsur “kasih” dan “kedekatan” yang luar biasa. Sebab, hanya kepada pribadi yang kita kasihi dan dekatlah, kita dapat bersikap bebas dan bahkan tak tahu malu. Dan cerita itu mengingatkan kita, apabila kita masih belum juga dapat tekun untuk berdoa; sudahkah Allah menjadi pribadi yang sungguh kita kasihi dan dekat kepada-Nya, sehingga kita menjadi tidak tahu malu untuk terus mengetuk pintu-Nya? Yesus memberi contoh dengan memanggil Allah sebagai “Bapa”, panggilan yang mengejutkan dan tak tahu malu bagi orang Israel, karena Yesus memang sungguh mengasihi dan dekat dengan Bapa-Nya. Sebab tidaklah masuk akal apabila ada orang yang berkata: “Saya sulit untuk tekun berdoa, karena saya masih merasa belum dekat dengan Tuhan.”, sebab hanya orang-orang yang sudah tekun berdoa yang berkata: “Tuhan terasa dekat!”





Injil hari ini berkisah tentang Yesus dan murid-murid-Nya mampir ke rumah Marta. Kita bisa membayangkan betapa sibuknya Marta karena kedatangan rombongan itu, apalagi lagi pada jaman itu belum ada kompor gas, dan layanan cepat antar atau delivery service seperti sekarang. Sebaliknya Maria hanya duduk saja dekat kaki Yesus untuk mendengarkan perkataan-Nya. Akhirnya Marta tidak tahan lagi dan meminta Yesus agar menyuruh Maria membantunya. Tetapi Yesus menjawab: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”
Wawancara antara seseorg yg baru saja menjadi Pengikut Kristus dgn temannya yg tdk beriman. “Jadi, kau sdh bertobat menjadi Pengikut Kristus?” Ya ! “Kalau begitu tentu kau tahu banyak ttg Dia. Misalnya, di negara mana Ia dilahirkan ?” Aku tdk tahu. “Berapa usianya waktu Ia meninggal?” Aku tdk tahu. “Lho, bagi org yg menyatakan telah bertobat menjadi pengikut Kristus, kau mengetahui sedikit sekali” Kau benar. Aku malu krn begitu sedikit pengetahuanku ttg Dia. Tapi, sekurang-kurangnya aku tahu hal ini : 3 thn lalu, aku seorg pemabuk. Hutangku banyak. Keluargaku berantakan. Anak-istriku slalu takut setiap kali aku pulang. Tapi skarang, aku sdh tdk mabuk lagi. Hutangku sdh lunas. Keluarga kami bahagia. Anak-anak senang menantiku pulang ke rumah setiap sore. Ini semua karya Kristus bagiku. Sebanyak inilah yg saya ketahui ttg Kristus. (Dikutip dari : “Burung Berkicau” oleh A. de Mello SJ).
Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan Yesus mengutus 70 murid-Nya untuk mendahului Dia dan memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Para murid yang diutus itu diminta untuk tidak membawa bekal, untuk menyampaikan salam damai sejahtera, dan untuk tinggal dan makan minum bersama, menyembuhkan yang sakit serta menyerukan pertobatan karena Kerajaan Allah sudah dekat. Dan yang menarik adalah: apabila orang yang mendapat salam damai sejahtera itu tidak layak maka mereka tidak mendapatkan damai sejahtera itu, lalu apabila para utusan itu tidak diterima, Yesus menyuruh mereka mengebaskan debu di kaki lalu pergi.
Tgl. 6 Maret 2012 Raka Widyarma ditangkap polisi di rumahnya Jl. Perkici Raya No. 42 Bintaro Jaya krn mengkonsumi ekstasi. Orangtua Raka, Bpk Rano Karno, sangat terpukul dgn peristiwa ini. “Saya sulit percaya ini” katanya. “Raka terkenal pendiam, tak pernah macam-macam dan tdk suka berantem”. Ketika memberikan konperensi pers di kediamannya, Perumahan Bumi Karang Indah Cinere hari Sabtu, 10 Maret 2012, Rano Karno berharap Raka yg melepas dirinya jika dia meninggal dunia. ”Saya selalu bilang, Raka jangan mati dulu sebelum saya. Saya ingin kamu azani saya saat saya mati”, ungkap Rano Karno sambil meneteskan air mata. Dia siap menjadi saksi utk Raka kalau diminta oleh pengadilan, bahkan rela melepaskan jabatannya. Sungguh suatu ekspresi kasih yg luar biasa dari seorang ayah. Karena kasih yg begitu besar, Bpk Rano Karno mampu memaafkan kesalahan Raka, putranya. “Saya ayahnya dan saya tidak marah maupun kecewa”.