Hari Sabtu, tgl. 26 Januari yg lalu, saya menghadiri Seminar “SUCCESS IN 2013” bersama salah satu Motivator Enterpreneurship Indonesia :Valentino Dinsi. Dia mengaku berasal dari keluarga sederhana, namun kini berhasil mengelola bisnis milyaran rupiah. Pada awal seminarnya, Valentino menunjuk sebuah buku karangannya, yg menjadi “bestseller” dan telah mengantarnya menjadi seorang Milioner. Setelah mempromosi buku tersebut, dia mengangkatnya dan mengatakan : “siapa mau buku ini …siapa mau buku ini?” Itu diucapkannya berkali-kali dan anehnya .. tak satupun peserta yg jumlahnya 300 orang memberikan reaksi, termasuk saya. Sampai akhirnya ada seorang peserta yg berani berlari ke depan dan mengambil buku itu dari tangan Valentino. Dan peserta itu mendapatkan buku bestseller yg biasanya dijual seharga Rp. 75 ribu tersebut secara gratis. Peserta tsb melihat peluang yg ada, lalu keluar dari tempat duduknya yg nyaman, berlari ke depan di bawah sorotan ratusan pasang mata yg menyaksikannya, dan dengan penuh keyakinan mengambil buku bestseller itu.Peserta itu telah memanfaatkan sebuah “MOMENTUM” - sebuah peluang yg berharga. Banyak “momentum” yg ditawarkan kepada kita setiap saat, namun hanya sedikit orang yg berani mengambilnya.
Bacaan injil hari ini (Lk 4:21-30) merupakan kelanjutan dari injil minggu lalu (Lk 4:16-20). Setelah berpuasa 40 hari lamanya, Yesus kembali ke kampung halamanNya di Nazareth dan mengikuti Ibadat pada hari Sabath. Pada saat ibadat itu Yesus tampil ke mimbar untuk membaca Kitab Suci dan membawakan kotbah yg pertama. Semua orang yg hadir terpesona akan pribadi Yesus. Mereka “merasa heran akan kata-kata indah yg diucapkanNya” (Lk 4:22). Ternyata ceritera Lukas tidak berhenti di sini. Setelah ibadat selesai, umat yg hadir memaksa Yesus untuk membuat mukjizat. Dan karena keinginannya tak dipenuhi, mereka ingin membuang Yesus ke tebing jurang. Namun secara luar biasa, Yesus bisa menyelamatkan diri dan “pergi dari antara mereka” (Lk 4:30). Episode di dalam Rumah Ibadat ternyata terbalik 1800dibandingkan suasana di luar Rumah Ibadat. Kalau di dalam Rumah Ibadat mereka merasa heran dan kagum akan penampilan Yesus, tetapi di luar Rumah Ibadat mereka kesal dan marah kepada Yesus sehingga ingin membuangNya. Sikap ini tentu saja merugikan mereka sendiri. Mereka tidak berhasil menyaksikan mukjizat-mukjizat Yesus. Dan lebih jauh lagi, mereka kehilangan “YESUS”, karena Yesus akhirnya pergi dari antara mereka. Lalu apa yang dapat kita pelajari dari injil hari ini ? Pertama, kita tidak bisa memaksa Allah untuk melakukan mukjizat. Apa yg dilakukan Allah kepada kita semata-mata adalah “anugerah” dan “kasihNya”. Mukjizat yg akan terjadi dalam hidup kita bukan karena “kehebatan” dan “jasa” kita, melainkan karena “kebaikan” dan “kerelaanNya”. Iman kita kepada Allah tidak bergantung kepada ada atau tidak adanya mukjizat. Kasih Allah itulah yg melandasi hidup iman kita. Kedua, sikap di dalam rumah ibadat bisa bertolak-belakang dengan sikap di luar rumah ibadat. Umat di Nazareth merasa heran dan kagum ketika Yesus berada di dalam rumah ibadat. Mereka kagum akan kotbahNya yg begitu mempesona.Namun ketika di luar rumah ibadat, mereka ingin menjatuhkanNya ke tebing jurang. Sikap umat Nazareth tersebut mungkin tidak jauh berbeda dengan sikap pengikut Kristus saat ini.Identitas kita sebagai orang Kristen atau orang katolik hanya muncul di dalam gereja. Begitu di luar gereja, identitas itu menjadi kabur. Ketiga, hilangnya peluang untuk tinggal bersama Yesus.Tuntutan umat Nazareth agar Yesus mengadakan mukjizat membuat Yesus terpaksa meninggalkan mereka.Sikap egoisme umat Nazareth menyebabkan mereka bukan saja kehilangan momentum untuk menyaksikan “mukjizat”, tapi kehilangan momentum untuk mendapatkan “Yesus”.Yesus pergi dari antara mereka.Banyak momentum berharga di dalam hidup kita yg terpaksa hilang begitu saja, karena kita terlalu ingat diri atau memaksakan kehendak. Banyak orang yg tidak berani keluar dari “comfort zone” atau zona nyamannya untuk meraih peluang-peluang besar yg berada “di luar”.Banyak orang yg memilih kenyamanan semu dengan memilih jalan pintas. Momentum tinggal bersama dengan Yesus adalah jauh lebih berarti daripada menyaksikan mukjizat-mukjizatNya. Dengan kata lain, hidup bersama Yesus adalah mukjizat yg paling besar. Itulah MOMENTUM paling berharga dalam kehidupan kita sebagai orang beriman. Beranikah kita untuk menangkap MOMENTUM itu dalam kehidupan kita setiap hari ? Semoga !
Perbedaan merupakan kenyataankehidupan sehari-hari. Pria- wanita, tua-muda, kaya-miskin, pintar-bodoh,besar-kecil merupakanpengalaman hidup. Masih ditambah dengan perbedaanasal-usul (orangPontianak,Sunda, Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah)perbedaan kebangsaan(orangIndonesia, Amerika, Arab, Jerman), perbedaan agama, perbedaan budaya (desa-kota, modern-tradisional). Perbedaan itu sering mengundang konflik sampai menimbulkantindak kekerasan dan perang.Tidak selalu konflikkarena perbedaanitu disebabkan oleh niat jahat, tetapijuga karena perbedaan kepentingan,sepertipemilik perusahaan yang memadanggaji pegawai (upah buruh) sebagai pengeluaran perusahaan maka harus ditekan dan dikurangi. Bagi pegawaigaji atau upah adalah pemasukan untuk hidupnya sehingga harus meningkatagar makin sejahtera. Tetapi begitulah kehidupan memang berbeda-beda. Bayangkan saja kalau dunia hanya diisipria saja atau hanya diisi oleh pemilik perusahaan saja maka duniatidak akan jalan. Demikian pula dengan kehidupan menggereja. Banyak fungsidan perandi dalam paroki dan lingkungan yang berbeda-beda. Apakah perbedaan itujustrumenghidupkan kehidupan lingkungan atau parokikitaatau malahan membawakonflik dan memperlebar perbedaan? Bagaimana mendamaikan perbedaan-perbedaan itu agartidak menjadipertentangandan konflik? Bagaimana perbedaan itutidak hanya supaya tidak menjadi konflik tetapi menjadi saling memperkaya dalam kehidupanGereja,dalamkeluarga dan lingkungan?
Santo Paulus kepadaumat di Korintus mengibaratkan kehidupan gereja dan masyarakatsebagai tubuh.Banyak anggota badan tetapi menopang hiduptubuhyang sama.Kaki atau matayang sakit menyebabkan seluruh tubuh juga sakit.Dengan pembaptisan orang Katolik menjadi satu tubuh, yaitu tubuh Kristus atau Gereja. “Kamu semua adalah tubuh Kristusdan kamumasing-masing adalah anggotanya”, tegas Santo Paulus dalam I Kor 12: 27. Adaimplikasiethisdan sosialdari keberadaan kita sebagaisatu tubuh, yaitubahwamasing-masing anggota bertanggung jawab atas anggota yang lain.Satu anggota tubuh tidak bisa mengklaimmau hidup sendirikarenabergantung padahidup anggotayang lain.Untuk itu ia harusmemelihara hidupnya sendiridengan baik sehinggatidak menjadi beban anggota yang lain.Setiap anggota tubuh juga harusmau berbagi dengan anggotalain sehinggasemua anggotatetap dapat hidup dengan sehat.Setiap anggota tubuh peduli terhadap anggota yang lain agar dirinya tetap dapathidup dengan baik. Dengandemikian kendati banyak perbedaan, baik asal-usul,profesi,kemampuan,sifatdan karaktersetiap anggota gereja berbeda-bedatetapisemuanya mengusungkehidupan tubuh yang sama, yaitu Gereja. Oleh karena itu pertanyaannya, sudahkah kitabertanggung jawab atas hiduppribadi dan kehidupan bersama kita dengan bekerja giat dan mau berbagisertasaling membantu sesama yang memerlukan?
Baru-baru ini seorang teman bertanya, “Apa sih identitas orang Katolik selain bikin tanda salib dan rumahnya dipasangi salib?” Pertanyaan itu mudah dipahami karena di tengah arus formalisme agama dengan doa-doa dan aturan-aturan baku keagamaan yang sering ditawarkan sebagai alternatif bagi dunia yang lebih baik. Bahasa Latin dan lagu-lagu Gregorian sudah tidak segencar dipergunakan lagi. Lagu-lagu saat ibadat dan misa juga macam-macam dari yang bernada pop sampai lagu-lagu yang digali dari khasanah lagu daerah. Kehidupan menjemaat? Ada. Laris manis kalau diadakan doa Rosario atau Novena. Ramai kalau Natalan atau Paskahan. Tetapi, sepi dan sunyi bila ibadat Prapaskah atau bulan Kitab Suci. Apa identitas lain yang lebih khasat mata? Gaya rambut atau tampang dengan pakaian bergaya orang Timur Tengah atau Yahudi pasti tidak dikenal di lingkungan orang Katolik. Lalu apa lagi?
Adabaiknya kembali ke asal usul kita yaitu saat kita dibaptis sebagai orang Katolik. Seperti dalam Injil hari ini ketika orang banyak dibaptis dan Yesus juga dibaptis “lagit terbuka dan turunlah Roh Kudus” dan “terdengarlah suara dari langit, ‘Engkaulah Anak-Ku yang Ku-kasihi kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3: 21-22). Nah, sudah lebih jelas bukan. Orang yang dibaptis akan menerima Roh Kudus dan Tuhan, Allah Bapa berkenan kepada mereka. Sebagai sama-sama orang yang dibaptis dan dibimbing oleh Roh Kudus yang sama, mesti menjadi identitas orang Katolik. Roh yang membimbing itu tentu tidak tampak, tetapi nyata dalam perbuatan yang jauh dari egoisme, tindakan kekerasan, pemaksaan . Perbuatan yang jauh dari menistakan diri untuk menuju perbuatan mulia yang sesuai dengan martabat manusia sebagai putra-putri Allah Bapa, baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama. Perbuatan seperti apa? Selain tanda salib, ibadat, misa dan doa-doa tadi karena perbuatannyalah orang Katolik menjadi terlihat sebagai pribadi maupun kelompok. Kebaikan hati dan kepedulian kepada sesama yang susah, miskin, dan menderita menjadi ciri dan identitas sebagai orang Katolik. Karena orang Katolik lemah lembut, berempati dan rela membantu orang lain maka Allah Bapa berkenan. Perkenanan Allah itu menjadi hati orang Katolik menemukan damai dan kebahagiaan hidup. Marilah kita menyadari identitas yang tidak sekedar lahiriah sebagai orang Katolik dengan memperkuatnya dalam kata dan perbuatan baik setiap hari
Agar kehidupan bersama menggereja atau menjemaat dapat berjalan banyak karunia diberikan kepada setiap anggotanya. “Ada rupa-rupa karunia tetapi satu Roh”, tulis Santo Paulus (I Kor 12:4). Ada karunia untuk memimpin paduan suara atau koor, ada karunia untuk menyembuhkan sebagai seorang perawat atau dokter. Ada pula karunia untuk pintar berbicara sehingga dapat menghibur yang lagi sedihd an putus asa sehingga menggerakkan untuk berbuat kebaikan. Ada karunia untuk mengorganisasi dan me-manage kegiatan dan orang sehingga rencana atau kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Ada karunia lain yang penting adalah karunia tenaga, waktu dan dana yang lebih. Rupa-rupa karunia itu kalau dijumlahkan menjadi Gereja kaya atau lebih tepat dikatakan mampu untuk berbuat sesuatu, baik membantu orang lain maupun menolong warga paroki atau lingkungannya sendiri.
Seperti anggota jemaat di Korintus, banyak karunia itu tidak membuat anggota gereja berjalan sendiri-sendiri, tetapi banyak karunia itu justru mempersatukan karena saling melengkapi, membawa umat pada rasa syukur kepada Roh, Si Pemberi Karunia yaitu Roh Kristus, Roh Cinta Kasih yang menjiwai kehidupan jemaat. Sayangnya, keberadaan karunia itu tidak disadari oleh semua orang. Anggota jemaat sering terpaku pada kesulitan dan kekurangan hidupnya sehingga tidak menyadari bahwa Roh selalu memberi karunia kepada setiap orang yang diteguhkan saat diri mereka dibaptis. Kalau ditanyakan, “Apa karunia Tuhan dalam hidupmu?” Mungkin perlu pikir-pikir dulu untuk menjawabnya padahal karunia itu nyata dalam kehidupannya. Oleh karena itu ada baiknya untuk bertanya pada diri sendiri apa yang Tuhan karuniakan dalam hidupku. Mungkin banyak karunia dan dari banyak karunia itu ada satu atau dua karunia yang menonjol pada setiap orang.
Karunia itu juga bukan untuk dibiarkan atau hanya dinikmati oleh orang yang bersangkutan. Karunia itu untuk membangun kehidupan gereja, membangun umat agar setiap orang dapat merasakan karya penebusan Kristus dalam hidupnya. Atau dapat dirumuskan dengan lebih sederhana agar cinta kasih Tuhan dapat dirasakan dalam hidup mereka. Dengan demikian karunia itu memiliki intensi atau tujuan yaitu sarana pelayanan (service) kepada sesama. Karunia itu juga jangan dibayangkan yang muluk-muluk, tetapi yang paling sederhana, seperti senyum yang tulus saat bertemu dengan orang lain sehingga orang merasakan keramahan dan persahabatan. Karunia itu juga tampak dalam menjalankan hidup keseharian dengan sabar, tidak mengeluh, dan gembira hati sehingga orang yang melihatnya menemukan rasa damai dan pelayanan yang tulus. Dengan demikian pertanyaan “Apa karunia Tuhan dalam hidupku yang dapat saya berikan untuk hidup menggereja?” menjadi penting
IMAN TUMBUH
DALAM PELAYANAN KASIH DAN PERSAUDARAAN SEJATI
MELALUI TUGAS KATEKESE DENGAN MODEL GEMBALA BAIK
Pembekalan Pelayan Paroki St. Monika
Gading Serpong, 25 November 2012
Oleh Pastor Antonius Subianto OSC
Pengantar
Berbicara yang baik itu lebih mudah daripada melakukan kebaikan.
Berteori tentang kasih lebih gampang daripada memberi pelayanan kasih.
Berdiskusi tentang persaudaraan sejati lebih cepat daripada hidup sebagai
saudara. Orang yang beriman kepada Allah diuji dalam tindakan nyatanya
apakah ia sungguh mencintai Allah yang diwujudkan dalam sikap peduli
terhadap sesama dan keterbukaan pada persaudaraan sejati. Orang beriman
digerakkan oleh kasih Allah untuk berbuat kasih sekalipun harus mengorbankan
kebutuhan dan kepentingannya karena percaya hidupnya dijamin Allah. Orang
yang beriman akan tergerak oleh Roh Allah untuk terlibat dalam tugas perutusan
Gereja. Orang yang diselamatkan akan terbakar hatinya untuk mewartakan
kebaikan Allah sebagaimana yang ditugaskan oleh Tuhan sendiri: “Pergilah ke
seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16: 15) Tugas
pewartaan ini bisa mengikuti model Sang Pengutus, yaitu Yesus sebagai Gembala
yang baik (Yoh 10: 1-21) yang menyerahkan diri untuk keselamatan para
muridNya.
Contoh Iman pada Tuhan diwujudkan pada Pelayanan Kasih
Bacaan pertama dan Injil pada Minggu ke 32 mengisahkan gandum
segenggam dan minyak sedikit janda Sarfat (1 Raj 17: 10-16) serta dua keping
uang janda miskin (Mrk 12: 38-44) merupakan contoh bahwa peduli pada
sesama adalah pewujudan iman dalam tindakan nyata. Janda dari Sarfat butuh
makan untuk keluarganya. Maka, ia menyiapkannya mulai dengan mencari kayu
bakar. Akan tetapi, ternyata muncul Nabi Elia yang dikenalnya sebagai utusan
Allah. Janda tersebut menjelaskan kebutuhan konkret dan mutlak bagi hidupnya
saat itu. Yang dibutuhkan Elia adalah apa yang persis dibutuhkannya. Akan
tetapi, karena Elia berjanji bahwa kalau ia mengesampingkan kebutuhan demi
dirinya yang adalah utusan Allah (kepentingan ilahi), Allah akan menjamin
hidupnya. Mukjijat pun terjadi, sang janda dipenuhi kelimpahan. Demikian pula,
janda yang adalah suatu pribadi lemah dan rapuh baik secara ekonomis, sosial,
maupun yuridis menyumbangkan 2 keping uang yang dimiliki untuk sesamanya
pada kotak persembahan karena menganggap ada orang lain yang lebih
membutuhkannya; karena ia juga yakin bahwa hidupnya akan dijamin oleh
Allah. Dua pribadi ini adalah gambaran orang yang sungguh percaya kepada
Allah dan mewujudkan imannya dengan peduli pada sesama; peduli pada
kebutuhan mendesak sesamanya sekalipun mereka juga dalam keadaan sangat
membutuhkan. Itulah gambaran pribadi yang hati dan budinya ada pada Tuhan
hingga materi dan energi yang dimilikinya pun dipersembahkan untuk Allah
dalam kepeduliannya kepada sesama. Hal ini terjadi karena harta bagi orang
beriman adalah Allah. “Di mana hartamu berada, di situlah hatimu berada” (Mat
6: 21). Kalau hartanya itu Allah, hatinya pun tertuju pada Allah. Itulah yang
merupakan hakikat hidup Yesus sendiri: Ia mati bukan untuk diriNya sendiri
tetapi untuk menanggung dosa banyak orang. Yesus yang mati ini kemudian
bangkit dan terus meneguhkan iman para muridNya dengan serangkaian
penampakan hingga persaudaraan para murid terbangun kokoh dan mendapat
peneguhan pada peristiwa Pentakosta. Sejak itu para murid (Gereja Perdana)
senantiasa berkumpul (Kis 2: 41-47) dalam hidup persaudaraan (koinonia)
seraya membagi-bagi roti dalam Ekaristi (leiturgia) yang semangatnya
dikonkretkan dalam perwartaan (kerygma) dan pelayanan pada sesama
(diakonia) dengan semangat rela berkorban (martyria). Tugas pewartaan Kristus
yang bangkit kini kita teruskan agar makin banyak orang menjadi muridNya dan
mencapai kepenuhan hidup sebagai murid Kristus.
Katekese sebagai Tugas Pokok Gereja
Pewartaan adalah aktivitas intrinsik dari identitas Gereja. Karena
pentingnya pewartaan sebagai tugas utama Gereja, Sidang KWI 2011 berbicara
tentang katekese dengan tema “Mewartakan Injil adalah rahmat dan panggilan
khas Gereja,?merupakan identitasnya yang terdalam.” (Evangelii Nuntiandi [EN],
a.14). Dasar dari tugas pewartaan ini adalah perintah Yesus sendiri: “... pergilah,
jadikanlah segala bangsa murid-Ku dan baptislah mere ka dalam nama Bapa dan
Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segal a sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu" (Mat 28:19-20). Semua penginjil menutup Injilnya
dengan perintah pewartaan yang disertai janji penyertaan Kristus sendiri sampai
akhir zaman (Mat 28:19-20; bdk. Mrk 16:15-18; Luk 24:46-49; Yoh 20:21-23).
Gereja berkembang sejak awal hingga kini karena tugas pewartaan para rasul
yang diteruskan oleh para penggantinya dan pengikut Kristus selanjutnya dalam
upaya menghadirkan kerajaan Allah supaya “sabda Allah terus maju dan
dimuliakan” (2Tes 3:1). Itulah yang kemudian ditegaskan oleh Paus Paulus VI
sebagai tugas mendesak Gereja zaman ini (EN 14).
“Katekese” berasal dari dua kata Yunani (?at???sµ??), yaitu kata (ke
bawah) dan ekhein (menyerukan, menggemakan ke telinga, dari kata echo) yang
berarti memberi instruksi dengan kata-kata (instruksi verbal). Gereja
mendefinisikan katekese sebagai proses pengajaran interaktif agar mereka yang
mendengarkannya mengalami pertobatan dan mencapai kepenuhan hidup
sebagai murid Kristus. Katekese adalah proses pengajaran dan pertobatan
berkelanjutan.
“Sementara itu, keterlibatan umat untuk menjalankan pastoral katekese baik
sebagai katekis purna waktu, maupun sebagai pelaksana karya katekese paruh
waktu merupakan kekuatan bagi gerak pastoral katekese di Indonesia. Harus
diakui bahwa karya katekese sangat tergantung dari keterlibatan saudara-
saudari kita itu.” (Pesan KWI 2011, No. 3) Di sini diungkapkan betapa pentingnya
setiap orang Kristen (dewasa) terlibat dalam tugas katekese baik secara
langsung maupun tak langsung, baik secara purna waktu maupun paruh waktu.
Usaha dan keinginan untuk mengembangkan katekese telah dilakukan di mana-
mana. Akan tetapi, hambatanpun tetap ada.
Pesan Sidang KWI 2011 menuliskan beberapa hal yang menjadi rintangan pada
butir 4.1:
a. para pastor yang kurang memberi perhatian pada katekese
b. petugas katekese yang memiliki kemampuan memadai
c. keuskupan yang tidak mengangkat katekis purna waktu, dan guru agama
Katolik PNS yang tak mau terlibat.
Keprihatinan ini perlu ditanggapi serius melalui pembinaan dan penyadaran
akan pentingnya katekese sebagai tanggungjawab seluruh umat. Rintangan
diatas diperparah dengan kurang memadainya isi katekese (Pesan Sidang KWI
2011, 4.2). Di satu pihak terlalu menekankan aspek praktis sebagai tanggapan
iman dalam kehidupan sehari-hari tetapi kurang memikirkan kebenaran
doktrinal. Di lain pihak, ada isi katekese yang terlalu doktrinal hingga dirasa jauh
dari kenyataan hidup praktis. Katekese menjadi terlalu kering dan sulit; kurang
menyentuh hidup nyata. Untuk mengatasinya kita diajak “untuk lebih
bersungguh-sungguh menciptakan dan mengembangkan model katekese yang
bermutu dan menanggapi harapan.”
Pesan Sidang KWI 2011 menyadarkan kita bahwa “Katekese merupakan
bagian integral dari pelaksanaan tugas pewartaan Gereja. Komunitas Basis
Gerejawi merupakan salah satu medan yang amat penting dalam pelaksanaan
tugas ini. Gereja bertugas untuk "memajukan dan mematangkan pertobatan
awal, mendidik orang yang bertobat dalam iman dan menggabungkannya dalam
komunitas Kristiani" (Pedoman Umum Katekese no. 61). Maka katekese
menyangkut pembinaan iman anggota-anggota Gereja, sejak mereka berniat
masuk menjadi anggota Gereja sampai mencapai kedewasaan rohani. Termasuk
juga dalam proses katekese ini ialah pelajaran agama di sekolah.” (Pesan, no. 7)
Katekese bukan hanya untuk kepentingan pertumbuhan iman murid-murid yang
percaya tetapi juga dalam pewartaan dan dialog dengan mereka yang belum
percaya kepada Kristus. “Sebagai proses pendewasaan iman, tugas fundamental
katekese ialah mengantar orang masuk ke dalam kehidupan umat dan
perutusannya serta membantu umat beriman untuk mengetahui, merenungkan
dan merayakan misteri Kristus. Katekese juga membantu orang untuk
mengembangkan sikap misioner dan dialog (Pedoman Umum Katekese no 85-
86). Oleh karena itu, katekese perlu dilihat sebagai suatu proses yang terencana
dan sistematis, yang meliputi pengembangan pengetahuan dan sikap serta
penghayatan iman pribadi maupun kelompok, yang dilaksanakan untuk
membantu umat sehingga semakin dewasa dalam iman.” (Pesan No.6)
Selanjutnya Pesan Sidang KWI tersebut menyampaikan 9 langkah tindakan
pastoral yang dibutuhkan (8.1-8.9) yang meliputi katekese umat, katekese
sekolah, pengembangan program katekese, petugas katekese, pembinaan, dan
pembiayaan. Langkah ini perlu ditindak-lanjuti dalam perencanaan dan
pelaksanaan proses katekese mulai dari tingkat keluarga sebagai “Gereja Kecil”,
stasi, lingkungan, dan paroki.
Penutup: Menumbuhkan Iman, Kasih, Persaudaraan Sejati
Dalam kisah panggilan Markus (Mrk 3: 13-19), Yesus naik ke atas bukit
(ketinggian sebagai simbol tempat kudus) untuk memanggil mereka yang
dikehendakiNya. Pertama-tama, mereka dipanggil untuk menyertaiNya (hidup
kontemplatif, tinggal bersamaNya). Inilah panggilan untuk hidup intim dengan
Yesus (inti kesucian). Inilah motivasi utama mengikuti Yesus. Setelah mencapai
hidup mendalam bersama Yesus, tibalah saatnya murid diutus untuk
mewartakan kabar baik (berkatekese) dan mengusir setan (berbuat kasih dan
membangun persaudaraan sejati).
Dalam kisah panggilan Yohanes (Yoh 1: 35-51), Yesus lewat di depan
(hidup) Yohanes Pembaptis dan murid-muridnya. Ia mewartakan Yesus kepada
murid-muridnya sebagai Anak Domba Allah sehingga mereka tergerak untuk
mengikuti Yesus. “Apa yang kamu cari?”, kata Yesus kepada mereka. Motivasi
mereka ternyata ingin tinggal bersama Yesus: “Di mana Engkau Tinggal.” Kata
Yesus, kalau begitu, “Mari dan kamu akan melihatnya.” Setelah tinggal bersama
dengan Yesus, murid-murid tersebut secara spontan (mengikuti gerakan Roh)
mewartakan Yesus kepada yang lain hingga menjadi muridNya pula. Karya
seorang murid ternyata adalah membawa orang lain pada Yesus (berkatekese).
Kesucian pribadi menyucikan sesama.
Motivasi kita menjadi murid Kristus itu bermacam-macam. Akhirnya
motivasi tersebut harus dikembangkan ke arah motivasi injili, yaitu tinggal
bersama Yesus (communio/koinonia dalam leiturgia). Oleh karena itu, tujuan
sejati murid Kristus pertama-tama adalah relasi dengan Yesus (hidup mistik,
kontemplatif); bukanlah mau menjadi ini dan itu, tetapi mau hidup dekat dengan
Allah. Oleh karena itu, kita diundang untuk membiarkan dirinya bagaikan tanah
liat di tukang periuk (Yer 18: 1-17) dibentuk oleh llah. Dengan begitu, karya
dan pelayanan yang dipercayakan kepada kita entah di tingkat paroki, stasi,
maupun lingkungan adalah buahnya sesuai dengan gerakan Roh Allah. Karya dan
pelayanan kita adalah tugas ilahi yang dipercayakan Gereja kepada setiap
anggotanya. Karya dan pelayanan bukanlah opsi dan ambisi pribadi yang bisa
direncanakan ataupun tugas profesional yang bisa ditawar-tawar, melainkan
tugas perutusan ilahi di mana pun dan kapan pun yang dipercayakan pada kita.
Pelayanan kita dalam pewartaan terjadi bukanlah sekedar karena adanya aturan
agama, tuntutan masyarakat, dan desakan moral, tetapi karena tergerak hatinya
oleh belas kasih Allah yang berkarya dalam hidup kita sebagai wujud iman pada
Kristus yang nyata dalam Ekaristi: membagi-bagi diriNya bagi kita yang
dicintaNya. Peduli pada sesama adalah tindakan kepercayaan penuh dan kasih
tulus pada Tuhan bagai Wanita Samaria (Yoh 4: 5-42) yang menghasilkan kasih
pada sesama yang digerakkan oleh belas kasih Allah bagaikan Pria Samaria (Luk
10: 25-37). Model pelayanannya adalah model Gembala baik yang mendasarkan
pelayannya semata pada kasih agapeik pada Allah (Perintah Pertama: (Ulangan
6:6; Mat 22:37; Luk 10: 27, Mrk 12:30), pada sesama (Perintah Kedua: Im 19: 18;
Mat 22:39; Luk10: 27, Mrk 12:31), dan kasih satu sama lain (Perintah Baru: Yoh
13: 34).
Dalam Injil Yoh 10: 1-21, Yesus menjelaskan perbedaan antara gembala
pemilik dengan gembala upahan. Dua-duanya disebut gembala tetapi kualitasnya
sangat berbeda. Perbedaan pertama adalah: sense of belonging. Kualitas ini
menyebabkan gembala pemilik punya sense of responsibility yang lahir dari cinta
dan kemudian melahirkan sense of dedication. Sedangkan gembala upahan
mungkin punya dedikasi yang tidak lahir dari cinta tetapi dari motivasi
ekonomis untuk mendapatkan upah. Perbedaan kedua: kualitas cinta. Gembala
pemilik punya agape, cinta habis-habisan demi domba. Cinta itu memberi dan
memberi. Sedangkan gembala upahan mempunyai eros, cinta rayuan untuk
mendapatkan sesuatu demi pemenuhan keinginan pribadi. Cinta erotik ini
memberi sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih. Kualitas ketiga adalah
risiko. Gembala pemilik berani ambil risiko bahkan rela kehilangan nyawanya
karena kawanan domba adalah miliknya, bagian dari hidupnya. Sedangkan
gembala upahan tidak ambil pusing dengan nasib dan hidup domba karena
memang ada “jarak” antara kawanan dengan dirinya. Maka, ia tak mau ambil
risiko. Kalau ada serigala atau pun perampok, lebih baik lari dan kehilangan
pekerjaan dari pada mati. Pekerjaan bukanlah bagian dari jatidirinya; hanyalah
tempelan dan assesori hidup. Yesus menyatakan diri sebagai gembala yang baik
(Yoh 10: 11). Karenanya Ia pun rela mati di kayu salib. Salah satu penafsir
mengatakan bahwa kalau dalam injil Yohanes, Yesus bersabda “Akulah....”
artinya pendengarnya pun dipanggil untuk menjadi seperti yang diserukan
Yesus. Maka, “Akulah gembala yang baik” berarti “Kamilah/kamulah gembala
yang baik...” Kita diundang juga untuk menjadi gembala yang baik bagi mereka
yang dipercayakan Tuhan pada kita; mengembangkan apa yang Tuhan
percayakan pada kita. Inilah cara kita bersyukur kepada Tuhan; mewujudkan
iman secara nyata. ( PES )