[Renungan Suami] Memperhatikan Kepentingan Istri

Kata-kata di atas diambil dari sebuah tweet yang dituliskan di twitter. Yang menulis seorang pria, yang pastinya dia sendiri tidak bisa membengkokkan linggis :)
Tapi penggalan kalimat berikutnya benar adanya. Pria harus bisa jadi penopang wanita di kala sedih.
Para pria sejati tentunya bisa lebih dari itu dong ya. Tidak usah menunggu sang istri sedih. Pria sejati, sebagai 'pemimpin yang melayani' bisa melakukan hal-hal super dibandingkan pria-pria biasa.
Mari kita baca Filipi 2:3-4
"Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."
Mungkin biasanya kita menafsirkan ayat-ayat tersebut adalah dalam hubungan kita dengan sesama. Kita lupa bahwa 'istri' adalah sesama kita juga :(
Walaupun di dalam keluarga, kita adalah 'raja', kita diminta Tuhan untuk memperhatikan kepentingan istri juga. Sudah/belum ya? Puji Tuhan jika Anda sudah melakukannya.
Sebagai bahan introspeksi, coba kita lihat bagaimana seorang suami bisa memperhatikan kepentingan istri di kehidupan pernikahannya:
- Sepulang kerja, pakailah waktu selama sepuluh menit untuk memberikan perhatian khusus untuk istri Anda, sebelum Anda membuka sms, periksa email atau menyalakan TV.
- Jika Anda melihat istri Anda kelelahan, masaklah untuk makan malam. Pepatah Cina mengatakan "Bicara saja tidak membuat nasi menjadi matang". Kalau Anda tidak bisa masak, ajak ke rumah makan dong ya :)
- Pergilah mengunjungi mertua Anda di kala istri menghendakinya, karena begitulah cara benar untuk menghormati istri Anda, yaitu menghormati keluarga besarnya.
- Pergilah bersama istri Anda ke supermarket, mal atau toko baju kesayangannya. Pertahankan sikap riang sepanjang waktu. Kalau mengantar, tapi muka cemberut, kan tidak bagus juga :)
- Ringan tangan untuk ikut mengganti popok, ajak anak-anak bermain, dan memandikan anak-anak Anda yang masih kecil. Membantu istri dalam hal-hal kecil begini, gampang kan?
- Biarkan istri Anda yang memilih acara televisi dan memegang remote.
- Bersama istri pergi menonton film yang disukai wanita. Tapi jangan tidur di bioskop :)
- Selesaikan perbaikan rumah yang ia minta untuk Anda selesaikan.
- Sarankan kepadanya untuk bersantai dengan membaca buku atau mandi sementara Anda membersihkan dapur.
- .... dst (Anda lebih tau daripada saya cara men-servis istri Anda)
Selamat 'memperhatikan kepentingan istri' ........
Salam,
Julius Saviordi
3 Mei 2013
www.priasejatikatolik.wordpress.com





Banyak hal tidak enak dan mengkhawatirkan dalam hidup ini? Hidup ini kemana dan mau apa sesudah hidup kita ini sering amat mengkhawatirkan. Belum lagi soal-soal keseharian dari masalah mencari nafkah, kesehatan sampai masa depan anak-anak yang membuat orang tidak nyaman dan bersedih. Orang yang bersikap fatalistik hanya pasrah saja. Begitulah hidup, kata mereka, ada senang, ada susah, ada sehat dan sakit. Ada untung bisa juga buntung alias rugi. Ada masa muda, ada masa tua renta yang hanya menunggui hari-hari terakhir. Orang beragama sering mencari mudahnya dengan menyerahkan semuanya kepada “Yang di atas”. Mulai dari kejadian yang menyenangkan sampai-sampai kesalahan sendiri yang membawa petaka semuanya dianggap karena ketentuan dari Atas. Begitu mengkhawatirkan dan tidak pastikah hidup kita ini?
Pergumulan manusia dalam menjalani kehidupan yang fana ini tak jarang seperti sebuah ironi; seringkali orang menantang ‘alam’ dengan sengaja! Bukankah semua pelajar tahu bahwa malas belajar akan berakibat hasil ujian tidak memuaskan? Bukankah semua perokok tahu bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan? Mengapa orang sepertinya sengaja memilih yang buruk? Demikianlah karena penuh dengan iri hati orang Yahudi menegarkan diri untuk menolak Allah! Mereka tidak mau mendengarkan nasihat St. Paulus yang mengajarkan Firman Allah supaya mereka tetap hidup dalam kasih karunia Allah.[…] ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus. Tetapi dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: "Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai keujung bumi." (Kis 13:45-47).
Di negara ini kejujuran dan kesetiaan semakin langka, sebaliknya keserakahan dan kemunafikan semakin merajalela; sebagai hasilnya permusuhan, perceraian dan korupsi terjadi dimana-mana. Tidak mudah membedakan siapa yang salah dan siapa yang benar karena keadilan bisa dibeli, bahkan koruptor yang sudah dihukum pidanapun masih tetap membantah tanpa merasa bersalah!
Menyadari atau tidak, hampir setiap saat kita dihadapkan pada pilihan: dari yang paling sederhana seperti misalnya apakah mau sarapan atau mandi dulu, apakah mau lewat jalan tol atau jalan biasa; sampai yang lebih serius seperti menentukan pilihan sekolah/jurusan pendidikan anak, memilih jodoh, sampai memilih iman yang akan menentukan ‘nasib’ di akhirat!