EMPATI
Ada yg tdk lazim saat Sri Paus Fransiskus memimpin Misa Agung Paskah tgl 31 Mrt 2013 di halaman Basilika Santu Petrus - Roma. Setelah injil, Sri Paus tdk memberikan kotbah, melainkan mengajak umat utk hening dan merenung. Saya bertanya dlm hati : kok bisa ya ? Tdk ada kotbah pada sebuah Misa Agung. Kita rindu mendengar pesan rohani Sri Paus di hari yg menjadi pondasi pokok iman kita : Kristus bangkit ! Setelah Misa Agung selesai, Sri Paus turun dari altar dan menyalami satu per satu pembantunya : para Kardinal. Lalu dgn jeep terbuka, Sri Paus berkeliling menyalami ribuan umat yg menyambutnya dgn penuh antusias. Beberapa kali dia menghentikan mobil, krn ingin memeluk, bahkan mencium org-org cacat dan anak-anak. Sikapnya yg begitu tulus dan penuh empati mengundang decak kagum. Saya berani mengatakan : inilah kotbah yg paling dalam dan efektif. Sri Paus tidak hanya “mengajar”, tapi juga memberi contoh. “Verba movent, exempla trahunt”. Kata-kata menggerakkan, tapi contoh itu menarik. Atau pernyataan St. Yakobus : “Jika iman tdk disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya mati” (Yak 2:17).
Injil hari ini berbicara ttg Yesus menghidupkan Anak Muda di Nain (Lk 7:11-17). Tiga kali Yesus menghidupkan orang mati. 1) Yairus, putri Kepala Sinagoga di Kapernaum, yg baru saja meninggal (Mrk 5:21-24;35-43); 2) Anak muda seorang janda di Nain, yg sedang diusung ke pekuburan (Lk 7:11-17); 3) Lazarus di Betania, yg sdh 4 hari di dlm kubur (Yoh 11:1-44). Kekuasaan Yesus menghidupkan org mati dalam 3 situasi berbeda merupakan salah satu bukti “keilahianNya”. Ada beberapa poin penting yg bisa kita angkat dari kisah ini. 1) Anak yg meninggal adalah laki-laki tunggal, seorang janda. Setelah kehilangan suami, Ibu itu sekarang kehilangan anak laki-laki. Dalam masyarakat Yahudi : kehilangan anak laki-laki berarti kehilangan segalanya, apalagi bagi seorang janda. Memang kematian tdk mengenal usia dan kedukaan bisa menimpa siapa saja. 2) Ketika “Tuhan” melihat janda itu (ayat 13). Kalau sebelumnya Penulis injil selalu menyebut “Yesus”, di sini dia menggantinya dgn “Tuhan”. Hal ini sengaja digunakan, krn hanya “Tuhan” yg mampu menghidupkan org mati. “tergeraklah hatiNya oleh belaskasihan” (ayat 13). Kata “tergeraklah hatiNya” adalah terjemahan dari kata Yunani : splagchnizesthai yg berasal dari kata “spalgchna” yaitu bagian perut yg paling penting : jantung, hati, paru-paru dan usus. Pada saat perjamuan, bagian ini hrs disantap duluan. Menurut keyakinan org Yunani : perasaan marah, takut, cemas dan cinta bersumber dari bagian ini. Kata ini menunjukkan “suatu emosi yg sangat kuat dan dalam”. Yesus seperti sdh tahu dukacita yg sangat besar dari janda itu. Maka tanpa menunggu permintaannya – sebagaimana biasa Dia lakukan ketika mau membuat mukjizat yg lain – Yesus langsung mengatakan : “Jangan menangis”. Di sini Yesus menunjukkan sikap empati yg luar biasa. Berbeda dgn sikap simpati, sikap empati adalah kemampuan afektif dan kognitif utk merasakan keadaan emosional org lain atau mengidentifikasi dirinya dgn perasaan atau pikiran org lain. Yesus lalu menyentuh usungan (ayat 14), yg dilarang dlm tradisi Yahudi, krn akan membuat seseorang itu najis. Sikap empati Yesus mendobrak larangan dan batasan. Sesuai pandangan St. Agustinus “Ama et fac quod vis” – “Kasihilah dan engkau boleh melakukan apa saja”. Dgn kata lain, jika perbuatan itu dilandasi oleh kasih, pasti itu baik. Dan dgn kata-kata yg penuh kekuasaan, Yesus bersabda : “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” (ayat 14). Dlm Perjanjian Lama, Nabi Elia dan Nabi Elisa juga menghidupkan orang mati. Namun mereka harus berseru-seru kpd Tuhan sambil membaringkan dirinya di atas jenazah (I Raj 17:21 dan 2 Raj 4:8-37). Tetapi Yesus hanya dengan kata-kata yg penuh kuasa. 3) Org yg menyaksikan mukjizat itu sangat kagum dan berkata : “Allah telah melawat umatNya” (ayat 16). Mereka melihat “keilahian” dalam Diri Yesus. Sebuah respons yg positif atas karya Allah. Lalu apa dapat kita petik dari mukjizat di atas ? Mungkin banyak. Tapi yg jelas mukjizat itu berawal dari sikap Yesus yg “tergerak hatinya oleh belaskasihan” atau istilah lain : sikap empati ! Sikap empati merupakan salah satu sikap dasar Kristiani : mau mengerti dan merasakan apa yg dialami oleh oleh org lain. Bdk Kotbah Yesus di Bukit : “Segala sesuatu yg kamu kehendaki, supaya org perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kpd mereka” (Mt 7:12). Berusaha utk memahami terlebih dahulu sebelum dipahami. Inilah sikap yg “menghidupkan” dlm semua relasi dan sikap yg pantas utk “dihidupi” !





Apa sih bedanya "tolong" dengan "bantu"? Kalau kita beli beras sekarung di supermarket, kemudian pelayannya datang mengangkat dan memindahkan beras dari rak ke troli kita, pelayan itu menolong kita atau membantu kita ya? :)
Pernah seorang katekis (guru agama) melakukan visitasi, kunjungan ke keluarga-keluarga Katolik di suatu desa. Tibalah ke suatu keluarga yang kedua anak laki-lakinya amat bandel dan nakal. Ayah anak kecil itu meminta katekis untuk menasehati mereka. Katekis kemudian mendatangi kedua anak itu dan bertanya, “Kok kamu nakal sekali nak. Kamu tahu Tuhan itu dimana?” Kedua anak itu sangat gugup dan berjalan mundur, tetapi katekis terus bertanya, “Kamu tahu Tuhan dimana?”. Karena tidak bisa menjawab dan takut, mereka berjalan mundur makin cepat, Katekis terus bertanya dengan suara yang lebih keras, “Kamu tahu Tuhan dimana?” Kedua anak itu karena takut lari ke dalam rumah sambil masih mendengar pertanyaan suara keras katekis, “Tuhan dimana?” Anak-anak kemudian bersembunyi di kamar. Ketika suasana rumah sudah agak sepi, sang kakak membukakan pintu lemari tempat adiknya bersembunyi. Sang adik yang ketakutan berkata, “Wah kak kita celaka! Celaka ini!” Sang kakak balik bertanya, “Kenapa?” “Tuhan hilang kak. Dan kita yang dituduh menghilangkannya!” Kakak: ????
Dalam Kebiasaan ke-4 “Berpikir Menang Menang” dari “7 KEBIASAAN MANUSIA YG SANGAT EFEKTIF”, Stephen R. Covey mengemukakan gagasan tentang “Mental Kelimpahan” (Abundance Mentality) vs “Mental Kelangkaan” (Scarcity Mentality). Org yg memiliki “mental kelangkaan” berpikir bhw kita tidak mempunyai cukup sumber utk dinikmati oleh semua orang. “Roti yg saya miliki” tidak cukup untuk dibagikan kpd org lain. Mereka sulit membagi “pengakuan dan penghargaan, wewenang dan keuntungan”. Mereka memiliki “paragdima zero-sum” bhw apa yg saya bagikan akan mengurangi apa yg saya miliki. Sebaliknya, “Mental Kelimpahan” mengalir dari nilai diri dan rasa aman pribadi yg mendalam. Mereka berpikir bhw di luar sana tersedia cukup sumber yg dpt dibagi utk semua org. Mereka tdk pelit utk memberi pujian, pengakuan dan penghargaan. Mental ini lahir dari karakter yg kaya oleh integritas, kematangan dan kejujuran. Mental ini dapat menumbuhkan hubungan yg didasari oleh sikap “menang menang”. Atau menurut istilah Thomas A. Harris dalam “Analisa Transaksional” : Saya Oke, Kamu Oke !
Suatu hari minggu anda bersama keluarga berkunjung ke rumah mertua. Di sana mertua mengajak istri dan anak-anak anda ke supermarket. Anda memilih untuk menunggu saja di rumah. Untuk mengusir rasa bosan, anda melihat-lihat rak di bawah TV dan menemukan sebuah DVD film bagus yang belum pernah anda tonton. Anda menyalakan TV dan DVD player. Film mulai berjalan. Tapi anda tidak nyaman dengan bahasa Inggris. Anda ingin memunculkan subtitle (teks) dalam bahasa Indonesia. Repotnya hari itu anda lupa membawa kacamata. Anda tidak tahu tombol mana di remote-nya yang harus ditekan untuk memunculkan teksnya. Anda mencoba satu per satu tombol di remote, sampai akhirnya menemukan tombol yang seharusnya. Suatu tombol gunanya adalah membantu kita, tapi kita harus tahu dulu, tombol mana yang harus ditekan.