DIMANAKAH TUHAN
Bacaan pertama minggu ini dimulai dengan: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Nabi Mikha menuliskan nubuat ini kira-kira 700 tahun sebelum Kristus lahir. Dan Betlehem yang terletak di daerah Efrata adalah sebuah kampung kecil yang tak berarti dan tak pernah diperhatikan orang. Mungkin kita dapat membayangkan apa yang dirasakan oleh orang-orang Yahudi yang telah membaca nubuatan ini selama ratusan tahun, kiranya agak mirip dengan perasaan kita saat memasuki masa Adven. Yaitu kita mengetahui artinya, tetapi tidak berharap banyak darinya.
Dalam bacaan Injil, jawaban Elisabet saat Maria memasuki rumahnya sangatlah puitis dan dalam artinya: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Jawaban ini mencerminkan suatu rasa bersyukur dan terima kasih yang amat mendalam. Jawaban Elisabet ini muncul, dari keadaannya yang sudah tua dan mandul, yaitu sudah tidak berguna dan tidak mampu berbuat apa-apa lagi, akan tetapi kemudian ia merasakan berkat Allah yang luar biasa dimana dirinya menjadi mengandung. Akan tetapi, kadang kita berpikir: “Tentu saja Elisabet sangat bersyukur, bukankah dia menerima berkat Allah yang amat besar”. Dan kitapun membayang-bayangkan bila saja kita menerima berkat Allah yang besar, sensasional dan telah lama kita idam-idamkan, tentu akan amat bersyukur rasanya. Dan persis seperti itulah yang dialami Zakharia suami Elisabet, yang hanya dapat duduk terdiam bisu dan buta matanya, karena tidak dapat mengimani dan melihat berkat Allah yang sudah diberikan kepadanya.
Siapakah tokoh yang akan kita perankan dari bacaan Injil hari ini? Apakah seperti Elisabet yang dengan penuh antusias, sukacita, bernyanyi dan bersyukur menyambut kedatangan dan kelahiran Tuhan? Ataukah seperti Zakharia suaminya, yang malah tetap duduk terdiam dan buta terhadap berkat Allah yang telah diberikan kepada kita? Karena Adven bukanlah sekedar peringatan rutin tahunan sebelum perayaan hari kelahiran Kristus. Adven selalu dimaksudkan untuk menyiapkan diri kita akan kedatangan Tuhan yang sesungguhnya di dalam hati kita.
Dan khususnya pada hari minggu Adven ke-IV ini, yang walaupun hanya berumur satu hari sebelum Natal, semoga dapat kita maknai seperti dalam tema pertemuan Adven ke-IV: “Perjuangan Membangun Relasi yang Baik dalam Keluarga”, dengan mulai belajar seperti Elisabet, yaitu melihat kehadiran Tuhan, dalam diri anggota keluarga kita, yang hanya bisa dicapai bila kita telah membangun relasi yang baik didalamnya.





Selamat Tahun Baru Liturgi! Hari ini adalah hari pertama dari tahun liturgi C/I, yang sekaligus Advent hari I. Advent berarti “mendahului”, yaitu suatu masa untuk menunggu dan mempersiapkan Natal.
Advent dari tahun ke tahun selalu dan pasti bertemakan TOBAT. Seperti apakah tobat yang seharusnya? Sebelum memasuki kamar pengakuan, biasanya kita: Mengingat (dosa), menyesal, dan minta ampun. Dan kemudian membuat dosa-dosa yang sama lagi keesokan harinya. Kiranya bukan seperti itulah tobat yang diinginkan Tuhan. Karena tobat seperti itu bukan membawa kedamaian, tetapi kekuatiran dan ketakutan. Dari Injil hari ini, Yohanes Pembaptis berseru: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”, kata-kata ini sangat terkenal, dan banyak orang menyuarakannya seolah-olah inilah kunci kerajaan surga. Sayangnya bukan hanya disinilah letak inti pertobatan yang diberitakan Yohanes, melainkan pada kelengkapan kalimat berikutnya: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”.
Dalam tata pergaulan masyarakat dikenal istilah The Golden Rule yaitu prinsip atau aturan yang mulia yang seharusnya menjadi pegangan semua orang yang memiliki rasa perasaan sebagai manusia. Prinsip ini sederhana saja. Hal-hal yang tidak ingin dilakukan oleh orang lain terhadap dirimu (misalnya, menghina, melecehkan, menyakiti, melakukan kekerasan, penipuan) jangan kamu lakukan terhadap orang lain. Gampang bukan? Prinsip itu bisa dilanjutkan, kalau kamu tidak ingin disakiti, dihina, dipandang rendah maka janganlah kamu menyakiti, menghina, dan memandang rendah orang lain.