KASIH DAN PENGAMPUNAN
Tgl. 6 Maret 2012 Raka Widyarma ditangkap polisi di rumahnya Jl. Perkici Raya No. 42 Bintaro Jaya krn mengkonsumi ekstasi. Orangtua Raka, Bpk Rano Karno, sangat terpukul dgn peristiwa ini. “Saya sulit percaya ini” katanya. “Raka terkenal pendiam, tak pernah macam-macam dan tdk suka berantem”. Ketika memberikan konperensi pers di kediamannya, Perumahan Bumi Karang Indah Cinere hari Sabtu, 10 Maret 2012, Rano Karno berharap Raka yg melepas dirinya jika dia meninggal dunia. ”Saya selalu bilang, Raka jangan mati dulu sebelum saya. Saya ingin kamu azani saya saat saya mati”, ungkap Rano Karno sambil meneteskan air mata. Dia siap menjadi saksi utk Raka kalau diminta oleh pengadilan, bahkan rela melepaskan jabatannya. Sungguh suatu ekspresi kasih yg luar biasa dari seorang ayah. Karena kasih yg begitu besar, Bpk Rano Karno mampu memaafkan kesalahan Raka, putranya. “Saya ayahnya dan saya tidak marah maupun kecewa”.
Injil hari ini (Lk 7:36-8:3) berbicara ttg wanita yg diampuni dosanya ketika dia mengurapi Yesus di rumah seorang Farisi bernama Simon. Dalam tradisi Yahudi, ada ritus “terima tamu” sbb : 1) Tamu disambut dgn “ciuman” di pipi oleh tuan rumah; 2) kakinya dibersihkan dgn air, krn biasanya berdebu; 3) telapak tangan atau kepala diurapi minyak. Namun entah kenapa, Simon lupa melakukan tradisi tsb. Wanita berdosa yg tahu ttg kedatangan Yesus di rumah Simon langsung “nyelonong” masuk dan melakukan ritus tsb. Namun berbeda dgn ritus normal, wanita itu 1) mencium “kaki” Yesus; 2) membersihkan dgn “air mata” lalu mengeringkannya dgn “rambut”; 3) mengurapinya dengan parfum yg amat wangi. Tindakan di atas menunjukkan : sikap berani merendahkan diri, rasa penyesalan yg mendalam, ungkapan kasih yg begitu kuat serta siap mengorbankan yg berharga. Tindakan wanita itu menimbulkan sikap “risih bahkan sinis” dari pihak Simon, tapi menimbulkan “sikap empati yg luar biasa” dari Tuhan. Setelah menyampaikan perumpamaan ttg “Orang berhutang”, Yesus menyimpulkan bhw “Dosanya yg banyak itu telah membaca 2 kalimat ini, sepertinya bertolak belakang. Dlm bagian pertama : pengampunan terjadi karena berbuat kasih. Dlm bagian kedua : pengampunan terjadi, baru berbuat kasih. Namun kalau merenung lbh jauh, sesungguhnya tindakan wanita berdosa itu terjadi krndiampuni; sedikit juga berbuat kasih” (ayat 47). Kalau kita diampuni, krn ia telah banyak berbuat kasih. Orang yg sedikit dia sdh terlebih dahulu mengalami kasih Yesus. Lewat ajaran Yesus yg dia dengar sebelumnya serta sikap Yesus yg mau “bersahabat” dgn orang berdosa , wanita itu sadar bhw Tuhan itu sungguh baik dan mengampuni kesalahan manusia. Kesadaran itulah yg memberanikan dia utk datang ke rumah Simon dan melakukan tindakan yg sungguh mengagumkan. Apa dpt kita pelajari dari bacaan-bacaan hari ini ? 1) Kita adalah manusia berdosa. Sejak manusia pertama jatuh ke dlm dosa, seluruh umat manusia tercemar dosa ( Ingat : “dosa asal”). Kita bukan manusia sempurna. Kita bukan “superman”. Kita manusia rapuh. Kita bisa salah, kita bisa keliru, kita bisa khilaf. Seperti kata-kata Rasul Paulus “harta ini kami punyai dari tanah liat, supaya nyata kekuatan yg melimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari diri kami” (II Kor 4:7). 2)Allah itu maha kasih dan maha pengampun. Allah yg terlbh dahulu mengambil inisiatip utk mengampuni kita. Pengampunan dari Allah bukan krn jasa atau usaha kita, tapi krn Allah mau menyelamatkan kita. Allah tdk ingin kita hancur. Allah tdk ingin kita binasa. 3) Kasih Allah yg begitu besar hrs membangkitkan “sikap tobat” dan “tindakan kasih” dari pihak manusia. Bdk kisah Raja Daud dlm bacaan I (II Sam 12:7-10.13). Ketika mengetahui bhw Yahweh mengampuni dosanya, Daud langsung menyatakan penyesalan yg mendalam (lht Doa penyesalan Daud dlm Mzm 51 : “Kasihanilah aku ya Allah, menurut kasih setiaMu”). Bdk juga tindakan wanita berdosa dlm bacaaninjil di atas. Kebaikan Allah yg begitu besar hrs mendorong kita utk selalu berbuat baik, utk selalu memohon ampun – khususnya lewat sakramen tobat, utk mau memaafkan, utk selalu berbuat kasih. Jika demikian, maka seperti Rasul Paulus dalam bacaan II, kita boleh berkata : “Aku hidup, tetapi bukan aku sendiri yg hidup, melainkan Kristus yg hidup di dalam aku” (Gal 2:20). Semoga !





Ada yg tdk lazim saat Sri Paus Fransiskus memimpin Misa Agung Paskah tgl 31 Mrt 2013 di halaman Basilika Santu Petrus - Roma. Setelah injil, Sri Paus tdk memberikan kotbah, melainkan mengajak umat utk hening dan merenung. Saya bertanya dlm hati : kok bisa ya ? Tdk ada kotbah pada sebuah Misa Agung. Kita rindu mendengar pesan rohani Sri Paus di hari yg menjadi pondasi pokok iman kita : Kristus bangkit ! Setelah Misa Agung selesai, Sri Paus turun dari altar dan menyalami satu per satu pembantunya : para Kardinal. Lalu dgn jeep terbuka, Sri Paus berkeliling menyalami ribuan umat yg menyambutnya dgn penuh antusias. Beberapa kali dia menghentikan mobil, krn ingin memeluk, bahkan mencium org-org cacat dan anak-anak. Sikapnya yg begitu tulus dan penuh empati mengundang decak kagum. Saya berani mengatakan : inilah kotbah yg paling dalam dan efektif. Sri Paus tidak hanya “mengajar”, tapi juga memberi contoh. “Verba movent, exempla trahunt”. Kata-kata menggerakkan, tapi contoh itu menarik. Atau pernyataan St. Yakobus : “Jika iman tdk disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya mati” (Yak 2:17).
Dalam Kebiasaan ke-4 “Berpikir Menang Menang” dari “7 KEBIASAAN MANUSIA YG SANGAT EFEKTIF”, Stephen R. Covey mengemukakan gagasan tentang “Mental Kelimpahan” (Abundance Mentality) vs “Mental Kelangkaan” (Scarcity Mentality). Org yg memiliki “mental kelangkaan” berpikir bhw kita tidak mempunyai cukup sumber utk dinikmati oleh semua orang. “Roti yg saya miliki” tidak cukup untuk dibagikan kpd org lain. Mereka sulit membagi “pengakuan dan penghargaan, wewenang dan keuntungan”. Mereka memiliki “paragdima zero-sum” bhw apa yg saya bagikan akan mengurangi apa yg saya miliki. Sebaliknya, “Mental Kelimpahan” mengalir dari nilai diri dan rasa aman pribadi yg mendalam. Mereka berpikir bhw di luar sana tersedia cukup sumber yg dpt dibagi utk semua org. Mereka tdk pelit utk memberi pujian, pengakuan dan penghargaan. Mental ini lahir dari karakter yg kaya oleh integritas, kematangan dan kejujuran. Mental ini dapat menumbuhkan hubungan yg didasari oleh sikap “menang menang”. Atau menurut istilah Thomas A. Harris dalam “Analisa Transaksional” : Saya Oke, Kamu Oke !
Apa sih bedanya "tolong" dengan "bantu"? Kalau kita beli beras sekarung di supermarket, kemudian pelayannya datang mengangkat dan memindahkan beras dari rak ke troli kita, pelayan itu menolong kita atau membantu kita ya? :)
Pernah seorang katekis (guru agama) melakukan visitasi, kunjungan ke keluarga-keluarga Katolik di suatu desa. Tibalah ke suatu keluarga yang kedua anak laki-lakinya amat bandel dan nakal. Ayah anak kecil itu meminta katekis untuk menasehati mereka. Katekis kemudian mendatangi kedua anak itu dan bertanya, “Kok kamu nakal sekali nak. Kamu tahu Tuhan itu dimana?” Kedua anak itu sangat gugup dan berjalan mundur, tetapi katekis terus bertanya, “Kamu tahu Tuhan dimana?”. Karena tidak bisa menjawab dan takut, mereka berjalan mundur makin cepat, Katekis terus bertanya dengan suara yang lebih keras, “Kamu tahu Tuhan dimana?” Kedua anak itu karena takut lari ke dalam rumah sambil masih mendengar pertanyaan suara keras katekis, “Tuhan dimana?” Anak-anak kemudian bersembunyi di kamar. Ketika suasana rumah sudah agak sepi, sang kakak membukakan pintu lemari tempat adiknya bersembunyi. Sang adik yang ketakutan berkata, “Wah kak kita celaka! Celaka ini!” Sang kakak balik bertanya, “Kenapa?” “Tuhan hilang kak. Dan kita yang dituduh menghilangkannya!” Kakak: ????