Abraham Lincoln lahir di Hardin County, Kentucky, Amerika Serikat, tgl 12 Pebr 1809. Dia mula-mula bekerja sbg buruh kasar di perusahaan kereta api, lalu pindah menjadi Steerman kapan laut, lalu pindah lagi menjadi penjaga toko, tukang pos dan akhirnya menjadi pengacara. Th 1830 dia mulai bisnis sendiri, namun gagal. Thn 1832 dia mencalonkan diri jadi anggota legislatif, tapi gagal. Th 1838 gagal dalam sebuah kontes menjadi Pembicara. Th 1840 gagal utk menjadi anggota Dewan Pemilih. Th 1843, gagal menjadi anggota Konggres. Th 1846 dilantik menjadi anggota Konggres tapi th 1848 gagal lagi untuk menjadi anggota Konggres berikutnya. Th 1855 gagal menjadi anggota Senat. Th. 1856, gagal menjadi Presiden AS. Th. 1858, gagal menjadi anggota Senat. Akhirnya th 1860 berhasil menjadi Presiden Amerika yg ke-16. Lincoln yg pernah dijuluki “orang gagal”, ternyata menjadi Presiden Amerika Serikat yg paling sukses. Berbagai cobaan yg menimpa Lincoln, membuat dia menjadi pribadi yg kuat dan tegar. COBAAN adalah istilah lain dari “tantangan, kesulitan, krisis, kegagalan, dlsb”. Cobaan adalah “tungku api” yg mengubah bongkah emas menjadi batang emas “murni dan mahal”.
Bacaan injil hari ini (Lk 4:1-13) mengenai Yesus dicobai. Cobaan itu terjadi ketika Yesus berpuasa 40 hari lamanya. Ada 3 jenis cobaan, yg ditulis oleh Lukas, yg saya singkatkan menjadi “3 K”. Pertama, Kekayaan atau kebutuhan fisik (“batu menjadi roti”-ayat 3). Cobaan ini sangat tepat, krn Yesus sedang lapar hebat. Kedua, Kekuasaan (“segala kuasa serta kemuliaan akan kuberikan kepadamu”-ayat 6). Ketiga, Ketenaran atau popularitas (“jatuhkan dirimu ..malaikat akan melindungimu” – ayat 9.10). Jawaban Yesus menghadapi cobaan-cobaan ini sangat jitu. Terhadap cobaan pertama, Yesus menjawab : “manusia bukan hidup dari roti saja” (ayat 4). Seperti teori Maslow, manusia tdk hanya punya kebutuhan “fisik” (sandang, pangan, papan, dlsb). Tapi juga kebutuhan akan “rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi diri”. Terhadap cobaan kedua, Yesus menjawab : “Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu” (ayat 8). Kekuasaan bisa berubah menjadi tirani jika mengandalkan kekuatan manusia, bukan kekuasaan Allah. Kekuasaan atau lebih tepat “jabatan” adalah “amanah”, yg hrs dijalankan sebesar-besarnya utk kepentingan orang banyak (“ad bonum commune”). Terhadap cobaan ketiga, Yesus menjawab : “Jangan mencobai Tuhan Allahmu” (ayat 12). Mengapa ? Krn cobaan ketiga pada dasarnya menawarkan “jalan pintas”. Jika sudah “tenar”, maka tujuan apa saja dpt diraih dgn mudah. Yesus disarankan utk mencari jalan pintas guna menyelamatkan dunia. Jelas, ini bertentangan dgn rencana Allah, yg ingin menyelamatkan dunia lewat “sengsara, wafat dan bangkit”. Lalu apa yg dapat kita pelajari dari bacaan hari ini ? Pertama, cobaan adalah bagian tdk terpisahkan dari hidup manusia. Tak ada satu manusiapun yg tidak pernah mengalami cobaan. Yesus juga demikian. Cuma kualitas dan kuantitasnya saja yg berbeda. Kedua, karena cobaan sesuatu yg lumrah, maka bukan cobaan itu yg penting, melainkan sikap kita menghadapi cobaan. Menghadapi cobaan, ada yg bersikap negatif, seperti : stress, panik, kecewa, marah bahkan putus asa. Sebaliknya, ada yg bersikap positif, seperti : tenang, coba introspeksi, mencari jalan keluar, minta pandangan orang lain, dlsb. Bersikap “positif” jauh lebih produktif daripada bersikap “negatif”. Ketiga, dalam menghadapi cobaan kadang-kadang kita bisa jatuh. Namun sikap Lincoln mengajar kita bahwa bukan “kegagalan” itu yg penting, tapi “bangkit kembali” setelah kegagalan. Justru orang yg mampu bangkit kembali setelah kegagalan, akan menjadi pribadi perkasa dan manusia unggul. Keempat, sebagai orang beriman, satu-satunya cara agar tahan menghadapi cobaan adalah dengan berpegang pada Firman Allah. Yesus mampu mengatasi cobaan dgn mengandalkan Firman Allah. Tak ada KEKUATAN yg paling hebat yg memampukan kita menghadapi cobaan apapun kecuali FIRMAN ALLAH. Di tengah materialisme, konsumerisme dan hedonisme saat ini hanya FIRMAN ALLAH, yg dapat menjaga kita tetap di jalan yg benar. Maka dengan berpegang pada Firman Allah, kita akan tetap berdiri teguh menghadapi cobaan apapun. Dan kalaupun kita akhirnya jatuh, maka Firman Allah pula yg akan menguatkan kita utk bangkit kembali. Maka tepatlah kata-kata Rasul Paulus dalam bacaan II hari ini : “Firman itu dekat padamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu” (Rom 10:8). Firmanlah yg menguatkan kita menghadapi cobaan. Semoga !!




