BERUBAH OLEH APA YG DIKEHTAHUI
Wawancara antara seseorg yg baru saja menjadi Pengikut Kristus dgn temannya yg tdk beriman. “Jadi, kau sdh bertobat menjadi Pengikut Kristus?” Ya ! “Kalau begitu tentu kau tahu banyak ttg Dia. Misalnya, di negara mana Ia dilahirkan ?” Aku tdk tahu. “Berapa usianya waktu Ia meninggal?” Aku tdk tahu. “Lho, bagi org yg menyatakan telah bertobat menjadi pengikut Kristus, kau mengetahui sedikit sekali” Kau benar. Aku malu krn begitu sedikit pengetahuanku ttg Dia. Tapi, sekurang-kurangnya aku tahu hal ini : 3 thn lalu, aku seorg pemabuk. Hutangku banyak. Keluargaku berantakan. Anak-istriku slalu takut setiap kali aku pulang. Tapi skarang, aku sdh tdk mabuk lagi. Hutangku sdh lunas. Keluarga kami bahagia. Anak-anak senang menantiku pulang ke rumah setiap sore. Ini semua karya Kristus bagiku. Sebanyak inilah yg saya ketahui ttg Kristus. (Dikutip dari : “Burung Berkicau” oleh A. de Mello SJ).
Injil hari ini (Lk 9:18-24) berceritera ttg “Yesus adalah Mesias” serta konsekuensi menjadi Pengikut Mesias. Ceritera ini diawali dgn dialog antara Yesus dgn murid-muridNya. Dialog ini penting utk memastikan pemahaman para murid ttg Dirinya sebelum Dia menjalani karya penyelamatan melalui “penderitaan, wafat dan kebangkitan” (ayat 22). Mula-mula Yesus bertanya ttg “pendapat banyak orang ttg DiriNya”. Lalu disusul dgn pertanyaan : “Menurut kamu, siapakah Aku ini ?” Mengenal Yesus tdk cukup dgn mengutip pendpt org banyak atau org lain. Yg lbh penting : bagaimana pendapat kita sendiri ttg Dia. Kita boleh membaca banyak buku ttg Yesus dan menguasai Ilmu ttg Kristus (Kristologi). Namun “perjumpaan dan pengenalan kita secara pribadi” dgn Yesus adalah yg paling penting. Yesus tdk pernah bertanya : apa yg org lain tulis atau bicara ttg Saya; tetapi “menurut engkau, siapakah Aku ini ?” Seperti pernyataan Rasul Paulus : “Aku tahu SIAPA yg aku percaya” (II Tim 1:12) , bukan “Aku tahu APA yg aku percaya”. Kekristenan bkn berarti lancar “menghafal Kredo atau rumusan iman”, melainkan “mengenal seorang PRIBADI, yaitu Kristus”. Pertanyaan Yesus kpd para murid dijawab oleh Petrus, dgn mengatakan : “Engkau adalah Mesias dari Allah” (ayat 20). “Mesias” atau “Kristus” dlm bah. Yunani berarti “Yang diurapi”. Mesias identik dgn seorg Pembebas, seorg Penebus, seorg Raja, yg akan membebaskan Israel dari penjajahan dan penindasan. Jawaban Petrus dinilai sangat tepat. Lalu Yesus melarang para murid utk menggembar-gemborkannya. Mengapa ? Karena waktunya belum tiba bagi Yesus utk memenuhi misinya sbg Mesias. Lalu Yesus menggambarkan “Mesias” dgn mengatakan : “Mesias akan menderita sengsara, wafat namun bangkit kembali”. (ayat 22) serta konsekuensi seseorg yg ingin mengikuti Mesias yaitu “menyangkal diri, memikul salib setiap hari, dan mengikuti Mesias” (ayat 23). Mengenal Yesus sbg Kristus atau Mesias menuntut kita utk : 1) “menyangkal diri” – artinya menjadi manusia yg “berbeda” dgn sebelumnya atau dlm istilah Rasul Paulus : “manusia baru” (Ef 4:17-32) (Bdk dgn pengalaman Bpk di dlm ceritera di atas). 2) “memikul salib”. Salib adalah simbol “tantangan, penolakan, penghinaan, penganiayaan, penderitaan bahkan kematian” demi Kristus. Tapi salib adalah juga tanda kemenangan, tanda keslamatan. “Per crucem ad salutem” – lewat salib menuju keslamatan. 3) “mengikuti Mesias” artinya mengikuti “jalan Kristus” yaitu jalan “penderitaan, wafat namun bangkit kembali”. Krn tdk ada “kebangkitan” tanpa “sengsara dan wafat”, demikian juga dlm hidup ini : tdk ada “kemenangan tanpa kekalahan” dan tdk ada “kesuksesan tanpa kegagalan”. Kristus mengajar kita utk tdk takut menghadapi : kegagalan, kekalahan, penolakan bahkan penghinaan. Krn melalui jalan itu, kita menang. Kristus tdk mengajar kita utk mengambil “jalan pintas/instant” krn akan menghasilkan kemenangan atau kesuksesan semu. Maka mengenal Yesus sbg ‘MESIAS atau KRISTUS” bknlah masalah “pengetahuan filosofis”, melainkan “RELASI dan SIKAP”. Mengenal Kristus berarti “saya diubah” oleh pengenalan saya ttg Kristus. Mengenal Kristus berarti menjadi “manusia baru” dan “siap menghadapi tantangan”. Mengenal Kristus berarti mengikuti “jalanNya”. Jadi, bkn PENGETAHUAN yg penting, melainkan apakah pengetahuan itu MENGUBAH hidup kita. Atau refleksi lain : bukan “GELAR” yg penting, melainkan apakah kita “HIDUP” sesuai gelar itu. Semoga !!





Tgl. 6 Maret 2012 Raka Widyarma ditangkap polisi di rumahnya Jl. Perkici Raya No. 42 Bintaro Jaya krn mengkonsumi ekstasi. Orangtua Raka, Bpk Rano Karno, sangat terpukul dgn peristiwa ini. “Saya sulit percaya ini” katanya. “Raka terkenal pendiam, tak pernah macam-macam dan tdk suka berantem”. Ketika memberikan konperensi pers di kediamannya, Perumahan Bumi Karang Indah Cinere hari Sabtu, 10 Maret 2012, Rano Karno berharap Raka yg melepas dirinya jika dia meninggal dunia. ”Saya selalu bilang, Raka jangan mati dulu sebelum saya. Saya ingin kamu azani saya saat saya mati”, ungkap Rano Karno sambil meneteskan air mata. Dia siap menjadi saksi utk Raka kalau diminta oleh pengadilan, bahkan rela melepaskan jabatannya. Sungguh suatu ekspresi kasih yg luar biasa dari seorang ayah. Karena kasih yg begitu besar, Bpk Rano Karno mampu memaafkan kesalahan Raka, putranya. “Saya ayahnya dan saya tidak marah maupun kecewa”.
Apa sih bedanya "tolong" dengan "bantu"? Kalau kita beli beras sekarung di supermarket, kemudian pelayannya datang mengangkat dan memindahkan beras dari rak ke troli kita, pelayan itu menolong kita atau membantu kita ya? :)
Ada yg tdk lazim saat Sri Paus Fransiskus memimpin Misa Agung Paskah tgl 31 Mrt 2013 di halaman Basilika Santu Petrus - Roma. Setelah injil, Sri Paus tdk memberikan kotbah, melainkan mengajak umat utk hening dan merenung. Saya bertanya dlm hati : kok bisa ya ? Tdk ada kotbah pada sebuah Misa Agung. Kita rindu mendengar pesan rohani Sri Paus di hari yg menjadi pondasi pokok iman kita : Kristus bangkit ! Setelah Misa Agung selesai, Sri Paus turun dari altar dan menyalami satu per satu pembantunya : para Kardinal. Lalu dgn jeep terbuka, Sri Paus berkeliling menyalami ribuan umat yg menyambutnya dgn penuh antusias. Beberapa kali dia menghentikan mobil, krn ingin memeluk, bahkan mencium org-org cacat dan anak-anak. Sikapnya yg begitu tulus dan penuh empati mengundang decak kagum. Saya berani mengatakan : inilah kotbah yg paling dalam dan efektif. Sri Paus tidak hanya “mengajar”, tapi juga memberi contoh. “Verba movent, exempla trahunt”. Kata-kata menggerakkan, tapi contoh itu menarik. Atau pernyataan St. Yakobus : “Jika iman tdk disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya mati” (Yak 2:17).
Dalam Kebiasaan ke-4 “Berpikir Menang Menang” dari “7 KEBIASAAN MANUSIA YG SANGAT EFEKTIF”, Stephen R. Covey mengemukakan gagasan tentang “Mental Kelimpahan” (Abundance Mentality) vs “Mental Kelangkaan” (Scarcity Mentality). Org yg memiliki “mental kelangkaan” berpikir bhw kita tidak mempunyai cukup sumber utk dinikmati oleh semua orang. “Roti yg saya miliki” tidak cukup untuk dibagikan kpd org lain. Mereka sulit membagi “pengakuan dan penghargaan, wewenang dan keuntungan”. Mereka memiliki “paragdima zero-sum” bhw apa yg saya bagikan akan mengurangi apa yg saya miliki. Sebaliknya, “Mental Kelimpahan” mengalir dari nilai diri dan rasa aman pribadi yg mendalam. Mereka berpikir bhw di luar sana tersedia cukup sumber yg dpt dibagi utk semua org. Mereka tdk pelit utk memberi pujian, pengakuan dan penghargaan. Mental ini lahir dari karakter yg kaya oleh integritas, kematangan dan kejujuran. Mental ini dapat menumbuhkan hubungan yg didasari oleh sikap “menang menang”. Atau menurut istilah Thomas A. Harris dalam “Analisa Transaksional” : Saya Oke, Kamu Oke !