Akan mengadakan pertemuan pada hari Senin,12 Januari, pukul 10.00 di aula Santa Dorotea, tema Tahun 2015 adalah tahun syukur : Tiada Syukur tanpa konkritisasinya dalam kehidupan ? yang akan dibawakan oleh : pastor Lukas Sulaeman, OSC. Mohon kehadirannya Legioner dan umat . Pengumuman ini sebagai UNDANGAN.
Akan diadakan Pada hari Sabtu, 24 Januari 2015 di aula Santo Benediktus. Acara : Misa Natal dan Tahun Baru 2015. Diharapkan para lansia untuk hadir. Pengumuman ini sebagai UNDANGAN
Untuk baptisan Natal 2015. jadwal sebagai berikut :
| TGL | JAM | AULA | KETERANGAN |
| 29 Januari | 19.00 | St. Christoforus | Kelompok Paroki |
| 01 Februari | 10.30 | St. Christoforus & St. Elisabeth | Kelompok Paroki |
| Ibu. Maria Agnes Marwoto dengan perjanjian | Kelompok Paroki | ||
| 07 Februari | 16.00 | Gereja Santo Ambrosius | Villa Melati Mas |
Akan diadakan pada hari Minggu, 18 Januari, pukul 10.30 di aula Santa Anna. Pengumuman ini sebagai UNDANGAN
Saat itu, tahun 1999, Timor Timur tengah bergolak. Tak terbilang milisi yang dijebloskan ke dalam penjara karena tersandung kasus pembunuhan. “Pada awalnya mereka terkesan ganas dan brutal. Mereka menyimpan dendam karena anggota keluarganya dibunuh,” ungkap Suster Ignatio saat dijumpai di Biara Ursulin Jl. Alamanda BSD City, Selasa petang, 18 November 2014. Perlahan-lahan aktivis Forum Perempuan ini mengajari mereka melakukan Doa Hening. “Dengan diam sambil mengucapkan mantra Yesus,” bebernya. Menurut mantan pengajar di SMA Surya Atambua ini, sikap para tahanan itu perlahan-lahan mencair. Dalam konsultasi terungkap bahwa akhirnya mereka sanggup menerima realita, sekalipun teramat getir. Amarah pudar, dendam pun sirna....
Bahkan, seiring waktu, ada tahanan yang mengatakan kepada Suster Ignatio bahwa Doa Hening menjadi ‘napasnya’. Tak hanya kepada para tahanan, Suster Ignatio pun memperkenalkan Doa Hening kepada para pengungsi di kampkamp pengungsian. “Saya menyaksikan sendiri bagaimana pengungsi-pengungsi yang semula stres bisa tenang kembali,” katanya. Pengalaman mendampingi para tahanan dan para pengungsi ini menorehkan jejak di hati Suster Ignatio. Sejak itu, ia giat memperkenalkan Doa Hening kepada banyak orang, yang terbukti bisa membuahkan ketenteraman hati.

Suster Ignatio Resohardjo OSU
Kaul Kekal
Jalan panggilan yang berliku telah dilintasi oleh Suster Ignatio. Sewaktu duduk di bangku SMP, benih-benih panggilan mulai tertabur di pelataran hatinya. Seorang biarawati yang kerap melintas di muka sekolahnya begitu mempesonanya. “Meski sudah lanjut usia, suster itu selalu tampak gembira,” kenang biarawati asal Klaten ini. Namun, sang ayah tak serta-merta mendukung cita-citanya. Ignatio yakin jika memang Tuhan memanggilnya tentu Ia akan membentangkan jalan di hadapannya. Ignatio menyimpan cita-citanya di dalam hati. Sementara itu, iamelanjutkan studi di Sekolah Guru Atas (SGA). “Ursulin berkarya di bidang pendidikan karena itu saya mempersiapkan diri.”
Selepas studi SGA di Madiun, Ignatio menjadi guru di SD St. Vincentius Putri Bidaracina, Jakarta Timur. “Sebelum masuk biara, saya ingin sedikitsedikit membalas kebaikan orangtua terlebih dahulu dengan bekerja,” ujarnya terus terang. Setelah tiga tahun menjadi guru, Ignatio berbulat tekad untuk menjadi biarawati Ursulin. Pada saat itu sang ayah bisa menerima kenyataan. “Kamu sudah dewasa, sudah bisa menentukan jalan hidupmu sendiri,” sitir Suster Ignatio dengan paras cerah.
Tahun 1966, Ignatio masuk Biara Ursulin. Ia pun meniti masa postulan, novis, dan yuniorat dengan batin lapang. Tak sekalipun terbersit keinginan di benaknya untuk beralih cita-cita. Ia pun siap diutus untuk berkarya di berbagai daerah; tak hanya di Atambua tetapi di Nobal Kalimantan Barat, di Cisantana Jawa Barat, dan juga di Jakarta. “Di mana pun saya ditugaskan, saya merasa nyaman. Setiap daerah punya kekhasan tersendiri,” tandasnya. Ia mengakui, berkarya selama tujuh tahun di Atambua menjadi pengalaman yang tak terlupakan, terlebih sewaktu terjadi pergolakan menjelang kemerdekaan Timor Leste. Ketika suhu politik memanas, Provinsial OSU memerintahkan para suster di Atambua untuk mengungsi ke Kupang. Namun, Suster Ignatio memilih bertahan sendirian di biara.
“Setelah berkonsultasi dengan Uskup Atambua waktu itu, Mgr. Pain Ratu, saya memutuskan tetap tinggal di Atambua,” kenangnya. Pada waktu itu Pastor A. Dewanto SJ dan Pastor Karim Albrech SJ, dan beberapa biarawati tewas ditembak milisi. Sejak belia, suster yang saat ini berusia 71 tahun ini sudah menyukai Doa Hening. Doa Hening pula yang membuatnya tetap tenang berkarya dalam stiuasi genting. “Sejak di Yuniorat, saya mengenal Doa Hening,” lanjutnya. Namun, secara intensif ia baru melakukan Doa Hening setelah kaul kekal pada tahun 1975.
Secara Rutin
Tahun 2010, Suster Ignatio mulai berkarya di Paroki St. Monika BSD. Ia diminta untuk membimbing sekelompok umat yang secara rutin mengikuti pendalaman Kitab Suci di Biara Ursulin Jl. Alamanda. “Saya melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Suster Sian. Tetapi, saya memakai cara saya sendiri,” ungkapnya. Sebelumnya, ada sekelompok ibu-ibu yang meminta kepada Suster Sian untuk dibimbing dalam pendalaman Kitab Suci. “Sementara menunggu anak-anaknya bersekolah di Santa Ursula, mereka mendalami Kitab Suci,” kata Suster Ignatio. Lantas, ia pun berbagi Doa Hening kepada sekelompok umat tersebut. Seiring bergulirnya waktu, jumlah umat yang tertarik berhimpun dalam kelompok ini membengkak. Kapel susteran tak lagi memadai sehingga pertemuan berlangsung di aula Dorothea Paroki St. Monika. Supaya punya wadah resmi, kelompok binaannya ini berhimpun ke dalam Kelompok Meditasi Kristiani pada tahun 2010. “Pendiri Meditasi Kristiani adalah Pastor John Main OSB. Pusat organisasinya di London. Sedangkan pusat di Indonesia, di RS Atma Jaya Pluit,” bebernya.
Berbagai Mantra
Suster Ignatio terbiasa untuk hening setelah membaca Kitab Suci. Hal itu diterapkannya kepada umat binaannya. Selama hening, mereka memakai doa singkat yang didaraskan berulangulang atau disebut mantra. Ada berbagai mantra yang bisa dipilih peserta, di antaranya “Yesus kasihanilah aku”, “Maranatha” (Datanglah ya Yesus), atau “Bapa ya Bapa”.... “Silakan memilih salah satu mantra dalam Doa Hening,” katanya. Pada tahap awal, peserta diberi kesempatan melakukan Doa Hening selama sepuluh menit. Selang beberapa waktu, Doa Hening ditingkatkan menjadi 20 menit. Saat ini, sebagian peserta Meditasi Kristiani di Paroki St. Monika sudah melakukan Doa Hening selama setengah jam. “Susunannya adalah doa pembukaan, baca Kitab Suci, lalu masuk dalam keheningan, baru kemudian sharing,” urai Suster Ignatio.
Saat ini, sudah ada lima kelompok Meditasi Kristiani di Paroki St. Monika BSD. Pesertanya tak hanya orang dewasa tetapi juga lansia. “Sekitar 30-an anggota Kelompok Lansia Paroki St. Monika ikut,” tutur Suster Ignatio. Meditasi Kristiani Paroki St. Monika berlangsung setiap Selasa pukul 06.30 untuk kelompok lansia, Jumat pukul 07.30 dan 19.30, Sabtu pukul 07.30, dan Minggu pukul 15.45. Meditasi Kristiani ini beranak-pinak dengan munculnya kelompok remaja dan anak-anak. Para pelajar SMP dan SMA berhimpun setiap Jumat pukul 13.00. “Selama dua bulan ini, ada sekitar 20 remaja ikut,” imbuh Suster Ignatio. Sementara untuk siswa-siswa SD kelas 4 ke atas, baru dimulai secara intensif pada Januari 2015; setiap Rabu pukul 17.00.
Biarawati yang masih tampak segar di usia senja ini mengemukakan bahwa pada 9 November 2014, ada sekitar 50 siswa SD yang mendapat pengarahan di aula Dorothea Paroki St. Monika BSD, untuk mengikuti Meditasi Kristiani. Mulanya, dalam retret Meditasi Kristiani pada Juni 2014 tercetus gagasan untuk mengajak anak-anak bermeditasi. “Kami ‘kan diutus untuk mewartakan Cahaya yang bersinar di kedalaman hati. Perwujudannya dengan mengajak anakanak untuk bergabung,” papar biarawati ini seraya mengait senyum. Ia mengemukakan, dengan mengajak anak bermeditasi sebenarnya menyiapkan masa depan Gereja, karena sejak dini anak sudah diajak untuk berdoa dengan baik. Menurut Suster Ignatio, berkembangnya kelompok ini sama sekali tidak membebaninya. Karena setiap kelompok punya ketua, yakni peserta meditasi yang sudah lama bergabung. “Kami bagibagi tugas. Saya hanya menengok saja.”
Sesuai Kondisi
Pembimbing Rohani Legio Maria Presidium Bunda Pengantara Segala Rahmat BSD dan Presidum Pembaru Dunia Vila Melati Mas ini memperkenalkan Doa Hening sesuai dengan kondisi umat masing-masing. “Secara rohani, pada umumnya warga Paroki St. Monika mampu. Bahkan sebagian sudah mengikuti Emmaus Journey,” tukasnya. Ia selalu mengambil materi Kitab Suci yang sesuai dengan liturgi Gereja, yakni bacaan Injil untuk Misa yang akan datang. Ia juga menimba sumber dari Kompendium Katekismus Gereja Katolik dan juga buku “Jalan Menuju Kehidupan” karya Pastor Gerry Pierse CSsR.
Pada waktu Doa Hening tidak ada alat bantu. Hanya ada musik sebagai tanda bahwa Doa Hening dimulai dan diakhiri. Tetapi, tidak ada musik di sepanjang hening. Hanya ada lilin. Meditasi ini dilakukan dengan memejamkan mata. “Posenya boleh bersila, boleh duduk. Yang penting, duduk nyaman dengan punggung tegak. Tutup mata, lalu mengucapkan mantra,” paparnya. Setiap kali pertemuan Meditasi Kristiani berlangsung, Suster Ignatio berupaya hadir guna mengarahkan sharing Kitab Suci. Kendati usianya kian senja, semangatnya dalam melayani umat tetaplah berpijar, sebagaimana ungkapnya, “Kristus yang memanggil saya yang membuat saya tetap bersemangat....” (Oleh Maria Etty)




