Advent dari tahun ke tahun selalu dan pasti bertemakan TOBAT. Seperti apakah tobat yang seharusnya? Sebelum memasuki kamar pengakuan, biasanya kita: Mengingat (dosa), menyesal, dan minta ampun. Dan kemudian membuat dosa-dosa yang sama lagi keesokan harinya. Kiranya bukan seperti itulah tobat yang diinginkan Tuhan. Karena tobat seperti itu bukan membawa kedamaian, tetapi kekuatiran dan ketakutan. Dari Injil hari ini, Yohanes Pembaptis berseru: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”, kata-kata ini sangat terkenal, dan banyak orang menyuarakannya seolah-olah inilah kunci kerajaan surga. Sayangnya bukan hanya disinilah letak inti pertobatan yang diberitakan Yohanes, melainkan pada kelengkapan kalimat berikutnya: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”.
Mempersiapkan jalan bagi Tuhan berarti meninggalkan semua hal-hal yang mengikat pikiran, emosi, keinginan, ketakutan dan kekuatiran kita, dan mengarahkan diri kepada Tuhan. Karena memang tidaklah mungkin seseorang dapat merasakan damai dan pergi mengikuti Tuhan apabila hatinya masih tertambat pada sesuatu yang lain.
Jadi jelaslah bahwa pertobatan adven yang diinginkan Tuhan adalah: “Bangkitlah, dan berdiri tegak” (bacaan I), membuka hati dan jalan bagi Tuhan, dan pergi mengikuti Dia (Injil), dalam doa dan ketekunan (bacaan II).
Apakah hal ini mudah dilakukan? Tentu saja tidak mudah, karena biasanya kita merasa masih punya banyak kekuatiran dan tanggung jawab yang menurut kita skala prioritasnya masih lebih besar daripada sekedar bertobat. Untuk itu, marilah kita membayangkan apa yang kiranya dirasakan oleh para tokoh dalam bacaan hari ini.
Pada bacaan pertama nabi Barukh hidup di dalam masa dimana ia dan bangsanya dijajah dan dipaksa menjadi budak di Babel, tetapi ia menulis: “Hendaklah—menanggalkan pakaian kesedihan dan kesengsaraanmu— Bangkitlah—berdiri tegak di ketinggian!”. Dan pemazmur berkata: “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Kemudian Paulus, justru saat berada dalam penjara dan terancam hukuman mati ia menulis: “Aku mengucap syukur kepada Allahku—Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Dan terakhir santo Lukas memulai kisahnya dengan: “Dalam masa: “Kaisar Tiberius—Pontius Pilatus—Herodes—Filipus raja Iturea & Trakhonitis—Lisanias raja Abilene—Hanas dan Kayafas imam besar” yaitu masa berkuasanya ketujuh nama, yang mendengarnya saja dapat membawa kengerian bagi orang Israel, tetapi justru pada saat yang berat itu; “Bangkitlah Yohanes Pembaptis untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan”.
Ternyata, tidak ada satupun dari tokoh kita kali ini yang hidup dalam kenyamanan dan kesejahteraan! Bahkan sebaliknya mereka hidup dalam ketakutan dan tekanan yang amat besar, apabila dibandingkan dengan yang kita alami saat ini, tetapi mereka tetap dengan berani memaknai Adven yang sesungguhnya.
Apakah kita masih mempunyai keinginan yang belum tercapai, kewajiban yang belum selesai, ataupun kekuatiran yang tak kunjung habis? Para tokoh dalam bacaan hari ini dengan jelas berkata, “Semua itu bukanlah alasan untuk tidak memaknai Adven”. Apakah yang saat ini masih menghalangi kita untuk menyiapkan Adven dengan sungguh-sungguh?




