Selamat Tahun Baru Liturgi! Hari ini adalah hari pertama dari tahun liturgi C/I, yang sekaligus Advent hari I. Advent berarti “mendahului”, yaitu suatu masa untuk menunggu dan mempersiapkan Natal.
Menunggu lagi? Aduh..., menunggu adalah kata yang membosankan dan menyebalkan, karena siapakah yang betah duduk diam menunggu?
Akan tetapi, menunggu dalam masa adven mempunyai nilai yang istimewa, baiklah kita melihat dua macam “menunggu” yang ditampilkan bacaan hari ini. Bacaan I mengatakan: “Sesungguhnya, waktunya akan datang,—bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan”. Kemudian Injil berkata: “Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang—Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi”.
Saat menunggu, ada dua macam perasaan yang bisa dialami manusia. Yaitu menunggu dengan penuh harapan dan kegembiraan, atau menunggu dalam kekuatiran dan ketakutan. Dan justru perkataan Yesus pada Injil hari ini, dimana umumnya orang lebih memusatkan perhatian kepada nubuat kehancuran dunia yang dikatakan Yesus, seringkali kita melewatkan apa yang sesungguhnya ingin disampaikan Yesus dalam kalimat berikutnya yaitu: “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”
Dan persis seperti itulah yang diinginkan Kristus dari kita. Yaitu bukan menjadi pengikut-Nya yang tenggelam dalam kekuatiran akan urusan duniawi seperti: keuangan, masa depan, penyakit, perang ataupun kiamat—atau sebaliknya menjadi orang yang berkata “Tidak kuatir”, akan tetapi hanya duduk diam, pasrah dan pasif saja, karena itu bukanlah tidak kuatir, melainkan tidak peduli dan egois. Bukankah makin banyak saat ini orang yang statusnya murid Kristus, akan tetapi hidupnya seperti orang lumpuh, karena terjebak kekuatiran atau ke tidak pedulian. Karena yang diinginkan Kristus dari murid-murid-Nya adalah “Bangkit” dan “Mengangkat muka”, yaitu sikap yang mencerminkan harapan, keteguhan dan keyakinan akan hidup di dalam Tuhan.
Menurut catatan sejarah, Nabi Yeremia saat menubuatkan: “Allah akan menepati janji” (bacaan I), negaranya (Yehuda, 610 SM) sedang berada dalam ancaman penyerbuan, Syria dari sebelah Timur, dan Mesir dari sebelah Barat, sehingga negara Yehuda seperti pelanduk diantara dua gajah yang akan berkelahi, situasinya sangat menakutkan dan tidak menentu nasibnya. Belajar dari nabi Yeremia yang berani ini, marilah kita juga memasuki masa adven kali ini dengan berani “Bangkit” dan “Mengangkat muka”, meninggalkan segala kekuatiran, kemalasan dan ketidak pedulian, untuk menyongsong waktu yang dijanjikan Tuhan. Khususnya pada masa adven kali ini, dengan temanya: “Kembali ke Nazareth (bersama Keluarga)”, kita diberi kesempatan untuk membangkitkan kembali kasih dan semangat dalam keluarga kita, melalui pertemuan-pertemuan adven yang telah dipersiapkan di masing-masing lingkungan




