Minggu Adven ketiga ini disebut minggu Adven Gaudete, yang ditandai dengan dinyalakannya lilin berwarna pink (lambang sukacita) pada lingkaran Adven. Kata Gaudete diambil dari bacaan kedua hari ini yang pada Kitab Suci berbahasa latin (Vulgata) berbunyi: “gaudete in Domino semper iterum dico gaudete” (Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!).
Wah, bukankah aneh rasanya bila kita diminta bersukacita, justru ditengah-tengah masa pertobatan Adven ini? Dan bukankah dalam masa pertobatan biasanya kita diminta untuk prihatin, bukannya malah bersukacita? Sehingga bersuka cita rasanya seperti melakukan hal yang bertolak belakang dengan masa pertobatan ini.
Pertama-tama, apakah arti bersukacita bagi kita?
Seringkali gagasan tentang bagaimana caranya bersukacita bagi manusia adalah melakukan berbagai hal biasa secara tidak biasa atau berlebihan, misalnya: makan berlebihan, minum berlebihan, ngobrol berlebihan, tertawa berlebihan, atau bermain berlebihan bahkan kalau perlu lupa waktu sampai pagi hari, dengan harapan bahwa entah bagaimana dalam semua kelebihan itu, akan ada sukacita. Tetapi, untuk semua upaya gila-gilaan itu, mungkin hanya akan ada kenikmatan dan bukan sukacita yang sejati. Waktu masih kecil, masih terngiang peringatan dari Ibu untuk tidak minum sirop karena hanya akan membuat kita tambah haus, dan konon bagi orang yang kehabisan air ditengah laut, mereka tidak boleh minum air laut betapapun hausnya, karena air laut dengan garamnya justru akan menarik keluar cairan dari dalam tubuh. Demikian pula segala kenikmatan itu, seperti sirop dan air laut yang tidak akan pernah puas kita minum, dan pada akhirnya kita justru makin merasa kehausan dan kekeringan akan sukacita sejati. Dan bukankah menjadi tepat sekali nasihat Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini: “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian. (dan seterusnya)”, sebagai jalan untuk mencapai sukacita. Karena hanya pada diri orang yang berbagilah terdapat rasa syukur dan sukacita karena ia masih mempunyai kelebihan, daripada orang yang selalu ingin kelebihan yang berarti ia selalu haus dan kekeringan, betapapun sudah banyak hartanya.
Kedua, marilah melihat sukacita dalam pandangan Tuhan. Tuhan Yesus berkata: “Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Luk 15:7). Bahkan dalam bacaan pertama hari ini dikatakan: “TUHAN Allahmu ada di antaramu—Ia bergirang karena engkau dengan sukacita—Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai”. Nabi Zefanya secara luar biasa menggambarkan TUHAN Allah akan bersukacita dan bersorak sorai, dan terutamadisebabkan karena ada manusia yang bertobat, sudahkah kita termasuk didalam hitungan umat-Nya yang bertobat dan bersukacita dalam syukur kali ini?




