Kalau sekarang Yesus datang dan lalu meminta, “Pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Mrk 10: 21), apa yang akan kita katakan? Mungkin karena tahu pernyataan Yesus, “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mrk 10: 23) kita tidak berani menolaknya, seperti pemuda saleh dan kaya itu. Seperti kebanyakan orang Indonesia yang tidak bisa bilang “Tidak” sehingga menjawab, “iya”. Tetapi, soal melakukannya menjadi soal lain. Sebagian barang atau harta akan dijual, tetapi tidak semua atau tidak dilakukan sama sekali.
Perintah Yesus untuk “menjual apa yang kau miliki menimbulkan pertanyaan: Apakah uang atau kekayaan “yang harus dijual” itu bertentangan dengan Kerajaan Allah? Apakah surga mendiskriminasikan orang yang beruang atau orang kaya? Bagaimana memperlakukan uang atau kekayaan yang memang riil ada pada semua orang agar tetap sesuai dengan perintah Yesus untuk mengikuti jalan-Nya?
Hal penting tentang kekayaan bukan “berapa” –nya. Ingat orang yang betul-betul kaya sering tidak tahu berapa jumlah hartanya. Jadi, bukan berapa tetapi “apa”-nya, yaitu milik atau pamrih yang sering dipandang sebagai andalan dan modal satu-satunya bagi manusia untuk hidup berbahagia dan selamat yang sering dirumuskan dengan istilah “Kerajaan Allah”. Kerajaan Allah itu hanya dicapai dengan mengikuti Yesus atau menomor-satukan Yesus dengan jalan cinta kasih kepada sesama sebagai wujud cinta kepada Tuhan yang telah lebih dulu mencintai manusia dengan memberi hidup di dunia ini. Menjual semua milik berarti menempatkannya sebagai sarana untuk mencintai sesamanya . Dengan demikian, menjual bukan hanya sekedar niat baik, tetapi praksis hidup konkrit sehari-hari dengan memberi penghidupan kepada keluarga, membantu sesama yang memerlukan dan berkekurangan. Kekayaan bukan hanya berarti sama dengan uang dan harta benda yang terkait dengan egoisme atau kepentingan atau pamrih pribadi, tetapi juga kebaikan, kemurahan hati, belas kasih, kerelaan, pertolongan dan pelayanan . Di jalan Yesus orang tidak hanya “menjual harta” yang akan layu dimakan waktu, tetapi harus membangun harta lain berupa nilai-nilai kebaikan dan cinta kasih sebagai jalan menuju ke surgaatau hidup dekat dengan Tuhan, Sang sumber kedamaian dan kebahagiaan sejati. Surga bagi Yesus adalah milik semua orang yang hanya dicapai dengan mengikuti-Nya dalam jalan cinta kasih.




