ADVEN II
Advent dari tahun ke tahun selalu dan pasti bertemakan TOBAT. Seperti apakah tobat yang seharusnya? Sebelum memasuki kamar pengakuan, biasanya kita: Mengingat (dosa), menyesal, dan minta ampun. Dan kemudian membuat dosa-dosa yang sama lagi keesokan harinya. Kiranya bukan seperti itulah tobat yang diinginkan Tuhan. Karena tobat seperti itu bukan membawa kedamaian, tetapi kekuatiran dan ketakutan. Dari Injil hari ini, Yohanes Pembaptis berseru: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”, kata-kata ini sangat terkenal, dan banyak orang menyuarakannya seolah-olah inilah kunci kerajaan surga. Sayangnya bukan hanya disinilah letak inti pertobatan yang diberitakan Yohanes, melainkan pada kelengkapan kalimat berikutnya: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”.
Mempersiapkan jalan bagi Tuhan berarti meninggalkan semua hal-hal yang mengikat pikiran, emosi, keinginan, ketakutan dan kekuatiran kita, dan mengarahkan diri kepada Tuhan. Karena memang tidaklah mungkin seseorang dapat merasakan damai dan pergi mengikuti Tuhan apabila hatinya masih tertambat pada sesuatu yang lain.
Jadi jelaslah bahwa pertobatan adven yang diinginkan Tuhan adalah: “Bangkitlah, dan berdiri tegak” (bacaan I), membuka hati dan jalan bagi Tuhan, dan pergi mengikuti Dia (Injil), dalam doa dan ketekunan (bacaan II).
Apakah hal ini mudah dilakukan? Tentu saja tidak mudah, karena biasanya kita merasa masih punya banyak kekuatiran dan tanggung jawab yang menurut kita skala prioritasnya masih lebih besar daripada sekedar bertobat. Untuk itu, marilah kita membayangkan apa yang kiranya dirasakan oleh para tokoh dalam bacaan hari ini.
Pada bacaan pertama nabi Barukh hidup di dalam masa dimana ia dan bangsanya dijajah dan dipaksa menjadi budak di Babel, tetapi ia menulis: “Hendaklah—menanggalkan pakaian kesedihan dan kesengsaraanmu— Bangkitlah—berdiri tegak di ketinggian!”. Dan pemazmur berkata: “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Kemudian Paulus, justru saat berada dalam penjara dan terancam hukuman mati ia menulis: “Aku mengucap syukur kepada Allahku—Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Dan terakhir santo Lukas memulai kisahnya dengan: “Dalam masa: “Kaisar Tiberius—Pontius Pilatus—Herodes—Filipus raja Iturea & Trakhonitis—Lisanias raja Abilene—Hanas dan Kayafas imam besar” yaitu masa berkuasanya ketujuh nama, yang mendengarnya saja dapat membawa kengerian bagi orang Israel, tetapi justru pada saat yang berat itu; “Bangkitlah Yohanes Pembaptis untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan”.
Ternyata, tidak ada satupun dari tokoh kita kali ini yang hidup dalam kenyamanan dan kesejahteraan! Bahkan sebaliknya mereka hidup dalam ketakutan dan tekanan yang amat besar, apabila dibandingkan dengan yang kita alami saat ini, tetapi mereka tetap dengan berani memaknai Adven yang sesungguhnya.
Apakah kita masih mempunyai keinginan yang belum tercapai, kewajiban yang belum selesai, ataupun kekuatiran yang tak kunjung habis? Para tokoh dalam bacaan hari ini dengan jelas berkata, “Semua itu bukanlah alasan untuk tidak memaknai Adven”. Apakah yang saat ini masih menghalangi kita untuk menyiapkan Adven dengan sungguh-sungguh?





Selamat Tahun Baru Liturgi! Hari ini adalah hari pertama dari tahun liturgi C/I, yang sekaligus Advent hari I. Advent berarti “mendahului”, yaitu suatu masa untuk menunggu dan mempersiapkan Natal.
Sama seperti Bartimeus yang buta, tidak melihat, kita pun juga acap kali tidak dapat melihat banyak hal dalam hidup ini, termasuk tidak melihat Yesus, “Kabar Gembira” bagi hidup kita. Betapa tidak? Yesus hanya kita lihat di dalam Injil dan gambar-gembar yang ada di gereja maupun buku-buku rohani. Apakah Yesus dapat kita lihat bila kita sakit, susah, putus harapan, gagal, mengalami kerugian, sedih dan susah? Dapatkah kita melihat hidup kita sampai hari ini sebagai sejarah keselamatan dari Tuhan atau karya penebusan Yesus? Dapatkah kita melihat bahwa apapun hasil akhirnya pada masa sekarang dengan rentetan peristiwa yang mendahuluinya dapat dilihat sebagai karya Tuhan untuk kita? Harus diakui banyak kali kita buta untuk melihat dan memahaminya.
Dalam tata pergaulan masyarakat dikenal istilah The Golden Rule yaitu prinsip atau aturan yang mulia yang seharusnya menjadi pegangan semua orang yang memiliki rasa perasaan sebagai manusia. Prinsip ini sederhana saja. Hal-hal yang tidak ingin dilakukan oleh orang lain terhadap dirimu (misalnya, menghina, melecehkan, menyakiti, melakukan kekerasan, penipuan) jangan kamu lakukan terhadap orang lain. Gampang bukan? Prinsip itu bisa dilanjutkan, kalau kamu tidak ingin disakiti, dihina, dipandang rendah maka janganlah kamu menyakiti, menghina, dan memandang rendah orang lain.
Apa beda kepemimpinan (leadership) dan manajemen (management)? Kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai “hal melakukan yang benar” atau berkaitan dengan substansi atau isi. Sedangkan manajemen adalah “hal melakukan dengan benar” yang terkait dengan sistem atau cara melakukan sesuatu agar sesuatu dapat diselesaikan dengan efektif dan efisien serta memberikan hasil yang optimal. Yesus merumuskan kepemimpinan dan manajemen sangat revolusioner pada waktu itu hingga sekarang ini! Memimpin bukan menguasai dengan tangan besi, tetapi melayani dengan menjadi hamba bagi semua. Sistem atau caranya juga juga revlusioner dengan melayani dan bahkan sampai memberikan hidupnya untuk orang yang dilayani. “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."(Mrk 10:45).