Stoples
Seorang Prof. filsafat diundang memberi ceramah pendek kepada para eksekutif tentang cara menghadapi stress. Tiba-tiba ia mengeluarkan stoples kosong dan mengisinya dengan bola-bola golf, lalu bertanya kepada audiens apakah stoples sudah penuh? Mereka menjawab: "Penuh!".
Lalu Prof tadi menuangkan batu koral ke dalam stoples, mengguncangnya dengan ringan dan batu-batu koral itu mengisi tempat yang kosong di antara bola-bola golf. Kemudian dia bertanya lagi: "Apakah stoples sudah penuh?" "Penuh!", jawab mereka.
Selanjutnya ia menabur pasir ke dalam stoples. Tentu saja pasir dapat menutupi semuanya. Profesor itu sekali lagi bertanya apakah stoples sudah penuh? Hadirin berseru, "Yes!". Tiba tiba Prof menuangkan dua cangkir kopi ke dalam stoples, dan secara efektif kopi itu mengisi ruangan kosong di antara pasir. Para eksekutif tertawa.
"Sekarang saya ingin kalian memahami bahwa stoples ini mewakili kehidupan kita". "Bola-bola golf adalah hal yang penting : Tuhan, keluarga, & kesehatan." Jika yang lain hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."
"Batu-batu koral adalah hal-hal lain, seperti pekerjaan, rumah, dan mobil. Pasir adalah hal-hal yang sepele. Jika yang pertama-tama dimasukkan ke dalam stoples adalah pasir, maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu-batu koral ataupun untuk bola-bola golf. Hal yang sama akan terjadi dalam hidup kita, jika kita menghabiskan energi untuk hal-hal yang sepele. Akibatnya kita tidak akan lagi punya ruang untuk hal-hal yang penting dalam hidup kita. Jadi, berilah perhatian untuk hal-hal yang penting untuk kebahagiaanmu, bermainlah dengan anak-anakmu, luangkan waktu untuk check-up kesehatan, ajak istrimu keluar makan malam. Pokoknya, berikanlah perhatian terlebih dahulu kepada "bola-bola golf", yaitu hal-hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu dan yang terakhir, urus pasirnya".
Seorang bertanya: "Lalu kopi mewakili apa, Prof? Profesor tersenyum: "Itu untuk menunjukkan bahwa sekalipun hidupmu tampak sudah sangat penuh, tetapi tetaplah sisakan waktu untuk secangkir kopi bersama para sahabat & kerabat". Semoga bermanfaat, ya.
Pengirim:
Janny





Bacaan Injil pada minggu ini sangat keras! Betapa tidak. Coba direnungkan kembali,” Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan” (Mark 9: 43). Bukan hanya tangan, tetapi kaki dan mata sekalipun kalau menyesatkan harus dipangkas atau dienyahkan. Peringatan keras Yesus itu dalam kerangka hidup mengikuti Yesus untuk menyongsong kedatangan kerajaan Allah sejak sekarang sampai nanti pada kepenuhannya di surga.
Sejak sekolah dasar, kita sudah hafal bahwa manusia adalah mahluk sosial. Siapapun pastinya membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup. Keberadaannya sangat bergantung pada orang lain. Orangtua. Saudara. Tetangga. Teman. Ya, siapapun. Bahkan lawan alias musuh. Betul! Coba lihat atlet. Atlet apapun. Mereka butuh lawan tanding, bukan?
“Ngèlmu ikukêlakóné kanthi laku, sênajan akèh ngèlmuné lamún ora ditangkaraké lan ora digunakaké, ngèlmu ikutanpå gunå” artinya: Ilmu itu diperoleh dengan usaha yang giat. Walaupun banyak ilmu, tetapi jika tidak disebarluaskan dan tidak dimanfaatkan, ilmu tersebut tidak akan berguna apa-apa.
Pada suatu waktu, kami berkunjung ke rumah kerabat. Tanpa sengaja saya menemukan kitab suci istimewa di rak ruang tamu. Dijilid dengan sampul kulit asli berwarna cokelat yang tebal namun lembut. Tepinya diberi lapisan logam keemasan. Saya tunjukkan pada anak-anak betapa indahnya kitab suci itu. Salah seorang berkata, “Boleh nggak Kakak baca?” Saya lalu menoleh kepada sang pemilik, ia hanya tersenyum. Sambil mengelus kepalanya saya berbisik, “Kakak kan sudah punya kitab suci sendiri. Sama saja kok isinya. Cuma bahasanya berbeda.”