ROTI HIDUP & SYARAT MENERIMANYA
Betapa seringnya kita bersungut-sungut, misalnya: saatantri menunggu giliran dalam kondisi lelah & jenuh,apalagi jika perut sedang menahan lapar.Perut lapar sungguh mengganggu! Akal sehat sulit bekerja dengan perut kosong; orang tidak mungkin bisa berpikir tenang dengan perut keroncongan; perut lapar membuat hati cepat panas dan mudah tersinggung; apa yang baik jadi tertutup oleh emosi yang mudah meledak akibat lapar dan haus. Memang tubuh kita butuh makan, minum dan pakaian, namun kita juga diberi nurani untuk menimbang. Allah menghendakiagarkita lebih mengutamakan Dia, mendahulukan kehendakNYA sebelum memenuhi kebutuhan tubuh yang fana ini,karena jiwa kita juga membutuhkan makanan berupa fimanNYA!
Pada waktuAdam diusir dari Taman Eden, Allah berfirman bahwa manusia harus bekerja keras untuk mempertahankan hidupnya: ‘dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu’. Ketika diperbudak di Mesir, orang Israel berseru kepada Tuhan mohon kebebasan; namun rasa lapar, haus dan berbagai kesulitan yang dialami selama perjalanan menuju kebebasan itu membuat mereka kecewa dan menyesal meninggalkan Mesir yang walaupun penuh kesengsaraan tapi tetap ada makanan. Namun, Allah yang berbelas kasih tetap bersabar mau memahami kelemahan mereka dan rela memberi kesempatan bertobat kepada umatnya yang lemah dan tidak setia itu. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak. (Kel 16:4).
Ketergantungan manusia akan kepuasan fisik ini sungguh kuat, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisiknya saja tapi terutama karena keserakahan untuk memiliki lebih dari yang dibutuhkan! Kita baru merasa aman kalau mempunyai simpanan berlebih (makanan, harta/uang/tabungan), seperti orang kaya yang bodoh berkata kepada jiwanya: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! (Luk 12:19). Hal inilah yang ditegor oleh Yesus yang mengetahui bahwa mereka mencariNYA bukan karena butuh keselamatan jiwa seperti yang dijanjikanNYA, melainkan karena ingin memuaskan nafsu keserakahannya. Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." (Yoh 6:26-27).
Beranikah kita menjawab tantangan ini? Allah menghendaki kita mengasihi Dia lebih dari segala sesuatu dan bersandar sepenuhnya kepadaNYA! Beranikah kita melepaskan diri dari ketergantungan pada kekayaan, kekuatan atau kekuasaan yang kita miliki agar bisa menghadap hadiratNYA dengan segala kerendahan hati? Hanya dengan demikian kita mampu menerima makanan yang bisa bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yaitu harta surgawi! Hanya dengan mengalahkan sang ego kita dapat belajar memahami firmanNya, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8:32). Marilah kita coba memahami nasihat St Paulus untuk menanggalkan diri dari manusia lama yang dikuasai hawa nafsu.Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia (Ef 4:17)





24 Juni ini adalah Hari Raya Kelahiran S. Yohanes Pembaptis. Diantara semua nabi dan santo/santa, biasanya kita memperingati hari kematiannya bukan hari kelahirannya, dan mungkin hanya dua orang yang kita peringati hari kelahirannya, yaitu Yohanes Pembaptis dan Yesus. Oleh karena itu, pada jaman dahulu, setiap tanggal 24 Juni ini diperingati sebagai hari “Natal Kecil”, karena Yohanes Pembaptis lahir enam bulan sebelum kelahiran Yesus.
A house, but not a home kata orang Inggris. Suatu rumah, barulah lebih terasa sebagai rumah bila anggota-anggota keluarganya secara rutin berkumpul untuk makan bersama. Dan suatu keluarga akan rapuh, mengalami pelapukan dari dalam, bahkan runtuh apabila tidak pernah lagi berkumpul untuk makan bersama. Dan bukan itu saja, walaupun sering berkumpul, suatu keluarga perlu juga untuk menyingkirkan berbagai gadget seperti tv, handphone, bahkan komputer yang sebenarnya menghalangi kehangatan dan keakraban dalam keluarga. Hampir sama seperti itu pula kita berkumpul setiap minggu di gereja untuk merayakan Ekaristi bersama. Karena kita merayakan Ekaristi bukanlah sekedar untuk memenuhi kewajiban dalam Lima Perintah Gereja, tetapi karena mengikuti Ekaristi adalah berkumpul dan makan bersama dalam nama Yesus, sebagai umat yang disayangi-Nya. Dan dengan semakin sering menghadiri perayaan Ekaristi, berarti semakin sering pula mengalami kehadiran Kristus dalam Ekaristi, yang akan membuat kita makin dekat, bahkan bisa bersatu dalam Tubuh-Nya, untuk disucikan, diteguhkan dan dimampukan untuk menjadi umat-Nya yang terbaik. Dalam bacaan I, kita mendengarkan kisah tentang “Upacara Pengikatan Perjanjian antara Tuhan dengan bangsa Israel”. Dimana di dalamnya nabi Musa melambangkan pengikatan perjanjian itu dengan menuangkan darah korban persembahan kepada mezbah dan umat Israel. Dan dari darah yang satu dan sama itu, ingin dilambangkan terjadinya persatuan antara Tuhan dengan umat-Nya, dan dengan sesama bangsa Israel, dan upacara itu diakhiri dengan makan bersama. Pada bacaan II, Surat kepada orang Ibrani, mengatakan korban yang diberikan dalam upacara tadi hanyalah menyucikan secara lahiriah, akan tetapi korban yang diberikan Kristus, yaitu Tubuh-Nya sendiri, mampu menyucikan hati dan nurani, sehingga yang mendapatkannya akan dipantaskan sebagai umat-Nya. Oleh karena itu, baiklah kita memandang perkataan Yesus dalam Injil hari ini; “Ambilah dan makanlah, inilah Tubuh-Ku” serta “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang”, sebagai suatu hadiah dan karunia yang luar biasa dari Tuhan, untuk menyucikan hati dan nurani kita yang tidak layak serta berdosa ini, sehingga patut menjadi umat-Nya. Dan Tuhan, melalui Gereja-Nya yang kudus secara terus menerus memberikan berkat dari Tubuh dan Darah Putra-Nya itu. Marilah kita makin meneguhkan komitmen kita untuk terus merayakan dan menerima Ekaristi, yang merupakan hadiah terindah dari Kristus kepada kita. Dan tentunya juga dengan menyingkirkan segala bentuk penghalang dalam bentuk handphone dan berbagai alat lainnya. Karena: “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? — dengan mengangkat piala keselamatan, dan menyerukan nama TUHAN” Maz 116:12-13 (Mazmur Tanggapan)
Kutipan dari bacaan minggu ini: “Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.” (Markus 4:26-27) Saat kita membaca Warta Monika ini, biasanya kita baru saja mengikuti misa. Dan kita bisa melihat ada beratus-ratus orang yang datang berkumpul mengikuti misa, termasuk kita. Belum lagi kalau kita membayangkan di keuskupan Agung Jakarta ini, ada berapa ribu orang yang berkumpul bersama untuk merayakan misa mingguannya. Siapakah yang menggerakan begitu banyak orang itu untuk mau bersusah payah dan meluangkan waktunya untuk pergi mengikuti misa? Apakah karena bapak Uskup telah menelpon kita, ataupun pastor sudah mampir mengundang kita? Tentunya bukan karena itu, tentunya Allah sendiri yang membuat Gereja-Nya menjadi begitu besar, dan terus bertambah besar. Persis seperti itulah Yesus menggambarkan bagaimana proses kerja seorang petani. Memang benar si petanilah yang mempersiapkan tanah dan menaburkan benih di tanahnya. Akan tetapi bagaimana caranya benih itu bisa tumbuh dan bahkan berbuah, sama sekali diluar kemampuan si petani itu. Begitupun dalam hidup kita, sejak dari muda kita telah menanamkan dalam pikiran kita berbagai keinginan, dan mungkin telah melakukan berbagai usaha untuk mewujudkannya, dan yang menarik, entah kita berhasil atau tidak, kita harus menyadari bahwa hasil yang kita dapat bukanlah seratus persen hasil usaha kita, akan tetapi karena berbagai kondisi dan kesempatan yang Allah berikan kepada kita. Bagi kita, yang mengharapkan Kerajaan Allah itu bisa lebih terwujud lagi di dalam hidup kita, seringkali justru menghambat pertumbuhan Kerajaan Allah di dalam hati kita, dengan merasa kurang mampu, tidak punya waktu ataupun mempunyai berbagai keterbatasan lain, karena kita menganggap bahwa makin hadirnya Kerajaan Allah di hati kita adalah semata-mata karena usaha kita. Karena kita adalah biji sesawi yang kecil, tidak berharga dan berarti. Tetapi setelah terinspirasi bacaan minggu ini, baiklah kita mau berubah menjadi biji sesawi yang optimis, gembira, dan dengan hati penuh sukacita mengerjakan hal-hal yang kita mampu lakukan, dan tidak berkecil hati lagi dengan kondisi kita saat ini, karena “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah” (Lukas 17:20) Bagaimana caranya suatu biji kecil dapat berkembang menjadi pohon yang besar memang adalah suatu muzizat. Dan tentunya Allah akan mengerjakan muzizat yang lebih besar lagi bagi kita yang mau percaya dan mengikuti perintah-Nya.
Kita baru saja melewati rangkaian perayaan-perayaan besar dalam Gereja, dimulai dari Adven-Natal, Rabu Abu-Paskah, dan Kenaikan-Pentakosta. Dan keseluruhan perayaan itu, seolah-olah ditutup, dirangkum dan disimpulkan pada perayaan hari ini, Hari Raya Tritunggal Maha Kudus. Suatu perayaan yang mengandung kata yang menjadi dasar iman kita, sekaligus kata yang diperdebatkan oleh banyak orang sekian lamanya. Dalam bacaan pertama kita mendapatkan betapa Allah yang maha besar, selain telah menciptakan dunia bersama segala isinya, Ia juga telah memperlihatkan Diri-Nya kepada umat-Nya, sebagai Allah penyelamat dan menjadikan umat-Nya sebagai tanda dan sarana keselamatan dari-Nya. Dan oleh karena itu, Rasul Paulus dalam bacaan kedua mengatakan bahwa kita bukan lagi mendapatkan roh sebagai budak, yang selalu takut, pasif dan … melainkan menerima Roh, yang menjadikan kita anak Allah yang merdeka. Dan dalam Injil-Nya, Yesus memberikan pesan terakhir-Nya di Galilea, yaitu di daerah umum dimana semua bangsa boleh hadir, tidak seperti bait Allah di Yerusalem. Dari ketiga bacaan ini, kiranya dapat disimpulkan bahwa apa yang ingin ditampilkan, adalah bukan bagaimana mencari, mendefinisikan atau memperdebatkan makna Trinitas. Melainkan pada bagaimana cara melaksanakan dan menghayati hidup dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, yang telah mengasihi manusia sejak dahulu, rela hadir diantara manusia didalam Putra-Nya, dan kemudian menebus dosa-dosa manusia untuk mengangkat harkat kita. Karena seperti sebuah kata lainnya, yaitu “Cinta”, mencoba menjelaskan dan memperdebatkan arti cinta, tidaklah memberi keuntungan yang berarti, bahkan menghabiskan energi saja. Akan tetapi menghayati dan melaksanakannya akan membawa berbagai kebahagiaan dan kepenuhan hidup. Dan salah satu penghayatan itu tampak pada kata-kata Yesus: “pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” yang bukankah berarti kita harus menerima dan memperlakukan setiap orang (semua bangsa) sebagai murid-Nya? Yaitu dengan juga mengasihi mereka seperti perintah-Nya.