Hari Minggu Prapaskah III
Luk 13:1-9
Bacaan Injil pada hari ini sangat menarik, amat disarankan untuk membacanya kembali di rumah walaupun telah dibacakan oleh pastor pada hari ini.
Bacaan Injil kali ini dimulai dengan kisah tragis yang menimpa sebagian orang Israel pada masa itu. Dan yang menarik adalah tanggapan Yesus terhadap berita itu: “Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”
Sungguh suatu peringatan yang keras, bahkan amat keras, yang seolah-olah berkata bahwa kalau kita tidak bertobat maka kita akan mengalami nasib sial sedemikian buruknya, atau bahkan dalam cerita sebelumnya, akan dibunuh dengan kejam bila tidak bertobat. Adakah Tuhan kita Yesus Kristus adalah Tuhan yang begitu kejamnya? Saya rasa justru sebaliknyalah yang terjadi.
Bayangkanlah apabila kita pada suatu kesempatan pergi berjalan-jalan ke tempat wisata yang mempunyai jurang-jurang berbahaya, Tangkuban Perahu misalnya. Dan apabila tiba-tiba saja anak kita yang masih kecil berlari kearah jurang karena tertarik melihat pemandangan yang tidak biasa dilihatnya itu. Akankah kita akan memanggilnya dengan lemah lembut: “Nak, hati-hati, jurang di depanmu sangat berbahaya”, dan akankah dia akan berhenti dengan peringatan kita yang lemah lembut itu?
Secara alamiah, karena digerakan oleh rasa kasih sayang kepada anaknya, para orang tua akan berteriak sekeras-kerasnya untuk menghentikan anak itu, walaupun akibatnya si anak menjadi menangis karena merasa diancam atau dimarahi. Dan persis seperti itulah yang dilakukan Yesus kepada kita murid yang dikasihi-Nya, karena kita seperti anak kecil belum mengetahui betapa dalam dan berbahayanya jurang dosa di depan kita. Yesus perlu sekali berkata keras seperti itu, dan Ia juga berkata karena digerakan oleh kasih-Nya yang amat besar kepada kita.
Kemudian cerita berlanjut pada kisah tentang pemilik dan pengurus kebun anggur, dimana pemilik kebun memerintahkan untuk menebang pohan ara, sedangkan pengurusnya malah mempertahankannya. Seringkali pada kisah ini dengan cepat kita menganggap bahwa pemilik kebun adalah Allah Bapa, dan pengurus kebun adalah Yesus Kristus. Akan tetapi bukankah dalam Injil yang sama Yesus menggambarkan Allah Bapa sebagai ayah yang menunggui anaknya yang hilang untuk kembali pulang? Tentunya dalam kisah ini si pemilik kebun anggur bukanlah Allah Bapa.
Merujuk pada kisah “Penabur”, pemilik kebun adalah kita, dan kebun adalah hati kita, tempat kita menanamkan berbagai hal disitu. Seringkali kita ingin menanamkan hal yang baik dengan melakukan pelayanan, baik dengan menjadi pengurus ataupun pekerja. Akan tetapi dalam perjalanan waktu, seringkali kita merasa dikecewakan dan merasa yang kita tanamkan tidaklah berbuah. Yesus ingin agar kita, selain bertobat dari melihat kedua kisah sebelumnya, Ia juga ingin agar kita tetap bertahan dalam tekad kita selalu berjalan mendekati Tuhan, apapun yang terjadi menimpa kita. Dan bukankah itu yang ingin dikatakannya kepada orang yang menceritakan berita buruk tadi kepada-Nya?





Sebuah perusahaan “Sales” selalu menyelenggarakan perjalanan gratis keluar negeri utk tenaga penjual yg berprestasi. Tahun ini para pemenangnya berangkat ke Macau dan London. Tahun depan ke Bangkok dan San Fransisco, Amerika Serikat. Apa alasan perjalanan keluar negeri ini ? Selain sebagai penghargaan atas prestasi kerja para Sales, juga utk memberi motivasi dlm aktivitas penjualan. Kerja seorang Sales tidaklah mudah. Ada seribu satu macam tantangan. Bahkan ada formula yg merumuskan : dari 10 calon pembeli, hanya 1 yg benar-benar membeli. Artinya hanya 10% ratio sukses dan 90% kegagalan. Namun impian atau gambaran akan kondisi finansial yg lebih baik serta jalan-jalan gratis keluar negeri bisa menjadi sumber kekuatan bagi para Sales menghadapi berbagai tantangan dan kegagalan dlm proses penjualan.
“Ini aku. Utuslah aku!” (Yes 3:8)
Abraham Lincoln lahir di Hardin County, Kentucky, Amerika Serikat, tgl 12 Pebr 1809. Dia mula-mula bekerja sbg buruh kasar di perusahaan kereta api, lalu pindah menjadi Steerman kapan laut, lalu pindah lagi menjadi penjaga toko, tukang pos dan akhirnya menjadi pengacara. Th 1830 dia mulai bisnis sendiri, namun gagal. Thn 1832 dia mencalonkan diri jadi anggota legislatif, tapi gagal. Th 1838 gagal dalam sebuah kontes menjadi Pembicara. Th 1840 gagal utk menjadi anggota Dewan Pemilih. Th 1843, gagal menjadi anggota Konggres. Th 1846 dilantik menjadi anggota Konggres tapi th 1848 gagal lagi untuk menjadi anggota Konggres berikutnya. Th 1855 gagal menjadi anggota Senat. Th. 1856, gagal menjadi Presiden AS. Th. 1858, gagal menjadi anggota Senat. Akhirnya th 1860 berhasil menjadi Presiden Amerika yg ke-16. Lincoln yg pernah dijuluki “orang gagal”, ternyata menjadi Presiden Amerika Serikat yg paling sukses. Berbagai cobaan yg menimpa Lincoln, membuat dia menjadi pribadi yg kuat dan tegar. COBAAN adalah istilah lain dari “tantangan, kesulitan, krisis, kegagalan, dlsb”. Cobaan adalah “tungku api” yg mengubah bongkah emas menjadi batang emas “murni dan mahal”. 