Agar kehidupan bersama menggereja atau menjemaat dapat berjalan banyak karunia diberikan kepada setiap anggotanya. “Ada rupa-rupa karunia tetapi satu Roh”, tulis Santo Paulus (I Kor 12:4). Ada karunia untuk memimpin paduan suara atau koor, ada karunia untuk menyembuhkan sebagai seorang perawat atau dokter. Ada pula karunia untuk pintar berbicara sehingga dapat menghibur yang lagi sedihd an putus asa sehingga menggerakkan untuk berbuat kebaikan. Ada karunia untuk mengorganisasi dan me-manage kegiatan dan orang sehingga rencana atau kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Ada karunia lain yang penting adalah karunia tenaga, waktu dan dana yang lebih. Rupa-rupa karunia itu kalau dijumlahkan menjadi Gereja kaya atau lebih tepat dikatakan mampu untuk berbuat sesuatu, baik membantu orang lain maupun menolong warga paroki atau lingkungannya sendiri.
Seperti anggota jemaat di Korintus, banyak karunia itu tidak membuat anggota gereja berjalan sendiri-sendiri, tetapi banyak karunia itu justru mempersatukan karena saling melengkapi, membawa umat pada rasa syukur kepada Roh, Si Pemberi Karunia yaitu Roh Kristus, Roh Cinta Kasih yang menjiwai kehidupan jemaat. Sayangnya, keberadaan karunia itu tidak disadari oleh semua orang. Anggota jemaat sering terpaku pada kesulitan dan kekurangan hidupnya sehingga tidak menyadari bahwa Roh selalu memberi karunia kepada setiap orang yang diteguhkan saat diri mereka dibaptis. Kalau ditanyakan, “Apa karunia Tuhan dalam hidupmu?” Mungkin perlu pikir-pikir dulu untuk menjawabnya padahal karunia itu nyata dalam kehidupannya. Oleh karena itu ada baiknya untuk bertanya pada diri sendiri apa yang Tuhan karuniakan dalam hidupku. Mungkin banyak karunia dan dari banyak karunia itu ada satu atau dua karunia yang menonjol pada setiap orang.
Karunia itu juga bukan untuk dibiarkan atau hanya dinikmati oleh orang yang bersangkutan. Karunia itu untuk membangun kehidupan gereja, membangun umat agar setiap orang dapat merasakan karya penebusan Kristus dalam hidupnya. Atau dapat dirumuskan dengan lebih sederhana agar cinta kasih Tuhan dapat dirasakan dalam hidup mereka. Dengan demikian karunia itu memiliki intensi atau tujuan yaitu sarana pelayanan (service) kepada sesama. Karunia itu juga jangan dibayangkan yang muluk-muluk, tetapi yang paling sederhana, seperti senyum yang tulus saat bertemu dengan orang lain sehingga orang merasakan keramahan dan persahabatan. Karunia itu juga tampak dalam menjalankan hidup keseharian dengan sabar, tidak mengeluh, dan gembira hati sehingga orang yang melihatnya menemukan rasa damai dan pelayanan yang tulus. Dengan demikian pertanyaan “Apa karunia Tuhan dalam hidupku yang dapat saya berikan untuk hidup menggereja?” menjadi penting
Baru-baru ini seorang teman bertanya, “Apa sih identitas orang Katolik selain bikin tanda salib dan rumahnya dipasangi salib?” Pertanyaan itu mudah dipahami karena di tengah arus formalisme agama dengan doa-doa dan aturan-aturan baku keagamaan yang sering ditawarkan sebagai alternatif bagi dunia yang lebih baik. Bahasa Latin dan lagu-lagu Gregorian sudah tidak segencar dipergunakan lagi. Lagu-lagu saat ibadat dan misa juga macam-macam dari yang bernada pop sampai lagu-lagu yang digali dari khasanah lagu daerah. Kehidupan menjemaat? Ada. Laris manis kalau diadakan doa Rosario atau Novena. Ramai kalau Natalan atau Paskahan. Tetapi, sepi dan sunyi bila ibadat Prapaskah atau bulan Kitab Suci. Apa identitas lain yang lebih khasat mata? Gaya rambut atau tampang dengan pakaian bergaya orang Timur Tengah atau Yahudi pasti tidak dikenal di lingkungan orang Katolik. Lalu apa lagi?
Adabaiknya kembali ke asal usul kita yaitu saat kita dibaptis sebagai orang Katolik. Seperti dalam Injil hari ini ketika orang banyak dibaptis dan Yesus juga dibaptis “lagit terbuka dan turunlah Roh Kudus” dan “terdengarlah suara dari langit, ‘Engkaulah Anak-Ku yang Ku-kasihi kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3: 21-22). Nah, sudah lebih jelas bukan. Orang yang dibaptis akan menerima Roh Kudus dan Tuhan, Allah Bapa berkenan kepada mereka. Sebagai sama-sama orang yang dibaptis dan dibimbing oleh Roh Kudus yang sama, mesti menjadi identitas orang Katolik. Roh yang membimbing itu tentu tidak tampak, tetapi nyata dalam perbuatan yang jauh dari egoisme, tindakan kekerasan, pemaksaan . Perbuatan yang jauh dari menistakan diri untuk menuju perbuatan mulia yang sesuai dengan martabat manusia sebagai putra-putri Allah Bapa, baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama. Perbuatan seperti apa? Selain tanda salib, ibadat, misa dan doa-doa tadi karena perbuatannyalah orang Katolik menjadi terlihat sebagai pribadi maupun kelompok. Kebaikan hati dan kepedulian kepada sesama yang susah, miskin, dan menderita menjadi ciri dan identitas sebagai orang Katolik. Karena orang Katolik lemah lembut, berempati dan rela membantu orang lain maka Allah Bapa berkenan. Perkenanan Allah itu menjadi hati orang Katolik menemukan damai dan kebahagiaan hidup. Marilah kita menyadari identitas yang tidak sekedar lahiriah sebagai orang Katolik dengan memperkuatnya dalam kata dan perbuatan baik setiap hari
Bacaan pertama minggu ini dimulai dengan: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Nabi Mikha menuliskan nubuat ini kira-kira 700 tahun sebelum Kristus lahir. Dan Betlehem yang terletak di daerah Efrata adalah sebuah kampung kecil yang tak berarti dan tak pernah diperhatikan orang. Mungkin kita dapat membayangkan apa yang dirasakan oleh orang-orang Yahudi yang telah membaca nubuatan ini selama ratusan tahun, kiranya agak mirip dengan perasaan kita saat memasuki masa Adven. Yaitu kita mengetahui artinya, tetapi tidak berharap banyak darinya.
Dalam bacaan Injil, jawaban Elisabet saat Maria memasuki rumahnya sangatlah puitis dan dalam artinya: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Jawaban ini mencerminkan suatu rasa bersyukur dan terima kasih yang amat mendalam. Jawaban Elisabet ini muncul, dari keadaannya yang sudah tua dan mandul, yaitu sudah tidak berguna dan tidak mampu berbuat apa-apa lagi, akan tetapi kemudian ia merasakan berkat Allah yang luar biasa dimana dirinya menjadi mengandung. Akan tetapi, kadang kita berpikir: “Tentu saja Elisabet sangat bersyukur, bukankah dia menerima berkat Allah yang amat besar”. Dan kitapun membayang-bayangkan bila saja kita menerima berkat Allah yang besar, sensasional dan telah lama kita idam-idamkan, tentu akan amat bersyukur rasanya. Dan persis seperti itulah yang dialami Zakharia suami Elisabet, yang hanya dapat duduk terdiam bisu dan buta matanya, karena tidak dapat mengimani dan melihat berkat Allah yang sudah diberikan kepadanya.
Siapakah tokoh yang akan kita perankan dari bacaan Injil hari ini? Apakah seperti Elisabet yang dengan penuh antusias, sukacita, bernyanyi dan bersyukur menyambut kedatangan dan kelahiran Tuhan? Ataukah seperti Zakharia suaminya, yang malah tetap duduk terdiam dan buta terhadap berkat Allah yang telah diberikan kepada kita? Karena Adven bukanlah sekedar peringatan rutin tahunan sebelum perayaan hari kelahiran Kristus. Adven selalu dimaksudkan untuk menyiapkan diri kita akan kedatangan Tuhan yang sesungguhnya di dalam hati kita.
Dan khususnya pada hari minggu Adven ke-IV ini, yang walaupun hanya berumur satu hari sebelum Natal, semoga dapat kita maknai seperti dalam tema pertemuan Adven ke-IV: “Perjuangan Membangun Relasi yang Baik dalam Keluarga”, dengan mulai belajar seperti Elisabet, yaitu melihat kehadiran Tuhan, dalam diri anggota keluarga kita, yang hanya bisa dicapai bila kita telah membangun relasi yang baik didalamnya.
IMAN TUMBUH
DALAM PELAYANAN KASIH DAN PERSAUDARAAN SEJATI
MELALUI TUGAS KATEKESE DENGAN MODEL GEMBALA BAIK
Pembekalan Pelayan Paroki St. Monika
Gading Serpong, 25 November 2012
Oleh Pastor Antonius Subianto OSC
Pengantar
Berbicara yang baik itu lebih mudah daripada melakukan kebaikan.
Berteori tentang kasih lebih gampang daripada memberi pelayanan kasih.
Berdiskusi tentang persaudaraan sejati lebih cepat daripada hidup sebagai
saudara. Orang yang beriman kepada Allah diuji dalam tindakan nyatanya
apakah ia sungguh mencintai Allah yang diwujudkan dalam sikap peduli
terhadap sesama dan keterbukaan pada persaudaraan sejati. Orang beriman
digerakkan oleh kasih Allah untuk berbuat kasih sekalipun harus mengorbankan
kebutuhan dan kepentingannya karena percaya hidupnya dijamin Allah. Orang
yang beriman akan tergerak oleh Roh Allah untuk terlibat dalam tugas perutusan
Gereja. Orang yang diselamatkan akan terbakar hatinya untuk mewartakan
kebaikan Allah sebagaimana yang ditugaskan oleh Tuhan sendiri: “Pergilah ke
seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16: 15) Tugas
pewartaan ini bisa mengikuti model Sang Pengutus, yaitu Yesus sebagai Gembala
yang baik (Yoh 10: 1-21) yang menyerahkan diri untuk keselamatan para
muridNya.
Contoh Iman pada Tuhan diwujudkan pada Pelayanan Kasih
Bacaan pertama dan Injil pada Minggu ke 32 mengisahkan gandum
segenggam dan minyak sedikit janda Sarfat (1 Raj 17: 10-16) serta dua keping
uang janda miskin (Mrk 12: 38-44) merupakan contoh bahwa peduli pada
sesama adalah pewujudan iman dalam tindakan nyata. Janda dari Sarfat butuh
makan untuk keluarganya. Maka, ia menyiapkannya mulai dengan mencari kayu
bakar. Akan tetapi, ternyata muncul Nabi Elia yang dikenalnya sebagai utusan
Allah. Janda tersebut menjelaskan kebutuhan konkret dan mutlak bagi hidupnya
saat itu. Yang dibutuhkan Elia adalah apa yang persis dibutuhkannya. Akan
tetapi, karena Elia berjanji bahwa kalau ia mengesampingkan kebutuhan demi
dirinya yang adalah utusan Allah (kepentingan ilahi), Allah akan menjamin
hidupnya. Mukjijat pun terjadi, sang janda dipenuhi kelimpahan. Demikian pula,
janda yang adalah suatu pribadi lemah dan rapuh baik secara ekonomis, sosial,
maupun yuridis menyumbangkan 2 keping uang yang dimiliki untuk sesamanya
pada kotak persembahan karena menganggap ada orang lain yang lebih
membutuhkannya; karena ia juga yakin bahwa hidupnya akan dijamin oleh
Allah. Dua pribadi ini adalah gambaran orang yang sungguh percaya kepada
Allah dan mewujudkan imannya dengan peduli pada sesama; peduli pada
kebutuhan mendesak sesamanya sekalipun mereka juga dalam keadaan sangat
membutuhkan. Itulah gambaran pribadi yang hati dan budinya ada pada Tuhan
hingga materi dan energi yang dimilikinya pun dipersembahkan untuk Allah
dalam kepeduliannya kepada sesama. Hal ini terjadi karena harta bagi orang
beriman adalah Allah. “Di mana hartamu berada, di situlah hatimu berada” (Mat
6: 21). Kalau hartanya itu Allah, hatinya pun tertuju pada Allah. Itulah yang
merupakan hakikat hidup Yesus sendiri: Ia mati bukan untuk diriNya sendiri
tetapi untuk menanggung dosa banyak orang. Yesus yang mati ini kemudian
bangkit dan terus meneguhkan iman para muridNya dengan serangkaian
penampakan hingga persaudaraan para murid terbangun kokoh dan mendapat
peneguhan pada peristiwa Pentakosta. Sejak itu para murid (Gereja Perdana)
senantiasa berkumpul (Kis 2: 41-47) dalam hidup persaudaraan (koinonia)
seraya membagi-bagi roti dalam Ekaristi (leiturgia) yang semangatnya
dikonkretkan dalam perwartaan (kerygma) dan pelayanan pada sesama
(diakonia) dengan semangat rela berkorban (martyria). Tugas pewartaan Kristus
yang bangkit kini kita teruskan agar makin banyak orang menjadi muridNya dan
mencapai kepenuhan hidup sebagai murid Kristus.
Katekese sebagai Tugas Pokok Gereja
Pewartaan adalah aktivitas intrinsik dari identitas Gereja. Karena
pentingnya pewartaan sebagai tugas utama Gereja, Sidang KWI 2011 berbicara
tentang katekese dengan tema “Mewartakan Injil adalah rahmat dan panggilan
khas Gereja,?merupakan identitasnya yang terdalam.” (Evangelii Nuntiandi [EN],
a.14). Dasar dari tugas pewartaan ini adalah perintah Yesus sendiri: “... pergilah,
jadikanlah segala bangsa murid-Ku dan baptislah mere ka dalam nama Bapa dan
Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segal a sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu" (Mat 28:19-20). Semua penginjil menutup Injilnya
dengan perintah pewartaan yang disertai janji penyertaan Kristus sendiri sampai
akhir zaman (Mat 28:19-20; bdk. Mrk 16:15-18; Luk 24:46-49; Yoh 20:21-23).
Gereja berkembang sejak awal hingga kini karena tugas pewartaan para rasul
yang diteruskan oleh para penggantinya dan pengikut Kristus selanjutnya dalam
upaya menghadirkan kerajaan Allah supaya “sabda Allah terus maju dan
dimuliakan” (2Tes 3:1). Itulah yang kemudian ditegaskan oleh Paus Paulus VI
sebagai tugas mendesak Gereja zaman ini (EN 14).
“Katekese” berasal dari dua kata Yunani (?at???sµ??), yaitu kata (ke
bawah) dan ekhein (menyerukan, menggemakan ke telinga, dari kata echo) yang
berarti memberi instruksi dengan kata-kata (instruksi verbal). Gereja
mendefinisikan katekese sebagai proses pengajaran interaktif agar mereka yang
mendengarkannya mengalami pertobatan dan mencapai kepenuhan hidup
sebagai murid Kristus. Katekese adalah proses pengajaran dan pertobatan
berkelanjutan.
“Sementara itu, keterlibatan umat untuk menjalankan pastoral katekese baik
sebagai katekis purna waktu, maupun sebagai pelaksana karya katekese paruh
waktu merupakan kekuatan bagi gerak pastoral katekese di Indonesia. Harus
diakui bahwa karya katekese sangat tergantung dari keterlibatan saudara-
saudari kita itu.” (Pesan KWI 2011, No. 3) Di sini diungkapkan betapa pentingnya
setiap orang Kristen (dewasa) terlibat dalam tugas katekese baik secara
langsung maupun tak langsung, baik secara purna waktu maupun paruh waktu.
Usaha dan keinginan untuk mengembangkan katekese telah dilakukan di mana-
mana. Akan tetapi, hambatanpun tetap ada.
Pesan Sidang KWI 2011 menuliskan beberapa hal yang menjadi rintangan pada
butir 4.1:
a. para pastor yang kurang memberi perhatian pada katekese
b. petugas katekese yang memiliki kemampuan memadai
c. keuskupan yang tidak mengangkat katekis purna waktu, dan guru agama
Katolik PNS yang tak mau terlibat.
Keprihatinan ini perlu ditanggapi serius melalui pembinaan dan penyadaran
akan pentingnya katekese sebagai tanggungjawab seluruh umat. Rintangan
diatas diperparah dengan kurang memadainya isi katekese (Pesan Sidang KWI
2011, 4.2). Di satu pihak terlalu menekankan aspek praktis sebagai tanggapan
iman dalam kehidupan sehari-hari tetapi kurang memikirkan kebenaran
doktrinal. Di lain pihak, ada isi katekese yang terlalu doktrinal hingga dirasa jauh
dari kenyataan hidup praktis. Katekese menjadi terlalu kering dan sulit; kurang
menyentuh hidup nyata. Untuk mengatasinya kita diajak “untuk lebih
bersungguh-sungguh menciptakan dan mengembangkan model katekese yang
bermutu dan menanggapi harapan.”
Pesan Sidang KWI 2011 menyadarkan kita bahwa “Katekese merupakan
bagian integral dari pelaksanaan tugas pewartaan Gereja. Komunitas Basis
Gerejawi merupakan salah satu medan yang amat penting dalam pelaksanaan
tugas ini. Gereja bertugas untuk "memajukan dan mematangkan pertobatan
awal, mendidik orang yang bertobat dalam iman dan menggabungkannya dalam
komunitas Kristiani" (Pedoman Umum Katekese no. 61). Maka katekese
menyangkut pembinaan iman anggota-anggota Gereja, sejak mereka berniat
masuk menjadi anggota Gereja sampai mencapai kedewasaan rohani. Termasuk
juga dalam proses katekese ini ialah pelajaran agama di sekolah.” (Pesan, no. 7)
Katekese bukan hanya untuk kepentingan pertumbuhan iman murid-murid yang
percaya tetapi juga dalam pewartaan dan dialog dengan mereka yang belum
percaya kepada Kristus. “Sebagai proses pendewasaan iman, tugas fundamental
katekese ialah mengantar orang masuk ke dalam kehidupan umat dan
perutusannya serta membantu umat beriman untuk mengetahui, merenungkan
dan merayakan misteri Kristus. Katekese juga membantu orang untuk
mengembangkan sikap misioner dan dialog (Pedoman Umum Katekese no 85-
86). Oleh karena itu, katekese perlu dilihat sebagai suatu proses yang terencana
dan sistematis, yang meliputi pengembangan pengetahuan dan sikap serta
penghayatan iman pribadi maupun kelompok, yang dilaksanakan untuk
membantu umat sehingga semakin dewasa dalam iman.” (Pesan No.6)
Selanjutnya Pesan Sidang KWI tersebut menyampaikan 9 langkah tindakan
pastoral yang dibutuhkan (8.1-8.9) yang meliputi katekese umat, katekese
sekolah, pengembangan program katekese, petugas katekese, pembinaan, dan
pembiayaan. Langkah ini perlu ditindak-lanjuti dalam perencanaan dan
pelaksanaan proses katekese mulai dari tingkat keluarga sebagai “Gereja Kecil”,
stasi, lingkungan, dan paroki.
Penutup: Menumbuhkan Iman, Kasih, Persaudaraan Sejati
Dalam kisah panggilan Markus (Mrk 3: 13-19), Yesus naik ke atas bukit
(ketinggian sebagai simbol tempat kudus) untuk memanggil mereka yang
dikehendakiNya. Pertama-tama, mereka dipanggil untuk menyertaiNya (hidup
kontemplatif, tinggal bersamaNya). Inilah panggilan untuk hidup intim dengan
Yesus (inti kesucian). Inilah motivasi utama mengikuti Yesus. Setelah mencapai
hidup mendalam bersama Yesus, tibalah saatnya murid diutus untuk
mewartakan kabar baik (berkatekese) dan mengusir setan (berbuat kasih dan
membangun persaudaraan sejati).
Dalam kisah panggilan Yohanes (Yoh 1: 35-51), Yesus lewat di depan
(hidup) Yohanes Pembaptis dan murid-muridnya. Ia mewartakan Yesus kepada
murid-muridnya sebagai Anak Domba Allah sehingga mereka tergerak untuk
mengikuti Yesus. “Apa yang kamu cari?”, kata Yesus kepada mereka. Motivasi
mereka ternyata ingin tinggal bersama Yesus: “Di mana Engkau Tinggal.” Kata
Yesus, kalau begitu, “Mari dan kamu akan melihatnya.” Setelah tinggal bersama
dengan Yesus, murid-murid tersebut secara spontan (mengikuti gerakan Roh)
mewartakan Yesus kepada yang lain hingga menjadi muridNya pula. Karya
seorang murid ternyata adalah membawa orang lain pada Yesus (berkatekese).
Kesucian pribadi menyucikan sesama.
Motivasi kita menjadi murid Kristus itu bermacam-macam. Akhirnya
motivasi tersebut harus dikembangkan ke arah motivasi injili, yaitu tinggal
bersama Yesus (communio/koinonia dalam leiturgia). Oleh karena itu, tujuan
sejati murid Kristus pertama-tama adalah relasi dengan Yesus (hidup mistik,
kontemplatif); bukanlah mau menjadi ini dan itu, tetapi mau hidup dekat dengan
Allah. Oleh karena itu, kita diundang untuk membiarkan dirinya bagaikan tanah
liat di tukang periuk (Yer 18: 1-17) dibentuk oleh llah. Dengan begitu, karya
dan pelayanan yang dipercayakan kepada kita entah di tingkat paroki, stasi,
maupun lingkungan adalah buahnya sesuai dengan gerakan Roh Allah. Karya dan
pelayanan kita adalah tugas ilahi yang dipercayakan Gereja kepada setiap
anggotanya. Karya dan pelayanan bukanlah opsi dan ambisi pribadi yang bisa
direncanakan ataupun tugas profesional yang bisa ditawar-tawar, melainkan
tugas perutusan ilahi di mana pun dan kapan pun yang dipercayakan pada kita.
Pelayanan kita dalam pewartaan terjadi bukanlah sekedar karena adanya aturan
agama, tuntutan masyarakat, dan desakan moral, tetapi karena tergerak hatinya
oleh belas kasih Allah yang berkarya dalam hidup kita sebagai wujud iman pada
Kristus yang nyata dalam Ekaristi: membagi-bagi diriNya bagi kita yang
dicintaNya. Peduli pada sesama adalah tindakan kepercayaan penuh dan kasih
tulus pada Tuhan bagai Wanita Samaria (Yoh 4: 5-42) yang menghasilkan kasih
pada sesama yang digerakkan oleh belas kasih Allah bagaikan Pria Samaria (Luk
10: 25-37). Model pelayanannya adalah model Gembala baik yang mendasarkan
pelayannya semata pada kasih agapeik pada Allah (Perintah Pertama: (Ulangan
6:6; Mat 22:37; Luk 10: 27, Mrk 12:30), pada sesama (Perintah Kedua: Im 19: 18;
Mat 22:39; Luk10: 27, Mrk 12:31), dan kasih satu sama lain (Perintah Baru: Yoh
13: 34).
Dalam Injil Yoh 10: 1-21, Yesus menjelaskan perbedaan antara gembala
pemilik dengan gembala upahan. Dua-duanya disebut gembala tetapi kualitasnya
sangat berbeda. Perbedaan pertama adalah: sense of belonging. Kualitas ini
menyebabkan gembala pemilik punya sense of responsibility yang lahir dari cinta
dan kemudian melahirkan sense of dedication. Sedangkan gembala upahan
mungkin punya dedikasi yang tidak lahir dari cinta tetapi dari motivasi
ekonomis untuk mendapatkan upah. Perbedaan kedua: kualitas cinta. Gembala
pemilik punya agape, cinta habis-habisan demi domba. Cinta itu memberi dan
memberi. Sedangkan gembala upahan mempunyai eros, cinta rayuan untuk
mendapatkan sesuatu demi pemenuhan keinginan pribadi. Cinta erotik ini
memberi sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih. Kualitas ketiga adalah
risiko. Gembala pemilik berani ambil risiko bahkan rela kehilangan nyawanya
karena kawanan domba adalah miliknya, bagian dari hidupnya. Sedangkan
gembala upahan tidak ambil pusing dengan nasib dan hidup domba karena
memang ada “jarak” antara kawanan dengan dirinya. Maka, ia tak mau ambil
risiko. Kalau ada serigala atau pun perampok, lebih baik lari dan kehilangan
pekerjaan dari pada mati. Pekerjaan bukanlah bagian dari jatidirinya; hanyalah
tempelan dan assesori hidup. Yesus menyatakan diri sebagai gembala yang baik
(Yoh 10: 11). Karenanya Ia pun rela mati di kayu salib. Salah satu penafsir
mengatakan bahwa kalau dalam injil Yohanes, Yesus bersabda “Akulah....”
artinya pendengarnya pun dipanggil untuk menjadi seperti yang diserukan
Yesus. Maka, “Akulah gembala yang baik” berarti “Kamilah/kamulah gembala
yang baik...” Kita diundang juga untuk menjadi gembala yang baik bagi mereka
yang dipercayakan Tuhan pada kita; mengembangkan apa yang Tuhan
percayakan pada kita. Inilah cara kita bersyukur kepada Tuhan; mewujudkan
iman secara nyata. ( PES )
Minggu Adven ketiga ini disebut minggu Adven Gaudete, yang ditandai dengan dinyalakannya lilin berwarna pink (lambang sukacita) pada lingkaran Adven. Kata Gaudete diambil dari bacaan kedua hari ini yang pada Kitab Suci berbahasa latin (Vulgata) berbunyi: “gaudete in Domino semper iterum dico gaudete” (Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!).
Wah, bukankah aneh rasanya bila kita diminta bersukacita, justru ditengah-tengah masa pertobatan Adven ini? Dan bukankah dalam masa pertobatan biasanya kita diminta untuk prihatin, bukannya malah bersukacita? Sehingga bersuka cita rasanya seperti melakukan hal yang bertolak belakang dengan masa pertobatan ini.
Pertama-tama, apakah arti bersukacita bagi kita?
Seringkali gagasan tentang bagaimana caranya bersukacita bagi manusia adalah melakukan berbagai hal biasa secara tidak biasa atau berlebihan, misalnya: makan berlebihan, minum berlebihan, ngobrol berlebihan, tertawa berlebihan, atau bermain berlebihan bahkan kalau perlu lupa waktu sampai pagi hari, dengan harapan bahwa entah bagaimana dalam semua kelebihan itu, akan ada sukacita. Tetapi, untuk semua upaya gila-gilaan itu, mungkin hanya akan ada kenikmatan dan bukan sukacita yang sejati. Waktu masih kecil, masih terngiang peringatan dari Ibu untuk tidak minum sirop karena hanya akan membuat kita tambah haus, dan konon bagi orang yang kehabisan air ditengah laut, mereka tidak boleh minum air laut betapapun hausnya, karena air laut dengan garamnya justru akan menarik keluar cairan dari dalam tubuh. Demikian pula segala kenikmatan itu, seperti sirop dan air laut yang tidak akan pernah puas kita minum, dan pada akhirnya kita justru makin merasa kehausan dan kekeringan akan sukacita sejati. Dan bukankah menjadi tepat sekali nasihat Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini: “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian. (dan seterusnya)”, sebagai jalan untuk mencapai sukacita. Karena hanya pada diri orang yang berbagilah terdapat rasa syukur dan sukacita karena ia masih mempunyai kelebihan, daripada orang yang selalu ingin kelebihan yang berarti ia selalu haus dan kekeringan, betapapun sudah banyak hartanya.
Kedua, marilah melihat sukacita dalam pandangan Tuhan. Tuhan Yesus berkata: “Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Luk 15:7). Bahkan dalam bacaan pertama hari ini dikatakan: “TUHAN Allahmu ada di antaramu—Ia bergirang karena engkau dengan sukacita—Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai”. Nabi Zefanya secara luar biasa menggambarkan TUHAN Allah akan bersukacita dan bersorak sorai, dan terutamadisebabkan karena ada manusia yang bertobat, sudahkah kita termasuk didalam hitungan umat-Nya yang bertobat dan bersukacita dalam syukur kali ini?